Wasiat Terlarang: Perjamuan Desa Mati Wangi Bunga di Tanah Tandus
1/32
Bab 1

Wangi Bunga di Tanah Tandus

Hujan di Jakarta hari itu tidak turun untuk membersihkan debu, melainkan untuk menyamarkan bau tanah basah yang baru saja digali. Langit kelabu menggantung rendah, seolah hendak menimpa payung-payung hitam yang berkerumun di TPU Jeruk Purut. Tidak ada isak tangis histeris. Kematian Ratna, ibu Maya, terjadi begitu sunyi. Persis seperti cara wanita itu menjalani hidupnya dua dekade terakhir: tersembunyi, penuh rahasia, dan dilingkupi kegelisahan yang tak pernah terucap.

Maya berdiri di tepi liang lahat. Matanya kering di balik kacamata hitam. Ia tidak menangis bukan karena tak sedih, tapi karena kebingungan lebih mendominasi rasa dukanya. Ibunya meninggal bukan karena kanker atau serangan jantung. Dokter bilang "gagal organ multipel tanpa sebab jelas", tapi Maya melihat sendiri bagaimana tubuh ibunya menyusut. Minggu demi minggu, daging ibunya seakan "dimakan" dari dalam. Kulit memucat hingga transparan, rambut rontok dalam genggaman, dan muntahan terakhir itu-gumpalan rambut hitam panjang yang basah oleh lendir.

Padahal, rambut ibunya pendek.

"Mbak Maya?"

Suara bariton di sampingnya memecah lamunan. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas sedikit kebesaran menyodorkan amplop cokelat tebal. Pak Haryo, notaris keluarga yang baru Maya ketahui keberadaannya tiga hari lalu.

"Sesuai amanat Almarhumah," bisik Pak Haryo, suaranya bersaing dengan rintik hujan yang menghantam nisan marmer. "Kunci ini, dan sertifikat tanah di Desa Kalimati. Anda harus ke sana, Mbak. Tanda tangan pelepasan hak waris tidak bisa di Jakarta. Harus di lokasi, di hadapan Kepala Desa dan... di rumah itu."

Maya menerima amplop itu. Berat. Di dalamnya, ia merasakan kontur kunci besi tua yang dingin, seolah menyerap panas tubuh dari telapak tangannya.

"Kenapa harus ribet begini sih, Pak? Saya cuma mau jual tanahnya. Ibu nggak pernah cerita dia punya aset di Jawa Tengah," protes Maya. Nada suaranya tajam, khas orang kota yang terbiasa efisien.

Pak Haryo menatap Maya. Tatapannya sulit diartikan. Ada iba, tapi ada juga ketakutan yang tertahan. Pria itu melirik ke arah makam yang baru ditutup, lalu kembali menatap Maya.

"Bukan sekadar aset, Mbak. Itu... warisan. Dan warisan di keluarga Ibu Anda, punya aturannya sendiri. Saran saya? Pergi, tanda tangan, lalu pulang. Jangan menginap lebih dari tiga hari. Dan demi Tuhan, jangan terima apa pun dari penduduk desa, makanan atau minuman."

Peringatan itu terdengar konyol di telinga Maya. Mirip dialog film horor murahan tahun 80-an. Tapi, saat jemarinya menyentuh kunci besi di dalam amplop, sengatan dingin merambat naik ke lengan. Bulu kuduknya meremang.

Seketika, bau bunga melati tercium sangat kuat. Mengalahkan bau tanah basah dan asap knalpot jalanan Jakarta.

Bukan wangi segar pewangi ruangan. Itu wangi melati yang terlalu matang. Manis, menyengat, dan sedikit... busuk. Seperti bunga yang diletakkan di atas jasad kaku yang mulai membusuk.


Perjalanan menuju Desa Kalimati memakan waktu hampir sepuluh jam. Setelah keluar dari jalan tol, Jeep Wrangler hitam milik Maya harus menaklukkan jalanan aspal yang perlahan berubah menjadi trek berbatu. GPS di dasbor mobilnya sudah menyerah sejak satu jam lalu. Layar digital itu hanya menampilkan satu garis lurus membelah area hijau tanpa nama. Sinyal ponsel lenyap total. Bar di pojok layar ponsel pintar itu berubah menjadi tanda silang merah yang persisten.

