Bab 2
Hening yang begitu tebal menyelimuti jalanan malam itu. Angin yang menusuk seolah ikut menahan napas bersama Hanum. Surat yang disodorkan pria berbadan kekar itu bergetar di bawah sorot lampu jalan, sementara Al berdiri tegak di depannya.
Al menatap surat itu sekilas, lalu menatap tajam wajah dingin si pria.
“Perintah?” gumamnya sinis. “Perintah dari siapa? Polisi? Atau mafia yang menyamar?”
Pria itu tidak bergeming, hanya mengulurkan surat lebih jauh. “Tuan muda, jangan ikut campur. Ini urusan hukum. Kalau kau cerdas, mundurlah sekarang juga.”
Al menyeringai miring, sebuah tawa pendek lolos dari tenggorokannya. “Masalahnya, aku tidak pernah cerdas kalau menyangkut orang yang mencoba mempermalukanku dan kau,” ia menunjuk dada pria itu dengan jari telunjuk, “baru saja mencoba menarik gadis yang menamparku. Jadi urusannya otomatis jadi urusanku.”
Hanum di belakangnya terkejut, menatap punggung Al dengan bingung. Hatinya ingin berteriak bahwa ia tidak butuh perlindungan Al, tapi lidahnya kelu. Ada bagian dari dirinya yang merasa lega melihat Al berdiri di depannya.
Pria itu menurunkan suratnya, tatapannya berubah dingin. “Kalau begitu, jangan salahkan kami.”
Dua pria lainnya maju serentak, mencoba mendorong Al ke samping. Namun, pemuda itu bergerak lebih cepat. Dalam sekejap, ia menepis tangan pertama, memelintir pergelangan pria itu hingga terdengar bunyi krek yang halus. Jeritan tertahan terdengar, sebelum Al melayangkan lutut ke perutnya.
Pria kedua melancarkan pukulan, tapi Al menunduk gesit, balas menghantam dagu lawan dengan sikunya. Tubuh besar itu terhuyung, jatuh menabrak pintu mobil.
Hanum menutup mulut, matanya membelalak ngeri. Ia baru menyadari betapa brutalnya Al saat bertarung. Gerakan pemuda itu cepat, dingin, dan nyaris tanpa ragu.
Pria yang memegang surat sempat melangkah mundur, lalu melotot marah. “Kau cari mati, anak pejabat busuk!”
Kata itu menghantam dada Al. Matanya berkilat lebih ganas, seakan kata ‘anak pejabat’ adalah pemicu terlarang. Dalam sekali langkah panjang, ia menempel di depan pria itu, menendang keras lututnya hingga si pria terjatuh.
“Aku tidak pernah bangga jadi anak mereka!” desis Al dengan suara rendah, tapi menusuk. Ia mencengkeram kerah pria itu, wajahnya nyaris menempel. “Sekarang, katakan siapa yang menyuruhmu?”
Pria itu meringis, tetap menutup mulut. Hanya tawa sinis yang lolos dari bibirnya. “Kau pikir aku bodoh? Kalau aku buka mulut, hidupku tamat.”
Al mengangkat tinjunya, siap menghantam. Namun, Hanum menjerit, “Berhenti, Al! Kau sudah membuat cukup keributan!”
Al menoleh cepat, menatap Hanum dengan napas terengah. Ada sesuatu di sorot mata gadis itu, ketakutan bercampur keputusasaan dan entah kenapa, itu cukup untuk membuat tangannya terhenti di udara.
Ia mendorong pria itu kasar ke tanah, lalu mundur setengah langkah. “Pergi. Sampaikan pada bosmu, aku tahu ini permainan kotor.”
Ketiga pria itu bangkit dengan tubuh babak belur. Mereka masuk ke mobil, meninggalkan tatapan tajam yang menjanjikan balas dendam. Dalam sekejap, mobil hitam itu melaju dan hilang di tikungan.
Hening kembali menyelimuti. Hanum memeluk tubuhnya sendiri, matanya masih berkaca-kaca. “Apa yang baru saja terjadi, apa maksudnya? Ayahku, benar-benar dituduh?”
Al membuang napas kasar, menyulut rokok baru dengan tangan sedikit gemetar. “Kalau mereka berani datang langsung seperti itu, artinya kabar ini bukan sekadar gosip. Mereka mau menjatuhkan keluargamu.”
“Tidak mungkin!” Hanum menggeleng keras, suaranya pecah. “Ayahku bersih! Dia tidak pernah melakukan hal seperti itu. Aku tahu siapa dia.”
Al menatapnya lama, lalu menghembuskan asap ke langit malam. “Kau tidak paham dunia ini, Hanum Nadzneen. Kata bersih tidak berarti apa-apa kalau ada orang besar yang ingin menodaimu. Mereka bisa membuat orang suci pun terlihat seperti iblis.”
