Resonansi di Jalan Buntu Poin Kelima
1/30
Bab 1

Poin Kelima

Matahari Jakarta pukul dua siang bukan sekadar cahaya; ia adalah pukulan fisik. Panasnya merambat menembus jaket abu-abu yang membungkus punggung Banyu, memanggang kulit, seolah memaksa keringat terakhir untuk menyerah dan keluar.

Banyu berhenti di lampu merah perempatan Fatmawati. Di sekelilingnya, dunia mungkin sedang berteriak. Knalpot motor yang dimodifikasi, klakson angkot yang tidak sabaran, atau teriakan pedagang asongan yang menjajakan tisu. Namun, bagi Banyu, dunia ini hening.

Hening yang absolut.

Telinga kirinya mati total. Telinga kanannya hanya menangkap dengung samar, seperti suara televisi rusak yang kehilangan sinyal. Tapi Banyu tidak butuh suara untuk tahu bahwa kota ini sedang marah. Ia merasakannya. Ia merasakannya dari getaran mesin matic di selangkangannya yang menderu halus. Ia melihatnya dari aspal yang bergetar ketika bus TransJakarta melintas di jalur kanan.

Tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam menepuk helmnya pelan. Helm itu bukan helm biasa. Di bagian belakangnya, tertempel sebuah stiker buatan sendiri yang mulai mengelupas di bagian ujungnya karena sering terpapar hujan dan panas. Stiker itu adalah "mulut" Banyu ketika ia sedang berkendara.

Tulisan di stiker itu tegas dan jelas:

"Saya tunarungu/tuli. Mohon kerja samanya. 20 meter sebelum belok: tepuk pundak saya. Belok kanan = tepuk pundak kanan. Belok kiri = tepuk pundak kiri. Berhenti = tepuk keduanya. Terima Kasih".

Lampu lalu lintas berubah hijau. Banyu tidak mendengar klakson bersahutan di belakangnya, tapi ia melihat pergerakan serentak roda kendaraan di samping kirinya. Itu isyarat visualnya. Ia memutar gas. Motor matic tuanya melaju, membelah kemacetan siang bolong.

Ia menepi di bawah pohon rindang di dekat sebuah lobi perkantoran di kawasan Sudirman. Banyu menarik ponsel pintarnya dari penyangga di stang motor. Layar itu retak seribu di pojok kiri bawah, saksi bisu insiden bulan lalu saat ia diserempet bajaj.

Aplikasi "Laju" terbuka di layar. Banyu menatap angka di pojok kanan atas dengan tatapan kosong.

Skor Hari Ini: 5.

Helaan napas berat keluar dari hidungnya, mengembunkan sedikit kaca helmnya. Lima poin. Padahal, sebelum pandemi dan situasi ekonomi seburuk ini, rata-rata ia bisa mengantongi 15 poin sehari dengan mudah. Dulu, 15 poin berarti ia bisa pulang membawa ayam goreng untuk Fajar, anaknya, dan menyisihkan uang untuk tabungan sekolah.

Sekarang? Lima poin di jam dua siang adalah bencana. Situasi sepi membuat pendapatannya terjun bebas, kadang hanya mendapat total 5 sampai 7 poin saja hingga malam larut.

"Ayo... bunyi," bisik Banyu, meski ia sendiri tak bisa mendengar bisikannya.

Matanya tidak lepas dari layar. Ia butuh orderan. Apa saja. Bahkan jika itu Rush-Box—layanan antar paket yang paling ia benci. Sebenarnya bukan benci, tapi takut. Orderan paket seringkali menuntut komunikasi lewat telepon. Pengirim yang malas mengetik pesan akan langsung menelepon, dan ketika Banyu tidak mengangkat karena ia Tuli, mereka akan membatalkan pesanan atau memaki-maki saat bertemu.

Ting!

Layar berkedip. Bukan Rush-Box, tapi Rush-Bike. Layanan antar penumpang.

Jarak penjemputan: 200 meter.

Tujuan: Stasiun MRT Dukuh Atas.

Tanpa pikir panjang, jari telunjuk Banyu yang kasar menekan tombol "Terima". Rejeki tidak boleh ditolak, sekecil apapun itu.

Banyu segera mengetik pesan cepat—template yang sudah ia simpan di papan klip ponselnya:

"Halo, saya Banyu. Saya driver Laju. Maaf saya Tunarungu. Saya sedang menuju lokasi. Mohon ditunggu."

Ia memutar motornya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Setiap penumpang baru adalah pertaruhan mental bagi Banyu. Apakah penumpang ini akan baik? Apakah dia akan jijik? Atau yang paling parah, apakah dia akan mengasihaninya?

Sesampainya di lobi, ia melihat seorang pria muda berpakaian rapi, kemeja flanel kotak-kotak, sedang sibuk menelepon seseorang dengan earphone nirkabel terpasang di telinga. Wajahnya tampak tegang.

Banyu mendekatkan motornya pelan. Ia melambai sedikit agar terlihat. Pria itu menoleh, wajahnya masam, mungkin karena urusan kantor. Ia mendekat dan langsung hendak naik ke boncengan.

Banyu menahan motornya dengan kaki kuat-kuat. Ia memutar badan sedikit, lalu menyodorkan sebuah kartu yang tergantung di lehernya—sebuah ritual wajib yang ia lakukan demi keselamatan bersama. Kartu itu dilaminating sederhana.

"Hallo, maaf saya tuna rungu/tuli. Terima kasih."

Pria muda itu terhenti sejenak. Matanya membaca kartu itu sekilas, lalu beralih menatap wajah Banyu yang tertutup masker dan helm. Ada jeda dua detik yang menyiksa.