Maya menyetir dalam diam. Hanya ditemani deru mesin dan gesekan ban pada kerikil. Pemandangan di luar jendela berubah drastis. Hutan jati meranggas berganti hutan pinus yang rapat dan gelap. Kabut mulai turun. Bukan kabut tipis romantis, melainkan kabut tebal berwarna putih susu yang seolah menelan cahaya lampu depan mobilnya.

Suhu udara anjlok. Indikator di mobil menunjukkan angka 18 derajat Celcius, tapi dingin yang merembes masuk lewat celah ventilasi terasa lebih menusuk. Dingin yang membawa serta kelembapan purba.

Sebuah plang kayu tua yang miring menyambut kedatangannya. Cat putihnya mengelupas, menyisakan tulisan tangan kasar berwarna merah pudar: DESA KALIMATI.

Nama yang aneh. Sungai Mati.

Saat roda mobilnya melintasi jembatan kayu yang berderit ngeri, Maya melihatnya. Sungai itu. Sebuah palung lebar membelah desa, namun tak setetes pun air mengalir di sana. Dasar sungai hanya berisi bebatuan hitam besar yang licin dan akar-akar pohon beringin yang menjuntai dari tebing. Tampak seperti urat nadi bumi yang mengering.

Desa itu sendiri tampak seperti lukisan tua yang warnanya memudar. Rumah-rumah penduduk terbuat dari kayu jati gelap, bergaya limasan dengan atap tinggi runcing. Tidak ada antena parabola, tidak ada kabel listrik semrawut, tidak ada suara bising televisi. Waktu seolah berhenti di sini. Keheningan di tempat ini bersifat fisik; menekan gendang telinga hingga terasa sakit.

Maya memelankan laju mobil. Di kiri-kanan jalan tanah sempit, ia melihat penduduk desa. Dan di sinilah keanehan itu mulai terasa nyata.

Mereka tidak menyapa.

Di desa-desa lain yang pernah Maya kunjungi untuk proyek arsitektur, kedatangan mobil asing biasanya disambut antusiasme anak-anak atau tatapan ingin tahu para ibu. Tapi di Kalimati, kedatangannya disambut tatapan kosong.

Seorang wanita tua berkebaya lusuh duduk di balai-balai bambu, mulutnya merah mengunyah sirih. Ia berhenti mengunyah saat mobil Maya lewat. Matanya, yang selaput putihnya telah keruh kekuningan, menatap lurus ke arah Maya di balik kaca mobil yang gelap. Tatapan itu hampa emosi, namun tajam mengikuti pergerakan mobil.

Kepalanya berputar pelan. Terlalu pelan. Gerakannya patah-patah, tidak sinkron dengan leher manusia normal. Seperti boneka mekanik yang engselnya berkarat.

Di sisi lain jalan, sekelompok pria yang sedang membelah kayu bakar menghentikan kapak mereka di udara. Mereka berdiri mematung. Peluh membasahi tubuh kurus namun berotot liat itu. Tidak ada senyum. Tidak ada anggukan ramah. Hanya tatapan kolektif yang dingin, mengunci Maya sebagai target asing.

Maya menelan ludah. Tenggorokannya kering. "Oke, penduduk yang 'ramah'," gumamnya sarkastis, berusaha mencairkan ketegangan yang ia rasakan sendiri. Ia mencengkeram setir lebih kuat. Kukunya memutih.

Anehnya, meski desa ini tampak terisolasi dan tertinggal, Maya menangkap detail kontradiktif. Kayu rumah mereka adalah jati kualitas terbaik yang harganya selangit di Jakarta. Di pergelangan tangan keriput wanita tua tadi, melingkar gelang emas murni yang tebalnya tak wajar. Anak-anak kecil yang berdiri diam di pekarangan mengenakan kain batik tulis halus, bukan kaos oblong murah.

Kemakmuran yang sunyi. Kekayaan yang disembunyikan di balik wajah desa yang mati.

Rumah tujuan Maya berada di ujung desa. Terpisah dari pemukiman utama oleh tanjakan curam yang ditumbuhi ilalang setinggi dada orang dewasa. Sesuai deskripsi surat wasiat, rumah itu bangunan paling besar di Kalimati. Sebuah rumah joglo kuno dengan pendopo luas, berdiri angkuh di atas tanah tinggi, membelakangi hutan pinus gelap.

Maya memarkir mobil di halaman depan yang penuh daun kering. Mesin mobil mati. Seketika itu juga, dunia seakan kehilangan suaranya. Tidak ada jangkrik. Tidak ada kicau burung. Hanya suara angin yang mendesau pelan melewati celah-celah kayu, menghasilkan bunyi huuu... panjang dan sedih.

