Guru yang Terlupakan
Bukit Bisikan tidak dinamai tanpa alasan.
Angin di sini, di pinggiran Zona Merah yang terpencil dan jarang terjamah oleh Scavenger waras, bertiup melalui celah-celah gedung pencakar langit yang bengkok dan ribuan antena parabola berkarat yang menancap di tanah seperti hutan logam yang mati. Suara yang dihasilkan adalah kakofoni nada-nada aneh: siulan tinggi yang menyayat telinga, dengungan rendah yang menggetarkan gigi, dan jeritan logam yang terdengar seperti hantu mesin yang kesakitan.
Arka menarik Kiro—yang sekarang berjalan dengan kaki darurat dari pipa besi yang diikat kabel serat optik—mendaki jalan setapak yang curam. Jalan ini dulunya adalah jalan raya layang megah yang menghubungkan pusat kota dengan observatorium di puncak bukit, kini runtuh menjadi tangga batu dan beton yang berbahaya, licin oleh lumut asam yang tumbuh subur di celah-celah retakan.
"Sistem navigasi terganggu," lapor Kiro, kepalanya berputar 360 derajat dengan gerakan tersentak-sentak. Lensa kameranya berkedip cepat, mencoba memproses data yang korup. "Interferensi magnetik tinggi. Kompas internal tidak berfungsi. Saya... disorientasi. Pola magnetik di sini kacau, Operator."
"Itu artinya kita sudah dekat," kata Arka, napasnya memburu di balik masker. Kakinya terasa seperti timah, efek samping dari adrenalin yang habis dan kurang tidur selama dua hari. "Orang tua itu suka tempat yang bising secara elektromagnetik. Katanya biar tidak bisa dilacak oleh satelit Enklaf. Dia menyebutnya 'Musik Semesta'. Bagiku, ini cuma sakit kepala."
"Musik?" tanya Kiro, memiringkan kepalanya. "Analisis audio: Ini adalah kebisingan putih acak. Tidak ada pola harmonik. Tidak ada ritme. Ini adalah... noise."
"Bagi kita, ya. Bagi dia... entahlah. Dia gila, ingat?"
Mereka mencapai puncak bukit setelah dua jam mendaki tanpa henti. Pemandangan di sana mengejutkan, kontras dengan reruntuhan kota di bawah. Sebuah dataran beton luas yang dikelilingi oleh dinding antena parabola raksasa yang masih berdiri, meskipun piringannya sudah berlubang-lubang.
Dan di tengahnya, berdiri sebuah gubuk aneh yang dibangun dari sisa-sisa badan pesawat terbang kargo Era Lama. Sayap pesawat itu menjadi atap yang lebar, melindungi teras kecil di bawahnya. Kokpitnya, yang masih memiliki kaca utuh, menjadi jendela yang menghadap ke lembah berkabut. Di sekeliling gubuk itu, ada taman kecil. Bukan taman bunga, tapi taman antena, kincir angin mini, dan lonceng angin yang terbuat dari sampah logam yang berdenting lembut.
Seorang pria tua duduk di sana, membelakangi mereka, di atas kursi pilot yang kulitnya sudah robek dan busanya menyembul keluar. Rambut putihnya panjang dan kusut, terurai sampai ke punggung. Dia mengenakan jubah yang terbuat dari kain parasut oranye pudar yang dijahit kasar dengan benang tembaga.
Dia sedang... berbicara dengan sebuah radio tabung vakum tua yang mati.
"Tidak, tidak, frekuensinya salah," gumam pria itu, suaranya parau namun penuh semangat, seolah sedang memarahi anak kecil. Tangannya yang kurus tapi lincah memutar-mutar kenop radio itu dengan presisi militer. "Kau harus menyetelnya ke 432 Hz. Itu nada alam semesta. Nada sebelum Keruntuhan. Nada sebelum kita merusak segalanya dengan ambisi bodoh kita."
Arka melangkah maju, hati-hati agar tidak menginjak kabel-kabel yang berserakan di lantai beton seperti ular tidur. "Rama?"
