Sirkuit Jiwa Detak Jantung Besi
2/10
Bab 2

Detak Jantung Besi

Detak Jantung Besi

Arka tidak pernah merasa seberat ini seumur hidupnya. Bukan hanya beban fisik Kiro—yang meskipun sebagian besar tubuhnya terbuat dari carbon-fiber dan alloy ringan, tetap memiliki berat setara dua karung beras penuh besi tua—tapi beban takdir yang tiba-tiba jatuh di pundaknya.

Di dadanya, kristal biru itu berdenyut. Thump-thump. Thump-thump. Iramanya stabil, hangat, dan menenangkan, kontras dengan kepanikan yang mulai merayap di ujung-ujung saraf Arka.

"Operator," suara statis Kiro terdengar di telinganya, atau mungkin langsung di kepalanya. Sulit membedakannya sekarang. "Deteksi getaran struktural. Jarak 150 meter. Kecepatan subjek: 40 km/jam."

"Aku tahu!" bentak Arka, napasnya memburu. Dia berlari menyusuri koridor lantai lima belas yang hancur. Debu beton beterbangan di setiap langkahnya. "Bisa kau diam sebentar? Aku sedang mencoba tidak mati di sini!"

"Saran taktis: Diam tidak akan meningkatkan probabilitas kelangsungan hidup. Lari adalah respons yang tepat."

"Itu sarkasme?"

"Negatif. Itu fakta."

Arka membelok tajam di sudut, hampir tergelincir di atas tumpukan kaca pecah. Di belakangnya, jauh di lorong yang gelap, suara lolongan itu terdengar lagi.

Auuu-KRANG!

Suara itu adalah campuran antara lolongan serigala dan suara logam yang ditekuk paksa. Scrap-Wolves. Makhluk-makhluk ini bukan hasil evolusi alam. Mereka adalah kesalahan. Mutasi genetik yang diperparah oleh konsumsi limbah industri. Tulang mereka tumbuh menembus kulit, menyerap logam dari lingkungan mereka, menciptakan armor alami yang mengerikan. Dan mereka lapar. Selalu lapar.

Arka menendang pintu tangga darurat. Terkunci. Karat telah menyatukan engselnya.

"Sial!" Arka menabrak pintu itu dengan bahunya. Tidak bergeming.

Di ujung lorong, bayangan pertama muncul.

Makhluk itu sebesar sepeda motor. Matanya buta, tertutup jaringan parut tebal, tapi hidungnya yang basah dan hitam mengendus udara dengan rakus. Di punggungnya, pelat nomor mobil tua tertanam di dagingnya, seperti perisai punggung ksatria yang grotesk. Kakinya yang berotot diakhiri dengan cakar yang bukan kuku, tapi paku besi berkarat.

Serigala itu berhenti. Kepalanya miring. Dia mencium aroma ozon dari dada Arka.

"Kiro," bisik Arka, keringat dingin mengucur di punggungnya. "Ada ide?"

"Analisis integritas pintu: 40%," jawab Kiro tenang. "Kekuatan impak yang dibutuhkan untuk mendobrak: 2500 Newton. Kekuatan otot Anda saat ini: 800 Newton."

"Jadi aku mati?"

"Tidak. Exo-frame Anda memiliki cadangan hidrolik. Aktifkan Overdrive."

"Itu akan membakar pistonnya!"

"Hidup atau piston, Operator. Pilih."

Serigala itu menggeram rendah, suara yang terdengar seperti mesin diesel tua. Dua ekor lagi muncul di belakangnya.

Arka tidak punya pilihan. Dia meraba panel kontrol di punggungnya dengan tangan gemetar. Dia menemukan tuas darurat berwarna merah yang catnya sudah mengelupas.

"Semoga ini tidak meledak," doa Arka.

Dia menarik tuas itu.

HISSSS!

Cairan hidrolik membanjiri sistem exo-frame-nya. Arka merasakan sentakan kekuatan yang menyakitkan di punggung dan kakinya. Otot-ototnya menjerit saat dipaksa bekerja di luar batas manusia.

Dia mundur selangkah, lalu menerjang pintu itu dengan bahu kanannya.

BLAM!

Engsel pintu itu menjerit, lalu patah. Pintu besi berat itu terlempar keluar dari bingkainya, jatuh berdentang di tangga beton di baliknya.

Arka tersungkur masuk, hampir menjatuhkan Kiro. Dia berguling, bangkit dengan cepat, dan menahan pintu itu dengan punggungnya, mencoba menutupnya kembali. Tapi pintu itu sudah bengkok. Ada celah sepuluh senti.

Cukup untuk moncong bergigi besi masuk.

GRAAWR!

