Wasiat Terlarang: Perjamuan Desa Mati Labirin Kabut
3/32
Bab 3

Labirin Kabut

Pagi di Desa Kalimati tidak membawa matahari. Cahaya hanya mampu merayap samar di balik selimut kabut yang tebalnya tidak wajar, mengubah dunia menjadi gradasi abu-abu yang mati.

Maya berdiri kaku di halaman rumah joglo itu. Tangannya mencengkeram erat amplop cokelat berisi sertifikat tanah-benda yang seharusnya menjadi tiket kebebasannya, namun kini terasa panas di telapak tangan, seolah memperingatkan bahaya yang mengintai.

Di hadapannya, Nenek Sumirah berdiri mematung di ambang pintu pendopo. Wanita tua itu tidak bergerak sedikit pun sejak lima menit lalu. Senyumnya terkunci, memperlihatkan deretan gigi hitam bekas sirih yang kontras dengan wajahnya yang seputih kapur.

"Kok buru-buru, Nduk?" Suara Nenek Sumirah terdengar serak, basah, seperti gesekan dua batu kali yang berlumut. "Sarapan dulu. Sinden desa sudah mulai masak untuk syukuran nanti malam."

Maya mundur selangkah. Bau itu. Bau melati yang terlalu matang, bercampur dengan aroma amis tanah basah, menguar tajam dari tubuh wanita tua itu setiap kali angin berhembus. Itu bukan wangi bunga segar; itu bau bunga yang diletakkan di atas keranda mayat.

"Saya harus balik ke Jakarta sekarang, Nek," ujar Maya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Lehernya masih sakit akibat ketegangan semalam, dan matanya perih karena kurang tidur. "Urusan tanda tangan sudah selesai, kan?"

Nenek Sumirah memiringkan kepalanya. Gerakannya patah, tidak luwes. Tulang lehernya berbunyi krek pelan.

"Tanda tangan di kertas itu gampang," bisik wanita tua itu, matanya yang keruh menatap lekat ke arah perut Maya, seolah bisa melihat tembus ke organ dalamnya. "Tapi janji darah... itu tidak bisa dihapus pakai tinta, Cah Ayu. Eyang Sukma sudah lama menunggu wadah baru."

"Saya nggak ngerti Nenek ngomong apa," potong Maya cepat. Instingnya menjerit: Lari. Sekarang.

Ia berbalik, setengah berlari menuju Jeep Wrangler-nya yang terparkir di pekarangan. Kabut di sekelilingnya terasa padat, menempel lengket di kulit seperti jaring laba-laba yang tak kasat mata.

"Jangan lewat jembatan timur!"

Sebuah suara berat menghentikan langkah Maya tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu mobil.

Andi muncul dari balik kabut di sisi kiri rumah. Pemuda itu tampak kacau. Rambutnya basah oleh embun, dan di pinggangnya, sebuah parang besar terselip di dalam sarung kulit yang kusam. Matanya liar, menyapu sekeliling halaman seolah mencari ancaman yang tak terlihat.

"Andi?" Maya terkesiap. "Kau... kau tahu jalan keluar dari sini?"

Andi tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, namun menjaga jarak aman dari pendopo tempat Nenek Sumirah berdiri.

"Dengar, May," bisik Andi cepat, napasnya memburu. "Kalau kau mau pergi, pergi sekarang. Sebelum matahari condong ke barat. Tapi jangan lewat jembatan utama. Jembatan itu... sudah runtuh sejak seminggu lalu."

"Runtuh? Tapi aku lewat sana kemarin sore!" bantah Maya.

Andi menatapnya tajam. Tatapan itu penuh peringatan. "Desa ini menipu, May. Apa yang kau lihat kemarin, belum tentu ada hari ini. Jalanan di sini hidup."

Maya melirik ke arah Nenek Sumirah. Wanita tua itu masih tersenyum, kini sambil mengelus tiang kayu pendopo dengan gerakan lambat yang menjijikkan, seakan tiang itu adalah kulit manusia.

"Lewat mana?" desak Maya.

"Ikuti jalan setapak di belakang lumbung padi. Itu jalan tikus para pencari kayu," Andi menunjuk ke arah hutan pinus yang gelap. "Dan ingat satu hal: jangan berhenti. Apa pun yang kau lihat, apa pun yang kau tabrak... jangan pernah berhenti sampai kau nemu aspal."

"Kau nggak ikut?"

Andi menggeleng. Tangannya menyentuh gagang parang di pinggangnya. "Aku harus jaga batas. Kalau aku pergi, mereka bakal lepas."

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Maya melompat masuk ke dalam mobil.


Mesin Jeep menderu, memecah keheningan desa yang tidak wajar itu. Tidak ada ayam berkokok. Tidak ada anjing menggonggong. Desa Kalimati seperti terendam dalam akuarium raksasa yang kedap suara.

Maya membanting setir, memutar mobilnya menjauhi pekarangan angker itu. Saat rodanya melindas tanah becek keluar dari gerbang, ia melihat deretan penduduk desa berdiri di pinggir jalan.

