Bab 4
Keheningan setelah tawa pria itu justru terasa lebih mencekam dibandingkan riuhnya pertarungan tadi. Udara di dalam gudang berbau besi berkarat, bercampur dengan aroma darah dan keringat yang masih menempel pada tubuh Al. Hanum berdiri kaku, kedua tangannya gemetar, pandangannya terpaku pada sosok pria berjas abu-abu yang kini berjalan perlahan mengitari mereka. Setiap langkahnya seperti dentuman palu yang menghantam nyali.
“Aku sudah menunggu momen ini lama sekali,” ujarnya tenang, seolah semua ini hanya permainan. “Dan kalian akhirnya datang, persis seperti yang kuinginkan.”
Hanum menggertakkan giginya, menahan tangis yang hampir pecah. Ia ingin berlari ke ayahnya, melepas ikatan di tangannya, tetapi tubuhnya terpaku di tempat. Hanya suaranya yang bisa keluar, lirih namun penuh keberanian.
“Apa maumu dariku?”
Pria itu berhenti tepat di hadapan Hanum, wajahnya sedekat bayangan lampu temaram yang bergoyang. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi.
“Kau akan tahu, segera,” katanya, lalu beralih pada Al yang sudah berlutut dengan napas terengah. “Dan kau, Al-Faidzin, selalu saja menghalangi jalanku. Luka di tubuhmu sudah cukup membuatmu berhenti, tapi sepertinya nyalimu memang terlalu keras.”
Al mendengus, darah menetes dari bibirnya, tapi tatapan matanya sama sekali tidak goyah. “Aku masih bisa berdiri, kalau itu yang kau takutkan.”
Pria itu justru tertawa kecil, menepuk bahunya sendiri seakan mengapresiasi. “Bagus. Aku selalu suka dengan orang yang tahu bagaimana cara bertahan hidup, tapi, malam ini bukan soal kau lagi, Al. Malam ini tentang gadis itu.”
Hanum menelan ludah, jantungnya berdentum cepat. Ia merasa kata-kata pria itu seperti belati yang menusuk perlahan, semakin dalam tiap kalimatnya.
Tiba-tiba, suara seretan kursi terdengar. Dari sisi gelap gudang, muncul dua pria berbadan kekar. Mereka menyeret sebuah kotak besi berukuran besar, lalu meletakkannya di tengah ruangan. Dentum logamnya membuat Hanum tersentak.
Pria berjas abu itu melirik ke arah kotak tersebut, lalu menoleh pada Hanum. “Di dalam kotak ini ada sesuatu yang mungkin bisa menjawab rasa penasaranmu, Nona Hanum. Tentang ayahmu, tentang keluargamu, bahkan tentang dirimu sendiri.”
Hanum membeku. Ia memandang ayahnya yang berusaha berteriak di balik sumpalan kain, matanya merah dan penuh amarah, seolah ingin melarang Hanum mendekat.
“Ayah,” bisik Hanum lirih, tapi langkahnya tetap maju.
Al berusaha meraih pergelangan Hanum meski tubuhnya lemah. “Jangan, jangan percaya, itu jebakan.” Namun, Hanum seakan kehilangan kendali. Rasa ingin tahunya, bercampur dengan ketakutan, membuatnya mendekat. Tangannya gemetar saat menyentuh permukaan kotak yang dingin.
Pria berjas itu memberi isyarat dan salah satu anak buahnya membuka kunci besi. Engselnya berdecit dan perlahan penutup kotak terangkat.
Hanum menahan napas. Pandangannya membesar.
Di dalam kotak itu terdapat tumpukan berkas, foto-foto lama dan sebuah pistol berwarna perak dengan ukiran nama Nadzneen di gagangnya.
Hanum mengangkat salah satu foto. Itu foto ibunya. Namun, ada sosok lain di sampingnya, pria berjas abu yang kini berdiri di hadapannya.
“Apa ini?” suaranya bergetar.
Pria itu tersenyum samar. “Ibumu bukan hanya istri seorang pejabat biasa. Ia pernah menjadi bagian dari kelompok kami dan pistol itu adalah senjata miliknya. Kau, Hanum, bukan sekadar putri pejabat. Kau adalah darah dari dua dunia, dunia yang bersih dan dunia kami yang penuh darah.”
Hanum menjatuhkan foto itu, tubuhnya lemas. Semua pikirannya kacau. Ayahnya selalu berkata ibunya seorang wanita biasa, penuh kasih. Tidak pernah ia bayangkan ada masa lalu gelap yang disembunyikan.
Al menatap Hanum, rahangnya mengeras. “Jangan dengarkan dia! Dia hanya ingin membuatmu hancur!”
Pria itu tertawa, kali ini lebih keras. “Hancur? Tidak, Al. Aku ingin membuatnya sadar. Hanum harus tahu siapa dirinya sebenarnya. Dunia ini tidak sesederhana yang dia pikir. Dan kau, Al, hanyalah penghalang.”
Sebelum Hanum bisa bereaksi, pria itu mengangkat tangannya, memberi kode. Seketika lampu-lampu gudang padam, menyisakan kegelapan pekat. Hanya suara napas dan langkah kaki yang terdengar.
