Wasiat Terlarang: Perjamuan Desa Mati Pupil Hampa Desa Kalimati
2/32
Bab 2

Pupil Hampa Desa Kalimati

Maya mundur selangkah demi selangkah, punggungnya menabrak lemari kayu jati yang dingin. Napasnya tertahan di pangkal tenggorokan, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya perlahan.

Sret... Sret...

Suara itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.

Tidak ada ketukan. Tidak ada panggilan. Hanya suara napas berat yang terdengar basah, seperti seseorang yang paru-parunya penuh dengan cairan, mendesis di balik panel kayu nangka setebal lima sentimeter itu.

Udara di dalam kamar berubah drastis. Jika tadi dingin menusuk, kini udara terasa berat dan lembap, menekan kulit Maya seperti selimut basah yang diturunkan dari langit-langit. Bau melati busuk itu-wangi kematian yang manis dan menjijikkan-menyusup masuk melalui celah bawah pintu, bergulung-gulung memenuhi ruangan, mencekik paru-paru.

Kriet.

Gagang pintu bundar yang terbuat dari kuningan tua itu berputar perlahan. Sangat pelan.

Jantung Maya serasa berhenti berdetak. Ia mencengkeram senter besinya dengan tangan gemetar, jemarinya memutih. Logika arsiteknya berteriak panik, mencoba mencari alasan rasional. Angin? Tidak mungkin, gagangnya berputar. Maling? Penduduk desa yang ingin menakut-nakuti orang kota?

"Si-siapa?" suaranya keluar sebagai cicitan tak berdaya.

Putaran gagang pintu terhenti.

Hening. Keheningan yang jauh lebih buruk daripada teriakan.

Lalu, terdengar suara gesekan kulit-atau sesuatu yang menyerupai kulit-beradu dengan kayu pintu. Sesuatu di luar sana sedang menyandarkan tubuhnya, menempelkan telinga atau wajahnya ke permukaan pintu. Maya bisa membayangkan sosok itu: tubuh yang tidak proporsional, anggota badan yang memanjang tidak wajar, seperti bayangan yang ia lihat sekilas di cermin tadi.

Satu detik. Sepuluh detik. Satu menit yang terasa seperti selamanya.

Kemudian, suara seretan itu terdengar lagi.

Sret... dug. Sret... dug.

Menjauh. Bukan turun kembali ke lantai bawah, melainkan bergerak menyusuri lorong menuju kamar utama di ujung koridor-kamar mendiang ibunya.

Lutut Maya lemas. Ia merosot ke lantai, memeluk lutut, membiarkan senternya menyorot liar ke sudut-sudut ruangan yang gelap. Malam itu, Maya tidak tidur. Ia duduk di sana dengan mata membelalak, ditemani lampu badai yang meredup dan paranoia yang membisikkan bahwa kegelapan di sudut matanya sedang bergerak mendekat.


Cahaya matahari pagi di Desa Kalimati tidak berwarna emas, melainkan abu-abu pucat yang sakit. Kabut tebal masih menggantung rendah di luar jendela, seolah enggan melepaskan cengkeramannya pada rumah tua itu.

Maya terbangun dari posisi duduknya yang kaku. Lehernya sakit, matanya perih. Namun, rasa takut semalam telah berganti menjadi dorongan bertahan hidup yang dingin. Ia harus keluar. Ia harus menyelesaikan urusan ini dan pergi. Hari ini juga.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Maya membuka kunci pintu kamarnya. Ia menarik napas panjang, bersiap menghadapi apa pun yang ada di balik sana.

Pintu terbuka.

Lorong itu kosong. Debu tebal masih menyelimuti lantai papan yang kusam. Namun, tepat di depan ambang pintunya, horor semalam meninggalkan kartu namanya.

Lendir hitam.

Sebuah jejak lebar, seolah ada karung basah yang diseret, membekas di atas debu. Cairan itu sudah setengah kering, meninggalkan noda kerak berwarna hitam pekat yang berbau anyir darah lama bercampur tanah kuburan. Jejak itu memanjang dari tangga, berhenti di depan pintunya-seolah ragu-lalu berbelok menuju kamar utama di ujung lorong.

Maya menahan mual. Ia melangkahi noda itu dengan hati-hati, tidak ingin sol sepatu botnya menyentuh "warisan" tersebut.

