Jam sepuluh malam. Jakarta belum benar-benar tidur, tapi napasnya sudah mulai berat. Lampu-lampu gedung pencakar langit di kejauhan tampak seperti rasi bintang buatan yang mengejek siapa saja yang masih berada di aspal, bergulat dengan nasib.
Banyu mematikan mesin motornya di depan pagar rumah kontrakan tipe 21 yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Getaran mesin yang seharian menjadi teman setianya akhirnya berhenti, meninggalkan kekosongan di telapak tangannya. Kini, hening itu terasa berbeda. Di jalanan, hening adalah kewaspadaan. Di sini, di depan pintu rumahnya sendiri, hening adalah ketakutan.
Ia tidak langsung turun. Banyu duduk diam di atas jok motornya yang mulai tipis busanya. Ia merogoh saku jaket abu-abunya, mengeluarkan gumpalan uang kertas yang lecek dan berbau keringat. Uang receh logam beradu di telapak tangannya, menciptakan getaran kecil yang ia rasakan di kulit.
Ia menghitungnya di bawah pendar lampu jalan yang temaram.
Dua puluh ribu. Sepuluh ribu. Lima ribu. Dan segenggam receh.
Totalnya jauh dari cukup.
Dulu, sebelum pandemi menghantam dan sebelum algoritma aplikasi "Laju" terasa semakin mencekik, Banyu bisa membawa pulang senyum lebar. Target 15 poin per hari adalah hal yang masuk akal. Dengan 15 poin, insentif cair. Dapur mengepul. Susu untuk Fajar, anaknya yang baru berusia lima tahun, selalu tersedia.
Tapi hari ini? Banyu menatap layar ponselnya lagi. Riwayat orderan hari ini merah. Total Poin: 6. Pendapatannya terjun bebas, rata-rata hanya 5 sampai 7 poin saja per hari belakangan ini. Situasi sepi, orang-orang berhemat, dan persaingan antar driver semakin gila. Virus yang tak terlihat itu tidak hanya menyerang paru-paru manusia, tapi juga menggerogoti dompet orang-orang kecil seperti Banyu.
Banyu memasukkan kembali uang itu ke saku dengan gerakan lambat. Ia menarik napas panjang, mencoba membusungkan dada, menyiapkan mental untuk menjadi "kepala keluarga" di balik pintu itu. Ia melepas helmnya—helm dengan stiker instruksi "Tepuk Pundak" yang menjadi identitasnya di jalanan —dan menaruhnya di spion.
Ia mengetuk pintu. Dua kali. Irama yang sudah disepakati.
Pintu terbuka. Sosok Dina, istrinya, berdiri di sana. Wajahnya lelah, rambutnya diikat asal-asalan. Daster batik yang dipakainya sudah pudar warnanya. Dina tidak tersenyum, tapi juga tidak cemberut. Ekspresinya datar, ekspresi seseorang yang sudah terlalu lelah untuk marah.
Banyu masuk, aroma minyak telon dan masakan sisa tadi siang menyambut hidungnya. Rumah ini sempit. Ruang tamu merangkap ruang keluarga, dan hanya dipisahkan gorden tipis dengan dapur.
"Fajar sudah tidur?" Banyu bertanya menggunakan bahasa isyarat yang sederhana. Gerakan tangannya luwes, menangkupkan kedua tangan di pipi (tidur) lalu menunjuk ke kamar.
Dina mengangguk. Mulutnya bergerak pelan, “Sudah dari jam delapan. Dia nanyain kamu terus.”
Banyu membaca gerak bibir itu dengan perasaan bersalah yang menusuk. Ia mengangguk pelan, lalu merogoh saku jaketnya. Ia meletakkan hasil kerjanya hari ini di atas meja makan kecil yang taplaknya miring. Tumpukan uang lecek itu terlihat menyedihkan di sana.
Dina menatap uang itu. Banyu melihat bahu istrinya turun sedikit—sebuah bahasa tubuh yang menandakan kecewa, meski Dina berusaha menyembunyikannya.
