Bab 5
Peluru yang Menghantam Malam
Suara tembakan masih bergema di dalam gudang, memantul ke dinding-dinding besi tua, seakan menertawakan tragedi yang baru saja terjadi. Hanum membeku. Napasnya tercekat, jari-jarinya gemetar hingga pistol perak yang ia genggam terlepas, jatuh ke lantai dengan dentuman nyaring.
“Al!” jerit Hanum, saat tubuh tinggi kurus itu terhuyung.
Darah mengalir dari sisi dadanya, merembes cepat melalui kaos hitamnya. Al sempat mencoba berdiri tegap. Namun, tubuhnya akhirnya jatuh berlutut. Rantai yang melilit tangannya berderak ketika ia terhempas ke lantai.
“Tidak!” Hanum berlari, meraih wajah Al yang sudah pucat. “Bertahanlah, kumohon! Jangan tutup matamu!”
Pria berjas abu hanya tersenyum samar melihat pemandangan itu. Namun, sebelum ia bisa menambahkan kata-kata, suara deru mesin mobil kembali terdengar di luar. Pintu gudang terbanting terbuka lebih lebar.
Beberapa pria berpakaian hitam masuk cepat, bersenjata lengkap. Namun, berbeda dari anak buah pria berjas, mereka mendekati Hanum dan Al.
“Boss!” salah satu dari mereka berteriak. “Kami datang terlambat!”
Pria berjas itu mengerutkan alisnya, wajahnya berubah muram. “Sial!” gumamnya lirih. Tanpa menunggu lebih lama, ia melompat ke arah sisi gelap gudang. Dalam sekejap, tubuhnya lenyap di balik tumpukan kayu dan pintu belakang yang terbuka lebar.
Hanum ingin mengejarnya, tapi tubuh Al di pangkuannya membuatnya tak bisa bergerak. Darah terus mengalir dari luka tembak.
“Cepat! Bawa Tuan Muda!” salah satu pria berteriak sambil menghampiri. Dua orang lain segera menarik rantai yang masih mengikat Al, lalu membopong tubuhnya dengan hati-hati.
Hanum kebingungan, matanya beralih pada ayahnya yang masih terikat. “Ayah! Tolong lepaskan ayahku juga!”
Seorang pria berwajah keras segera meraih kursi ayah Hanum, memotong ikatannya dengan pisau lipat. Firdaus jatuh ke lantai, tubuhnya lemah, tapi matanya penuh kebencian. Ia segera dirangkul oleh dua orang lain.
“Cepat keluar dari sini sebelum mereka kembali!” seru salah satu kawanan.
Hanum masih bingung. “Siapa, siapa kalian?!”
Pria yang memimpin kelompok itu menoleh sekilas, matanya tajam. Namun, penuh urgensi. “Kami orang-orang Al. Kau bisa bertanya nanti. Sekarang, kalau kau ingin Tuan Muda dan ayahmu tetap hidup, ikutlah kami.”
Malam itu benar-benar kacau. Hanum, dengan rambut acak-acakan dan wajah yang basah oleh air mata, dibawa keluar gudang bersama ayahnya. Tubuh Al yang tak sadarkan diri dibaringkan ke kursi belakang salah satu mobil hitam. Hanum langsung naik, memeluk kepala Al di pangkuannya.
“Bertahanlah, Al, kumohon.” bisiknya berulang kali.
Mobil melaju kencang meninggalkan gudang. Dari kaca spion, Hanum bisa melihat asap mengepul dari arah bangunan itu. Entah siapa yang menyalakan api, tapi ia tahu semuanya akan lenyap.
Ayahnya duduk di mobil lain, dijaga ketat.
Di dalam mobil, Hanum hanya bisa menatap wajah Al yang semakin pucat. Tangannya menggenggam jemari Al yang dingin. “Kau tidak boleh mati. Kau janji akan menjelaskanku semuanya. Kau janji akan melindungiku. Jangan ingkari janjimu, Al.”
