Wasiat Terlarang: Perjamuan Desa Mati Janji yang Mengikat
5/32
Bab 5

Janji yang Mengikat

Napas Maya terdengar seperti parutan kasar di tenggorokannya. Ia berdiri mematung di batas antara pekarangan belakang lumbung padi dan kegelapan hutan jati yang pekat. Di belakangnya, bangkai Jeep Wrangler itu sudah tak terlihat, tertelan oleh kabut putih susu yang menggulung turun dari atap-atap rumah joglo.

"May, ayo," desis Andi. Suaranya serak, matanya liar memindai kegelapan di antara pepohonan. Tangan kanannya mencengkeram parang begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Maya menggeleng. Kakinya seolah dipaku ke tanah basah yang berbau amis ini. Logikanya, yang selama dua puluh enam tahun menjadi kompas hidupnya, kini berteriak histeris meminta pulang. Ini tidak masuk akal. Jalanan yang berputar, mobil yang mati total, dan leher nenek tua yang berbunyi krek kering itu-semuanya menolak dicerna oleh otak warasnya.

"Kita balik ke mobil, Ndi," bisik Maya, suaranya bergetar hebat. "Kita kunci pintu. Kita tunggu pagi. Pasti ada sinyal kalau-"

"Nggak ada pagi buat kita kalau masih di sini," potong Andi tajam. Ia tidak membentak, tapi nada bicaranya dingin, setajam bilah parang di tangannya. "Mobilmu sudah jadi milik desa. Kamu lihat sendiri, kan? Jalanan itu hidup. Aspal itu muter balik. Kita nggak bisa keluar lewat jalan manusia."

Maya menoleh ke belakang, ke arah desa yang kini tampak remang-remang diterangi lampu teplok dari beranda-beranda rumah.

Instruksi Andi benar. Desa Kalimati malam ini tidak terlihat seperti permukiman biasa. Tempat itu seolah berhenti di satu titik waktu yang keliru. Tidak ada suara televisi, tidak ada dering ponsel, bahkan listrik yang tadi sempat menyala redup kini mati total. Yang tersisa hanya cahaya api temaram yang membuat bayangan tiang-tiang penyangga rumah tampak memanjang dan menari aneh.

Keheningan di desa itu bukan sekadar sepi. Itu adalah keheningan purba. Suara jangkrik mati, angin berhenti mendesau. Namun, di balik senyap itu, Maya merasakan ribuan pasang mata sedang mengawasi dari balik celah-celah jendela kayu jati yang tertutup rapat. Tatapan kosong yang mengikuti gerakannya.

"Mereka bangun, May," ujar Andi, kali ini lebih mendesak. Ia menarik lengan Maya, membuat gadis itu meringis. "Dengar."

Awalnya Maya tidak mendengar apa-apa selain detak jantungnya sendiri yang memukul gendang telinga. Namun, perlahan, suara itu merambat masuk.

Ting... tung...

Suara gamelan. Sayup, tapi jelas. Bukan alunan Gending penyambut tamu yang meriah, melainkan irama Megat Ruh-lagu pengiring kematian. Nadanya sumbang, dipukul dengan tempo lambat yang menyakitkan. Setiap pukulan gong terdengar berat, seolah pemukulnya menghantam benda lunak yang basah, bukan logam perunggu.

Dan bau itu datang lagi.

Wangi melati. Kali ini bukan sekadar tercium, tapi seolah menyumbat hidung. Baunya manis, menyengat, bercampur dengan aroma anyir darah dan kebusukan daging yang disamarkan bedak tebal. Udara mendadak terasa lembap dan "berat", menekan dada Maya hingga sesak.

"Itu Nenek Sumirah," bisik Maya, matanya terbelalak horor.

"Dia belum sampai sini, tapi 'peliharaannya' sudah disebar," Andi menatap lurus ke dalam hutan jati di depan mereka. Hutan itu gelap gulita, pohon-pohon jatinya tinggi kurus seperti kerangka raksasa yang saling berhimpitan. "Hutan ini... warga desa nyebutnya Tanah Panas."