Ia bergegas turun, setengah berlari melintasi ruang tamu yang suram, dan menghambur keluar menuju pintu depan. Udara pagi yang dingin menampar wajahnya, tapi setidaknya udara ini bersih. Bebas dari bau melati busuk itu.

"Mobil bagus. Sayang kalau mogok di sini."

Maya tersentak hebat, nyaris melempar kunci mobil yang digenggamnya.

Di halaman depan, seorang pemuda sedang berjongkok di dekat ban depan Jeep-nya. Ia mengenakan kemeja flanel lusuh yang digulung hingga siku dan celana kargo yang penuh noda tanah. Di tangannya, sebilah parang besar berkilau basah oleh embun.

"Siapa kamu?!" sentak Maya, insting pertahanannya langsung naik. Ia memposisikan diri di balik pintu mobil yang terbuka.

Pemuda itu berdiri perlahan. Gerakannya santai, tidak kaku atau patah-patah seperti wanita tua yang Maya lihat kemarin. Wajahnya biasa saja, khas wajah pribumi dengan kulit sawo matang terbakar matahari, tapi matanya tajam dan waspada.

"Andi," jawabnya singkat. Ia menyarungkan parang ke pinggang. "Saya juru kunci hutan di belakang. Biasa bersihin halaman ini kalau... sedang tidak ada tamu."

Maya menatapnya curiga. "Pak Haryo bilang rumah ini kosong."

"Memang kosong. Sudah dua puluh lima tahun kosong," Andi menatap rumah joglo itu sekilas, lalu matanya kembali ke Maya. Ada sorot aneh di sana-campuran antara rasa kasihan dan peringatan. "Mbak Maya, kan? Anaknya Bu Ratna?"

"Kok kamu tahu?"

Andi tersenyum miring, tapi senyum itu tidak mencapai matanya. "Di Desa Kalimati, kabar angin lebih cepat dari sinyal HP, Mbak. Apalagi kalau menyangkut keluarga Penjaga Janji."

"Penjaga apa?" Maya mengerutkan kening.

Andi tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menunjuk ke arah ban mobil Maya. "Jalanan ke desa licin kalau pagi. Hati-hati. Di sini banyak tikungan yang... menipu. Orang sering nyasar, muter-muter balik ke tempat yang sama."

"Saya mau ketemu Kepala Desa," potong Maya, tidak sabar dengan teka-teki itu. "Mau tanda tangan surat, jual tanah ini, terus pergi. Kamu tahu rumahnya?"

Andi terdiam sejenak. Ia menatap Maya lekat-lekat, seolah sedang menimbang nyawa wanita itu.

"Rumah joglo hijau di dekat balai desa. Cari Nenek Sumirah. Dia yang pegang urusan desa sekarang," kata Andi akhirnya. Suaranya merendah. "Saran saya, Mbak... selesaikan sebelum matahari terbenam. Jangan ada di jalanan desa ini pas Maghrib."

"Kenapa? Hantu lagi?" tantang Maya, meski bulu kuduknya meremang mengingat kejadian semalam.

"Bukan," jawab Andi datar. "Karena kalau malam, jalan keluarnya hilang."

Tanpa menunggu jawaban, pemuda itu berbalik dan berjalan menuju hutan pinus, menghilang di balik kabut putih yang tebal, meninggalkan Maya sendirian dengan peringatan yang terasa lebih nyata daripada ancaman hantu mana pun.


Maya memacu Jeep-nya menuruni jalan berbatu menuju pusat desa. Kata-kata Andi berputar di kepalanya, bersaing dengan logikanya yang terus menyangkal. Jalan keluar hilang. Konyol.

Pusat Desa Kalimati di siang hari tidak kalah mencekamnya dibanding saat ia datang sore kemarin. Tempat ini seperti kapsul waktu yang membusuk. Tidak ada tiang listrik, tidak ada kendaraan bermotor selain mobilnya. Hanya deretan rumah kayu tua yang berdiri rapat, mengapit jalan tanah yang becek.

Suara alam di sini pun aneh. Terlalu sunyi. Tidak ada kicau burung, tidak ada gonggongan anjing. Keheningan itu hanya dipecahkan oleh suara mesin mobil Maya yang menderu asing.

Ia melihat penduduk desa beraktivitas. Seorang ibu sedang menampi beras di halaman, dua orang pria memanggul kayu, sekelompok anak bermain congklak di teras pos ronda.

Tapi ada yang salah.

