Sisa hujan sore itu menyisakan genangan-genangan air keruh di lubang-lubang aspal Jakarta Selatan. Langit yang tadinya hitam pekat kini mulai berubah menjadi ungu lebam, tanda bahwa maghrib sebentar lagi akan turun menutup hari yang melelahkan.
Banyu masih duduk di atas motornya di pinggir trotoar Jalan Fatmawati, menatap nanar ke arah lalu lintas yang mulai padat merayap. Tubuhnya masih sedikit gemetar sisa dari adrenalin kejadian truk tadi. Jaket abu-abunya yang sempat basah kini mulai mengering karena angin dan panas mesin, meninggalkan bau apek yang samar—bau keringat bercampur air hujan dan asap knalpot. Bau perjuangan.
Ia melirik ponselnya.
Skor: 1.5.
Angka itu tidak bergerak sejak siang tadi. Uang Rp 45.000 dari orderan paket maut tadi sudah ia transfer ke rekening bank digitalnya, siap dibelikan token listrik nanti malam. Tapi itu pas-pasan. Sangat pas-pasan. Jika ia pulang sekarang, ia hanya membawa listrik, tapi tidak membawa lauk untuk besok pagi. Dina mungkin tidak akan mengeluh, tapi diamnya Dina adalah suara paling keras yang menyiksa hati Banyu.
"Satu lagi," batin Banyu. "Satu penumpang lagi. Cukup buat beli telur setengah kilo."
Ia mengusap wajahnya yang kusam dengan sarung tangan yang kasar. Matanya terasa perih terkena debu jalanan. Ia menatap spion kanannya yang kini retak di ujungnya—cenderamata dari truk tanah yang nyaris melumatnya. Retakan itu memantulkan wajahnya yang terbagi dua. Separuh lelah, separuh keras kepala.
Ting!
Getaran pendek di stang motor. Notifikasi masuk.
Layanan: Rush-Bike (Penumpang)
Lokasi Jemput: Apotek K-24, 300 meter.
Tujuan: Kompleks Perumahan Cirendeu.
Banyu menarik napas panjang. Cirendeu macet jam segini. Tapi ia tidak punya kemewahan untuk memilih. Ia menekan tombol "Terima".
Ia melajukan motornya pelan. Trauma kejadian truk tadi membuatnya menyetir lebih defensif. Setiap kali ada kendaraan besar mendekat di spion, otot punggung Banyu menegang otomatis, siap membanting setir. Ia menjadi paranoid, tapi paranoid itulah yang membuatnya bertahan hidup sampai detik ini.
Sampai di depan apotek, Banyu melihat calon penumpangnya. Seorang wanita paruh baya, mungkin seusia ibunya di kampung, mengenakan kerudung rapi berwarna pastel dan membawa tas belanjaan kain yang terlihat penuh. Wajahnya teduh, tidak tampak terburu-buru seperti orang-orang kantoran di Sudirman.
Banyu menepikan motor. Ia melakukan ritual wajibnya. Menurunkan standar samping, memutar badan, dan menyodorkan kartu laminating keramatnya.
Kartu itu sudah agak kusam di bagian pinggirnya, berisi kalimat singkat yang menjadi jembatan komunikasinya: "Hallo, maaf saya tuna rungu/tuli. Terima kasih."
Wanita itu—sebut saja Bu Ratna—menerima kartu itu. Tidak seperti Pak Hendra yang menatap jijik, atau penumpang siang tadi yang acuh tak acuh, Bu Ratna memegang kartu itu dengan dua tangan. Matanya membaca tulisan di sana dengan seksama.
Lalu, matanya beralih ke helm Banyu.
Banyu mengamati dari spion. Bu Ratna sedang membaca stiker di belakang helmnya. Bibirnya bergerak pelan mengeja instruksi itu:
"...dua puluh meter sebelum belok... tepuk pundak..."
Wanita itu mengangguk pelan, seolah sedang menghafal sebuah perjanjian penting. Ia tersenyum pada Banyu, lalu menyerahkan kembali kartu itu.
"Sesuai aplikasi ya, Mas," ucapnya. Banyu membaca gerak bibirnya yang jelas dan tidak berlebihan. Santai. Tenang.
