Sirkuit Jiwa Gema dalam Reruntuhan
1/10
Bab 1

Gema dalam Reruntuhan

Gema dalam Reruntuhan

Langit di atas Zona Merah tidak pernah benar-benar diam. Ia bernapas. Ia bergemuruh pelan, seperti perut raksasa yang lapar, menunggu saat yang tepat untuk menelan siapa pun yang cukup bodoh untuk berjalan di bawahnya. Warnanya adalah tembaga kusam—hasil dari partikel logam mikroskopis yang tersuspensi di atmosfer selama lima dekade, memantulkan cahaya matahari yang sakit menjadi spektrum oranye yang menyakitkan mata.

Di bawah kanvas beracun ini, reruntuhan kota metropolitan tua membentang seperti kuburan tulang raksasa. Gedung-gedung pencakar langit yang dulunya mencakar langit kini berdiri membungkuk, kerangka bajanya telanjang dan melengkung, daging betonnya telah lama digerogoti oleh hujan asam dan angin berkecepatan tinggi yang membawa pasir kaca.

Arka menyeka keringat yang bercampur dengan residu minyak dari pelipisnya. Napasnya terdengar kasar, raspy, di balik masker filtrasi udaranya yang sudah retak di bagian pinggir. Setiap tarikan napas adalah perjuangan melawan filter karbon yang sudah jenuh. Rasanya seperti menghirup udara melalui sedotan yang tersumbat lumpur.

"Sial," umpatnya pelan. Suaranya teredam, terdengar asing dan kaleng bahkan di telinganya sendiri. Dia mengetuk indikator di pergelangan tangannya, berharap angka digital itu salah. "Oksigen tinggal dua bar. Efisiensi filter 15%."

Arka tahu dia harus bergegas. Matahari mulai turun, dan di Zona Merah, malam bukanlah waktu untuk manusia. Malam adalah waktu untuk mereka yang berburu dengan sensor panas. Tapi terburu-buru sama dengan mati. Satu langkah salah di atas balok baja rapuh ini, dan dia akan jatuh tiga ratus meter ke dalam The Grinder—julukan para Scavenger untuk level jalanan yang penuh dengan mesin penghancur sampah otomatis yang masih aktif secara sporadis.

Dia tergantung di sisi kerangka baja dari apa yang dulunya mungkin sebuah hotel bintang lima atau kantor pusat bank multinasional. Sisa-sisa logo perusahaan yang pudar masih terlihat di panel komposit yang tergantung miring, huruf-hurufnya tak lagi bisa dibaca. Arka membayangkan orang-orang yang dulu bekerja di sini. Apakah mereka tahu dunia akan berakhir saat mereka sedang minum kopi pagi? Apakah mereka sempat lari saat sirine pertama berbunyi?

Tanaman merambat berwarna ungu tua—Iron-Vine—melilit struktur itu seperti pembuluh darah yang bengkak. Tanaman parasit ini adalah salah satu dari sedikit hal yang "tumbuh" di dunia baru. Ia tidak butuh tanah; ia butuh karat. Akar-akarnya mengeluarkan asam yang melunakkan logam, menyerap oksida besi untuk memperkuat batangnya yang sekeras kabel baja. Duri-durinya, yang terbuat dari kristal oksida besi yang tajam, berkilauan jahat dalam cahaya senja.

Arka harus sangat berhati-hati. Bajunya, sebuah jump-suit teknisi yang ditambal sulam dengan kulit sintetis dan pelat polimer, tidak akan menahan goresan duri itu. Di atmosfer ini, luka terbuka berarti kematian. Spora jamur Rust-Lung akan masuk ke aliran darah, mengkristalkan paru-paru korban dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

"Baiklah, Nyonya Tua," bisiknya pada angin kosong yang membawa bau belerang. "Jangan jatuhkan aku sekarang. Kita sudah sejauh ini. Aku butuh bayaran hari ini. Aku butuh air bersih."