Ia turun. Sepatu bot kulitnya menginjak tanah lembap. Udara di sini terasa "berat". Setiap kali menarik napas, rasanya seperti menghirup uap air jenuh yang lengket. Paru-parunya dipaksa bekerja lebih keras.

Maya mengeluarkan kunci besi tua dari saku jaket. Ia menaiki tangga pendopo. Lantai tegel abu-abu di pendopo itu dingin. Debu tebal melapisi setiap permukaan. Di sudut langit-langit, sarang laba-laba menjuntai seperti tirai koyak.

Di depan pintu utama yang terbuat dari kayu nangka utuh berukir naga, Maya ragu sejenak. Ukiran naga itu tidak seperti naga dalam mitologi Jawa yang agung. Mata naga itu melotot, lidahnya menjulur panjang, dan cakarnya seolah hendak merobek siapa pun yang berani masuk.

Klik.

Kunci berputar dengan suara klak keras yang bergema. Engsel pintu menjerit nyaring saat Maya mendorongnya terbuka.

Kegelapan menyambutnya. Kegelapan pekat yang berbau.

Bau itu lagi. Melati busuk. Kali ini lebih kuat, lebih terkonsentrasi, seolah sumber baunya ada tepat di dalam ruangan. Maya menutup hidung dengan lengan jaket, merogoh saku untuk mengambil senter. Sinar LED putih membelah kegelapan, menyoroti partikel debu yang melayang-layang di udara stasioner.

Ruang tamu itu luas, dengan pilar-pilar penyangga (saka guru) besar di tengahnya. Perabotan tertutup kain putih yang kini berubah warna menjadi kekuningan. Kursi rotan, meja marmer, lemari pajangan-semuanya tampak membeku dalam waktu.

"Halo?" suara Maya terdengar kecil, langsung diredam dinding-dinding kayu tebal.

Tidak ada jawaban. Tentu saja.

Ia melangkah masuk. Cahaya senter menyapu dinding. Foto-foto hitam putih berbingkai kayu jati tergantung miring. Foto orang-orang yang tidak ia kenal. Pria-pria berpakaian beskap Jawa dan wanita berkebaya sanggul besar. Wajah mereka serius, tanpa senyum. Namun, ada satu kesamaan yang membuat Maya merinding: mata mereka semua terlihat putih akibat pantulan blitz kamera lama. Atau mungkin, karena cacat pada klise foto. Efeknya membuat mereka tampak seperti mayat hidup yang mengawasi dari masa lalu.

Maya menemukan sakelar lampu di dinding, model putar kuno. Ia mencobanya. Nihil. Listrik benar-benar mati.

"Bagus. Malam pertama tanpa listrik di rumah hantu," gerutunya, mencoba memanggil kembali sisi rasionalnya. "Ini cuma rumah tua, Maya. Cuma kayu dan debu. Nggak ada apa-apa."

Ia memutuskan membuka jendela agar udara segar-atau setidaknya udara luar-bisa masuk menggantikan bau melati yang menyesakkan ini. Ia berjalan ke jendela samping, mendorong daun jendela kayu yang berat.

Saat itulah ia mendengarnya.

Sret... Sret...

Suara itu berasal dari lantai atas. Atau mungkin ruang belakang? Akustik rumah kayu ini membingungkan.

Maya membeku. Telinganya menajam.

Sret... dug.

Seperti suara sesuatu yang berat diseret di atas lantai papan. Bukan langkah kaki. Lebih seperti... karung goni yang ditarik? Atau kain panjang yang menyapu lantai? Suaranya berat, lambat, dan menyakitkan telinga.

"Siapa di sana?" teriak Maya. Lebih tegas. Ia mengarahkan senter ke lorong gelap menuju bagian belakang rumah (dalem ageng).

Hanya keheningan.

Maya menunggu sepuluh detik. Dua puluh detik. Tidak ada balasan. Hanya detak jantungnya sendiri yang mulai terdengar di telinga.

"Tikus. Pasti tikus besar atau musang," bisiknya pada diri sendiri. Logikanya bekerja keras menambal celah ketakutan. Ia kembali fokus pada tugasnya: membersihkan satu ruangan untuk tidur. Ia tidak mungkin tidur di mobil; punggungnya sudah remuk setelah sepuluh jam menyetir.

Ia memilih sebuah kamar di bagian depan yang terlihat paling bersih. Ada sebuah dipan kayu berkelambu di sana. Kelambunya kusam dan bolong-bolong, tapi kasurnya-anehnya-terlihat empuk meski berdebu. Maya membongkar tas, mengeluarkan sleeping bag dan lampu badai LED.

