Bayangan Enklaf
Hujan di pinggiran Zona Merah tidak pernah sopan. Ia tidak turun dengan lembut; ia jatuh seperti hukuman.
Arka dan Kiro merangkak keluar dari lubang ventilasi di sektor utara Outpost 7 tepat saat badai asam mulai mencapai puncaknya. Langit di atas mereka berwarna ungu kotor, memuntahkan air yang mendesis saat menyentuh beton, besi, dan kulit.
Arka segera menarik tudung poncho sintetiknya yang sudah pudar. Kain itu adalah satu-satunya penghalang antara kulitnya dan luka bakar kimia derajat dua.
"Saturasi asam: pH 3.5," lapor Kiro. Robot itu berjalan tertatih-tatih di samping Arka. Kaki kirinya yang hancur kini digantikan sementara oleh sepotong pipa besi berkarat yang diikat dengan kabel serat optik. Bunyi langkahnya tidak seimbang: Thud-klang. Thud-klang. "Saran: Cari perlindungan dalam 4 menit. Korosi pada sasis saya mulai mencapai level kritis."
"Kita hampir sampai," bisik Arka, matanya menyipit menembus tirai hujan yang berkabut. "Outpost 7 ada di depan. Di balik terowongan itu."
Outpost 7 bukanlah kota. Itu adalah luka yang bernanah.
Dibangun di dalam kerangka stasiun kereta api bawah tanah raksasa yang atapnya telah runtuh sebagian, permukiman itu adalah labirin tenda terpal, gubuk seng, dan kontainer pengiriman yang ditumpuk secara berbahaya. Bau di sini adalah campuran khas dari keputusasaan: keringat basi, plastik terbakar, dan sup jamur yang dimasak di atas api kompor spiritus.
Ini adalah tempat pembuangan akhir bagi mereka yang ditolak oleh Enklaf. Para Reject. Mereka yang lahir dengan mutasi genetik minor, mereka yang terlalu tua untuk bekerja di pabrik, atau mereka yang cukup bodoh untuk mempertanyakan dogma Dewan Ilmuwan.
Saat Arka dan Kiro berjalan menyusuri jalan setapak berlumpur yang dulunya adalah rel kereta, mereka melihat wajah-wajah yang mengintip dari balik tirai tenda. Wajah-wajah kurus, mata cekung, kulit yang dipenuhi bisul radiasi.
"Hei, Arka!" seru seorang pria tua dengan satu mata buatan dari kaca kelereng. Dia sedang duduk di depan gubuknya, mengasah pisau dari tulang. "Masih hidup, Nak? Kukira kau jadi sarapan Tornado Walker."
"Hampir, Pak Tua," balas Arka tanpa berhenti berjalan. "Hampir."
"Apa itu yang kau bawa? Robot rongsokan?" Pria itu meludah ke tanah. "Besi tua tidak laku mahal minggu ini. Enklaf sedang membanjiri pasar dengan scrap dari sektor selatan."
"Ini bukan untuk dijual," kata Arka tajam. Dia mempercepat langkahnya.
Dia bisa merasakan tatapan mata orang-orang. Tatapan lapar. Tatapan iri. Di sini, sebuah robot—meskipun rusak—adalah harta karun. Baterainya bisa menghidupkan pemanas selama sebulan. Prosesornya bisa dijual untuk beli antibiotik.
"Analisis sosial: Tingkat hostilitas lingkungan meningkat," bisik Kiro di kepala Arka. "Mereka melihat saya sebagai sumber daya."
"Aku tahu," desis Arka. "Itulah kenapa kita harus cepat."
Dia membelok ke gang sempit di antara dua gerbong kereta yang dijadikan rumah bertingkat. Di ujung gang, tertutup oleh tumpukan ban bekas, adalah tempat tinggalnya. Sebuah gerbong kargo lapis baja yang dia temukan tiga tahun lalu. Dindingnya dilapisi timah, cukup tebal untuk menahan badai radiasi dan pemindai jarak jauh.