Dia mengaktifkan sarung tangan magnetiknya—sebuah peninggalan usang dari Era Lama yang ia perbaiki dengan kanibalisme suku cadang drone dan doa. Dengan bunyi klik dan dengungan statis yang memuaskan, elektromagnet di telapak tangannya menempel pada tiang baja yang terekspos.

Arka memanjat. Gerakannya metodis, efisien. Tangan kanan, kunci. Tarik. Kaki kiri, pijak. Dorong. Otot-ototnya, meski kurus dan kencang seperti kawat baja, menjerit protes. Dia adalah seorang Scavenger. Tubuhnya telah dibentuk oleh kelaparan kronis dan kerja keras tanpa henti. Di dunia ini, kalori adalah mata uang yang jauh lebih berharga daripada emas atau kredit digital yang sudah tidak berlaku. Membuang energi tanpa tujuan adalah dosa terbesar.

Saat mencapai lantai lima belas—atau apa yang tersisa darinya—lantai beton di bawah kakinya bergetar.

Awalnya, Arka mengira itu hanya struktur gedung yang menetap karena perubahan suhu senja. Tapi kemudian, getaran itu datang lagi.

BOOM... BOOM... BOOM...

Itu bukan gempa. Getaran ini memiliki ritme. Ia memiliki denyut. Ia memiliki niat.

Darah Arka membeku. Insting bertahan hidup yang telah membuatnya tetap bernapas selama 24 tahun mengambil alih. Dia menjatuhkan tubuhnya, menekan dada dan perutnya sedatar mungkin pada lantai beton yang dingin. Tangannya dengan cepat mematikan semua peralatan elektroniknya—senter, pemindai frekuensi, bahkan unit pendingin di baju pelindungnya.

Jantungnya berpacu, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri dari dadanya.

Matanya menyapu cakrawala timur yang tertutup kabut debu tebal.

Di kejauhan, sebuah siluet raksasa bergerak menembus badai pasir. Itu bukan mesin buatan manusia. Itu juga bukan makhluk hidup, setidaknya bukan dalam pengertian biologi lama.

Sebuah Tornado Walker.

Fenomena itu menjulang setinggi gedung dua puluh lantai. Sebuah pusaran angin yang padat, hitam dan marah. Di pusatnya, anomali gravitasi menarik puing-puing logam, bangkai mobil, dan reruntuhan beton, memadatkannya menjadi bentuk yang menyerupai raksasa berkaki dua. Ia berjalan dengan kaki-kaki yang terbentuk dari pilinan angin dan sampah, setiap langkahnya menciptakan gempa lokal saat ribuan ton material menghantam tanah.

Arka menahan napasnya. Walker itu buta, tapi dia bisa merasakan getaran elektromagnetik. Jika Arka menyalakan pemindai atau bahkan jika detak jantungnya terlalu keras, makhluk cuaca itu akan berbalik. Ia akan datang, dan ia akan melahap gedung ini dalam hitungan detik, mencabik-cabiknya untuk menambah massa tubuhnya sendiri.

Sebuah kaleng bekas jatuh dari saku Arka, menggelinding di lantai beton.

Klang. Klang. Klang.

Suara itu kecil, tapi di keheningan mati Zona Merah, itu terdengar seperti lonceng gereja.

Kepala Walker itu—sebuah bola angin yang berputar dengan puing-puing tajam—berhenti bergerak. Ia berputar perlahan ke arah gedung tempat Arka bersembunyi.

"Jangan ke sini," Arka memohon dalam hati, matanya terpejam erat, keringat dingin membasahi punggungnya. "Kumohon, jangan ke sini. Aku belum siap mati. Belum hari ini."

Suara deru angin dari Walker itu terdengar semakin keras. Seperti ribuan jeritan logam yang saling bergesekan. Arka bisa merasakan tekanan udara turun drastis, membuat telinganya meletup sakit. Gravitasi di sekitarnya terasa bergeser, menarik-narik paku-paku di sol sepatunya seolah ingin mengangkatnya ke udara.

Arka meraba sabuknya perlahan. Dia mengambil sebuah Decoy—bola kecil berisi kapasitor yang bisa melepaskan sinyal elektromagnetik kuat.