"Oh. Oke," gumam pria itu, yang gerakan bibirnya bisa dibaca Banyu.

Pria itu naik. Beban motor bertambah. Banyu memastikan penumpang sudah duduk nyaman sebelum perlahan menarik gas.

Perjalanan menuju Dukuh Atas sebenarnya singkat, tapi bagi Banyu, setiap meter adalah kerja keras konsentrasi. Orang normal menyetir dengan telinga dan mata. Mereka bisa mendengar jika ada motor menyalip dari blind spot. Mereka bisa mendengar sirine ambulans dari kejauhan.

Banyu tidak memiliki kemewahan itu.

Ia mengandalkan kekuatan visualnya. Matanya tak pernah diam. Lirikan ke spion kanan. Lirikan ke spion kiri. Kembali ke depan. Ulangi setiap tiga detik. Ia memindai setiap bayangan yang bergerak di kaca spion. Ia merasakan getaran aspal di telapak tangannya. Jika getaran di stang terasa lebih kasar dan bergemuruh, ia tahu ada bus atau truk besar yang sedang mendekat di belakangnya, meskipun ia tidak mendengarnya.

Spion adalah mata ketiga Banyu. Spion adalah nyawanya, dan nyawa penumpangnya.

Mereka memasuki jalanan yang padat merayap. Banyu menyalip di antara celah mobil dengan perhitungan matang. Ia tahu banyak orang meragukan kemampuan difabel di jalan raya, tapi Banyu yakin ia lebih waspada dari kebanyakan orang. Ia tidak terdistraksi suara musik atau obrolan. Ia menyatu dengan visual jalanan.

Tiba-tiba— BUGH!

Banyu tersentak kaget. Motornya sedikit oleng.

Pundak kanannya dipukul keras. Bukan ditepuk, dipukul.

Banyu reflek menarik rem tangan. Motor berhenti mendadak. Untung saja kecepatan mereka rendah. Banyu menoleh ke belakang dengan panik, mengira ada kecelakaan atau barang jatuh.

Si penumpang pria menunjuk ke arah trotoar di sebelah kanan dengan wajah kesal. Bibirnya bergerak cepat, memaki.

"Gue bilang kanan! Kanan! Budeg banget sih lo!"

Banyu membaca gerak bibir itu: Budeg.

Kata itu seperti silet yang mengiris ulu hatinya. Banyu menelan ludah. Ia menunjuk stiker di helmnya lagi. Di sana tertulis jelas: 20 meter sebelum belok tepuk pundak saya.

Penumpang itu tidak menepuk 20 meter sebelumnya. Dia memukul tepat di persimpangan, saat Banyu sudah mengambil ancang-ancang lurus.

Banyu tidak membalas. Ia tidak bisa berdebat. Suaranya yang "berbeda" seringkali malah menjadi bahan tertawaan jika ia memaksa bicara. Dengan sabar, ia mengangguk, lalu memutar arah motornya ke tepi trotoar yang dimaksud.

Penumpang itu turun dengan kasar. Ia melemparkan helm ke arah Banyu—untung Banyu sigap menangkapnya. Pria itu berjalan pergi begitu saja, masuk ke stasiun MRT tanpa menoleh lagi. Tanpa ucapan terima kasih. Tanpa tip.

Banyu terdiam di pinggir jalan. Debu jalanan terasa lebih tebal dari biasanya.

Ia kembali membuka aplikasi "Laju".

Penyelesaian Order: Selesai.

Skor: 5.5. (Tambahan 0.5 poin insentif jarak pendek).

Setengah poin. Harga dirinya barusan dihargai setengah poin.

Banyu menyandarkan punggungnya ke tiang listrik di trotoar. Ia membuka dompetnya yang lusuh. Lembaran uang dua ribuan dan lima ribuan tersusun rapi—sisa kembalian.

Pikirannya melayang ke rumah. Ke wajah istrinya yang semalam diam-diam menangis di dapur karena beras habis. Ke wajah ibunya di kampung. Dulu, saat Banyu memutuskan menjadi driver ojol pada tahun 2014, ibunya sempat khawatir. Orang tua mana yang tega melepas anak yang seumur hidupnya tidak pernah mendengar suara klakson ke jalanan ganas Jakarta? Tapi Banyu bersikeras. Ia berhenti jadi buruh pabrik plastik karena ingin penghasilan lebih, ingin mandiri.

"Mama bilang, harus belajar berani," gumam Banyu dalam hati, mengulang mantra yang selalu diucapkan ibunya saat memberikan izin dulu. "Paling berat itu tantangannya salah alamat, bukan soal telinga," kata Banyu waktu itu, mencoba meyakinkan ibunya.

Sekarang, tantangan terberatnya bukan salah alamat. Tantangan terberatnya adalah merasa tidak terlihat. Dianggap ada hanya sebagai mesin pengantar, dan dianggap rusak ketika mesin itu tidak merespons suara.

Tapi Banyu tahu, ia tidak boleh menyerah. Ia masih punya tangan yang kuat, mata yang tajam, dan hati yang—meski retak—masih utuh. Ia harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri dan membantu orang tuanya. Ia tidak mau dikasihani. Ia ingin setara.

Banyu kembali menegakkan duduknya. Ia merapikan jaket abu-abunya. Ia mengusap stiker di helmnya, membersihkan debu yang menempel pada tulisan "Mohon kerja samanya".

"Satu lagi," batinnya. "Satu orderan lagi. Semoga kali ini penumpangnya bisa membaca."

Tangannya kembali menekan layar ponsel. Menunggu getaran berikutnya. Menunggu rezeki yang entah kapan datangnya di kota yang semakin pelit ini.