"Tanah Panas?"

"Bekas kuburan massal tahun 65. Nggak ada yang berani masuk sini. Pamali. Bahkan Nenek Sumirah pun nggak bisa melihat leluasa ke dalam sana karena tanahnya... kotor." Andi menatap Maya lekat-lekat. "Ini satu-satunya titik buta di desa ini. Jalur tikus buat kita kabur."

Maya menelan ludah. Ia harus memilih antara hantu nenek tua yang bisa mematahkan leher atau hutan bekas pembantaian. Pilihan yang sama-sama gila.

"Dengerin aku baik-baik," Andi mencengkeram bahu Maya, memaksanya fokus. "Di dalam sana, aturan dunia luarmu nggak berlaku. Jangan pakai logika."

"Apa maksudmu?"

"Pertama, jangan pernah lepas pegangan dari apa pun yang nyata. Kalau nggak pegang tanganku, pegang pohon, pegang bajumu sendiri. Jangan sampai pikiranmu kosong." Andi menelan ludah, jakunnya naik-turun. "Kedua... kalau ada yang manggil namamu, jangan noleh. Jangan dijawab. Walaupun suaranya persis suara Ibumu."

Maya merinding. Kata-kata Andi menghantam titik terlemahnya.

"Dan terakhir," lanjut Andi, suaranya merendah menjadi bisikan parau. "Kalau kamu lihat sesuatu yang aneh... bentuk yang nggak wajar... anggap saja kamu nggak lihat. Mereka cuma bisa nyentuh kita kalau kita ngakuin keberadaan mereka."

Sreeet...

Suara gesekan kain di tanah terdengar dari arah lumbung padi, hanya berjarak sepuluh meter di belakang mereka. Maya tersentak.

Dari balik kabut tipis, sebuah bayangan muncul. Bukan Nenek Sumirah. Itu sosok wanita muda, salah satu penampi beras yang Maya lihat tadi sore. Wanita itu berdiri mematung di sudut lumbung. Tubuhnya miring secara tidak wajar, seolah tulang punggungnya bengkok.

Ia tidak berjalan. Ia bergeser.

Kakinya tidak melangkah, namun tubuhnya terseret maju inci demi inci di atas tanah, menimbulkan suara gesekan yang menyilu ngilu. Wajah wanita itu tertunduk, tapi bibirnya... bibirnya tersenyum lebar hingga merobek pipi.

"Dia melihat kita?" tanya Maya, air mata mulai menggenang karena teror.

"Jangan tatap matanya!" sergah Andi. Ia menarik Maya kasar. "Masuk! Sekarang!"

Mereka menerobos batas hutan.

Seketika, suhu udara anjlok drastis. Jika di desa tadi dinginnya menusuk tulang, di dalam hutan jati ini dinginnya terasa basah dan lengket, seperti dibalut kain kafan yang baru dikeluarkan dari tanah es.

Cahaya bulan tak mampu menembus tajuk pohon jati yang rapat. Gelap total. Maya buta sesaat, hanya bisa mengandalkan tarikan tangan Andi yang kasar di pergelangan tangannya.

Tanah di bawah kakinya terasa gembur dan tidak rata. Setiap beberapa langkah, kaki bot Maya tersandung gundukan-gundukan kecil yang memanjang. Pikiran liarnya langsung membayangkan apa isi gundukan-gundukan di "Tanah Panas" ini, tapi ia buru-buru mengusir bayangan itu. Fokus. Pegang yang nyata.

"Andi, pelan dikit," pinta Maya tersengal-sengal. Paru-parunya perih.

Andi tidak menjawab, tapi ia sedikit memperlambat langkahnya. Suara napas pemuda itu terdengar berat, berpacu dengan suara gesekan daun kering yang mereka injak.

Di sekeliling mereka, hutan itu hidup. Bukan dengan suara binatang malam, tapi dengan suara-suara yang salah.

Hihihi...

Tawa cekikikan terdengar dari atas pohon di sebelah kanan. Suaranya melengking, berpindah-pindah dengan cepat, seolah sumber suara itu melompat dari satu dahan ke dahan lain.

