Pagi di Jakarta selalu dimulai dengan terburu-buru. Kabut polusi yang tipis menggantung di langit-langit kota, menyamarkan matahari yang mencoba naik. Di dalam rumah kontrakan sempit itu, Banyu sudah siap dengan jaket abu-abunya. Resleting jaket itu ia tarik sampai ke leher, seolah memasang baju zirah untuk menghadapi perang.
Fajar masih tertidur pulas. Anak itu memeluk guling dengan damai, tidak tahu bahwa ayahnya sedang menatapnya dengan dada sesak. Fajar adalah namanya, dan fajar adalah harapannya. Tapi pagi ini, harapan itu terasa berat. Token listrik yang semalam berkedip merah—seperti lampu peringatan bom waktu yang terus menyala di dinding—sekarang sudah diam. Mati. Dina pasti sudah mencabut stekernya agar tidak berisik, atau pulsanya benar-benar sudah nol.
Banyu melangkah keluar. Ia duduk di atas motor, memasang helm dengan stiker keramatnya. Ia mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi "Laju".
Jarinya melayang di atas layar. Ragu.
Di sana, fitur Rush-Box (Layanan Antar Barang) sudah menyala hijau. Ia mengaktifkannya semalam dengan nekat, tapi pagi ini, rasionalitas ketakutan itu kembali menyerang. Mengambil orderan barang berarti mengambil risiko komunikasi yang rumit. Berbeda dengan penumpang yang bisa ia tepuk pundaknya, benda mati di dalam kardus tidak bisa diajak bicara, dan pemiliknya seringkali menuntut konfirmasi suara lewat telepon.
Telinga kanan Banyu yang setengah tuli hanya bisa menangkap suara jika lawan bicaranya berhadapan langsung dan bersuara keras. Telepon? Itu mustahil. Suara di telepon baginya hanya serangkaian bunyi kresek-kresek tanpa makna.
"Demi Fajar," bisik batinnya.
Ia menekan tombol "Mulai Bekerja".
Lima belas menit berlalu tanpa hasil. Banyu mulai gelisah. Ia memindahkan motornya ke dekat area ruko di Fatmawati, mencari sinyal yang lebih kuat. Ia butuh "pecah telor" secepatnya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar panjang. Bukan getaran pendek pesan masuk, tapi getaran panjang orderan masuk.
Layanan: Rush-Box
Jarak Jemput: 1.5 KM
Barang: Dokumen Penting
Tarif: Rp 45.000 (Jarak Jauh)
Angka Rp 45.000 itu berkilau di mata Banyu. Itu setara dengan tiga kali narik penumpang jarak dekat. Itu bisa membeli token listrik hari ini juga.
Tanpa membiarkan ketakutannya mengambil alih, Banyu menyambar tombol "Terima".
Orderan Diterima.
Detik berikutnya, Banyu langsung beraksi. Ia tidak menyalakan mesin motor dulu. Hal pertama yang ia lakukan adalah strategi pertahanannya: Chat Template.
Ia membuka fitur pesan di aplikasi, lalu dengan cepat menempelkan teks yang sudah ia siapkan:
"Selamat pagi. Saya Banyu, driver Laju. Mohon maaf saya Tuli. Mohon jangan telepon karena saya tidak bisa dengar. Tolong kirim patokan lokasi lewat chat ini. Saya segera meluncur.".
Terkirim. Centang satu.
Banyu menunggu. Centang dua. Berubah biru. Dibaca.
Tidak ada balasan.
Jantung Banyu berdegup tidak enak. Biasanya, pelanggan yang "ribet" akan langsung membatalkan pesanan begitu membaca kata "Tuli". Tapi orderan ini masih aktif. Mungkin orangnya mengerti? Atau mungkin orangnya tidak peduli?
Banyu menyalakan mesin. Ia mengikuti garis biru di peta digital, membelah kemacetan pagi. Matanya awas. Spion kanan, spion kiri, depan. Ia melihat sebuah ambulans di kejauhan dari pantulan kaca gedung, lalu segera menepi memberi jalan sebelum sirinenya terdengar oleh orang normal. Visual adalah kekuatannya.
Ia tiba di titik penjemputan. Sebuah rumah mewah di kawasan Pondok Indah. Pagarnya tinggi menjulang, terbuat dari besi tempa hitam dengan ornamen emas yang menyilaukan. Ada pos satpam di depannya.
