Bab 4
- Akhir Sebuah Perseteruan
Sari terjepit di antara dua pria, Reza yang dan Adrian yang menatapnya dengan kecurigaan sekaligus kekhawatiran yang mendalam, sang asisten yang kesetiaan nya jangan dipertanyakan.
Setibanya di kantor Bagas, suasana terasa berbeda. Bagas duduk di balik meja eksekutifnya, tampak sangat tenang namun otoritasnya memancar kuat. Tidak ada lagi sisa kelembutan dari malam tadi, setidaknya di depan publik.
"Duduklah, Sari," ujar Bagas.
Di sana sudah ada dua desainer acara ternama dan seorang investor muda berbakat, Erik, yang dikenal sebagai playboy kelas atas namun sangat jenius dalam strategi pemasaran.
Erik langsung berdiri dan mengecup punggung tangan Sari, membuat suasana ruangan mendadak dingin. "Jadi ini pesaing tangguh yang Bagas ceritakan? Saya rasa kita tidak perlu bersaing. Dengan kecantikanmu, Sari, aku bisa memberimu apa pun tanpa perlu kau mencuri dari orang lain."
Bagas menggeram pelan. Tangannya mengepal di bawah meja. "Erik, fokus pada presentasimu."
Sepanjang pertemuan, Sari merasakan ketegangan yang aneh. Bagas terus menatapnya dengan binar kepemilikan yang tersembunyi.
Erik tak henti-hentinya melemparkan rayuan dan tawaran kerja sama yang terlalu manis untuk menjadi kenyataan.
Adrian berdiri di sudut ruangan, mencatat segalanya namun matanya tak pernah lepas dari tangan Bagas yang sesekali mencoba menyentuh jemari Sari di bawah meja.
Sari menyadari bahwa ia kini berada di tengah-tengah permainan para pria berkuasa. Bagas menginginkannya sebagai istri dan penebusan dosa masa lalu. Erik melihatnya sebagai trofi baru yang menarik untuk ditaklukkan. Reza yang berusaha mendapatkan perhatian dan cintanya Sari.Dan Adrian, yang diam-diam menyimpan bukti bahwa semalam Sari mencoba mengakses brankas Bagas, namun memilih menutup mulut demi melindungi wanita itu.
Pagi itu, ruang kerja Bagas yang biasanya hening berubah menjadi medan pertempuran ego. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca besar lantai 50, seolah mempertajam garis rahang Bagas yang mengeras.
"Hotel Grand Mulia sudah dipesan, Sari. Keamanan terjamin, protokol mewah, dan ini sesuai dengan status orang tuamu." suara Bagas rendah namun menekan. Ia melempar map berisi proposal katering hotel bintang lima itu ke meja.
Sari tidak bergeming. Ia melangkah mendekat, aroma parfumnya yang memabukkan, perpaduan sandalwood dan jasmine mulai memenuhi ruang pribadi Bagas. Ia meletakkan selembar sketsa kasar di atas map tersebut.
"Gedung mewah itu hanya kotak beton yang membosankan, Bagas," bisik Sari, suaranya serak namun menantang.
"Pesta pernikahan perak adalah tentang kembalinya cinta ke akar. Aku ingin pendopo kayu kecil di tebing Kuta Selatan. Terbuka, menyatu dengan deburan ombak dan angin malam. Tanpa sekat, tanpa kepalsuan."
Bagas berdiri, tubuhnya yang tegap membayangi Sari. Ia melangkah memutari meja hingga mereka hanya berjarak beberapa senti. "Alam itu tidak bisa dikendalikan. Bagaimana jika badai? Bagaimana jika kau terluka di sana?"
"Aku sudah terbiasa dengan badai sejak kau membuangku dulu," balas Sari tajam, matanya berkilat.
Bagas menarik napas tajam. Tiba-tiba, tangannya meraih pinggang Sari, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan sempurna. "Kau keras kepala," desisnya.
Wajahnya merunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Sari. "Tapi aku akui, membayangkanmu di bawah rembulan dengan gaun itu... membuatku ingin menyetujui apa pun." Sari merasakan desiran panas di perutnya saat tangan Bagas yang besar merayap ke punggungnya, namun ia segera mendorong pria itu.
"Setujui lokasinya, atau aku membuatmu menyesalii proyek ini."