Bu Ratna naik ke boncengan dengan hati-hati. Tidak menghentak, tidak membuat motor oleng.
"Sudah, Mas," isyaratnya dengan menepuk pelan pundak Banyu dua kali saat sudah duduk nyaman.
Banyu menarik gas. Motor melaju membelah kemacetan jam pulang kerja.
Perjalanan itu sunyi, seperti biasa bagi Banyu. Namun, ada "rasa" yang berbeda. Biasanya, penumpang akan sibuk main HP, menelepon dengan suara keras, atau gelisah bergerak-gerak di jok belakang yang membuat keseimbangan motor terganggu.
Bu Ratna duduk tenang. Sangat tenang. Banyu bisa merasakan dari kestabilan motornya. Sesekali ia melirik spion, memastikan penumpangnya aman. Bu Ratna hanya melihat pemandangan jalanan sore, wajahnya damai.
Langit semakin gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan pendaran oranye di genangan air sisa hujan. Banyu menyalakan lampu utamanya. Ia harus lebih awas. Malam membuat visual semakin terbatas.
Mereka memasuki kawasan Cirendeu yang jalannya lebih sempit dan banyak belokan. Di sinilah ujian sesungguhnya bagi driver Tuli.
Biasanya, di jalan-jalan tikus seperti ini, penumpang akan menjadi navigator yang cerewet.
"Kiri Bang! Kiri!"
"Woy, kelewatan! Budeg lu!"
Teriakan-teriakan itu adalah makanan sehari-hari Banyu. Ia sudah kebal dimaki karena terlambat berbelok. Masalahnya, penumpang seringkali memberi aba-aba dadakan. Mereka berteriak tepat di mulut gang, sementara Banyu butuh waktu reaksi visual.
Banyu melirik peta di ponselnya. Titik tujuan sudah dekat, tapi lokasinya ada di dalam labirin perumahan yang banyak gang mirip. Banyu mulai tegang. Ia takut salah belok lagi. Ia takut dimarahi lagi. Trauma siang tadi saat dipukul pundaknya masih terasa nyeri.
Ia memperlambat laju motornya, memberi kode pada penumpang bahwa ia butuh arahan.
Tiba-tiba, Banyu merasakan sesuatu.
Bukan pukulan. Bukan cengkeraman kasar.
Tapi sebuah tepukan.
Puk. Puk.
Dua kali tepukan ringan di pundak kiri.
Sangat lembut. Sangat sopan.
Banyu terkejut. Matanya langsung memindai jalan di depan. Sekitar dua puluh meter di depan, ada sebuah belokan ke kiri. Sebuah gang kecil yang hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan.
20 meter sebelum belok.
Instruksi di stikernya dipatuhi.
Jantung Banyu berdesir aneh. Selama bertahun-tahun ia menempel stiker itu, kebanyakan orang menganggapnya hanya hiasan atau lelucon. Jarang sekali—mungkin bisa dihitung jari—ada orang yang benar-benar memahaminya sebagai "alat komunikasi".
Banyu menyalakan lampu sein kiri. Ia berbelok dengan mulus masuk ke gang itu.
Seratus meter kemudian, jalan bercabang lagi. Kali ini ke kanan.
Sebelum Banyu sempat bingung, tepukan itu datang lagi.
Puk. Puk.
Di pundak kanan.
Juga dilakukan jauh-jauh hari, memberi Banyu waktu untuk bersiap pindah lajur, menyalakan sein, dan berbelok tanpa kaget.
Tenggorokan Banyu tercekat. Ada rasa panas yang menjalar di belakang kelopak matanya.
Ini bukan sekadar tepukan. Ini adalah bahasa. Ini adalah percakapan dua arah antara dua manusia yang saling menghargai. Bu Ratna tidak mengasihaninya, Bu Ratna tidak meremehkannya. Bu Ratna sedang bekerja sama dengannya.
Untuk pertama kalinya hari ini, Banyu merasa menjadi manusia utuh. Bukan mesin rusak. Bukan objek sedekah. Ia adalah seorang profesional yang sedang menjalankan tugasnya, dan penumpangnya menghormati SOP (Prosedur Operasional Standar) yang ia buat.
Akhirnya, mereka sampai di depan sebuah rumah berpagar putih.