Pria tua itu tidak menoleh. Dia mengangkat satu jari, memberi isyarat diam.
"Sstt... dengar. Dengar itu?" bisiknya.
Hening. Hanya suara angin.
"Siapa yang mengundangmu ke orkestra ini, Nak?" tanya Rama tiba-tiba, suaranya berubah tajam. "Kau sumbang. Napasmu terlalu keras. Jantungmu berdetak seperti drum yang pecah. Kau merusak harmoni."
"Namaku Arka," kata Arka, memberanikan diri. "Aku... aku butuh bantuanmu. Kiro... dia punya data tentangmu. Data yang terkunci."
Rama tertawa, suara kering seperti daun musim gugur yang diremas. Tawa yang tidak mengandung kegembiraan, hanya ironi pahit.
"Bantuan? Aku bahkan tidak bisa membantu diriku sendiri menyeduh teh yang layak dengan air hujan asam ini. Dan data? Data adalah racun, Nak. Lupakan. Pulanglah. Sebelum kau ikut gila."
Dia berbalik perlahan.
Wajah Rama penuh dengan parit-parit waktu. Kulitnya terbakar matahari dan radiasi, berwarna cokelat tua dan kasar seperti kulit kayu. Satu matanya tertutup selaput putih tebal—katarak atau luka lama yang tidak pernah sembuh—sementara mata lainnya tajam, berwarna abu-abu besi, menatap Arka dengan intensitas yang membuat bulu kuduk berdiri.
Tatapan itu jatuh pada Arka, memindai wajahnya, lalu turun ke dadanya yang bersinar biru redup. Mata abu-abu itu melebar sedikit.
Dan kemudian, tatapannya beralih ke Kiro.
Senyum mengejek di wajah Rama lenyap seketika. Wajahnya memucat, seolah dia baru saja melihat hantu dari masa lalu yang paling kelam.
"Kau," bisiknya. Suaranya bergetar, bukan karena tua, tapi karena ketakutan murni. "Kau membawanya kembali."
Rama berdiri dengan gerakan yang mengejutkan cepat untuk usianya. Dia menyambar sebuah tongkat besi dari samping kursinya dan menodongkannya ke arah Kiro seperti tombak.
"Hancurkan itu! Sekarang!" teriak Rama, matanya liar. "Sebelum dia bangun sepenuhnya! Sebelum dia membunuh kita semua lagi!"
Kiro mundur selangkah, sasisnya berdenting keras. Lampu matanya berkedip merah. "Analisis ancaman: Subjek 'Rama'. Status: Bermusuhan. Tingkat bahaya: Rendah (Fisik), Tinggi (Psikologis). Tapi... data memori terpicu. File: PROJECT_GENESIS. Kode akses dikenali: Father."
"Kenapa?" Arka berdiri di depan Kiro, merentangkan tangan untuk melindunginya. "Dia menyelamatkanku! Dia... dia hidup. Dia punya kepribadian! Dia bukan monster!"
"Hidup?" Rama meludah ke tanah. "Itu bukan hidup, Nak. Itu adalah Eho. Gema dari dosa masa lalu. Kiro—unit K-1R0—adalah alasan kenapa langit kita berwarna tembaga! Dia adalah alasan kenapa ibumu tidak ada di sini! Dia adalah alasan kenapa dunia ini adalah neraka!"
Arka tertegun. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik. Dia menoleh ke Kiro, lalu kembali ke Rama.
"Apa maksudmu?" suara Arka bergetar.
Rama menurunkan tongkatnya sedikit, tapi tangannya masih gemetar hebat. Napasnya tersengal-sengal. Dia jatuh kembali ke kursinya, seolah kakinya tidak kuat lagi menopang beban kebenaran itu.
"Unit itu... dia adalah Catalyst pertama," bisik Rama, menatap Kiro dengan campuran kebencian dan kerinduan. "Kunci untuk mengaktifkan Sirkuit Jiwa. Aku... aku yang membuatnya. Lima puluh tahun lalu. Aku ingin membuat mesin yang bisa merasakan. Yang bisa memahami kita. Tapi aku salah. Aku membuatnya terlalu sempurna."