Arka membuka kunci mekanis pintunya dengan cepat, mendorong Kiro masuk, dan mengunci kembali pintu besi berat itu di belakang mereka.
Suara hujan dan dunia luar seketika teredam. Hening.
"Rumah," gumam Arka, menyalakan lampu LED bertenaga baterai yang tergantung di langit-langit.
Ruangan itu sempit tapi rapi—kebiasaan seorang Scavenger yang tahu bahwa kekacauan bisa membunuh. Ada tempat tidur gantung, meja kerja yang penuh dengan peralatan elektronik, dan rak berisi kaleng makanan serta filter air bekas.
"Istirahatlah," kata Arka pada Kiro. "Aku akan mencari suku cadang yang lebih baik untuk kakimu."
"Negatif. Prioritas: Perbaikan sistem komunikasi dan pelindung sinyal," kata Kiro. Dia berjalan pincang ke meja kerja, menyambungkan dirinya ke terminal komputer rakitan Arka. "Sinyal energi Shard meningkat secara eksponensial. Lapisan timah gerbong ini hanya akan menahannya selama... kalkulasi... 12 menit."
Arka membeku. Dia meraba dadanya. Kristal itu berdenyut panas, seolah marah karena dikurung.
"Dua belas menit?" Arka memucat. "Kau bercanda."
"Saya tidak diprogram untuk humor, Operator. Sinyal ini seperti obor di dalam gua gelap. Satelit Enklaf pasti sudah mendeteksinya."
"Sial!" Arka menyambar ranselnya. Dia mulai memasukkan barang-barang dengan panik. Makanan kering. Chip memori. Peta digital. "Kita harus pergi. Sekarang. Ke Selatan. Menuju Lautan Karat. Badai pasir di sana mungkin bisa menyamarkan sinyalnya."
"Terlambat," kata Kiro tiba-tiba. Lampu matanya berubah merah. "Deteksi seismik: Getaran ritmis. Berat. Banyak."
Arka berhenti bergerak. Dia menempelkan telinganya ke dinding gerbong.
Dia bisa mendengarnya.
DUM... DUM... DUM...
Bukan gempa. Bukan badai.
Langkah kaki. Langkah kaki serempak dari ratusan sepatu bot berlapis baja.
Dan kemudian, suara yang lebih mengerikan.
WUUUUUUNG...
Suara mesin hovercraft militer.
"Mereka di sini," bisik Arka.
Di luar, suara pengeras suara memecah keheningan malam, diperkuat hingga memekakkan telinga.
"WARGA OUTPOST 7. INI ADALAH OTORITAS ENKLAF. AREA INI DI BAWAH KARANTINA LEVEL 4. TETAP DI DALAM RUMAH. SIAPA PUN YANG BERADA DI LUAR AKAN DIANGGAP SEBAGAI ANCAMAN DAN DIELIMINASI."
Arka mengintip melalui celah ventilasi kecil di dinding gerbong.
Pemandangan di luar membuat darahnya membeku.
Stasiun kereta bawah tanah itu telah berubah menjadi zona perang. Lampu sorot putih menyilaukan menyapu dari atas, berasal dari dua unit Gunship VTOL yang melayang rendah di bawah kerangka atap stasiun. Di tanah, pasukan Exo-Trooper bergerak maju seperti dinding baja putih.
Armor mereka bukan terbuat dari logam rongsokan seperti milik Scavenger. Itu adalah Polimer-Keramik putih bersih, tahan peluru dan plasma. Mereka membawa senapan serbu standar Enklaf dan perisai taktis.
Dan mereka tidak datang untuk bernegosiasi. Mereka datang untuk menyapu bersih.
Di garis depan, para Reject yang panik mencoba lari atau memohon.
"Tolong! Kami tidak melakukan apa-apa!" teriak pria tua bermata kelereng tadi.