Banyu memarkir motor di pinggir jalan. Ia melihat ponselnya. Masih belum ada balasan chat.
Tiba-tiba, layar ponselnya berubah tampilan. Sebuah nama muncul di layar: Pak Hendra (Pengirim).
Ponsel itu bergetar hebat. Panggilan masuk.
Napas Banyu tercekat. Inilah momok yang ia takutkan.
Ia menatap layar itu dengan nanar. Ia ingin panggilan itu berhenti, sungguh. Ia ingin berteriak, "Pak, saya di depan!", tapi ia tahu jika ia mengangkatnya, ia hanya akan mendengar suara bising tak jelas dan Pak Hendra di sana akan mengira sinyal jelek atau Banyu main-main.
Banyu membiarkan panggilan itu mati.
Lalu ia mengetik lagi dengan cepat: "Maaf Pak, saya di depan gerbang hitam. Saya tidak bisa angkat telepon karena Tuli. Mohon chat saja."
Ponsel bergetar lagi. Panggilan masuk kedua.
Keringat dingin mulai menetes di pelipis Banyu. Orang ini tidak membaca chat, atau tidak peduli. Banyu menolak panggilan itu (reject) agar bisa mengirim pesan lagi.
Di balik kaca pos satpam, seorang petugas keamanan berseragam safari biru tua sedang menatapnya. Satpam itu keluar, wajahnya garang. Mulutnya bergerak-gerak, meneriakkan sesuatu.
Banyu tidak mendengar apa-apa. Jarak mereka tinggal tiga meter. Ia hanya melihat satpam itu melambaikan tangan dengan kasar, menyuruhnya pindah atau mungkin bertanya "Cari siapa?!".
Banyu mencoba bersikap sopan. Ia mengangguk dan menunjuk ponselnya.
Satpam itu makin mendekat, langkahnya lebar dan agresif. Banyu bisa melihat urat leher satpam itu menonjol. Orang normal pasti mendengar bentakan keras. Bagi Banyu, itu seperti menonton film bisu yang adegannya sedang marah.
"HEH! BUDEG YA?!"
Banyu membaca gerak bibir itu. Kata itu lagi.
Satpam itu kini berdiri tepat di samping motornya, memukul stang motor Banyu dengan tongkat karetnya—pelan, tapi cukup untuk mengirimkan getaran kaget ke lengan Banyu.
Banyu membuka kaca helmnya. Ia menunjuk telinganya, lalu menunjuk stiker di belakang helmnya.
"Maaf, Pak. Saya driver Laju. Mau ambil paket Pak Hendra. Saya... kurang dengar," ucap Banyu. Suaranya terdengar agak sengau dan volumenya mungkin tidak pas—terlalu keras atau terlalu pelan—khas orang yang tidak bisa mendengar suaranya sendiri.
Satpam itu terdiam. Matanya beralih ke stiker di helm Banyu. Ekspresi garangnya luntur seketika, berganti menjadi ekspresi canggung yang menyebalkan.
"Oh... nggak denger," gumam satpam itu, bibirnya terbaca jelas. "Tunggu situ."
Satpam itu masuk ke dalam gerbang lewat pintu kecil, lalu berbicara lewat interkom. Tak lama kemudian, gerbang besar itu terbuka secara otomatis.
Seorang pria paruh baya keluar dengan tergesa-gesa. Ia memakai baju batik rapi, tangan kanannya memegang sebuah amplop cokelat besar, tangan kirinya memegang ponsel yang masih menempel di telinga. Wajahnya merah padam.
Pak Hendra.
Dia berjalan lurus ke arah Banyu tanpa memutus sambungan teleponnya (mungkin bicara dengan orang lain). Begitu sampai di depan Banyu, ia menurunkan ponselnya.
"Kamu gimana sih?!" bentaknya. Banyu bisa menangkap suara itu karena Pak Hendra berteriak tepat di depan wajahnya. Telinga kanan Banyu menangkap distorsi suara yang kasar.
"Saya telepon berkali-kali nggak diangkat! Kalau nggak niat kerja jangan ambil orderan dokumen penting!" semprot Pak Hendra. Ludahnya muncrat sedikit.
Banyu turun dari motor. Ia menundukkan kepala, gestur minta maaf yang sudah mendarah daging.
"Maaf, Pak," kata Banyu pelan. Ia merogoh saku, mengeluarkan kartu laminatingnya yang bertuliskan: Maaf saya Tunarungu/Tuli.
