Wasiat Terlarang: Perjamuan Desa Mati Labirin Tanpa Pintu
4/32
Bab 4

Labirin Tanpa Pintu

Bau itu bukan lagi sekadar aroma; ia adalah selimut tebal yang membekap pernapasan. Di dalam kabin Jeep Wrangler yang kini sunyi senyap, wangi melati yang terlalu matang-seperti bunga yang direndam dalam air cucian mayat-bercampur dengan amis tanah basah.

Maya memutar kunci kontak untuk kesepuluh kalinya.

Klik. Hening. Klik. Kosong.

Mesin mobil itu mati total, seolah "nyawa" mekanisnya telah dicabut paksa oleh atmosfer Desa Kalimati yang menekan. Panel instrumen mati, GPS padam, menyisakan Maya dalam kepungan kabut putih susu yang menempel di kaca jendela seperti uap napas raksasa.

Ia memukul setir. Napasnya memburu, menciptakan kabut tipis di udara kabin yang mendadak dingin. Rasa dingin itu tidak wajar; menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat bulu kuduk di tengkuknya berdiri tegak seakan ada jarum es yang menempel di kulit.

Di luar, dunia seakan-akan berhenti berputar.

Melalui kaca spion tengah yang bergetar karena tangannya yang gemetar, Maya melihatnya. Di pendopo Rumah Joglo yang seharusnya sudah ia tinggalkan lima kilometer di belakang, Nenek Sumirah masih berdiri di sana. Sosok itu tidak memudar dimakan jarak, justru terlihat semakin jelas meski terhalang kabut.

Wanita tua itu tidak bergerak layaknya manusia. Tubuhnya miring ke kiri dengan sudut yang menyakitkan. Saat kepalanya perlahan mendongak menatap Jeep Maya, terdengar suara krek kering-seperti ranting tua yang dipatahkan-yang entah bagaimana bisa terdengar menembus kaca mobil yang tertutup rapat.

Mulut Nenek Sumirah menyeringai, memperlihatkan deretan gigi hitam bekas sirih yang tampak runcing. Ia melambai. Gerakannya patah-patah. Satu sentakan naik. Berhenti. Satu sentakan turun. Berhenti. Persis seperti wayang kulit yang dimainkan oleh dalang yang sedang marah.

"Sialan..." desis Maya, suaranya tercekat. "Ini nggak masuk akal."

Dug.

Sebuah tepukan keras menghantam kaca jendela samping.

Maya menjerit, tubuhnya melonjak di kursi pengemudi. Ia menoleh cepat, jantungnya serasa mau meledak.

Wajah Andi menempel di kaca. Matanya liar, rambutnya basah kuyup oleh embun, dan napasnya memburu. Ia tidak mengetuk sopan; ia memukul kaca dengan telapak tangan terbuka, memberi isyarat panik agar Maya membuka pintu.

Maya menarik tuas pintu. Terkunci. Sistem elektronik mobil mati. Ia harus menarik tuas manual dengan paksa.

Klak.

Pintu terbuka. Andi langsung menyusupkan tangannya, mencengkeram lengan Maya dan menariknya keluar dengan kasar.

"Keluar! Jangan diam di dalam peti besi ini!" bentak Andi. Suaranya serak, namun volumenya ditahan setengah berbisik.

"Sakit, Ndi! Lepas!" Maya memberontak, kakinya goyah saat mendarat di tanah becek. "Mobil gue kenapa? Kenapa kita balik lagi ke sini?"

"Sudah kubilang, kan?" Andi menyeret Maya menjauh dari mobil, matanya terus waspada memindai sekeliling. Tangan kanannya mencengkeram gagang parang di pinggangnya erat-erat. "Desa ini hidup, May. Jalanan di sini bisa bergerak. Kamu pikir kamu nyetir lurus? Tanah ini yang muter balikin kamu."

Maya menepis tangan Andi, berusaha mendapatkan kembali kendali atas dirinya sendiri. "Itu nggak ilmiah, Andi! Kompas gue, GPS gue-"

"Buang logikamu sekarang juga atau kamu mati konyol di sini!" potong Andi tajam. Ia menunjuk ke arah gapura desa yang kini tampak samar tertutup kabut. "Lihat."

Maya menyipitkan mata. Di pinggir jalan tanah yang membelah desa, para penduduk berdiri berjajar.

Puluhan orang. Pria, wanita, tua, muda. Mereka tidak melakukan aktivitas apa pun. Tidak ada yang mengobrol, tidak ada yang bekerja. Mereka hanya berdiri mematung di depan rumah masing-masing.

Wajah mereka pucat pasi, seputih kertas singkong. Dan mata itu... Pupil mata mereka melebar hitam pekat, menelan bagian putihnya hingga nyaris tak bersisa.

Saat Maya berdiri di sana, puluhan kepala itu berputar serentak ke arahnya. Gerakannya sinkron, presisi, dan tanpa suara. Tatapan mereka kosong, hampa emosi, namun terasa berat seolah sedang menimbang nyawa Maya.

"Mereka..." Maya mundur selangkah, punggungnya menabrak sisi mobil. "Mereka kenapa?"

"Mereka 'wadah' kosong," bisik Andi, menarik lengan Maya lagi, kali ini lebih lembut tapi mendesak. "Jangan tatap mata mereka. Jangan balas senyum mereka kalau ada yang senyum. Ikut aku. Lewat belakang lumbung."