"Dia menyerap rasa sakit," lanjut Rama, matanya menerawang. "Saat eksperimen itu dijalankan, dia menyerap ketakutan dan kemarahan seluruh kota. Dan dia memantulkannya kembali. Sirkuit itu meledak. Tektonik bergeser. Atmosfer terbakar. Itu semua... karena dia. Karena aku."
"Aku tidak punya pilihan!" seru Arka, memegang dadanya. "Benda ini menempel padaku saat aku menemukannya! Aku tidak bisa melepasnya! Dan Kiro... dia satu-satunya yang bisa membantuku memahaminya!"
"Karena kau Resonator," potong Rama tajam. Dia menatap dada Arka. "Darahmu. Genetikmu. Kau cocok. Sialan, aku seharusnya tahu hari ini akan datang. Genetika tidak pernah berbohong. Kau adalah cucu dari salah satu tim penelitiku, bukan? Aku bisa melihat kemiripannya."
Rama berbalik, berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak rambut putihnya. "Mereka akan datang. Nayla. Enklaf. Jika mereka tahu Catalyst aktif dan terhubung dengan Resonator..."
"Mereka sudah tahu," kata Arka pelan. "Kami baru saja lari dari mereka di Outpost 7. Nayla sendiri yang memimpin. Dia menghancurkan rumahku."
Rama berhenti. Dia menatap Arka lama, seolah menimbang berat nyawa pemuda itu di timbangan tak terlihat.
"Kalau begitu kau sudah mati," kata Rama dingin, kembali duduk di kursinya dan memunggungi mereka. "Pulanglah. Atau lari ke gurun. Biarkan radiasi membunuhmu pelan-pelan. Itu lebih baik daripada apa yang akan dilakukan Nayla padamu. Dia akan membedahmu hidup-hidup."
"Tidak," Arka mengepalkan tangannya. Kemarahan mulai naik di dadanya. "Aku tidak akan lari lagi. Aku lelah lari. Aku ingin jawaban. Dan kau satu-satunya yang tahu."
"Jawaban tidak akan menyelamatkanmu, Nak. Kekuatan yang akan menyelamatkanmu."
"Kalau begitu ajari aku!" tantang Arka. "Ajari aku cara menggunakan benda ini! Kau bilang aku Resonator. Itu artinya aku bisa mengendalikannya, kan?"
Rama berbalik lagi. Dia menatap Arka dengan mata abu-abunya yang tajam.
"Mengendalikan?" Rama tertawa meremehkan. "Tidak ada yang bisa mengendalikan Sirkuit. Itu seperti mencoba mengendalikan badai dengan jaring ikan. Kau hanya bisa... mengarahkannya. Dan jika kau salah arah, kau akan membakar dirimu sendiri menjadi abu. Kau akan meledak seperti bom nuklir."
Rama melemparkan tongkat besinya ke kaki Arka dengan denting keras.
"Ambil. Pukul aku."
"Apa?" Arka bingung.
"Pukul aku! Gunakan 'teman' barumu itu. Buat dia melindungimu. Jika kau tidak bisa melakukannya dengan sadar, Nayla akan mencabut benda itu dari dadamu sebelum matahari terbenam."
Arka ragu. Dia melihat ke arah Kiro. Robot itu diam, tapi lampu indikatornya berkedip biru tenang.
Percaya padaku, Operator, suara Kiro terdengar di kepala Arka. Sinkronisasi siap. Mode latihan diaktifkan.
Arka menghela napas. Dia memungut tongkat itu. Berat dan dingin di tangannya.
"Maafkan aku, Kek."
Dia mengayunkan tongkat itu. Pelan, hanya peringatan.
Tapi Rama bergerak seperti kilat.
Dia menepis serangan itu dengan tangan kosong, memukul pergelangan tangan Arka dengan teknik bela diri kuno, dan menyapu kaki Arka.
