Sirkuit Jiwa Hutan Kaca
5/10
Bab 5

Hutan Kaca

Hutan Kaca

Hutan Kaca tidak tumbuh; ia mengkristal.

Ribuan tahun lalu, kawasan ini adalah gurun pasir silika yang luas dan tandus. Ketika Keruntuhan Awal melepaskan gelombang panas termonuklir yang tak terbayangkan—suhu yang cukup tinggi untuk melelehkan baja dalam sekejap—pasir itu meleleh seketika. Ia menyatu dengan sisa-sisa vegetasi organik yang hangus, mineral tanah, dan tulang belulang kota yang terkubur, lalu membeku dalam hitungan detik saat badai es nuklir menyapu daratan sesaat kemudian.

Hasilnya adalah lanskap mimpi buruk yang indah namun mematikan. Sebuah monumen abadi bagi kehancuran.

Batang-batang pohon di sini bening seperti es, namun sekeras berlian industri. Cabang-cabangnya melengkung dalam sudut-sudut fraktal yang rumit, membiaskan cahaya matahari tembaga menjadi pelangi warna-warni yang menyakitkan mata. Daun-daunnya, yang terbentuk dari tetesan silika yang membeku saat jatuh, setajam silet bedah. Mereka berdenting satu sama lain saat angin bertiup, menciptakan musik yang menghipnotis sekaligus mematikan.

Ting... Ting... Ting...

Suara itu seperti ribuan lonceng kecil yang berbunyi di kejauhan. Indah. Menggoda.

"Jangan sentuh apa pun," peringatan Rama terdengar tajam, memotong kekaguman Arka yang hampir fatal. Orang tua itu berjalan di depan, memukul tanah dengan tongkat besinya setiap dua langkah untuk menguji kestabilan pijakan. "Satu goresan kecil dari daun silika itu, dan kau akan mati karena infeksi spora kristal sebelum darahmu berhenti mengalir. Mereka akan tumbuh di dalam pembuluh darahmu, mengubahmu menjadi patung kaca berikutnya. Aku sudah melihat banyak orang bodoh yang berakhir seperti itu."

Arka menelan ludah, menarik tangannya yang hampir menyentuh bunga kaca yang berkilauan di samping jalan setapak. Dia melihat ke sekeliling dengan mata baru. Di kejauhan, ada bentuk-bentuk yang menyerupai binatang—rusa, kelinci, bahkan burung yang hinggap di dahan. Tapi mereka tidak bergerak. Mereka telah menjadi bagian dari hutan ini selamanya, terperangkap dalam momen terakhir mereka.

"Mereka indah," bisik Arka, ngeri sekaligus takjub.

"Mereka adalah peringatan," sahut Rama tanpa menoleh. Jubah parasutnya tersangkut sedikit di ranting kaca, robek dengan suara sreeet. "Alam tidak suka diabaikan, Nak. Jika kau melukainya, dia akan memelukmu sampai kau tidak bisa bernapas lagi."

Kiro menutup barisan, sensor audionya berputar terus-menerus. Kaki barunya yang terbuat dari pipa besi beradu dengan akar-akar kaca yang licin, menciptakan bunyi klak-klak yang mengganggu keheningan hutan.

"Analisis lingkungan: Saturasi silika 98%," lapor Kiro. "Suhu permukaan: 45 derajat Celsius. Kelembaban: 0%. Tingkat radiasi: Rendah. Probabilitas badai kristal: 80% dalam 2 jam."

"Dua jam?" Rama berhenti mendadak. Dia mendongak ke langit. Awan debu di atas mereka tampak tenang, bergerak malas seperti sungai lumpur di langit. Tapi telinga Rama yang terlatih mendengar sesuatu yang lain. Sesuatu yang hilang.

"Salah," kata Rama tajam. "Kiro, sensor barometrikmu belum dikalibrasi untuk Silent Storm. Lihat daun-daun itu."

Arka mengikuti arah telunjuk Rama yang gemetar. Daun-daun kaca di puncak pohon tertinggi tidak bergerak karena angin. Mereka... bergetar. Getaran yang sangat cepat hingga terlihat kabur, seperti sayap capung.

"Frekuensi resonansi meningkat," kata Kiro, suaranya berubah menjadi nada peringatan yang lebih mendesak. "Deteksi anomali tekanan. Angin dari arah utara. Kecepatan 40 km/jam. Tapi... tidak ada suara. Gelombang suara diredam oleh ionisasi udara."