Dia menunggu.

Walker itu mengambil satu langkah mendekat. Bayangannya menutupi Arka.

Sekarang.

Arka melemparkan Decoy itu sekuat tenaga ke arah gedung di seberang jalan. Bola itu melayang, lalu menempel pada kaca jendela gedung sebelah.

BZZZTTT!

Sinyal palsu menyala.

Walker itu meraung—suara angin yang memekakkan telinga. Ia berbalik, menerjang ke arah gedung seberang. Dengan satu hantaman tangan anginnya, ia meruntuhkan sisi gedung itu, menelan beton dan baja dengan rakus.

Arka tidak menunggu untuk melihat hasilnya. Dia merangkak mundur, menjauh dari tepi, masuk lebih dalam ke bayangan.

Satu menit berlalu. Rasanya seperti satu jam.

Akhirnya, suara gemuruh itu mulai menjauh. Walker itu, puas atau mungkin bosan, berbelok ke arah barat, menuju Lautan Karat yang luas, mungkin tertarik oleh badai petir yang sedang terbentuk di sana.

Arka menghembuskan napas panjang, uap air memenuhi maskernya sejenak sebelum disedot oleh sistem sirkulasi. Kakinya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena pelepasan adrenalin yang tiba-tiba.

"Masih hidup," gumamnya, suaranya bergetar. "Poin untuk Arka. Nol untuk semesta."

Dia kembali berdiri, memeriksa peralatan. Semuanya masih utuh. Dia kembali fokus pada tujuannya.

Di sudut ruangan yang dulunya mungkin lobi eksekutif, tertimbun setengah oleh reruntuhan langit-langit, ada sebuah pintu.

Pintu itu bukan sembarang pintu. Logamnya halus, berwarna perak kusam yang tidak memantulkan cahaya. Tidak ada karat. Tidak ada goresan. Tidak ada lumut atau Iron-Vine yang berani tumbuh di atasnya. Alloy Era-Lama kualitas militer.

Ini adalah Vault. Brankas penyimpanan data atau prototipe rahasia. Harta karun yang bisa membuat seorang Scavenger pensiun dengan nyaman—atau setidaknya makan kenyang selama setahun. Arka telah menghabiskan tiga bulan melacak koordinat tempat ini dari data fragmen satelit yang ia beli di pasar gelap.

Arka merangkak mendekat, mengeluarkan multi-tool miliknya. Alat itu adalah kebanggaannya: sebuah obeng sonik yang dimodifikasi dengan dekripsi algoritma kasar yang ia tulis sendiri. Dia mulai membongkar panel kontrol di samping pintu.

Kabel-kabel serat optik menyembul keluar seperti usus yang berwarna-warni, beberapa sudah hangus, yang lain masih berkedip lemah dengan data sisa.

"Oke, mari kita lihat logikanya," gumam Arka, matanya menyipit melihat pola sirkuit mikro. "Sistem keamanan biometrik... mati, untungnya. Sistem cadangan... aktif. Enkripsi level 4. Sial, ini military-grade."

Dia menghubungkan multi-tool-nya ke port diagnostik. Layar kecil di alat itu berkedip hijau, menampilkan barisan kode heksadesimal yang mengalir cepat.

"Merah ke biru adalah jebakan," dia mengingatkan dirinya sendiri, mengingat pelajaran pahit dari Scavenger tua yang kehilangan lengannya karena salah potong kabel. "Hijau ke ground. Kuning ke... data."

Jari-jarinya menari di antara kabel-kabel itu, memotong dan menyambung dengan presisi seorang ahli bedah saraf. Keringat menetes ke matanya, perih, tapi dia tidak berkedip. Satu kesalahan, dan mekanisme pertahanan pintu ini bisa mengalirkan listrik 10.000 volt ke tubuhnya. Atau lebih buruk, meledakkan seluruh lantai ini dengan bom termal mikro.

Tiba-tiba, layar multi-tool-nya berubah merah.