Ia menyodorkan kartu itu ke hadapan Pak Hendra yang masih berapi-api.
Pak Hendra berhenti di tengah kalimat. Matanya menyipit membaca tulisan di kartu itu. Hening sejenak. Kemarahan di wajahnya perlahan surut, tapi tidak digantikan oleh rasa hormat. Wajah itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan bagi Banyu: Rasa Kasihan.
"Astaga..." Pak Hendra menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala. "Saya nggak tahu kalau kamu... begitu."
Kata 'begitu' menggantung di udara.
Pak Hendra menoleh ke satpam, lalu tertawa kecil—tawa yang meremehkan. "Pantesan ditelepon reject terus. Ternyata rusak."
Dada Banyu bergemuruh. Ia ingin marah. Ia ingin bilang bahwa hp-nya tidak rusak, telinganya yang rusak, tapi otaknya bekerja sempurna. Ia sampai tepat waktu, ia parkir dengan benar, ia sopan.
"Mana barangnya, Pak?" tanya Banyu, berusaha mempertahankan profesionalismenya. Ia tidak mau drama. Ia butuh Rp 45.000 itu.
Pak Hendra menyerahkan amplop cokelat itu dengan gerakan ragu, seolah takut Banyu akan menjatuhkannya.
"Ini dokumen tender. Jangan sampai basah. Jangan sampai lecek. Kamu ngerti nggak?" Pak Hendra bicara dengan tempo yang dilambat-lambatkan dan mulut yang dibuka lebar-lebar, seperti bicara pada anak balita yang bodoh.
"Nger-ti. Sa-ya pa-ham," jawab Banyu, menahan rasa tersinggungnya.
"Ya sudah. Sana jalan. Hati-hati. Awas nyasar, nanti ditelepon nggak nyambung lagi," sindir Pak Hendra sambil berbalik badan.
Banyu memasukkan dokumen itu ke dalam tas plastik pelindung hujan yang selalu ia bawa, lalu menyimpannya aman di dalam jaket, menempel di dadanya.
Sebelum Banyu sempat menaiki motor, Pak Hendra berbalik lagi. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah. Ia menyelipkannya ke saku jaket Banyu yang terbuka.
"Buat beli minum. Kasihan, susah cari kerja ya kondisi begitu," katanya.
Banyu terpaku. Uang sepuluh ribu itu terasa panas di saku jaketnya. Itu bukan tip karena pelayanan yang baik. Itu uang sedekah. Itu uang yang diberikan karena Pak Hendra merasa lebih tinggi, lebih sempurna, dan memandang Banyu sebagai objek amal yang menyedihkan.
Banyu ingin mengembalikan uang itu. Harga dirinya berteriak: Lempar balik uangnya! Kamu bukan pengemis!
Tapi kemudian bayangan Fajar muncul. Bayangan Dina yang menghitung receh di meja makan. Bayangan token listrik yang mati.
Sepuluh ribu ini bisa menambah token listrik.
Banyu menelan ludah pahit. Ia mengangguk kaku. "Terima kasih, Pak."
Ia naik ke motor, menyalakan mesin. Getaran mesin menjalar ke lengannya, meredam getaran tangannya yang gemetar karena emosi. Ia tidak menoleh lagi ke arah gerbang megah itu. Ia memacu motornya keluar dari kawasan elit itu, kembali ke jalan raya yang bising dan kejam.
Di jalan raya, tidak ada yang peduli dia Tuli atau tidak. Di jalan raya, dia setara. Dia hanya harus lebih cepat, lebih awas, dan lebih tangguh.
Tapi rasa "kasihan" dari Pak Hendra tadi menempel lebih lengket daripada debu jalanan. Banyu mengusap kaca helmnya yang berembun, padahal tidak sedang hujan. Matanya terasa panas.
"Sabar, Nyu. Sabar," batinnya menguatkan diri. "Yang penting Fajar bisa sekolah. Biar Fajar nanti jadi orang yang duduk di dalam gerbang, bukan yang menunggu di luar."
Motor Banyu melaju, membelah Jakarta yang tidak pernah mau mengerti bahasa kesunyian. Di dalam jaketnya, dokumen tender bernilai miliaran rupiah itu aman terlindungi, dibawa oleh seseorang yang dianggap "rusak" hanya karena ia tidak mendengar nada dering telepon.