Seorang prajurit Enklaf mendorongnya dengan popor senapan hingga jatuh ke lumpur. "Diam, warga. Mundur."
Arka melihat barisan tentara itu membelah kerumunan, menciptakan jalur menuju... ke arahnya.
Dan di ujung jalur itu, berjalan seorang wanita.
Dia tidak mengenakan helm. Dia tidak butuh. Auranya saja sudah cukup menjadi pelindung. Rambut hitamnya dipotong pendek, gaya militer yang praktis. Wajahnya tajam, dengan tulang pipi tinggi dan mata yang dingin seperti es. Dia mengenakan seragam perwira berwarna abu-abu arang dengan aksen perak, dan jubah pendek di bahu kirinya.
Nayla.
Letnan Komandan Divisi Reklamasi Enklaf.
Nama itu adalah mimpi buruk bagi setiap anak di Zona Merah. Nayla adalah orang yang memerintahkan pembakaran Sektor 4 tahun lalu karena mereka menolak menyerahkan generator fusi yang mereka temukan. Dia tidak kejam demi kekejaman. Dia kejam demi efisiensi.
Nayla memegang sebuah perangkat pelacak di tangannya. Alat itu berkedip cepat, dan dia menatap lurus ke arah gerbong tempat Arka bersembunyi.
"Arka," bisik Kiro. "Detak jantungmu 160 bpm. Kau hiperventilasi."
"Diam," desis Arka. Dia mundur dari celah ventilasi. "Apa opsi kita?"
"Opsi A: Menyerah. Probabilitas bertahan hidup: 15% (sebagai subjek eksperimen)." "Opsi B: Melawan. Probabilitas bertahan hidup: 0%." "Opsi C: Lari. Probabilitas bertahan hidup: 2%."
"Aku suka angka 2 persen itu," kata Arka, mengenakan ranselnya. "Lewat mana?"
"Pintu belakang diblokir oleh dua unit infanteri. Tapi... lantai di bawah kita adalah struktur berongga. Bekas saluran pembuangan utama."
Arka melihat ke lantai gerbongnya. Pelat baja tebal.
"Aku butuh peledak," kata Arka.
"Anda punya tiga Thermal-Charge mini di sabuk Anda."
"Itu untuk membuka brankas, bukan meledakkan lantai!"
"Fisika tidak peduli dengan peruntukan alat, Operator. Ledakkan."
Arka mengambil satu peledak tempel berbentuk cakram. Dia menempelkannya di tengah lantai gerbong.
"Tunggu," kata Arka. Dia melihat ke luar lagi.
Nayla sudah berdiri sepuluh meter dari gerbong. Dia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat berhenti pada pasukannya.
"Arka," panggil Nayla. Suaranya tidak keras, tapi diperkuat oleh voice-amplifier di kerahnya sehingga terdengar jelas di seluruh stasiun. Nada suaranya tenang, hampir bosan. "Aku tahu kau di dalam. Sensor termalku bisa melihatmu berkeringat."
Arka tidak menjawab. Dia mundur ke sudut gerbong, menjauh dari peledak.
"Jangan buat ini sulit," lanjut Nayla. "Aku sudah membaca failmu. Arka, 24 tahun. Yatim piatu. IQ di atas rata-rata, tapi bakatmu terbuang untuk mengais sampah. Sayang sekali."
Nayla melangkah maju satu langkah. "Keluar sekarang, dan aku jamin keselamatanmu. Enklaf bisa memberimu hidup yang kau impikan. Makanan. Air. Tujuan."
Arka menahan napas. Tawaran itu... menggoda. Untuk sesaat, rasa lapar di perutnya berteriak setuju. Menyerah berarti makan. Menyerah berarti tidur di kasur empuk.
"Analisis pola suara," potong Kiro di kepalanya. "Subjek berbohong. Indikator stres pada suara mikro: Dia menganggapmu ancaman, bukan aset. Dia akan membedahmu untuk mengambil Shard."