Gerakan mereka lambat. Terlalu lambat.

Saat Maya melintas, si ibu berhenti menampi. Pria-pria itu berhenti berjalan. Anak-anak berhenti bermain. Kepala mereka berputar serentak mengikuti laju mobil Maya. Tatapan mereka kosong, pupil mata yang membesar hitam pekat seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Tidak ada ekspresi marah, tidak ada senyum ramah. Hanya tatapan hampa-seperti boneka yang rohnya telah dicabut, menyisakan cangkang daging yang bergerak otomatis.

Maya bergidik. Ia menekan pedal gas sedikit lebih dalam, ingin segera sampai di rumah Nenek Sumirah.

Di sebuah tikungan, ia melihat seorang wanita muda sedang menjemur kain batik panjang. Kain itu bermotif aneh-bukan parang atau kawung, melainkan motif akar-akar pohon yang saling membelit membentuk wajah-wajah manusia yang menjerit. Saat angin berhembus, kain itu melambai, dan untuk sesaat, Maya bersumpah ia melihat wajah-wajah di kain itu bergerak.

"Fokus, Maya. Fokus," bisiknya pada diri sendiri.

Ia sampai di depan sebuah rumah joglo bercat hijau lumut. Halamannya luas dan bersih, dihiasi pot-pot besar berisi bunga sedap malam. Di pendopo, duduk seorang wanita tua berambut putih yang digelung rapi.

Nenek Sumirah.

Maya mematikan mesin. Ia mengambil amplop cokelat berisi dokumen warisan dan turun dari mobil. Kakinya goyah saat menginjak tanah.

"Sugeng rawuh, Nduk..." sapaan itu terdengar lembut, tapi membuat darah Maya berdesir.

Nenek Sumirah tersenyum. Giginya hitam karena sirih, kontras dengan kulit wajahnya yang pucat pasi. Ia tidak berdiri menyambut, hanya melambaikan tangan keriputnya, memberi isyarat agar Maya mendekat.

"Sa-saya Maya, Nek. Putrinya Bu Ratna," Maya memperkenalkan diri, berusaha terdengar sopan meski instingnya berteriak untuk lari.

"Simbah tahu," kekeh wanita tua itu. Suaranya serak, seperti gesekan daun kering. "Simbah sudah nunggu kamu lama sekali. Ibumu... Ratna... dia anak yang baik. Dia menepati janjinya untuk memulangkan apa yang dia pinjam."

Maya mengerutkan kening. "Memulangkan? Saya ke sini cuma mau urus surat tanah, Nek. Saya mau jual aset Ibu, lalu-"

"Jual?" Nenek Sumirah tertawa pelan. Tawa itu tidak enak didengar, terdengar basah. Ia menatap Maya dengan mata yang tiba-tiba melebar, menampakkan pinggiran iris yang keruh.

"Warisan ini tidak bisa dijual, Nduk. Ini bukan tanah biasa. Ini Tanah Ganjaran." Nenek Sumirah mencondongkan tubuhnya ke depan. Bau melati busuk yang sama dengan yang ada di kamar Maya semalam tercium samar dari tubuh wanita tua itu.

"Sertifikat itu cuma kertas," bisik Nenek Sumirah, menunjuk amplop di tangan Maya dengan dagunya. "Kontrak yang asli... ada di darahmu."

Jantung Maya berdegup kencang. "Maksud Nenek apa?"

"Nanti malam..." Nenek Sumirah menyeringai, menampakkan gusi merahnya. "Nanti malam kita adakan syukuran. Seluruh desa akan datang. Kamu tamu kehormatan kami, Maya. Eyang Sukma sudah tidak sabar ingin melihat... wadah barunya."

Maya mundur selangkah. "Saya tidak bisa. Saya harus balik ke Jakarta hari ini."

"Oh, tidak bisa, Nduk," potong Nenek Sumirah cepat. Nadanya berubah dingin, otoriter. "Jembatan di depan desa baru saja runtuh. Tidak ada yang bisa keluar dari Kalimati sampai... urusannya selesai."

Maya terpaku. Ia menatap ke arah jalan masuk desa di kejauhan. Kabut semakin tebal, menutupi jalan keluar satu-satunya. Dan dari balik kabut itu, ia seolah melihat bayangan-bayangan tinggi besar berdiri menjaga batas desa.

Ia terjebak. Dan pesta penyambutan yang mengerikan baru saja akan dimulai.