"Itu Silent Storm," desis Rama, wajahnya memucat di bawah lapisan debu. "Tekanan udara jatuh lebih dulu sebelum anginnya datang. Vakum parsial. Gendang telingamu akan pecah jika kau tidak menutup mulut. Kita punya waktu kurang dari sepuluh menit sebelum tempat ini berubah menjadi blender raksasa."

Jantung Arka berdegup kencang. Silent Storm. Mitos para Scavenger. Badai yang tidak terdengar sampai ia merobek paru-parumu keluar.

"Di mana tempat berlindung terdekat?" tanya Arka, suaranya naik satu oktaf. Dia memandang sekeliling dengan panik. Hutan ini terbuka. Tidak ada dinding. Tidak ada atap.

Rama memutar tubuhnya, matanya yang tajam memindai lanskap kristal itu. "Di sana. Bukit batu kapur itu. Ada gua di balik akar pohon induk. Itu satu-satunya tempat yang strukturnya cukup padat untuk menahan getaran."

"Berapa jauh?"

"Lima ratus meter. Lari! Jangan berhenti untuk apa pun!"

Mereka bergegas. Arka memacu kakinya, melompati akar-akar kaca yang mencuat seperti ranjau darat. Setiap pijakan licin dan berbahaya. Kiro berjuang mengimbanginya, motor servonya mendecit protes saat dipaksa bekerja maksimal. Rama, meskipun tua dan ringkih, bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan, didorong oleh ketakutan murni.

Namun, baru setengah jalan, Arka merasakannya.

Bukan di kulitnya, tapi di dadanya.

Kristal Sirkuit berdenyut sakit, seolah merespons tekanan udara yang anjlok drastis. Telinganya berdenging tinggi, ngiiiing yang menyakitkan. Penglihatannya mulai kabur di tepinya, diwarnai bintik-bintik hitam.

Bruk!

Arka tersandung akar kaca. Lututnya menghantam tanah. Celana sintetiknya robek. Darah segar merembes keluar, merah cerah di atas kaca bening.

"Arka!" teriak Kiro. Robot itu berbalik, mengulurkan tangan mekanisnya.

"Bangun!" bentak Rama dari depan. "Jangan manja! Badai itu tidak peduli kau terluka! Bangun atau mati di sini!"

Arka mengerang, memaksakan dirinya berdiri. Sakit di dadanya semakin menjadi-jadi. Rasanya seperti ada tangan dingin yang meremas jantungnya, mencoba meremukkannya.

"Sirkuitnya... bereaksi," rintih Arka, memegangi dadanya. "Terlalu... bising. Ada suara... di kepalaku."

"Itu resonansi piezoelektrik!" jelas Rama sambil berlari kembali dan menarik lengan Arka dengan kasar. "Kristal di hutan ini menghasilkan listrik saat ditekan oleh badai. Sirkuitmu menyerap semuanya! Kau seperti antena hidup! Blokir itu! Buat dinding mental!"

"Bagaimana caranya?! Aku tidak tahu caranya!"

"Bayangkan kau adalah batu! Bukan spons! Batu tidak menyerap air! Batu itu keras! Fokus pada rasa sakit di lututmu, bukan di dadamu!"

Arka memejamkan mata sambil berlari, dipapah oleh Kiro dan Rama. Dia mencoba memblokir kebisingan itu. Dia membayangkan dinding bata di sekeliling pikirannya. Dia membayangkan pintu besi tebal. Rasa sakit itu berkurang sedikit, menjadi denyutan tumpul yang bisa ditoleransi.

Mereka mencapai kaki bukit tepat saat angin pertama mulai mendesis.

Sreeet...

Suara itu seperti pisau digesekkan ke kaca. Daun-daun di sekitar mereka mulai pecah. Serpihan kaca beterbangan seperti peluru tak kasat mata, menggores pipi Arka.

"Masuk! Cepat!" teriak Rama.

Mereka mencapai mulut gua. Tapi harapan mereka hancur seketika.

Pintu masuknya terhalang.

Bukan oleh batu, tapi oleh Iron-Vine. Tanaman parasit logam itu tumbuh subur di sini, memakan mineral dari batu kapur. Batangnya setebal paha manusia, melilit erat menutupi lubang gua seperti jaring laba-laba raksasa. Duri-durinya yang sepanjang jari telunjuk berkilauan ungu, meneteskan getah korosif yang mendesis saat menyentuh tanah.