Serigala pertama menabrak pintu dari sisi lain. Arka terdorong ke depan, sepatunya berdecit di lantai beton.

"Arka!" teriak Kiro.

Cakar besi serigala itu menembus celah, menggaruk-garuk udara, hanya beberapa inci dari wajah Arka. Bau napasnya busuk, campuran daging busuk dan oli mesin.

"Kiro! Lakukan sesuatu!" teriak Arka, kakinya mulai tergelincir. Kekuatan serigala itu luar biasa.

"Sistem senjata: Offline," lapor Kiro. "Sistem pertahanan: Rebooting... 80%..."

Arka melihat paku-paku di pintu mulai lepas. Pintu ini tidak akan bertahan lima detik lagi.

Tiba-tiba, dia merasakan sensasi aneh itu lagi. Denyut di dadanya. Kali ini bukan hangat. Kali ini panas.

Arka tidak berpikir. Dia melepaskan satu tangan dari pintu, membiarkan serigala itu mendorong lebih kuat, dan menempelkan telapak tangannya langsung ke moncong besi yang menyembul itu.

Sync.

Dunia Arka meledak menjadi warna putih.

Dia tidak lagi berada di tangga darurat. Dia berada di dalam pikiran serigala itu.

Ini bukan pikiran yang rumit. Ini adalah badai insting.

LAPAR. SAKIT. MAKAN. LOGAM. DARAH.

Arka bisa merasakan rasa sakit serigala itu. Serpihan besi di punggungnya menusuk daging setiap kali dia bergerak. Kakinya yang bermutasi terbakar karena infeksi. Makhluk ini menderita. Dan penderitaan itu membuatnya gila.

"Berhenti," bisik Arka dalam pikiran itu. Dia tidak mencoba melawannya. Dia mencoba menenangkannya.

Arka mengirimkan memori. Bukan memori rasa takut. Tapi memori... air dingin. Memori saat dia menemukan mata air bersih di gua setahun lalu. Rasa dingin yang membasuh tenggorokan. Rasa damai.

Serigala itu tersentak. Geramannya berhenti. Cakar besinya menarik diri perlahan.

Arka menarik napas, kembali ke tubuhnya sendiri. Pintu di depannya tidak lagi didorong.

"Operator?" tanya Kiro, suaranya penuh kebingungan. "Target... mundur. Tanda vital target menurun ke level istirahat. Apa yang Anda lakukan?"

Arka menatap tangannya sendiri. Urat-urat biru di lengannya bersinar terang, lalu meredup.

"Aku tidak tahu," bisik Arka. "Aku hanya... memberinya minum."

Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.

AUUUUUU!

Lolongan lain terdengar. Kali ini dari lantai atas. Dan lantai bawah.

"Kawanan lain," kata Kiro. "Mereka mengepung kita. Taktik berburu standar: Pincer Movement."

Arka melepaskan pintu itu dan mulai berlari menuruni tangga. "Berapa banyak?"

"Berdasarkan gema akustik... dua belas."

"Dua belas?!" Arka hampir tersedak ludahnya sendiri. "Satu saja hampir membunuhku!"

Mereka menuruni tangga dengan kecepatan nekat. Arka melompati anak tangga tiga-tiga, beban Kiro di punggungnya membuatnya goyah di setiap pendaratan. Exo-frame-nya mendesis panas, pistonnya mulai kehilangan tekanan.

Lantai 10. Lantai 9.

Di lantai 8, pintu tangga darurat di bawah mereka meledak terbuka.

Dua serigala melompat masuk, menghalangi jalan. Mereka lebih besar dari yang pertama. Salah satunya memiliki rahang bawah yang digantikan sepenuhnya oleh perangkap beruang berkarat.

Arka mengerem mendadak, sepatunya meninggalkan bekas hitam di beton.

"Atas!" teriaknya, berbalik arah.

Tapi di atas, tiga serigala lagi sedang menuruni tangga, air liur menetes dari rahang mereka.

Terjepit.

Arka bersandar ke dinding, dadanya naik turun dengan cepat. "Kiro. Katakan padaku kau punya senjata rahasia."

"Sistem Kinetic Shield: Online," jawab Kiro. "Tapi kapasitas baterai 5%. Hanya cukup untuk satu kali aktivasi. Durasi: 3 detik."

"Tiga detik," Arka tertawa histeris. "Bagus. Cukup untuk berdoa."

Serigala-serigala itu mendekat perlahan. Mereka tahu mangsa mereka tidak bisa lari. Mereka menikmati ketakutan ini.

"Arka," suara Kiro terdengar berbeda. Lebih... lembut. "Letakkan saya."

"Apa? Tidak!"