Al hanya mendesah pelan, matanya setengah terpejam. “Hanum.” suaranya nyaris tak terdengar.
“Ya, aku di sini!”
Sudut bibirnya bergerak sedikit, seperti berusaha tersenyum. “Jangan menangis. Aku masih berdiri di sisimu.”
Hanum terisak keras. Ia ingin memeluknya lebih erat, seakan bisa mencegah malaikat maut menjemputnya.
Setelah perjalanan hampir satu jam, mobil-mobil itu akhirnya berhenti di sebuah bangunan besar di pinggiran kota. Dari luar tampak seperti gudang biasa, namun di dalamnya terdapat ruang-ruang rahasia, lengkap dengan peralatan medis sederhana.
“Bawa dia ke ruang belakang!” teriak salah satu pria.
Hanum ikut berlari, tak melepaskan Al dari pandangannya. Di sebuah ruangan sempit, Al dibaringkan di ranjang besi. Dua orang berpakaian dokter segera datang dengan perlengkapan.
“Peluru bersarang di dada bagian kiri. Kita harus keluarkan sekarang juga!” salah satunya berkata tegas.
Hanum panik. “Tolong selamatkan dia! Kumohon!”
Salah satu pria menahan bahunya. “Kau harus keluar, Nona. Kami butuh konsentrasi.”
Hanum menggeleng keras. “Tidak! Aku akan tetap di sini! Aku tidak akan meninggalkannya!”
Akhirnya mereka mengalah, membiarkannya berdiri di sudut ruangan. Hanum menggenggam erat kalung kecil di lehernya, berdoa dalam hati.
Jarum, pisau bedah dan perban dipersiapkan. Al mengerang pelan ketika peluru dikeluarkan. Darah berceceran, membuat Hanum hampir pingsan, tapi ia tetap menahan diri, menatap tanpa berkedip, karena ia tahu Al sedang berjuang di ambang hidup dan mati.
Setelah hampir satu jam, operasi darurat selesai. Dokter itu menghela napas. “Kami berhasil menghentikan pendarahannya, tapi kondisinya masih kritis. Ia butuh istirahat total dan obat-obatan.”
Hanum hampir roboh karena lega. Air mata kembali mengalir, kali ini bercampur rasa syukur. Ia mendekat, menggenggam tangan Al. “Kau dengar itu, Al? Kau berhasil melewati ini.”
Beberapa jam kemudian, ayah Hanum akhirnya bisa beristirahat di ruangan lain. Namun, matanya terus gelisah. Saat Hanum masuk, ia langsung memeluk putrinya.
“Hanum, maafkan Ayah,” suaranya berat, penuh penyesalan.
Hanum terkejut. “Ayah, ini bukan salahmu. Orang itu yang membuat semua ini terjadi!”
Firdaus menggeleng. “Tidak semudah itu. Pria berjas abu, dia memang musuhku, tapi juga masa lalumu. Kau harus tahu kebenaran sebelum semuanya terlambat.”
Hanum mengernyit. “Kebenaran apa, Ayah?”
Firdaus menarik napas panjang. “Ibumu, Hanum. Dia bukan wanita biasa seperti yang kau kira. Ia dulu bagian dari kelompok bawah tanah. Senjata yang tadi kau lihat memang miliknya fan pria berjas abu itu dulunya adalah sekutunya, sebelum akhirnya berkhianat.”
Hanum membeku. “Jadi, semua ini bukan karena Ayah?”
Air mata Firdaus jatuh. “Mereka mengincar ibumu sejak dulu dan kini, mereka mengincarmu. Karena kau adalah darah dari garis itu, kau kunci bagi sesuatu yang mereka cari.”
Hanum memeluk ayahnya erat, “tapi kenapa harus aku? Aku hanya ingin hidup normal.”
Firdaus menatapnya dengan getir. “Karena takdir tidak pernah memberi pilihan, Hanum. Kau lahir di antara dua dunia yang saling bertabrakan dan mau tak mau, kau harus memilih jalanmu.”