Banyu segera membuat gerakan tangan cepat, menjelaskan, “Maaf. Sepi. Orderan jarang. Tadi ada yang batalin karena aku telat baca chat.”
Dina menghela napas. Ia menyentuh lengan Banyu, lalu bibirnya bergerak lagi, kali ini lebih lambat agar Banyu bisa menangkap setiap katanya dengan jelas.
“Listrik bunyi terus, Nyu. Token habis. Besok Fajar minta bayar buku gambar.”
Listrik. Buku gambar. Dua hal sederhana yang malam ini terasa seperti kemewahan. Banyu menunduk, menatap lantai ubin yang retak. Ia merasa kecil. Lebih kecil daripada saat ia dimaki penumpang di jalanan tadi siang.
Di jalanan, Banyu punya "senjata". Ia punya stiker di helm yang memberitahu dunia siapa dirinya. Ia punya kartu yang ia sodorkan untuk meminta pengertian. Di jalanan, orang mungkin memaklumi keterbatasannya karena ia Tuli.
Tapi di meja makan ini, tagihan listrik tidak butuh pemakluman. Penjual token listrik tidak peduli telinga kanannya mati setengah dan kirinya mati total. Dunia ekonomi tidak mengenal disabilitas; ia hanya mengenal solvabilitas.
Banyu meraih tangan istrinya. Tangan itu kasar karena sering mencuci baju tetangga—pekerjaan tambahan Dina untuk menambal sulam kebutuhan mereka.
“Besok aku cari lebih banyak. Janji,” isyarat Banyu.
Dina tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. Dia mengambil uang di meja, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan teh hangat. Keheningan kembali menguasai ruangan, tapi kali ini bukan hening yang kosong. Ini adalah hening yang padat, penuh dengan kata-kata yang tertahan karena takut melukai.
Banyu berjalan pelan menuju kamar satu-satunya di rumah itu. Ia menyibakkan tirai pintu. Cahaya lampu jalan menerobos masuk lewat ventilasi, menyinari wajah kecil Fajar yang sedang terlelap.
Fajar Satria. Putranya.
Anak itu tidur dengan mulut sedikit terbuka, tangan kecilnya memeluk guling yang sarungnya sudah longgar. Banyu duduk di tepi kasur, hati-hati agar tidak menimbulkan getaran yang bisa membangunkan anaknya.
Ia menatap wajah polos itu lama sekali. Ingatannya melayang mundur ke beberapa tahun silam. Ke masa ketika ia masih berseragam pabrik plastik di Surabaya. Waktu itu hidupnya lebih pasti. Gaji bulanan, jam kerja teratur. Tapi sebagai buruh yang sudah kehilangan pendengaran sejak demam tinggi di usia lima tahun, ia selalu merasa ditaruh di "kotak" yang sempit. Orang-orang menganggapnya hanya bisa bekerja kasar karena tidak bisa mendengar instruksi lisan.
Lalu ia mendengar tentang ojek online. Temannya bilang penghasilannya lumayan. Banyu nekat. Ia ingin mandiri. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa bekerja dengan kakinya sendiri, mengatur waktunya sendiri. Orang tuanya sempat melarang keras. “Bahaya, Nyu. Kamu nggak dengar klakson. Kalau ketabrak gimana?” Banyu ingat betul wajah cemas ibunya waktu itu. Tapi Banyu menjawab dengan keyakinan penuh, “Aku punya mata, Bu. Mata aku masih tajam.”.
Akhirnya orang tuanya luluh, dengan satu syarat: Hati-hati. Dan Banyu memegang janji itu. Bertahun-tahun ia mengaspal, pindah ke Jakarta demi cinta, menikahi Dina, dan memiliki Fajar. Ia berhasil membuktikan bahwa ia bisa. Penghasilannya sempat cukup untuk menghidupi mereka dengan layak.
Tapi malam ini, melihat Fajar tidur di kasur yang spreinya mulai tipis, keyakinan Banyu goyah.
Apakah ia egois? Apakah keputusannya menjadi driver—pekerjaan yang sangat bergantung pada fluktuasi pasar dan algoritma—adalah kesalahan?