AKSES DITOLAK. PROTOKOL COUNTER-MEASURE DIAKTIFKAN.

"Sial!"

Suara bip tajam terdengar dari dalam dinding. Arka tahu suara itu. Pengisian kapasitor senjata pertahanan otomatis.

"Pikir, Arka, pikir!"

Dia tidak punya waktu untuk meretas ulang. Dia harus memintasnya secara fisik.

Arka mencabut multi-tool-nya, membalik polaritas baterainya, dan menusukkannya langsung ke inti prosesor panel pintu.

"Makan ini!"

ZAP!

Percikan api biru menyembur. Arka terlempar ke belakang, tangannya mati rasa. Bau ozon memenuhi udara.

Hening sejenak.

Lalu... Klik.

Panel itu mati. Lampu merah di atas pintu padam. Dan kemudian, panel itu menyala kembali. Bukan dengan listrik statis biasa, tapi dengan denyut cahaya biru yang lembut dan stabil.

HUMMM...

Suara dengungan rendah mengisi ruangan itu, menggetarkan gigi Arka. Lantai di bawahnya beresonansi. Pintu brankas itu tidak bergeser atau terbuka. Sebaliknya, logam itu tampak... mencair. Partikel-partikel penyusun pintunya bubar, bergetar pada frekuensi molekuler, menciptakan lubang yang sempurna di tengah-tengahnya.

Arka mundur selangkah, takjub. Nanoteknologi fase-padat. Teknologi yang seharusnya hanya mitos. Bahkan Enklaf tidak punya ini.

Di balik lubang itu, tidak ada emas batangan atau senjata plasma. Tidak ada tumpukan makanan kaleng Era Lama.

Hanya ada sebuah ruangan kecil, steril, dan putih bersih. Dindingnya bercahaya sendiri dengan pendaran lembut.

Dan di tengah ruangan itu, melayang di atas pedestal logam, ada sebuah bola kristal.

Ukurannya hanya sebesar kepalan tangan. Warnanya biru laut dalam, dengan inti yang berputar pelan seperti galaksi mini yang terperangkap dalam kaca. Cahayanya tidak menyilaukan, tapi 'berat'. Arka bisa merasakannya menekan kulitnya, menarik rambut-rambut halus di lengannya.

Arka tahu protokol Scavenger: Jika kau tidak tahu apa itu, jangan sentuh. Jika itu bercahaya, lari.

Benda-benda yang masih aktif dari Era Lama biasanya berarti satu dari dua hal: radiasi gamma yang akan mencairkan organ dalammu dalam seminggu, atau sistem keamanan AI yang akan menganggapmu virus dan menghapusmu dari eksistensi.

Tapi kakinya melangkah maju.

Tubuhnya bergerak sendiri. Tangannya terulur, gemetar, seolah ditarik oleh gravitasi tak kasat mata yang dipancarkan benda itu.

"Indah sekali," bisiknya. Suaranya pecah. Dia lupa pada indikator oksigennya yang kini berkedip merah marah. Dia lupa pada Iron-Vine dan Tornado Walker. Dia lupa pada rasa lapar yang melilit perutnya.

Dunia menyempit hanya pada titik cahaya biru itu.

Saat ujung jari sarung tangannya menyentuh permukaan dingin kristal itu, sarung tangannya hancur. Bukan meledak, tapi terurai menjadi debu, seolah-olah waktu dipercepat jutaan tahun dalam satu detik.

Dan kulit telanjang Arka menyentuh Shard itu.


INGATAN: 15 TAHUN YANG LALU

Langit tidak berwarna tembaga. Langit berwarna merah darah.

Suara itu bukan angin. Itu adalah jeritan logam yang terkoyak dari intinya.

"Arka! Lari! Jangan melihat ke belakang!"

Suara Ibu. Tangan hangatnya mencengkeram lengan kecil Arka, menariknya kasar melewati kerumunan orang yang panik. Sirene kota meraung, tapi suaranya tenggelam oleh suara gemuruh yang datang dari perut bumi.