Mereka tidak melakukan apa-apa. Puluhan orang-pria, wanita, anak-anak-berdiri tegak di depan rumah gubuk mereka masing-masing. Wajah mereka pucat, tanpa ekspresi. Saat mobil Maya melintas, kepala mereka berputar serentak mengikuti laju kendaraan. Gerakan itu terlalu sinkron. Terlalu mekanis.

Dan mata itu. Pupil mata mereka melebar hingga menutupi hampir seluruh bola mata, hitam pekat seperti lubang sumur tanpa dasar.

Maya menginjak gas lebih dalam. "Gila. Tempat ini gila," umpatnya.

Sesuai petunjuk Andi, ia membelokkan mobil ke jalan tanah sempit di belakang bangunan lumbung yang sudah reyot. Jalan itu menanjak, membelah hutan pinus yang rapat. Kabut semakin tebal, menekan kaca depan mobil hingga jarak pandang Maya tak lebih dari tiga meter.

Wiper mobil bergerak panik menyapu embun yang terus menumpuk.

Satu kilometer. Dua kilometer.

Jalanan itu berbatu tajam, membuat mobil berguncang hebat. Maya mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih. Di dalam kepalanya, ia terus memutar logika: Ini cuma jalan rusak. Sebentar lagi jalan raya. Sebentar lagi sinyal HP kembali.

Namun, hutan di kiri-kanan jalan terasa janggal. Pohon-pohon pinus itu tumbuh bengkok, dahan-dahannya menjuntai ke bawah seperti lengan-lengan kurus yang hendak meraih atap mobilnya. Dan di antara batang-batang pohon itu, Maya melihat bayangan.

Kelebatan hitam. Tinggi. Besar.

Setiap kali ia melirik spion tengah, bayangan itu hilang. Tapi saat ia fokus ke depan, sudut matanya menangkap sosok-sosok itu berdiri diam di balik kabut, mengawasi.

Tiba-tiba, jalanan menurun curam. Maya mengerem sedikit. Di depan sana, ada sebuah pohon beringin tua dengan kain poleng (kotak-kotak hitam putih) melilit batangnya. Di bawah pohon itu, terdapat sesajen bunga setaman yang masih segar.

Maya melewatinya dengan jantung berdegup kencang. Ia terus melaju.

Sepuluh menit berlalu. Jalanan kembali menanjak, lalu menurun lagi.

Dan di depan sana, Maya melihatnya lagi.

Pohon beringin tua. Kain poleng. Sesajen bunga.

"Nggak mungkin," bisik Maya. "Pasti pohon yang mirip."

Ia menekan gas. Mobil melaju lebih cepat. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya, membasahi kerah kemejanya.

Lima belas menit kemudian. Turunan curam.

Pohon beringin. Kain poleng. Sesajen.

Maya membanting rem. Mobil berhenti dengan suara ciit yang tertahan tanah basah. Napasnya memburu. Ia menatap nanar ke arah pohon itu.

Itu pohon yang sama. Tumpukan batunya sama. Bahkan posisi kelopak bunga mawar yang tercecer di tanah pun sama persis.

"Andi bilang jalan tikus..." Maya memukul setir frustrasi. "Sialan!"

Ia melihat jam di dasbor. Pukul 09.00 pagi. Tapi langit di luar tampak semakin gelap, seperti mendung menjelang Maghrib.

Maya memutuskan untuk putar balik. Persetan dengan jalan tikus. Ia akan mencoba jalan utama, jembatan yang katanya runtuh itu. Mungkin Andi berbohong. Mungkin itu cuma trik supaya Maya tersesat di hutan ini.

Dengan susah payah, ia memutar mobil di jalan sempit itu. Ban belakangnya sempat selip, memutar lumpur cokelat ke udara sebelum akhirnya mendapatkan cengkeraman.

Maya memacu mobilnya kembali ke arah desa. Ia akan menerobos jalan utama.

Namun, baru lima menit ia melaju, kabut di depan tiba-tiba memudar sedikit. Maya menyipitkan mata. Ada sesuatu yang menghalangi jalan.

Bukan pohon tumbang.

Itu sebuah gapura. Gapura selamat datang Desa Kalimati yang catnya sudah mengelupas.

Tapi posisinya salah. Gapura ini seharusnya ada di depan desa, bukan di tengah hutan. Dan saat Maya melihat ke balik gapura itu, darahnya tersirap turun ke kaki.

Di balik gapura, bukan jalan aspal yang ia harapkan.

Di sana, berdiri megah dan menyeramkan, adalah Rumah Joglo Nenek Sumirah.

Ia kembali ke titik awal.

Dan di pendopo, Nenek Sumirah masih berdiri di posisi yang sama. Namun kali ini, tangan kanannya melambai pelan. Sangat pelan.

Mengundang Maya untuk masuk kembali.

Mesin mobil mendadak mati total. Keheningan hutan langsung menyergap, berat dan menulikan. Dari arah belakang mobil, sayup-sayup terdengar suara gamelan yang sumbang, diiringi suara tawa cekikikan yang terdengar seperti gesekan paku di papan tulis.

Hihihi...

Maya memutar kunci kontak dengan panik. Ceklek. Ceklek. Mesin tidak mau menyala.

Ia terjebak. Lingkaran setan itu nyata, dan pintu keluarnya sudah ditutup rapat.