Maya memejamkan mata, membiarkan dirinya dituntun Andi. Bau melati busuk itu masih tercium, tapi kini bercampur dengan bau tanah basah yang menyengat dan aroma menyan yang dibakar.

"May..."

Suara itu lembut. Sangat dekat. Tepat di telinga kiri Maya.

Maya hampir saja menoleh. Itu suara ibunya. Ratna. Nada suaranya persis seperti saat ibunya membangunkannya untuk sarapan pagi. Lembut, penuh kasih sayang.

"May... Ibu di sini, Nak. Jangan pergi sama dia..."

Jantung Maya berhenti berdetak sesaat. Air matanya tumpah. Logikanya tahu ibunya sudah dimakamkan di Jeruk Purut. Ia melihat sendiri tanah merah menutup peti itu. Tapi hati kecilnya, bagian dari dirinya yang masih seorang anak kecil yang merindukan ibunya, ingin sekali menoleh.

Tangan Andi meremas pergelangan tangannya sakit sekali. Sinyal peringatan.

Jangan noleh. Jangan dijawab.

Maya menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Rasa sakit itu membuatnya sadar. Itu bukan ibunya. Ibunya tidak akan berada di hutan terkutuk ini.

"Itu bukan Ibu," bisik Maya pada dirinya sendiri, seperti mantra. "Itu bukan Ibu."

Suara di telinganya berubah. Dari lembut menjadi geraman rendah yang basah.

"ANAK DURHAKA!"

Jeritan itu begitu keras hingga Maya tersentak dan nyaris melepaskan tangan Andi.

"Terus jalan, May! Jangan berhenti!" teriak Andi tanpa menoleh.

Mereka berlari menembus kegelapan, meninggalkan suara-suara yang kini mulai ramai. Hutan itu seolah sedang mengadakan pesta penyambutan. Bayangan-bayangan hitam berkelebat di sudut mata Maya-sosok-sosok tinggi besar tanpa kepala, dan wanita-wanita berkebaya yang melayang tanpa kaki. Semuanya terdistorsi, meregang dan memendek seperti refleksi di cermin rumah hantu.

Namun, di depan sana, Andi tiba-tiba berhenti mendadak. Maya menabrak punggung pemuda itu.

"Kenapa berhenti?" tanya Maya panik.

Andi mengangkat parangnya, mengarahkannya ke depan. Senter kecil yang ia bawa menyorot ke sebuah pohon jati besar yang kulitnya mengelupas putih.

Di batang pohon itu, tertancap selembar kain batik bermotif Parang Rusak. Kain itu dipaku dengan paku berkarat. Darah segar menetes dari paku tersebut, seolah pohon itu yang berdarah.

Tapi bukan itu yang membuat Andi mematung.

Di bawah pohon, duduk seorang sinden. Punggungnya membelakangi mereka. Ia menyisir rambutnya yang panjang terurai hingga menyentuh tanah. Gerakan menyisirnya kaku, patah-patah. Srek... srek...

"Jalan buntu," desis Andi putus asa. "Kita diputar balik."

Maya melihat ke sekeliling. Benar saja. Di sebelah kanan sinden itu, samar-samar ia melihat garis batas hutan dan... lumbung padi yang tadi mereka tinggalkan.

Mereka tidak pernah keluar. Hutan ini hanya ilusi yang membawa mereka kembali ke mulut serigala.

Sinden itu berhenti menyisir. Perlahan, kepalanya memutar ke belakang. Bukan menoleh, tapi benar-benar memutar 180 derajat hingga wajahnya menghadap punggung.

Wajah itu rata. Tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut.

Dan dari arah desa, suara Nenek Sumirah terdengar, kali ini nyata dan dekat, diiringi suara tongkat yang diketukkan ke tanah.

Tok... Tok... Tok...

"Sudah kubilang, Ndhuk," suara serak Nenek Sumirah menggema dari balik kabut di pinggir hutan. "Tamu adalah raja. Tidak sopan pergi sebelum perjamuan dimulai."