“Hanum!” suara Al terdengar serak, panik. “Tetap di dekatku!”
Hanum meraba-raba dalam gelap, mencari arah, tapi tiba-tiba suara benturan keras terdengar. Al berteriak, diikuti suara tubuhnya jatuh menghantam lantai.
“Al!” jerit Hanum, tapi tangannya ditarik kasar dari belakang.
“Diamlah,” bisik sebuah suara asing di telinganya.
Hanum berontak sekuat tenaga, menendang, menggigit, hingga akhirnya berhasil melepaskan diri. Ia berlari ke arah suara ayahnya yang masih berusaha bersuara di balik sumpalan. Tangannya meraih ikatan di kursi, mencoba membuka simpul.
Namun, cahaya lampu sorot tiba-tiba menyala dari sudut ruangan, menyilaukan mata Hanum dan di sana, ia melihat Al yang terikat dengan rantai besi di salah satu pilar gudang, tubuhnya bersimbah darah.
Hanum terhenti, napasnya tercekat.
Pria berjas itu melangkah lagi ke cahaya, membawa pistol perak tadi di tangannya. Ia menodongkannya langsung ke kepala Al.
“Kau punya pilihan, Hanum,” ujarnya datar. “Selamatkan ayahmu atau selamatkan Al. Kau hanya bisa memilih satu. Karena ketika kau membuka salah satu ikatan, yang lain akan mati.”
Hanum terpaku. Matanya berganti-ganti antara Al dan ayahnya. Air mata mengalir tanpa henti.
“Aku, aku tidak bisa,” suaranya parau.
Al menatapnya, meski wajahnya penuh luka, ia tersenyum samar. “Pilih ayahmu, Hanum. Aku sudah terbiasa hidup dengan darah. Jangan korbankan keluargamu untukku.”
Hanum menggeleng keras, tubuhnya gemetar. “Tidak! Aku tidak mau kehilangan siapa pun!”
Ayahnya mengguncang kepalanya, matanya memohon agar Hanum menyelamatkan Al. Ia bahkan tampak rela berkorban.
Pria berjas itu semakin menikmati penderitaan mereka. “Cepatlah, Hanum. Waktu tidak menunggumu. Pilihlah. Karena dalam hitungan sepuluh detik, peluruku akan melayang.”
Ia mulai menghitung. “Sepuluh, sembilan…l.”
Hanum berlari ke arah ayahnya, lalu berhenti. Ia menoleh pada Al yang kini menunduk lemah, darah terus menetes dari lukanya.
“Tujuh, enam.”
Hanum berlari ke arah Al, tangannya bergetar mencoba melepas rantai. Namun tatapan ayahnya membuatnya kembali ragu.
“Lima, empat.”
Hanum berteriak histeris. “BERHENTI!”
Pria itu tidak peduli. “Tiga.”
Dengan panik, Hanum meraih pistol perak yang tadi tergeletak di kotak, lalu menodongkannya langsung ke pria berjas. Tangannya gemetar, tapi matanya penuh tekad.
“Kalau kau bunuh mereka, aku akan bunuhmu!”
Pria itu justru tersenyum, seakan inilah yang ia tunggu. “Bagus, Hanum. Akhirnya kau mulai belajar. Dunia kami memang hanya menyisakan dua pilihan, membunuh atau dibunuh.”
Jari Hanum berada di pelatuk, tubuhnya gemetar hebat. Al berteriak, “Jangan lakukan, Hanum! Jangan kotori dirimu dengan darah!”
Sementara pria berjas itu perlahan menundukkan kepalanya, mendekatkan dahinya ke moncong pistol yang dipegang Hanum. Senyumnya semakin lebar, penuh tantangan.
“Ayo, tarik pelatuknya! Buktikan bahwa kau memang bagian dari kami.”
Detik itu juga, gudang bergemuruh oleh suara deru mesin mobil yang mendekat. Pintu besi terbuka keras, dan cahaya lampu mobil menyinari seluruh ruangan.
Beberapa pria bersenjata lengkap masuk dengan cepat.
Hanum membeku. Al terbelalak, darah di tubuhnya hampir membuatnya kehilangan kesadaran.
Pria berjas itu menoleh, tersenyum licik. “Ah, tepat waktu. Permainan ini baru saja menjadi lebih menarik.”
Hanum masih menodongkan pistol, jari di pelatuknya bergetar. Ia harus memilih antara menarik pelatuk dan mengakhiri semua atau menunggu apa yang akan dilakukan kelompok bersenjata yang baru datang. Namun, sebelum ia bisa memutuskan, suara tembakan keras terdengar.
DOR!
Seseorang jatuh.
Hanum menjerit, matanya melebar. Ia tidak tahu siapa yang tertembak ayahnya, Al atau justru dirinya.
Di tengah kekacauan itu, suara pria berjas terdengar, lirih. Namun, jelas menusuk telinga Hanum.
“Selamat datang di dunia yang sebenarnya, Hanum Nadzneen. Dunia yang tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi.”