Bayangan Gradasi Tamparan di Balik Nama Besar
1/31
Bab 1

Tamparan di Balik Nama Besar

Bab 1 Tamparan di Balik Nama Besar

Dentuman musik dari speaker kafe elit malam itu mengguncang dada siapa pun yang ada di dalam ruangan. Lampu-lampu neon berwarna merah darah menyorot wajah-wajah muda yang sedang berpesta, tertawa, menari dan melupakan dunia luar.

Di tengah hiruk pikuk itu, satu sosok menonjol bernama Al-Faidzin. Dengan kemeja hitam dibuka tiga kancing atas, sebatang rokok terselip di sela bibir dan tatapan mata penuh kesombongan, ia duduk di sofa VIP paling depan. Semua orang tahu siapa dirinya: anak dari pasangan pejabat kelas atas yang kaya raya. Namun, lebih dikenal sebagai gangster jalanan yang ditakuti di sekolah maupun di luar.

Tangan kirinya melingkari bahu seorang gadis centil yang tertawa dibuat-buat. “Kau tahu kan, semua orang tunduk kalau aku sudah bicara,” ucap Al dengan senyum sinis, membuat tawa gadis itu semakin keras.

Satu hal yang selalu dipertahankan Al, yakni ia suka merasa berada di puncak, suka dipandang sebagai penguasa kecil. Tidak ada yang berani menentangnya.

Sampai hari itu.

“Permisi.”

Suara dingin dan tegas terdengar dari belakang. Gadis itu menoleh lebih dulu, sebelum tubuh Al dipaksa menghadapkan wajah pada seseorang yang berdiri di depannya.

Hanum Nadzneen.

Gadis itu berdiri tegak dengan balutan blus putih sederhana, celana jeans biru gelap dan wajah tanpa riasan berlebihan. Wajahnya tidak kalah cantik dari gadis-gadis lain di kafe itu. Namun, aura yang dipancarkan jauh berbeda, ia tampak tenang dan dingin, seperti es yang menusuk.

Dan tanpa aba-aba, plak!

Tamparan keras mendarat di pipi kiri Al. Suara tamparan itu jelas terdengar bahkan menembus dentuman musik kafe. Orang-orang yang tadinya sibuk berpesta menoleh ke arah mereka, kaget dan beberapa bahkan menutup mulut menahan teriakan.

Al terdiam sejenak. Asap rokok keluar dari bibirnya, matanya menyipit, rahang menegang. Tidak ada yang pernah berani menampar wajahnya di depan umum, apalagi seorang gadis.

“Kurang ajar kau,” gumam Al lirih, suaranya rendah namun penuh ancaman.

Hanum tidak mundur. Ia menatap Al dengan mata penuh api, suara bergetar namun jelas, “Jangan pernah sentuh keluargaku dengan mulut kotormu lagi.”

Beberapa orang berbisik, mencoba mengerti apa yang terjadi. Al sendiri masih terdiam, sebelum tawanya meledak keras.

“Hahaha! Jadi ini Hanum Nadzneen yang katanya putri kesayangan Pak Firdaus itu? Pantesan sok suci.” Al berdiri, tingginya menjulang di depan Hanum, “tapi beraninya kau menamparku di depan orang-orang? Kau pikir kau siapa?”

Hanum menahan napas, berusaha menjaga dirinya agar tidak terlihat gentar. “Aku orang yang tidak akan pernah takut pada bocah gangster yang hanya berlindung di balik nama besar orang tuanya.”

Kata-kata itu menusuk tepat di dada Al. Semua orang tahu, Al membenci saat seseorang menyinggung soal orang tuanya. Bukan karena ia menghormati mereka justru sebaliknya. Ia membenci mereka. Namun, di saat bersamaan ia hidup dari nama besar mereka.

“Berani sekali kau bicara begitu.” Al mendekat, jarak wajah mereka tinggal beberapa centimeter. “Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi.”

“Tidak perlu tahu. Aku tahu siapa diriku dan aku tahu kau hanya sampah yang kebetulan lahir di keluarga kaya.”

Wajah Al berubah kelam. Orang-orang di sekitar menahan napas. Semua menunggu apakah Al akan melayangkan pukulan pada gadis itu.

Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Al tersenyum miring. “Kau menarik.”

