Bab 3.
- Cinta Itu Bersatu Dalam Gelap
Kegelapan yang menyelimuti ruangan itu tidak lagi terasa menakutkan bagi Sari. Justru, hitam yang pekat itu menjadi pelindung, menyembunyikan semburat merah di wajahnya dan keraguan yang sempat melintas di matanya.
Hanya ada suara hujan yang menghantam atap sirap dengan ritme konstan, dan deru napas mereka yang saling memburu.Ciuman Bagas yang semula menuntut kini berubah menjadi sebuah eksplorasi yang penuh rasa lapar yang tertahan selama bertahun-tahun.
Bagas menyesap bibir Sari seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya sumber udara di tengah badai. Sari merintih pelan, sebuah suara yang hilang ditelan guntur, saat jemari Bagas yang kasar namun protektif merayap masuk ke balik kemeja flanel yang longgar, menyentuh kulit punggungnya yang masih sedikit lembap.
"Sari..." bisik Bagas di sela ciumannya, suaranya parau, sarat akan rindu dan damba. "Katakan padaku kamu juga menyukai nya."
Sari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik kerah kaus Bagas, memaksa pria itu kembali menyatukan bibir mereka. Jawaban Sari adalah sebuah penyerahan sekaligus tantangan.
Ia tidak peduli lagi pada dokumen di tasnya atau misi. Saat ini, hanya ada detak jantung Bagas yang berdebar keras di balik dadanya yang bidang.Tanpa memutuskan tautan bibir, Bagas mengangkat tubuh Sari dengan satu gerakan mantap.
Sari refleks melingkarkan kakinya di pinggang Bagas, merasakan kekuatan otot pria itu yang menyangga berat tubuhnya.
Bagas melangkah dalam kegelapan yang sudah sangat ia hafal, menuju kamar utama di mana aroma kayu pinus terasa lebih pekat. Mereka jatuh di atas ranjang yang empuk dengan napas yang semakin berat.
Di bawah temaram kilat yang sesekali menyambar lewat celah jendela, Sari bisa melihat binar kepemilikan di mata Bagas. Pria itu menanggalkan kaus hitamnya, memperlihatkan tubuh tegap yang selama ini hanya ada dalam ingatan masa lalu Sari.
Sentuhan Bagas berpindah dari wajah ke leher, meninggalkan jejak panas yang membakar kedinginan Sari. Ketika kancing-kancing kemeja flanel itu terlepas satu per satu, Sari merasa dinding pertahanannya runtuh sepenuhnya.
Tidak ada lagi musuh, tidak ada lagi pengkhianat. Yang ada hanyalah dua jiwa yang lelah saling membenci, kini mencari jalan pulang melalui sentuhan fisik yang intim.
Penyatuan itu terjadi seperti ledakan bendungan yang tak lagi sanggup menahan air. Begitu intens, begitu emosional. Setiap gerak tubuh Bagas seolah menceritakan betapa ia tersiksa oleh kehilangan, dan setiap balasan Sari membisikkan betapa ia menyesal telah pergi.
Di atas ranjang itu, di tengah badai yang mengamuk di luar, mereka bicara lewat bahasa tubuh yang paling purba. Keringat bercampur dengan sisa-sisa air shower yang belum kering sempurna. Sari membenamkan wajahnya di ceruk leher Bagas, menghirup aroma maskulin yang kini tercampur dengan aroma tubuhnya sendiri.
Pada puncaknya, saat napas mereka menyatu dalam satu ritme yang sama, Sari menyadari bahwa ia telah kalah dalam permainannya sendiri. Ia datang untuk mencuri rahasia, namun ia justru menyerahkan hatinya sebagai jaminan.
Beberapa saat kemudian, hanya ada sunyi yang menyelimuti mereka. Bagas menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka yang masih bersentuhan, memeluk Sari dari belakang dengan posesif.
"Jangan pergi saat aku bangun nanti," gumam Bagas pelan, hampir tidak terdengar di tengah sisa suara gerimis. Sari memejamkan mata, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh nadinya.
Ia tahu, esok pagi badai akan reda, dan kenyataan akan kembali menuntut jawaban. Namun untuk saat ini, ia memilih untuk tetap menjadi milik Bagas, tenggelam dalam pelukan pria yang seharusnya ia hancurkan.