Mereka berlari melintasi jembatan penyeberangan yang bergoyang hebat. Di bawah mereka, jalan raya macet total. Mobil-mobil saling bertabrakan, orang-orang keluar dan berlari, menginjak satu sama lain.

Arka kecil tersandung. Lututnya menghantam aspal yang panas. Dia menoleh ke belakang, melanggar perintah ibunya.

Di pusat kota, Menara Energi—simbol kebanggaan peradaban mereka—sedang runtuh. Tapi tidak jatuh ke bawah. Ia... terhisap ke atas. Cahaya biru raksasa memancar dari puncaknya, menciptakan pusaran yang menelan gedung, mobil, dan manusia. Gravitasi terbalik. Mobil-mobil melayang naik ke langit, hancur menjadi serpihan.

Gelombang kejut menghantam mereka.

"Ibu!" teriak Arka.

Dia melihat ibunya terlempar. Dia melihat tangan yang memeganginya terlepas. Dia melihat ibunya tersenyum sedih, sebelum ditelan oleh debu dan api.

Arka terlempar ke udara. Dunia berputar. Aspal. Langit. Api. Wajah Ibu.

Dan kemudian, suara itu.

Bukan suara ledakan. Tapi suara bisikan. Jutaan suara yang berbicara serentak dalam bahasa yang tidak dia mengerti. Bahasa matematika. Bahasa rasa sakit. Bahasa kesepian.

"...koneksi... gagal... mencari... inang..."

"...sistem... kritis... butuh... wadah..."

Arka mendarat di puing-puing. Gelap. Dingin. Dan bisikan itu tertanam di kepalanya, seperti jarum es yang tidak pernah mencair.


"HAH!"

Arka tersentak bangun. Tubuhnya kejang, paru-parunya menghirup udara dengan rakus seolah dia baru saja tenggelam di laut dalam.

Dia tidak lagi berdiri. Dia terbaring di lantai beton yang kotor. Maskernya terlepas, tergeletak pecah beberapa meter darinya.

"Oksigen..." Arka meraba lehernya, panik. Dia menghirup udara Zona Merah tanpa filter. Rasanya seperti menelan parutan kaca dan belerang. Dia batuk hebat, memuntahkan cairan empedu. Dia menunggu rasa terbakar di paru-parunya. Dia menunggu darah keluar dari hidungnya.

Tapi rasa sakit itu tidak datang.

Sebaliknya, udara itu terasa... dingin. Menyegarkan. Seolah-olah paru-parunya telah berubah, mampu memfilter racun secara alami.

Arka menunduk melihat dadanya. Dan menjerit.

Benda itu—kristal biru itu—tidak lagi di pedestal.

Benda itu ada di dadanya. Tertanam setengah jalan ke dalam tulang sternum-nya, menembus baju pelindung, daging, dan tulang rusuk. Tidak ada darah. Daging di sekitarnya telah berubah menjadi zat transparan seperti kaca yang menyatu dengan kristal itu. Cahaya birunya berdenyut seirama dengan detak jantungnya sendiri. Thump-thump. Thump-thump.

Urat-urat di sekitar kristal itu berubah warna menjadi biru neon, merambat naik ke leher dan turun ke lengannya seperti tato sirkuit yang hidup.

Arka mencakar dadanya, mencoba mencabut benda asing itu. Tapi jarinya tidak bisa menemukan celah. Kristal itu telah menyatu dengan dagingnya. Itu adalah bagian dari dirinya sekarang. Sama seperti jantung atau paru-parunya.

"Apa... apa yang telah kulakukan?" bisiknya, horor.

Arka mencoba berdiri, tapi kakinya terasa ringan. Terlalu ringan. Dia merasa... bertenaga. Rasa lelah yang selalu menghantuinya seumur hidup tiba-tiba lenyap, digantikan oleh dengungan energi yang konstan di belakang kepalanya. Dia bisa mendengar suara listrik di dinding. Dia bisa merasakan medan magnet bumi.

Dan dia tidak sendirian.

Di sudut ruangan, di balik tumpukan puing yang sebelumnya dia abaikan, sesuatu bergerak.