Hanum terperanjat sejenak. Ia tidak menyangka, setelah tamparan dan hinaan, reaksi Al justru berupa kalimat yang membuat darahnya mendidih.

“Dasar sakit jiwa!” seru Hanum, hendak berbalik pergi.

Namun, tangan Al lebih cepat. Ia menarik pergelangan tangan Hanum dengan kasar, membuat gadis itu terhenti dan menoleh dengan tatapan marah. “Lepaskan aku!”

Sorot mata Al kini berbeda, gelap, penuh dendam, tapi juga ada sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Tidak ada yang pernah berani menamparku. Kau yang pertama dan aku tidak akan melupakan wajahmu, Hanum Nadzneen.”

Hanum berusaha melepaskan diri, tapi genggaman Al terlalu kuat. “Kalau kau tidak lepaskan aku sekarang, aku bersumpah.”

“Bersumpah apa? Akan lapor pada ayahmu, si pejabat suci itu?” suara Al meninggi. “Berhentilah berpura-pura hidupmu sempurna. Kau sama kotor dengan kita semua di sini.”

Hanum menatapnya tajam, nafasnya tersengal karena marah. “Ayahku tidak seperti keluargamu. Ayahku bersih.”

Kata itu membuat wajah Al semakin mengeras. Ia ingin berteriak, ingin menunjukkan sisi kelam keluarganya pada gadis itu, tapi lidahnya kelu.

Salah seorang pengawal kafe berlari masuk dengan wajah panik. “Tuan muda! Ada masalah besar. Polisi datang. Mereka mencari Pak Firdaus, ayah gadis ini!”

Semua mata tertuju pada Hanum.

Wajah gadis itu langsung pucat, tubuhnya kaku. “Apa?” suaranya nyaris tidak terdengar.

Sementara Al masih memegang tangannya erat, menatapnya dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah. Ada sesuatu yang aneh antara keterkejutan, kebingungan dan simpati.

Dentuman musik berhenti. Hening mendominasi dan dalam keheningan itu, satu pertanyaan besar menggantung di udara.

Benarkah ayah Hanum terlibat kasus kriminal? Atau ini hanyalah awal dari jebakan yang jauh lebih besar?

Suasana kafe yang semula hingar-bingar kini mendadak beku. Dentuman musik mati total, seperti sengaja memberi ruang pada detik-detik yang penuh ketegangan. Orang-orang berhenti menari, berhenti tertawa dan hanya menatap ke arah satu titik, sosok Al-Faidzin dan Hanum Nadzneen yang berdiri saling berhadapan.

Tamparan tadi masih terasa panas di pipi Al. Namun, anehnya, bukan rasa sakit yang menguasai pikirannya, melainkan rasa lain yang jauh lebih berbahaya. Sebuah dorongan aneh yang membuat dadanya sesak. Gadis ini berani sekali.

“Polisi, mencari ayahku?” suara Hanum pecah, lirih, hampir tidak terdengar, tapi telinganya menangkap jelas ucapan si pengawal tadi.

Genggaman Al di pergelangan tangan Hanum mengeras, seolah ia tidak ingin gadis itu jatuh atau kabur. Sorot mata gadis itu mendadak kosong, seperti seluruh dunia runtuh menimpanya hanya dalam sekejap.

“A, apa maksudmu?!” Hanum menoleh cepat ke arah pengawal yang kini sudah berdiri gelisah.

“Benar, Nona. Polisi datang. Mereka menyebut nama Pak Firdaus. Ada tuduhan keterlibatan korupsi proyek.” suara pengawal mengecil, menimbang ratusan pasang mata yang menatap. “Mereka minta beliau segera ikut ke kantor.”

Hanum merasakan jantungnya berhenti berdetak sepersekian detik. Kata korupsi terdengar bagai cambuk di kepalanya. Ayahnya? Tidak mungkin! Ayahnya orang paling bersih, paling lurus yang ia kenal. Seluruh hidupnya dididik dengan ketegasan nilai kejujuran.

“Kau bohong,” bisiknya pelan, matanya mulai berair.

Al menatap wajah itu dengan diam. Ada konflik yang berkecamuk dalam dirinya. Selama ini ia terbiasa melihat orang hancur, melihat musuhnya tersungkur, bahkan menikmati tangisan lawannya, tapi kali ini mengapa ada sesak yang menghantam dadanya ketika melihat Hanum hampir jatuh?