"Saya beban. Tanpa saya, Anda bisa memanjat poros lift. Kecepatan lari Anda akan meningkat 40%."

"Aku tidak akan meninggalkanmu!" bentak Arka. "Kau satu-satunya hal di dunia ini yang tidak mencoba memakanku!"

"Saya adalah mesin, Arka. Saya bisa diperbaiki. Anda tidak."

"Diam!" Arka melihat sekeliling, putus asa. Matanya tertuju pada pintu koridor lantai 8. Pintu itu rusak, tergantung miring.

"Tiga detik, kan?" tanya Arka.

"Afirmatif."

"Oke. Saat aku bilang sekarang, aktifkan perisai. Dan arahkan ke depan."

"Apa rencana Anda?"

"Rencana bodoh."

Arka menarik napas panjang. Dia menatap serigala-serigala di bawahnya.

"SEKARANG!"

Kiro mengaktifkan perisainya. Dinding energi biru muncul di depan Arka.

Arka tidak berlari menjauh. Dia berlari menabrak serigala-serigala di bawahnya.

WHAM!

Serigala-serigala itu terkejut. Mereka menerkam, tapi cakar dan gigi mereka menghantam dinding energi keras. Mereka terpental ke belakang, jatuh berguling-guling di tangga.

Arka melompati tubuh-tubuh mereka, menggunakan perisai itu sebagai battering ram.

Satu detik. Dia melewati serigala pertama.

Dua detik. Dia menendang wajah serigala kedua.

Tiga detik. Perisai berkedip mati.

Arka mendarat di lantai 8, berguling, dan menendang pintu koridor hingga terbuka. Dia berlari masuk, lalu membanting pintu itu sekuat tenaga.

Dia tidak berhenti. Dia tahu pintu itu tidak akan menahan mereka lama.

"Koridor ini buntu!" peringatkan Kiro.

"Aku tahu!"

Arka berlari menuju ujung koridor. Di sana, ada jendela besar yang menghadap ke atrium gedung. Kaca jendelanya sudah pecah lama.

"Arka, deteksi ketinggian: 30 meter. Jatuh bebas akan fatal."

"Kita tidak akan jatuh bebas."

Arka melihat ke atas. Ada kabel baja tua—sisa dari lift barang—yang menjuntai di tengah atrium. Jaraknya sekitar dua meter dari pinggir jendela.

"Kau percaya padaku?" tanya Arka.

"Pertanyaan tidak relevan. Saya terikat pada punggung Anda."

Di belakang mereka, pintu koridor hancur berkeping-keping. Selusin serigala membanjiri lorong, melolong lapar.

Arka berlari secepat yang dia bisa.

Di bibir jendela, dia melompat.

Waktu seolah melambat. Arka melayang di udara hampa. Di bawahnya, kegelapan The Grinder menanti. Di depannya, kabel baja berkarat bergoyang pelan.

Tangannya terulur.

Jari-jarinya menyentuh kabel dingin dan berminyak itu.

GRAB.

Dia mencengkeramnya.

Sentakan itu hampir mencabut lengan Arka dari bahunya. Rasa sakit meledak di otot-ototnya. Exo-frame-nya menjerit, logam beradu logam, menahan beban gabungan mereka.

Mereka berayun liar, menabrak dinding seberang atrium.

BUKK!

Arka mengerang, tulang rusuknya terasa retak. Tapi dia tidak melepaskan pegangannya.

Di atas mereka, di jendela tempat mereka melompat tadi, serigala-serigala itu melolong kecewa. Beberapa mencoba melompat, tapi jatuh, tubuh mereka menghantam lantai dasar dengan suara gedebuk basah yang jauh.

Arka meluncur turun perlahan, gesekan sarung tangannya dengan kabel menciptakan percikan api.

Mereka mendarat di lantai dasar atrium dengan lutut gemetar. Arka melepaskan kabel itu, jatuh terduduk di lantai yang penuh debu.

"Status?" tanya Arka, terengah-engah.

"Sistem pendingin: Critical," jawab Kiro. "Baterai: 0%. Memulai mode Sleep."

Arka tertawa. Tawa yang lelah, histeris, tapi lega. "Tidur yang nyenyak, sobat. Kau pantas mendapatkannya."

Kiro mematikan lampu matanya. Tubuhnya menjadi berat sepenuhnya di punggung Arka.

Arka tidak bisa istirahat. Dia harus mencari tempat aman. Dia menyeret kakinya yang berat, berjalan menuju pintu keluar gedung yang tertutup puing.

Di luar, malam telah jatuh sepenuhnya. Tapi Arka tidak takut lagi pada kegelapan.

Karena di dadanya, ada cahaya yang menuntunnya pulang.