Beberapa hari berlalu di tempat persembunyian itu. Al masih terbaring lemah. Namun, perlahan mulai siuman. Hanum selalu berada di sisinya, bahkan ketika ia harus menolak makan hanya untuk tetap menggenggam tangan Al.
Ketika Al membuka matanya untuk pertama kali, Hanum hampir tak percaya. “Al!” serunya, wajahnya bersinar lega.
Al tersenyum tipis. “Sepertinya, aku gagal mati.”
Hanum menangis sambil tertawa kecil. “Bodoh! Jangan bicara begitu lagi! Kau sudah membuatku hampir gila!”
Al menatapnya dalam-dalam. “Aku janji, aku tidak akan pergi, selama kau masih di sini.”
Hanum terdiam, dadanya bergetar hebat. Kata-kata itu terasa terlalu berat untuk ditanggapi. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Salah satu kawanan masuk dengan wajah serius.
“Bos, kami menemukan jejak pria berjas abu itu. Dia masih di kota, tapi bergerak cepat dan sepertinya, dia tidak sendiri. Ada kekuatan besar di belakangnya.”
Hanum menegang. Al mencoba bangun, tapi tubuhnya masih lemah.
“Kau tidak bisa ikut, Bos,” kata pria itu tegas.
Al mengerang. “Sialan, aku tidak bisa hanya berbaring ketika dia masih bebas.”
Hanum meraih tangannya. “Al, kau harus sembuh dulu. Jangan paksakan dirimu!”
Al menatapnya, lalu menunduk. “Kalau aku tidak bergerak sekarang, nyawamu yang akan jadi taruhannya, Hanum.”
Malam itu, Hanum berdiri di balkon kecil tempat persembunyian. Angin dingin menusuk kulitnya. Ia menatap jauh ke langit gelap, pikirannya penuh kekacauan.
Ayahnya sudah mengaku. Al terluka parah demi melindunginya dan pria berjas abu itu masih berkeliaran, menunggu waktu untuk menyerang lagi.
Langkah pelan terdengar di belakangnya. Al, meski masih lemah, berdiri dengan bantuan tongkat. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap tajam.
“Hanum,” suaranya berat.
Hanum menoleh, terkejut. “Al! Kau belum boleh berdiri!”
Al mendekat, menatap matanya lekat-lekat. “Aku harus bicara. Ada sesuatu yang belum pernah kukatakan. Tentang dirimu, tentang ibumu dan tentang alasan kenapa aku tak bisa membiarkanmu jatuh ke tangan mereka.”
Hanum menahan napas. “Apa maksudmu?”
Al menghela napas panjang, seolah sedang berjuang melawan rasa sakit. “Hanum, kau bukan hanya pewaris ayahmu. Kau adalah kunci terakhir yang bisa membuka rahasia kelompok itu dan aku,” ia berhenti, menunduk. “Aku bukan sekadar gangster. Aku punya ikatan dengan keluargamu yang selama ini sengaja kusembunyikan.”
Hanum terpaku, matanya melebar. “Ikatan apa?”
Al menatapnya lagi, kali ini dengan sorot mata yang dalam, penuh beban. “Aku tahu siapa ibumu sebenarnya dan aku tahu, cepat atau lambat, kau akan dipaksa untuk menggantikan posisinya.”
Hanum terdiam. Jantungnya berdetak keras, seakan akan pecah.
“Al, kau tahu semua ini sejak awal?” suaranya lirih.
Al mengangguk pelan. “Aku bersumpah, aku akan melindungimu, bahkan kalau itu berarti melawan dunia.”
Hanum meneteskan air mata. Namun, sebelum ia bisa menanyakan lebih jauh, suara ledakan keras mengguncang tempat persembunyian. Dinding bergetar, lampu berayun.
“Serangan!” teriak salah satu pria dari luar kamar.
Hanum menoleh ke arah Al dengan wajah pucat.
Al menggenggam tangannya erat. “Mereka sudah menemukan kita.”