Fajar bergerak sedikit dalam tidurnya, lalu kembali tenang. Banyu mengusap rambut anaknya. Fajar adalah anak yang mendengar (hearing). Dia sempurna. Banyu sering ketakutan, suatu hari nanti saat Fajar tumbuh besar, apakah dia akan malu dijemput ayahnya di sekolah? Ayah yang tidak bisa dipanggil, ayah yang bicaranya "aneh", ayah yang harus ditepuk pundaknya dulu baru menoleh.
"Ayah akan kerja lebih keras," bisik Banyu tanpa suara. Tenggorokannya tercekat.
Banyu keluar dari kamar, menutup tirai kembali. Dina sudah meletakkan segelas teh manis hangat di meja. Uapnya mengepul tipis.
Banyu duduk, menyeruput teh itu. Manis, tapi ada rasa sepet yang tertinggal. Ia mengambil ponselnya lagi. Matanya menatap tajam ke aplikasi "Laju".
Jarinya menggulir ke menu pengaturan layanan. Ada satu tombol yang selama ini sering ia matikan atau ia hindari sebisa mungkin: Rush-Box (Layanan Antar Barang/Kurir).
Bagi driver Tuli seperti Banyu, orderan Rush-Bike (penumpang) dan Rush-Food (makanan) adalah primadona. Komunikasinya mudah, cukup lewat chat aplikasi atau WhatsApp. Penumpang tinggal duduk, makanan tinggal pesan. Selesai.
Tapi Rush-Box adalah mimpi buruk. Seringkali pengirim barang ingin memastikan driver sampai tepat waktu dan menelepon untuk memandu jalan ke alamat yang rumit. Dan orderan Rush-Box mewajibkan komunikasi intens yang seringkali harus real-time alias telepon. Jika driver tidak mengangkat telepon, pengirim sering membatalkan pesanan sepihak atau memberi bintang satu.
Namun, Banyu tahu fakta lain: Orderan Rush-Box seringkali memiliki insentif lebih besar dan jarak tempuh yang jauh (poin tinggi).
Di tengah situasi pandemi yang membuat orderan penumpang (Rush-Bike) sepi karena orang takut keluar rumah atau bekerja dari rumah (WFH), Rush-Box justru meningkat karena orang lebih suka kirim-kirim barang.
Banyu menatap tombol geser di samping tulisan Rush-Box. Warnanya abu-abu (mati).
Ia melirik ke arah dapur, melihat punggung Dina yang sedang mencuci gelas. Punggung yang mulai membungkuk karena beban hidup. Ia teringat lampu indikator token listrik yang berkedip cepat. Ia teringat buku gambar Fajar.
Dengan gerakan tegas, Banyu menggeser tombol itu ke kanan.
Warnanya berubah menjadi Hijau (Aktif).
Ia akan mengambil risiko itu. Besok, ia akan menjadi kurir. Persetan dengan telepon yang tidak bisa ia dengar. Persetan dengan alamat yang membingungkan. Ia akan mengandalkan matanya, Google Maps, dan fitur Share Location.
Ia teringat kata-kata ibunya lagi: "Paling berat itu tantangannya salah alamat. Tapi harus belajar berani.".
Benar. Salah alamat bisa diperbaiki dengan putar balik. Tapi salah mengambil keputusan untuk menyerah, tidak bisa diperbaiki.
Banyu menghabiskan tehnya dalam sekali teguk. Getaran hangat menjalar ke perutnya, memberikan sedikit tenaga. Ia meletakkan gelas itu dengan bunyi klat pelan di meja.
Malam semakin larut. Di luar sana, angin malam mengetuk jendela, seolah memberitahu bahwa besok tantangan akan lebih berat. Tapi Banyu sudah siap. Ia adalah resonansi yang menolak diam di jalan buntu. Besok, ia akan bertarung lagi. Bukan hanya dengan aspal, tapi dengan sunyi yang mencoba menelannya.
Banyu mematikan lampu ruang tengah. Gelap menyelimuti ruangan, tapi di dalam dadanya, ada nyala api kecil yang baru saja disulut kembali. Api seorang ayah yang menolak kalah.