Brengsek. Kenapa aku peduli?

Ia menggertakkan gigi, lalu menarik Hanum mendekat. “Dengar baik-baik,” bisiknya rendah di telinga gadis itu. “Kalau ini benar jebakan, kau tidak boleh terlihat lemah di depan mereka.”

Hanum menoleh, matanya berkaca-kaca, napasnya tersengal. “Kau pikir aku peduli dengan omonganmu? Lepaskan aku!”

Ia berusaha menarik tangannya, tapi Al tidak melepaskannya. Tatapan Al tajam, penuh bara yang entah kenapa membuat Hanum terdiam sejenak.

“Ayahmu, bukan orang sembarangan. Kalau mereka berani menjatuhkan namanya, pasti ada orang besar yang bermain di belakang layar. Kau kira aku tidak tahu permainan busuk macam itu?” suara Al rendah, dingin. Namun, tegas.

Hanum membeku. Ada kebenaran dalam ucapan Al, tapi egonya terlalu keras untuk mengakuinya. Apalagi yang berbicara adalah pemuda yang baru saja ia tampar di depan umum.

“Kenapa aku harus percaya gangster murahan seperti kau?”

Kata-kata itu menusuk, tapi Al hanya menyeringai. “Karena hanya gangster murahan seperti aku yang tahu seberapa kotor permainan para pejabat.”

Keheningan mencekam menyelimuti mereka. Penonton pesta mulai berbisik, sebagian mengeluarkan ponsel, merekam diam-diam. Nama besar keluarga Firdaus adalah nama besar yang tidak asing bagi mereka. Skandal semacam ini bisa menjadi berita panas.

Hanum menggigit bibirnya, tubuhnya gemetar. Ia ingin kabur, ingin berlari pulang, memastikan ayahnya baik-baik saja, tapi tubuhnya seolah terkunci, terperangkap oleh genggaman Al yang entah kenapa terasa begitu berat.

“Aku harus pulang,” bisik Hanum.

“Kau tidak bisa pulang sendiri.”

“Aku tidak butuh kau.”

Al mendekatkan wajahnya. “Kau bahkan tidak bisa berdiri tegak sekarang.”

Hanum sadar tubuhnya memang gemetar hebat. Namun, gengsi menahannya untuk mengakui. Ia melepaskan tangan Al dengan kasar, melangkah keluar dari kerumunan tatapan. Orang-orang segera memberi jalan, berbisik-bisik penuh rasa ingin tahu.

Al memandangi punggung Hanum yang menjauh. Ada tarikan aneh di dadanya, semacam insting yang memaksanya untuk tidak membiarkan gadis itu sendirian.

Sialan. Aku tidak boleh ikut campur. Aku punya masalahku sendiri. Hati dan pikiran Al berkecamuk hebat.

Namun, langkah kakinya justru mengikuti Hanum.


Di luar kafe, udara malam menusuk tulang. Hanum berdiri di trotoar, kedua tangannya menggenggam ponsel erat-erat. Ia berusaha menelepon ayahnya. Namun, tidak diangkat. Berkali-kali mencoba, tetap nihil.

Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya. Ia menutup mulut dengan tangan, berusaha menahan suara tangis agar tidak terdengar.

“Jangan menangis di jalanan seperti orang kalah.”

Suara itu membuat Hanum menoleh cepat. Al berdiri beberapa langkah darinya, menyulut rokok baru, asapnya mengepul ke langit gelap.

“Aku tidak minta kau mengikutiku,” suara Hanum bergetar karena marah.

“Aku tidak pernah minta ditampar, tapi kenyataannya sudah terjadi.” Al menghembuskan asap panjang. “Kau pikir kau bisa pulang sendirian dengan kondisi seperti ini? Dunia luar tidak seaman yang kau kira, Nadzneen.”

Hanum menggertakkan gigi. “Berhenti bersikap seolah-olah kau pahlawan.”

Al terkekeh, pahit. “Aku? Pahlawan? Tidak, aku jauh dari kata itu. Aku hanya orang yang kebetulan tahu kalau dunia ini busuk. Sama busuknya dengan keluargaku.”

Kata terakhir itu membuat Hanum sedikit terkejut. Ia menatap Al lekat-lekat, mencari kebenaran di balik ucapannya. Ada bayangan kelam di mata pemuda itu, sesuatu yang tidak bisa dipalsukan.