Matahari mulai terbenam. Di Desa Kalimati, malam tidak datang perlahan. Malam jatuh seperti tirai panggung yang dibanting. Dalam hitungan menit, cahaya abu-abu di luar jendela berubah menjadi hitam pekat. Tanpa polusi cahaya kota, kegelapan di sini terasa absolut. Hutan pinus di luar sana berubah menjadi dinding hitam raksasa yang mengepung rumah.

Maya menyalakan lampu badai, meletakkannya di atas meja kecil samping dipan. Cahaya temaram menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kayu.

Ia duduk di tepi dipan, meneguk air mineral. Saat itulah, dari sudut mata, ia menangkap pergerakan.

Sebuah cermin rias tua setinggi tubuh manusia berdiri di sudut ruangan. Kacanya buram dimakan jamur, retak seribu di bagian bawah. Maya menatap pantulan dirinya. Wajah lelah, rambut berantakan, mata cemas.

Namun, ada yang salah.

Di dalam pantulan cermin yang keruh itu, tepat di belakang bahu kiri pantulan Maya, ada distorsi bayangan. Sebuah noda gelap yang bentuknya tidak proporsional. Lengan bayangan itu terlihat terlalu panjang, menjuntai hingga ke lantai dengan sendi-sendi yang menonjol aneh.

Maya menoleh cepat ke belakang.

Kosong. Hanya dinding kayu.

Ia kembali menatap cermin. Noda itu hilang.

"Kau capek, May. Kau halusinasi," rutuknya. Ia menggosok wajah kasar.

Tiba-tiba, udara di kamar berubah drastis. Suhunya anjlok, membuat napas Maya mengepulkan uap putih. Tapi bukan dinginnya yang membuat Maya terpaku, melainkan perubahannya yang mendadak. Seolah ada seseorang yang baru saja membuka pintu lemari es raksasa tepat di depan wajahnya.

Dan bau itu... bau melati busuk itu kini bercampur dengan bau lain. Bau anyir. Bau logam berkarat yang basah. Bau darah lama.

Maya berdiri, menyambar senter. Ia merasa diawasi. Bukan oleh satu pasang mata, tapi oleh ribuan mata yang bersembunyi di celah-celah kayu, di balik lukisan leluhur, di kegelapan plafon.

Sret...

Suara itu lagi. Kali ini lebih dekat. Tepat di luar pintu kamarnya yang tertutup setengah.

Maya menahan napas. Ia melihat pintu kayu itu perlahan, sangat perlahan, terdorong terbuka. Engselnya tidak berbunyi kali ini, seolah sudah diminyaki oleh sesuatu.

Celah pintu melebar. Sinar senter Maya gemetar saat menyorot ke lorong gelap di luar.

Tidak ada orang.

Lantai lorong itu kosong. Namun, di atas lantai kayu yang berdebu tebal, Maya melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir dingin.

Jejak.

Bukan jejak kaki. Itu adalah jejak seretan panjang dan lebar, menyapu debu di lantai. Membekas dari kegelapan ujung lorong dan berhenti tepat di depan ambang pintu kamarnya. Dan di tengah jejak seretan itu, terdapat tetesan cairan kental berwarna hitam pekat yang masih basah.

Maya mundur selangkah. Punggungnya menabrak lemari.

Dari kejauhan, sayup-sayup, terbawa angin malam yang menyusup masuk lewat celah ventilasi, terdengar suara gamelan. Iramanya lambat, sumbang, dan menyayat hati. Gong yang dipukul tidak berbunyi gung, melainkan suara blung tumpul seperti memukul benda basah.

Di antara suara gamelan gaib itu, terdengar suara wanita bersenandung. Nembang. Suaranya lirih, serak, namun jelas tertangkap telinga.

"Dhuh Gusti... nyuwun ngapuro... raga iki... dudu duweku..."

Itu bukan suara rekaman. Itu suara yang berasal dari dalam rumah ini.

Maya ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia sadar, keputusan datang ke sini adalah kesalahan fatal. Desa ini tidak tidur. Rumah ini tidak kosong. Dan apa pun yang menunggu di balik kegelapan itu, ia tahu bahwa "warisan" ibunya bukanlah tanah atau rumah.

Warisan itu adalah sesuatu yang kini sedang menyeret tubuhnya di lantai atas, perlahan turun menemuinya.