Rama mengeluarkan pisau belatinya, wajahnya pucat pasi. "Mundur. Aku akan memotongnya."

"Jangan!" teriak Arka. Dia bisa mendengar tanaman itu sekarang. Di tengah kebisingan badai yang mulai mengamuk, dia mendengar 'suara' tanaman itu. Bukan suara telinga, tapi getaran di tulang tengkoraknya. Rasa lapar. Rasa takut. Insting bertahan hidup. "Jika kau memotongnya, dia akan melepaskan spora beracun. Itu mekanisme pertahanannya. Kita akan mati lemas di sini!"

"Lalu apa rencanamu, Resonator?" Rama mendengus, tapi dia mundur selangkah. Angin mulai menderu sekarang—suara siulan tinggi yang menyakitkan. Dahan-dahan kaca di sekitar mereka mulai meledak satu per satu. PRANG! PRANG!

"Kita tidak bisa memaksanya," kata Arka. Dia mendekati tanaman itu, mengabaikan angin yang menampar wajahnya.

"Arka, tingkat bahaya fatal," peringatkan Kiro. "Saran: Ledakkan dengan Pulse."

"Tidak. Itu akan meruntuhkan gua ini menimpa kita. Kita butuh tempat ini utuh."

Arka melepaskan sarung tangannya. Tangan kanannya telanjang, gemetar di udara dingin.

"Kau gila," desis Rama. "Benar-benar gila."

Arka menempelkan telapak tangannya ke permukaan Iron-Vine yang dingin, berminyak, dan berdenyut pelan. Rasanya seperti menyentuh ular raksasa yang sedang tidur.

Dia menutup matanya. Dia tidak mencoba melawannya. Dia tidak mencoba membakarnya. Dia mencoba... menyapanya.

Tenang, pikir Arka, memfokuskan rasa takutnya menjadi permohonan. Kami bukan ancaman. Kami hanya ingin lewat. Kami takut, sama sepertimu. Badai itu akan membunuh kita semua.

Kristal di dadanya bersinar lembut. Cahaya biru merambat dari dadanya ke lengannya, lalu ke tanaman itu. Urat-urat di tangan Arka menyala biru, menyatu dengan urat-urat ungu tanaman itu.

Arka bisa merasakan 'denyut' tanaman itu. Lambat. Purba. Sederhana. Tanaman itu tidak jahat. Dia hanya bertahan hidup. Dia menutup diri karena badai. Dia melindungi 'sarangnya'.

Buka, bisik Arka dalam pikirannya. Kami akan melindungimu dari dalam. Buka. Izinkan kami masuk.

Ajaib.

Perlahan, lilitan tanaman itu melonggar. Duri-durinya menarik diri ke dalam batang dengan suara slurp basah yang menjijikkan. Seperti otot yang rileks, Iron-Vine itu bergeser, membuka celah sempit yang cukup untuk satu orang.

"Masuk!" teriak Arka, matanya masih terpejam, keringat dingin membasahi wajahnya. Tangannya masih menempel pada tanaman itu, menjaga koneksi.

Rama dan Kiro menyelinap masuk tanpa ragu. Arka menyusul terakhir, melompat ke dalam kegelapan tepat saat Silent Storm menghantam Hutan Kaca dengan kekuatan penuh.

KRAAAK! BLAAR!

Suara ribuan pohon kaca yang saling bertabrakan dan pecah memekakkan telinga. Tanah bergetar hebat. Tapi di dalam gua, mereka aman. Tanaman itu menutup kembali pintu masuk di belakang mereka, menyegel mereka dalam kegelapan yang lembap dan hangat.

Hanya cahaya biru dari dada Arka dan mata Kiro yang menerangi ruangan itu.

Arka merosot ke lantai, tersengal-sengal. Hidungnya berdarah lagi. Kepalanya terasa ringan, seolah otaknya mengapung di dalam tengkoraknya.

Rama menyalakan obor kimia kecil. Cahaya oranye menerangi wajah tuanya yang penuh kerutan. Dia menatap Arka dengan ekspresi baru. Bukan lagi meremehkan. Bukan lagi marah. Ada kewaspadaan di sana. Dan rasa hormat.