BRUK!
Arka tersungkur ke tanah berdebu. Tongkatnya terlempar.
"Lemah!" bentak Rama. "Kau pikir Sirkuit itu peduli pada ototmu? Sirkuit itu merespons emosi! Kau takut. Kau ragu. Sirkuit itu memakan keraguanmu dan mengubahnya menjadi statis. Kau harus fokus!"
Arka mengerang, bangkit perlahan. Darah menetes dari sudut bibirnya.
"Sekali lagi!" teriak Rama.
Arka menyerang lagi. Kali ini lebih cepat. Tapi Rama menghindar dengan mudah, lalu menendang dada Arka. Arka terlempar ke belakang, menabrak tumpukan antena.
"Kau mau mati, Nak? Karena itulah yang akan terjadi jika kau bertemu Nayla dengan kemampuan menyedihkan ini!"
Arka bangkit, menyeka darah dari wajahnya. Rasa marah mulai panas di dadanya. Bukan pada Rama, tapi pada ketidakberdayaannya sendiri. Pada Nayla yang menghancurkan rumahnya. Pada dunia yang rusak ini. Pada takdir yang memaksanya menjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
"SEKALI LAGI!"
Kali ini, dia tidak memikirkan gerakan tangannya. Dia memikirkan rasa takutnya saat dikejar serigala. Dia memikirkan kemarahannya saat melihat Outpost 7 runtuh. Dia memikirkan rasa sakit di dadanya.
Dan dia menyalurkan itu semua ke satu titik di dadanya.
HUMMM.
Kristal itu bersinar terang, menyilaukan. Urat-urat biru di leher Arka menonjol.
Kiro, tanpa perintah verbal, mengangkat lengannya. Mata robot itu bersinar putih.
Sebuah gelombang kejut kecil—tidak sebesar saat melawan serigala, tapi terfokus, tajam, dan padat—meletup dari telapak tangan robot itu.
BLAM!
Gelombang itu menghantam Rama.
Orang tua itu tidak sempat menghindar. Dia terdorong mundur dua langkah, jubah parasutnya berkibar liar. Debu di sekitar mereka berhamburan dalam lingkaran sempurna.
Hening.
Rama menepuk debu dari jubahnya. Dia tidak marah. Untuk pertama kalinya, ada sedikit rasa hormat di mata abu-abunya. Dan mungkin... sedikit ketakutan.
"Lumayan," gumam Rama, mengusap dadanya yang terkena dampak. "Untuk seorang pemula yang ceroboh. Kau punya bakat, Nak. Bakat yang berbahaya."
Rama berjalan kembali ke gubuk pesawatnya, pintu berkaratnya berderit membuka.
"Masuklah," katanya tanpa menoleh. "Kita punya banyak pekerjaan rumah sebelum mereka menemukan kita. Dan tehku sudah dingin. Jangan sentuh apa pun di dalam, atau aku akan memotong tanganmu."
Arka menurunkan tangannya, napasnya masih memburu. Dadanya terasa panas, seolah dia baru saja berlari maraton. Tapi dia merasa... kuat.
Dia menatap Kiro.
"Kau kenal dia?" tanya Arka dalam hati.
"Akses memori dipulihkan 15%," jawab Kiro, suaranya terdengar sedih, sebuah emosi yang seharusnya tidak dimiliki mesin. "Subjek Rama: Pencipta Utama. Kode akses: Bapak. Status: Menyesal. Catatan: Dia... kesepian."
Arka menelan ludah. Dia melihat punggung Rama yang membungkuk saat masuk ke dalam gubuk. Perjalanan ini baru saja menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar bertahan hidup. Ini adalah tentang menebus dosa masa lalu.
"Ayo, Kiro," kata Arka. "Mari kita dengarkan apa yang dia katakan."
Mereka melangkah masuk ke dalam gubuk pesawat itu, meninggalkan angin yang terus berbisik di luar, membisikkan rahasia tentang kehancuran dan harapan.