"Kita mau ke mana? Mobil gue-"

"Lupakan mobilmu! Mobil itu sudah jadi milik desa sekarang," Andi menariknya menjauh dari jalan utama, memotong jalan melewati pekarangan rumah warga yang becek.

Suasana Desa Kalimati terasa salah. Terlalu sunyi. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada gonggongan anjing, bahkan tidak ada suara angin yang menggesek daun. Keheningan ini bersifat fisik, menekan gendang telinga hingga berdenging. Satu-satunya suara adalah derap langkah sepatu bot Maya dan napas mereka sendiri.

Desa ini seperti berhenti di waktu lampau. Rumah-rumah kayu jati tua yang hitam dimakan cuaca berdiri angkuh dengan ukiran-ukiran yang tampak seperti wajah-wajah menyeringai. Lampu-lampu minyak (teplok) yang tergantung di teras rumah menyala redup, apinya bergoyang meski tidak ada angin, menciptakan bayangan panjang yang menggeliat di dinding anyaman bambu. Bayangan-bayangan itu tampak tidak proporsional; kadang memanjang seperti ular, kadang membungkuk seperti orang tua bungkuk.

Saat mereka melewati seorang wanita yang sedang menampi beras di teras, Maya melirik sekilas. Tangan wanita itu bergerak naik turun menampi beras, tapi berasnya tidak ada. Ia hanya menampi angin.

Wanita itu berhenti. Lehernya memutar pelan mengikuti Maya lewat. Sudut bibirnya tertarik ke atas, terlalu tinggi, hingga hampir menyentuh telinga. Senyum yang robek.

Maya memalingkan wajah, menekan rasa mual yang mendadak naik ke tenggorokan. "Ndi, sumpah, gue mau pulang. Lewat jalan yang kemarin gue masuk."

"Jembatan timur sudah runtuh seminggu lalu, May," jawab Andi tanpa menoleh, langkahnya cepat membelah ilalang tinggi.

"Bohong! Gue lewat sana kemarin siang!"

Andi berhenti mendadak, membuat Maya hampir menabrak punggungnya. Pemuda itu berbalik, wajahnya serius. "Apa yang kamu lihat kemarin, belum tentu ada hari ini. Itu tipuan mata. Kamu sudah ditandai sejak masuk gapura."

Sayup-sayup, suara gamelan terdengar. Bukan dari satu arah, tapi seolah berasal dari dalam tanah yang mereka injak. Bunyinya sumbang. Nang... ning... nung... Irama pelog yang lambat dan menyayat, diselingi suara tawa cekikikan perempuan yang terdengar seperti gesekan logam berkarat.

"Dengar itu?" tanya Andi.

Maya mengangguk kaku.

"Mereka mulai bangun. 'Pembersihan' sebentar lagi dimulai. Kalau kita masih di jalan terbuka saat matahari benar-benar hilang, tamat riwayat kita."

Mereka sampai di belakang sebuah bangunan kayu besar yang tampaknya bekas lumbung padi. Dinding kayunya sudah lapuk, berlubang di sana-sini. Bau apek jerami basah tercium kuat.

Di balik lumbung, terhampar hutan jati yang gelap gulita. Pohon-pohon itu berdiri rapat seperti jeruji penjara alam. Kabut di sini lebih tebal, bergulung-gulung di atas tanah seperti ombak laut putih.

"Ini batasnya," kata Andi, menunjuk jalan setapak sempit yang nyaris tak terlihat tertutup semak belukar. "Jalan tikus. Ini satu-satunya jalur yang nggak dipantau sama Nenek Sumirah karena tanahnya 'panas'. Bekas kuburan massal zaman dulu."

Maya menelan ludah. "Lo gila? Kita masuk hutan?"

"Pilihannya cuma dua, May," Andi mencabut parang dari sarungnya. Bilah logam itu kusam, tapi sisi tajamnya berkilau berbahaya. "Masuk hutan lewat tanah terkutuk ini, atau balik ke mobil dan biarkan Nenek Sumirah merobek perutmu buat ngambil 'janji' itu."

Maya refleks memegang perutnya yang rata. Kata-kata Nenek Sumirah terngiang kembali: Eyang Sukma sudah lama menunggu wadah baru.

Rasa diawasi semakin kuat. Maya merasa ribuan mata tak terlihat sedang mengintip dari celah-celah dinding lumbung, dari balik batang pohon, bahkan dari balik kabut. Bayangan hitam berkelebat di sudut matanya-cepat, namun meninggalkan kesan bentuk tubuh yang tidak lengkap. Kepala tanpa badan? Tangan yang merayap sendiri?

"Gue ikut lo," putus Maya, meski suaranya gemetar hebat.

"Bagus," Andi menatap hutan gelap di depan mereka. "Ingat aturannya: Jangan menoleh ke belakang kalau dipanggil, jangan menjawab kalau ditanya nama, dan apa pun yang terjadi... jangan lepaskan pegangan pada apa pun yang nyata."

Andi melangkah masuk ke dalam rimbunan semak, ditelan oleh kegelapan hutan. Maya menoleh sekali lagi ke arah desa. Di kejauhan, lampu-lampu teplok itu mulai padam satu per satu, seolah kegelapan sedang bergerak maju mengejar mereka.

Suara gamelan semakin keras, kini disertai suara sinden yang melengking tinggi tanpa lirik, hanya senandung pilu yang membuat darah membeku.

Maya menarik napas panjang yang bergetar, lalu melangkah melintasi batas hutan, meninggalkan sisa-sisa logika dunianya di belakang.