"Kau berkomunikasi dengan parasit itu," kata Rama pelan, suaranya bergema di dinding batu. "Itu bukan sekadar mengendalikan mesin. Itu Commune level biologis. Seharusnya butuh waktu bertahun-tahun meditasi untuk mencapai resonansi itu. Dan kau melakukannya dalam hitungan detik."

Arka menyeka darah di hidungnya. "Aku hanya... memintanya dengan sopan."

Rama menggelengkan kepala, lalu berbalik menyorotkan obornya ke dalam gua. "Sopan santunmu menyelamatkan nyawa kita hari ini, Nak. Tapi jangan biarkan itu membuatmu sombong. Kekuatan itu... adiktif."

Orang tua itu berjalan lebih dalam. "Dan selamat datang," katanya, suaranya menggema aneh di dinding gua yang luas. "Di Perpustakaan Alexandria Baru."

Arka menoleh. Matanya membelak.

Gua itu bukan gua alami biasa. Lantainya rata, terbuat dari keramik putih yang retak-retak namun masih menunjukkan pola geometris yang indah. Dinding-dindingnya dipenuhi rak-rak logam yang berkarat setinggi lima meter, membentang jauh ke dalam kegelapan yang tidak terjangkau cahaya obor.

Tapi isinya bukan buku kertas. Kertas sudah lama hancur menjadi debu dan dimakan jamur.

Ribuan Data-Crystal berjejer rapi di rak-rak itu. Balok-balok kaca persegi panjang yang berdebu tapi utuh. Beberapa masih berkedip lemah dengan sisa daya statis, seperti kunang-kunang yang sekarat, menyimpan pengetahuan yang telah lama dilupakan dunia.

Dan di tengah ruangan, sebuah terminal komputer kuno berbentuk setengah lingkaran masih berdiri kokoh. Layarnya gelap, tapi tombol-tombolnya masih utuh.

"Tempat ini..." gumam Arka, suaranya penuh kekaguman. Dia berjalan mendekat, menyentuh salah satu rak dengan jari gemetar. "Ini harta karun. Enklaf akan membunuh seribu orang untuk menemukan tempat ini. Sejarah... sains... sastra..."

"Ini kuburan," koreksi Rama tajam. Dia berjalan menuju terminal itu, langkahnya bergema sepi. "Kuburan dari semua pengetahuan yang gagal menyelamatkan kita. Matematika, puisi, sejarah... semuanya ada di sini. Dan tidak ada satu pun yang bisa menghentikan bom jatuh. Tidak ada satu pun yang bisa mencegah kita saling membunuh."

Kiro tiba-tiba mengeluarkan suara chirp gembira yang tidak biasa. Dia meluncur menuju terminal itu, mengabaikan kakinya yang rusak. Kabel konektor keluar dari pergelangan tangannya seperti ular kecil, mencari port yang sesuai.

"Deteksi Interface Kompatibel," kata Kiro. "Mencoba akses... Enkripsi Quantum level 5 terdeteksi. Sistem keamanan aktif. Tapi... ada kunci pintu belakang."

Layar terminal itu menyala terang, menampilkan logo yang sama dengan yang ada di dada Arka. Sebuah lingkaran dengan garis-garis fraktal. Logo Sirkuit Jiwa.

"Siapa yang punya kuncinya?" tanya Arka.

Rama meletakkan tangannya di atas konsol itu. Dia menekan urutan tombol yang rumit tanpa melihat. Jari-jarinya mengingat polanya, meskipun otaknya mungkin sudah lupa.

"Aku," bisiknya. Wajahnya diterangi cahaya layar hijau pucat, membuatnya terlihat seperti hantu dari masa lalu. "Akulah yang menguncinya lima puluh tahun yang lalu. Saat aku menyadari apa yang telah kami ciptakan."

Rama menoleh pada Arka. Matanya penuh dengan kesedihan yang tak terkatakan.

"Dan sekarang, Nak. Kita akan membuka kotak pandora ini. Dan kau akan melihat dosa-dosaku yang sebenarnya. Kau akan melihat kenapa aku bersembunyi di bukit itu selama setengah abad."

Arka mendekat. Rasa takut kembali merayap di punggungnya, lebih dingin daripada angin badai di luar. Tapi dia tahu dia tidak bisa berbalik. Dia sudah melangkah terlalu jauh ke dalam hutan kaca ini, dan satu-satunya jalan keluar adalah menembus kebenaran, betapapun menyakitkannya itu.

"Tunjukkan padaku," kata Arka.

Rama menekan tombol terakhir.

Akses Diterima.