Tumpukan rongsokan itu bergeser. Sebuah lengan mekanis jatuh dengan suara klang. Sebuah kepala robotik tua, mungkin sisa dari unit pelayan rumah tangga atau drone militer yang rusak parah, terangkat.

Mata lensa kameranya yang retak berkedip. Zzzt.

Lampu merah menyala. Lalu berkedip menjadi kuning. Dan akhirnya, biru stabil yang sama dengan yang ada di dada Arka.

"Sirkuit... terhubung," suara robot itu pecah, penuh statis, seperti radio yang tidak mendapatkan sinyal. Suara itu bukan sintesis suara manusia yang halus. Itu suara mekanis yang kasar, menyakitkan untuk didengar. "Inisiasi... protokol... bangun."

Robot itu mencoba bangkit. Kabel-kabel terurai dari bagian pinggangnya yang putus total. Kaki kirinya hilang, digantikan oleh tumpukan kabel yang menjuntai. Dia menyeret tubuh bagian atasnya mendekati Arka dengan gerakan tersentak-sentak yang mengerikan, menggunakan satu lengan yang masih berfungsi.

"Selamat datang kembali... Operator," kata robot itu lagi.

Arka mundur, menabrak dinding. Dia mengangkat multi-tool-nya sebagai senjata, meskipun tangannya gemetar hebat.

"Siapa kau?" bentak Arka. "Benda apa kau?"

Lensa kamera robot itu berputar, memindai Arka dari ujung kaki ke kepala. Sinar laser merah memindai kristal di dada Arka.

"Unit K-1R0," jawab robot itu. "Nama sandi: Kiro. Status sistem: Kritis. Integritas memori: 12%. Kerusakan sasis: 78%. Menunggu... instruksi pemulihan."

"Kiro?" Arka tidak pernah mendengar model itu. Dan dia tahu hampir semua model robot dari Era Lama.

"Instruksi, Operator," ulang Kiro. Ada nada mendesak dalam suara mesinnya. "Deteksi ancaman eksternal. Scrap-Wolves mendekat. Jarak: 200 meter dan mendekat cepat. Mereka mencium aroma ozon dari Shard Anda."

Arka terdiam. Dia menajamkan pendengarannya.

Dia bisa mendengarnya sekarang. Di kejauhan, di lantai bawah. Lolongan.

Bukan lolongan serigala biasa. Tapi suara logam beradu logam. Cakaran pada beton. Geraman mesin yang lapar. Scrap-Wolves. Mutan yang memadukan daging dan besi. Pemangsa puncak di gedung ini.

Arka menatap benda di dadanya, lalu ke robot rongsokan yang baru saja menyapanya.

Hidupnya sebagai pemulung rendahan baru saja berakhir. Dan mimpi buruk baru—atau mungkin takdir baru—baru saja dimulai. Dia bisa meninggalkan robot ini dan lari. Dia mungkin bisa selamat sendiri.

Tapi saat dia menatap mata biru robot itu, dia merasakan sesuatu yang aneh. Rasa familiar. Rasa... tanggung jawab.

Dia tidak punya pilihan.

"Bisa kau jalan?" tanya Arka.

"Negatif. Kaki hancur. Sistem antigravitasi: Offline."

Arka menghela napas panjang, menatap sisa-sisa tubuh Kiro yang beratnya pasti ratusan kilo. Dia menyelipkan multi-tool ke sabuknya. Dia mengencangkan tali sepatunya.

"Baiklah," kata Arka. Dia berjongkok di depan robot itu. "Naiklah. Kalau kau berat, aku akan menjatuhkanmu ke lubang lift."

Robot itu diam sejenak, memproses perintah. Lalu, dengan gerakan kaku, dia merangkul leher Arka.

"Perintah diterima. Terima kasih... Operator."

Arka berdiri, mengerang di bawah beban besi itu. Dia melangkah maju ke dalam bayangan, meninggalkan ruangan putih itu, menyambut takdirnya di tengah kegelapan yang melolong.