Tepukan terakhir mendarat di kedua pundaknya secara bersamaan.
Puk-puk.
Kode untuk berhenti.
Banyu menepikan motor dengan sangat halus, seolah takut merusak momen sempurna ini. Bu Ratna turun.
Banyu membuka kaca helmnya, menatap wanita itu. Ia ingin mengucapkan terima kasih, tapi lidahnya terasa kelu. Ia takut suaranya yang "cacat" merusak suasana.
Namun, Bu Ratna tersenyum. Senyum keibuan yang tulus. Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu. Padahal tarif di aplikasi hanya dua belas ribu.
Banyu menggeleng cepat, hendak mencari kembalian di saku jaketnya.
Bu Ratna menahan tangan Banyu. "Ambil saja, Mas. Buat anak di rumah," ucapnya. Banyu membaca gerak bibir itu: Buat anak.
Lalu, Bu Ratna melakukan sesuatu yang membuat pertahanan Banyu runtuh seketika.
Wanita itu mengangkat tangan kanannya. Ia menguncupkan kelima jari tangannya, lalu menempelkan ujung jari-jari itu ke dagunya sendiri, dan menggerakkannya ke arah Banyu sambil sedikit membungkuk.
Gerakan itu sederhana. Tapi bagi Banyu, itu adalah puisi.
Itu adalah BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) untuk kata: "Terima Kasih".
Banyu terpaku. Napasnya tertahan. Dunia seakan berhenti berputar sejenak. Suara bising knalpot dari jalan raya di kejauhan lenyap. Yang ada hanya dia, Bu Ratna, dan isyarat tangan itu.
Wanita ini... dia tahu. Dia belajar. Atau mungkin dia hanya tahu satu kata itu, tapi dia menggunakannya. Dia masuk ke dunia Banyu, menyapa Banyu dengan bahasa ibunya.
Dengan tangan gemetar, Banyu membalas isyarat itu. Ia menempelkan ujung jarinya ke dagu, lalu mengarahkannya ke Bu Ratna.
"Terima kasih kembali, Bu."
Bu Ratna mengangguk, lalu masuk ke dalam pagar rumahnya. Pagar tertutup.
Banyu masih diam di atas motor. Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Di balik helm yang pengap itu, satu tetes air mata jatuh. Bukan air mata sedih. Bukan air mata marah.
Itu adalah air mata validasi.
Bahwa dia ada. Bahwa dia nyata.
Banyu menghapus air mata itu cepat-cepat dengan punggung sarung tangannya. Ia laki-laki. Ia ayah Fajar. Ia tidak boleh cengeng. Tapi dadanya terasa ringan. Beban dihina satpam tadi pagi, beban dipukul penumpang siang tadi, beban nyaris mati digilas truk... semuanya luruh, digantikan oleh kehangatan dari satu isyarat tangan sederhana.
Ia melihat ponselnya.
Penyelesaian Order: Selesai.
Skor: 2.5.
Masih jauh dari target. Uang di tangannya pun tidak seberapa. Dua puluh ribu. Cukup untuk beli telur dan mungkin sebungkus nasi padang lauk perkedel untuk dimakan berdua dengan Dina.
Tapi bagi Banyu, ia pulang membawa sesuatu yang lebih mahal daripada uang. Ia pulang membawa kembali martabatnya yang sempat hilang di jalanan Jakarta.
Banyu menyalakan mesin motor. Suara mesinnya menderu, getarannya merambat ke seluruh tubuh. Kali ini, getaran itu terasa seperti musik.
Ia memutar arah, menuju rumah. Menuju Fajar.
Di langit barat, sisa cahaya matahari terakhir sudah hilang, digantikan gelap malam. Tapi di dalam hati Banyu, lampu kecil baru saja menyala.
Malam ini, ia bisa menatap mata istrinya tanpa rasa malu. Malam ini, ia adalah seorang driver yang berhasil mengantar penumpangnya dengan selamat, dengan navigasi yang sempurna.
20 meter sebelum belok. Jarak yang memisahkan antara kesalahpahaman dan pengertian ternyata hanya sejauh tepukan tangan di pundak.
Banyu melesat menembus malam, membawa pulang resonansi harapan ke jalan buntu tempatnya tinggal.