Sebelum ia sempat merespons, suara klakson keras menghentikan percakapan. Sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depan mereka. Tiga pria berbadan besar keluar, wajah mereka dingin, berpakaian rapi seperti aparat bayangan.

“Hanum Nadzneen?” salah satunya membuka suara. “Ikut kami. Ada beberapa pertanyaan mengenai ayahmu.”

Hanum mundur satu langkah, tubuhnya kaku. “A, aku tidak bisa. Ayahku tidak bersalah!”

Pria itu maju, hendak menarik lengannya. Namun, sebelum sempat, sebuah tangan lain sudah mencegah dengan kasar.

Al-Faidzin berdiri di depan Hanum, menepis tangan pria itu. Rokoknya jatuh ke aspal, matanya berkilat tajam.

“Kalau mau bawa dia, lewat mayatku dulu.”

Suara rendah Al terdengar begitu dingin, membuat ketiga pria itu saling melirik. Ketegangan mengental di udara.

Hanum membeku di belakangnya, matanya membesar. Ia tidak tahu harus merasa apa. Takut, marah, atau justru lega.

Salah satu pria mengeluarkan surat resmi dari jasnya, menyodorkannya ke arah Al.

“Kami datang dengan perintah. Kalau kau menghalangi.”

Pria itu menyeringai dingin.

“Kau akan jadi musuh hukum.”

Di balik itu semua, Al menyadari satu hal, musuh yang menjebak ayah Hanum adalah musuh yang sama dengan keluarganya sendiri.

Ichan Kaori

Penulis

Lihat Profil

Daftar Bab

Tamparan di Balik Nama Besar

Bab 1

Bab 2

Bab 2

Malam yang Berdarah

Bab 3

bab 4

Bab 4

Peluru yang Menghantam Malam

Bab 5

Jejak Darah dan Rahasia

Bab 6

Bayangan Yang Mengkhianati

Bab 7

Bayangan Gradasi - Jejak Yang Dititipkan - Bab 8

Bab 8

Bayangan Gradasi - Bayangan Cahaya Dalam Klub

Bab 9

Bayangan Gradasi - Luka Yang Mengikat - Bab 10

Bab 10

Bayangan Gradasi - Bayangan Di Balik Janji - Bab 11

Bab 11

Bayangan Gradasi - Di Balik Luka dan Rahasia

Bab 12

Bayangan Gradasi - Kedekatan Yang Tertutup Bayangan - Bab 13

Bab 13

Bayangan Gradasi - Tawa Tak Berjarak - Bab 14

Bab 14

Bayangan Gradasi - Intimidasi Yang Menggerakkan - Bab 15

Bab 15

Bayangan Gradasi - Bayangan Hitam Yang Terus Mengancam - Bab 16

Bab 16

Bayangan Gradasi - Ayah Yang Melindungi Anaknya - Bab 17

Bab 17

Bayangan Gradasi - Darah Merah Di Dermaga - Bab 18

Bab 18

Bayangan Gradasi - Kapan Hanum Aman? - Bab 19

Bab 19

Bayangan Gradasi - Pernyataan Yang Mengguncang - Bab 20

Bab 20

Bayangan Gradasi - Kecupan Terlarang Di Atas Kota - Bab 21

Bab 21

Bayangan Gradasi - Api Yang Membakar - Bab 22

Bab 22

Bayangan Gradasi - Darah Yang Terselubung - Bab 23

Bab 23

Bayangan Gradasi - Pewaris Palsu - Bab 24

Bab 24

Bayangan Gradasi - Gadis Milik Al - Bab 25

Bab 25

Bayangan Gradasi - Gemerlap Pesta Politik - Bab 26

Bab 26

Bayangan Gradasi - Wanita Lain Untuk Al - Bab 27

Bab 27

Bayangan Gradasi - Di Balik Senyuman Al - Bab 28

Bab 28

Bayangan Gradasi - Pesan Rahasia - Bab 29

Bab 29

Bayangan Gradasi - Menjadi Politisi Muda - Bab 30

Bab 30

Bayangan Gradasi - Kegelisahan Hanum - Bab 31

Bab 31

Rating

Bab Ini

Memuat...

Album

Memuat...