Arka tersenyum pahit. Tentu saja.
"Kau dengar itu, Nyonya?" teriak Arka dari dalam gerbong. "Robotku bilang kau pembohong yang buruk!"
Wajah Nayla tidak berubah, tapi matanya menyipit sedikit. "Sayang sekali. Pasukan, buka kaleng sarden ini. Potong kakinya jika perlu, tapi jaga dadanya tetap utuh."
Para prajurit bergerak maju, pemotong plasma di tangan mereka menyala biru.
"SEKARANG!" teriak Arka.
Dia menekan pemicu peledak.
BLAM!
Lantai gerbong meledak ke dalam. Asap dan api memenuhi ruangan kecil itu. Arka dan Kiro jatuh ke dalam lubang yang menganga, meluncur turun ke dalam kegelapan di bawah stasiun.
"KEJAR!" teriak Nayla di atas, suaranya kini penuh amarah. "JANGAN BIARKAN DIA LOLOS! RATAKAN TEMPAT INI JIKA PERLU!"
Arka mendarat di tumpukan sampah basah tiga meter di bawah. Kakinya sakit, tapi exo-frame-nya menyerap sebagian besar dampak. Kiro mendarat di sampingnya dengan bunyi gedebuk berat.
"Jalan! Jalan!" Arka menarik Kiro berdiri.
Mereka berlari menyusuri saluran pembuangan kuno yang bau. Di atas mereka, suara ledakan dan tembakan mulai terdengar. Nayla tidak main-main. Dia mulai meledakkan lantai stasiun untuk mengejar mereka.
Langit-langit beton di atas mereka mulai retak. Debu dan bongkahan batu berjatuhan.
"Struktur tidak stabil!" peringatkan Kiro. "Mereka menggunakan peledak kelas militer. Seluruh sektor ini akan runtuh dalam 30 detik."
"Ada jalan keluar lain?"
"Ada persimpangan 50 meter di depan. Kiri menuju instalasi pengolahan air. Kanan menuju... tidak diketahui. Data peta korup."
"Kiri!" putus Arka.
Mereka berlari sekuat tenaga. Di belakang mereka, terowongan mulai runtuh. Gelombang debu dan puing mengejar mereka seperti monster lapar.
Mereka mencapai persimpangan. Arka berbelok kiri—
DARRRR!
Sebuah roket menembus langit-langit tepat di depan lorong kiri. Lorong itu runtuh seketika, tertutup ribuan ton beton.
Arka terlempar ke belakang oleh gelombang kejut. Telinganya berdenging. Dia terbatuk, debu memenuhi paru-parunya.
"Jalan kiri tertutup!" teriak Kiro, menarik kerah baju Arka. "Kita harus ke kanan! Ke wilayah tak terpetakan!"
"Itu menuju kedalaman!" tolak Arka. "Tidak ada yang pernah kembali dari Deep Tunnels!"
"Pilihan: Mati tertimbun di sini atau mati nanti di sana. Pilih, Operator!"
Arka melihat ke lorong kanan. Gelap. Pekat. Angin dingin berhembus dari sana, membawa bau busuk yang asing. Bau sesuatu yang... tua.
Di atas mereka, atap utama mulai retak.
"Sial!" Arka bangkit. "Ayo!"
Mereka berlari masuk ke lorong kanan tepat saat atap persimpangan runtuh total, mengubur jalan di belakang mereka dan memisahkan mereka dari pasukan Nayla—dan dari satu-satunya rumah yang pernah Arka kenal.
Arka berlari terus, masuk semakin dalam ke perut bumi, air mata bercampur debu di wajahnya. Dia tidak hanya kehilangan rumahnya. Dia baru saja menyatakan perang pada kekuatan terbesar di dunia.
Dan satu-satunya senjatanya adalah robot rusak dan kristal yang berdenyut di dadanya.