Hanum menatapnya dengan marah. “Jangan bicara seakan-akan kau tahu segalanya. Kau hanya gangster murahan!”
Kata itu menusuk lagi, tapi kali ini Al hanya tersenyum pahit. “Ya, aku hanya gangster murahan dan karena itu aku tahu lebih banyak tentang kotoran dunia ini daripada anak pejabat polos sepertimu.”
Hanum terdiam. Kata-katanya seperti batu, keras. Namun, ada kebenaran pahit di dalamnya.
Al melangkah mendekat, suaranya lebih rendah. “Kalau kau ingin ayahmu selamat, jangan melawan sendirian. Mereka tidak akan segan menghancurkanmu juga.”
Hanum menggigit bibir, dadanya naik-turun cepat. Ada rasa ingin berteriak, tapi juga rasa ingin runtuh di pelukan siapa pun yang mau menahannya. Namun, ia memilih jalan tengah, menatap Al dengan dingin. “Aku tidak butuh bantumu.”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, dering ponselnya bergetar. Nama yang tertera di layar membuat wajahnya langsung pucat.
“Ayah.”
Tangannya gemetar saat ia menjawab. “Halo, Ayah?! Ayah di mana? Aku dengar.” Namun, suara di seberang bukan milik Firdaus. Suara berat, asing, dingin menusuk telinga.
“Nona Hanum, ayahmu sedang bersama kami.”
Hanum membeku. Napasnya tercekat. “Apa, apa maksudmu?”
Suara itu tertawa pelan, mengerikan. “Kalau kau ingin dia tetap hidup, datang sendiri ke alamat yang akan kukirimkan. Jangan bawa siapa pun. Jangan lapor polisi.”
Panggilan terputus. Hanum menatap layar dengan wajah pucat pasi.
Al langsung merebut ponselnya kasar, membaca pesan masuk yang muncul beberapa detik kemudian. Alamat sebuah gudang tua di pinggiran kota.
Matanya menyipit, rahangnya mengeras. “Brengsek. Mereka tidak main-main.”
Hanum merebut ponselnya kembali, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. “Aku harus pergi ke sana!”
Al menahan lengannya. “Kau gila? Itu jelas jebakan.”
“Aku tidak peduli! Itu ayahku!” Hanum berusaha melepaskan diri, tapi Al menggenggam lebih kuat.
“Kalau kau pergi sendirian, kau bukan hanya kehilangan ayahmu. Kau juga tidak akan kembali hidup-hidup.”
Hanum terisak, tubuhnya gemetar hebat. “Lalu aku harus apa, Al?"
Al menatapnya lama. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bimbang. Ia tidak pernah peduli pada orang lain. Dunia bisa hancur asal ia tetap berdiri, tapi malam ini, melihat Hanum menangis, ia merasakan sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Ia mendekat, suaranya lirih tapi tegas. “Kalau kau benar-benar mau pergi, aku ikut. Aku tidak peduli siapa musuhmu. Siapa pun yang menyentuhmu, akan berurusan denganku.”
Hanum terdiam, menatap mata Al yang berkilat dalam gelap. Ada kesungguhan yang membuat kata-katanya tidak terdengar seperti kesombongan biasa, melainkan janji.
Akan tetapi, sebelum ia sempat merespons, suara raungan mesin terdengar dari ujung jalan. Deretan motor besar melaju cepat ke arah mereka, lampu sorot menyilaukan.
Al refleks menarik Hanum ke pelukannya, melindunginya di balik tubuhnya. Puluhan pria dengan jaket hitam berhenti mengelilingi mereka.
Salah satu pria turun dari motor, melepas helm, memperlihatkan wajah penuh bekas luka. Ia menyeringai, giginya kuning.
“Al-Faidzin,” suaranya berat, penuh ejekan. “Bos kami sudah menunggumu dan gadis manis itu akan jadi tamu kehormatan malam ini.”
Hanum menegang, tubuhnya membeku dalam pelukan Al.
Al menatap musuh di sekitarnya, matanya berkilat penuh amarah. Dengan perlahan, ia melepaskan genggaman Hanum, menyalakan rokok baru dengan tangan tenang.
“Akhirnya, kalian memutuskan keluar dari lubang.”
Ia menghembuskan asap, lalu menoleh sekilas pada Hanum.
“Pegang erat. Malam ini akan berdarah.”
Puluhan pria itu menyalakan rantai besi, tongkat dan senjata tumpul lainnya. Suara logam bergema, menambah tebal aroma bahaya di udara.
Hanum menelan ludah, jantungnya berdegup kencang.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa terjebak di dunia kelam Al-Faidzin.
Di detik itu pula, satu pikiran gila melintas di kepalanya.
Apakah ayahnya benar-benar korban atau bagian dari permainan kotor ini?
Hanum dan Al dikepung puluhan orang bersenjata, sementara misteri ayah Hanum semakin gelap. Ia korban atau dalang?