"Baiklah, aku mengakui kamu menang. Aku akan membatalkan gedung dan kateringnya, sekalipun kita akan rugi."
"Menurutku, Bagas. Kita tidak perlu rugi terlalu banyak. Catering nya bisa dipakai. Kita alihkan ke outdoor. Kau hanya perlu memberitahukannya dari sekarang." Ujar Sari sambil tersenyum puas, atas kemenangan ini. Sari tidak menyadari, kalau dari awal Bagas sudah ingin mengalah.
.Lampu gantung kristal yang terpasang di langit-langit pendopo kayu itu bergoyang pelan ditiup angin laut Kuta Selatan. Wangi sedap malam dan melati menyeruak, berbaur dengan aroma garam dari ombak yang memecah di bawah tebing.
Tebing Kuta Selatan disulap menjadi surga tersembunyi. Ratusan lilin dalam lentera kaca menerangi jalan setapak menuju sebuah pendopo kayu jati yang megah namun bersahaja.
Suara deburan ombak di bawah tebing menjadi orkestra alami yang magis.Lampu gantung kristal yang terpasang di langit-langit pendopo kayu itu bergoyang pelan ditiup angin laut Kuta Selatan.
Di sinilah, di tengah perayaan sakral nan sederhana yang seharusnya menjadi momen hangat, Sari berdiri memandangi semua hasil kerja kerasnya. Dia puas dengan semua nya.
Sari tampil memukau dengan gaun merah marun yang dikirimkan orang misterius itu. Potongan backless-nya memamerkan kulit punggungnya yang mulus, sementara belahan tinggi di paha memperlihatkan kaki jenjangnya setiap kali ia melangkah.
Ia adalah pusat gravitasi malam itu.Reza adalah yang pertama menghampirinya. Ia mengenakan tuksedo abu-abu, tampak jauh lebih berbahaya daripada saat di dermaga.
"Pendopo di tepi tebing... sangat puitis untuk sebuah acara, Sari," bisiknya sambil menyerahkan segelas sampanye.
"Pilihanku untuk mu tetap sama. Ikut aku ke Malang malam ini, dan kau akan merasakan kebahagiaan yang ku sediakan."
Belum sempat Sari menjawab, Erik muncul dengan senyum nakalnya. Ia tanpa ragu merangkul bahu Sari, mengabaikan tatapan mematikan dari Reza. "Cukup dengan ancamannya, Bung. Sari, kau terlihat seperti dewi yang haus akan pemujaan. Bagaimana kalau kita meninggalkan pesta membosankan ini? Kapal pesiar pribadiku menunggu di bawah sana."
"Lepaskan dia, Erik." Suara bariton itu memecah ketegangan. Bagas datang, didampingi Adrian yang selalu waspada di belakangnya.
Keempat pria itu kini mengepung Sari. Suasana di bawah pendopo itu mendadak menyesak, lebih panas dari api lilin yang menari ditiup angin laut.
Bagas menatap Sari dengan tatapan haus. "Sari, tarian pertama adalah milikku."
"Atau milikku, jika dia ingin merasa aman," sela Reza.
Sari tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia menyadari kekuatannya sekarang. Ketiga pria ini, dan sang asisten adalah para pemujanya.
Saat musik melambat dan tamu-tamu mulai terhanyut dalam suasana, Bagas menarik Sari ke area gelap di balik pilar kayu pendopo, menjauh dari pengawasan yang lain.
"Apa yang kau rencanakan, Sari?" tuntut Bagas. Nafasnya memburu. Ia menyudutkan Sari ke tiang kayu yang kasar.
"Kau memainkan mereka, kau memainkan aku.""Bukankah ini yang kau inginkan? Persaingan?" Sari menantang, tangannya berani melingkar di leher Bagas, menarik dasinya hingga wajah mereka sejajar.
Ciuman itu terjadi begitu saja, kasar, penuh tuntutan, dan sarat akan dendam masa lalu yang berpadu dengan gairah yang lama terpendam.
Tangan Bagas merayap turun, meremas pinggul Sari di balik kain sutera nya, sementara Sari merintih pelan saat bibir Bagas berpindah ke lehernya, meninggalkan tanda di sana.
"Kau milikku," geram Bagas di sela ciumannya. "Bukan milik penguntit itu, bukan milik si playboy itu, dan bahkan bukan milik asistenku."