Bagas menghela nafas, saat melihat noda merah di sprei putih. "Aku telah mengambil apa yang seharusnya milik suaminya. Aku harus bertanggung jawab." Bagas memeluk tubuh Sari, yang sialnya, justru pas dalam pelukannya. Akhirnya Bagas ikut terlelap disampingnya.
Ketika hari menjelang malam, Sari terjaga dari tidurnya. Semula ia heran, dimana dirinya berada. Sampai dia melihat pria disampingnya.
"Bagas!, astaga..apa yang telah kulakukan." Batinya berucap, lalu Sari perlahan-lahan beringsut turun, agar pria disampingnya ini tidak terbangun. Cepat-cepat dia mengenakan bajunya yang sudah bersih kembali, walau rasa sakit ia rasakan terutama didaerah selangkangan nya, lalu pergi dari sana.
Bagas yang sebenarnya telah terbangun, sengaja memejamkan matanya. Dia tau dan menyadari kalau Sari akan malu dengan peristiwa ini. Ia memandangi kepergian Sari dengan binar dimatanya.
Pagi ini udara masih terasa lembab, hujan turun tiada henti dari kemarin, ia duduk didepan jendela memandang halaman depan. Memandang bunga kemuning yang ditanam oleh mamanya.
Dihalaman rumah, tampak butir-butir sisa hujan semalam yang belum hilang. Masih terbayang peristiwa kemarin, betapa malunya dirinya. Semua yang dilakukannya dalam keadaan sadar.
Ia taudanm enyadari bahwa sisi lain di dirinya sangat merindukan Bagas. Dan menerima dengan sukarela setiap sentuhannya.
Tadi saat sarapan pagi, kakek bertanya padanya, "bagimana persiapan acara pestanya, nduk ? Jadi kamu merebut acara ini dari tangan Bagas?" Beliau memandangnya dengan tatapan mata penuh tanya.
"Kenapa kalian tidak bekerjasama saja? Mama rasa itu jauh lebih baik. Kalian bisa memadukan ide-ide kalian."
"Betul itu, Sar. Kakak setuju dengan ide mama." Untuk sesaat ia terdiam, ia teringat kembali saat berada didalam rumah itu,
Dan kini ia tidak mampu menjawab semua pertanyaan itu. Karena hatinya kini sudah tidak dapat lagi membedakan, mana yang memang merupakan keinginannya, atau itu hanya demi gengsi semata.
Keheningan di meja makan itu terasa mencekik. Sari hanya mengaduk-aduk bubur ayamnya tanpa minat. Saran kakeknya dan mamanya untuk bekerja sama dengan Bagas terasa seperti vonis mati.
Bagaimana mungkin ia bisa duduk di satu meja rapat dengan pria yang baru saja menyentuhnya dengan cara paling intim, sementara ia sendiri ingin menghancurkannya, mengambil alih proyek pesta pernikahan perak kedua orang tuanya.
Ponsel Sari bergetar di atas meeja, ada pesan masuk. Dari Reza, seorang pria yang menyukainya di Batu, Malang.
"Untuk apa dia kemari. Apakah dia membuntutiku?" Batin Sari.
Hujan masih rintik saat Sari tiba di dermaga. Di sana, berdiri seorang pria dengan setelan jas hitam yang kontras dengan latar belakang laut yang abu-abu.
"Kau mengikutiku?" desis Sari saat mendekat.
Reza berbalik, senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya. "Aku melindungimu, Sari. Tapi sepertinya kau terlalu menikmati perlindungan dari musuhmu sendiri."
Ia melangkah maju, menjepit dagu Sari. "Ingat, aku mencintaimu dan bisa membuatmu terbebas dari Bagas. Tapi kalau kau malah menyerahkan diri padanya, kau hanya berpindah dari satu sangkar ke sangkar lain."
Sari menepis tangan itu, ia muak pada Reza yang berusaha untuk meraih cintanya. Sudah berulangkali ditolak, tapi tidak pernah jera. Justru makin berambisi untuk mendapatkannya dengan cara apapun.
Disaat yang bersamaan, sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari mereka. Dari dalamnya keluar Adrian, asisten pribadi kepercayaan Bagas. Adrian melihat perdebatan itu dengan tatapan tajam.
"Nona Sari," panggil Adrian dengan suara baritonnya. "Tuan Bagas meminta saya menjemput Anda. Ada hal mendesak mengenai persiapan pesta yang harus segera diputuskan."