Bayangan Gradasi Malam yang Berdarah
3/31
Bab 3

Malam yang Berdarah

Bab 3

Malam yang Berdarah

Hening itu kembali runtuh oleh suara deru mesin motor yang belum padam. Bau bensin bercampur asap rokok menyelimuti jalanan sempit yang kini seolah menjadi arena perang. Puluhan pria berjaket hitam menatap mereka dengan sorot mata haus darah. Hanum menelan ludah, jemarinya mencengkeram lengan jaket Al begitu erat sampai buku-bukunya memutih.

Al berdiri tegap di depannya, seakan tubuh kurus tinggi itu menjelma tembok baja. Wajahnya datar, tetapi matanya gelap, liar, seperti binatang buas yang terpojok. Satu tarikan asap rokok terakhir ia hembuskan perlahan, lalu puntungnya dibuang ke tanah, diinjak sampai padam.

“Aku sudah bosan main kucing dan tikus,” ucap Al dingin. “Siapa di antara kalian yang berani menyentuhku lebih dulu?”

Tawa kasar pecah dari kerumunan. Suara rantai besi dikibaskan, tongkat kayu dipukulkan ke aspal hingga memercikkan suara retakan. Hanum meringis, tubuhnya kaku, nyaris tak bisa bernapas.

Pria dengan wajah penuh luka, pemimpin gerombolan melangkah maju. Helmnya kini tergantung di tangan, sorot matanya liar. “Jangan besar kepala, Al-Faidzin. Malam ini, kau bukan siapa-siapa. Kau hanya anak pejabat rusak yang kebetulan jago berkelahi, tapi jumlah tidak pernah berpihak padamu.”

Al menyeringai miring. “Sayangnya, aku tidak pernah menghitung jumlah. Aku hanya menghitung siapa yang masih bisa berdiri setelah aku selesai.”


Teriakan pertama meledak begitu cepat. Dua pria menyerbu serentak dari kiri dan kanan. Al menyambar pergelangan Hanum, mendorongnya ke belakang mobil terdekat. “Jangan keluar sampai aku bilang!”

Hanum tercekat, tubuhnya hampir terjatuh, tapi ia nurut. Dari balik pintu mobil, ia melihat kilatan rantai besi menghantam udara. Al bergerak seperti bayangan, menunduk, lalu melayangkan tendangan memutar. Tubuh lawan terhempas ke aspal, rantainya terlepas dan berdering nyaring.

Suara logam bertabrakan dengan aspal membuat bulu kuduk Hanum meremang. Ia tidak pernah melihat seseorang bertarung seperti ini. Setiap gerakan Al presisi, dingin, tanpa jeda ragu. Lutut, siku dan tinju, semuanya digunakan. Darah pertama memercik dari hidung seorang penyerang yang kena hantam brutal.

Namun, jumlah mereka puluhan. Tidak butuh waktu lama sebelum dua, tiga, empat orang sekaligus mengepung Al. Tongkat kayu menghantam pundaknya, rantai melilit lengan kirinya. Al mendesis, tapi alih-alih mundur, ia maju menyeruduk, membanting tubuh salah satu lawan ke kap mobil hingga kaca depannya retak.

Hanum menjerit tertahan. Tangannya mencengkeram mulutnya sendiri, berusaha tidak mengeluarkan suara. Ia tahu setiap jeritan hanya akan melemahkan Al.


Beberapa menit berlangsung bagai neraka. Jalanan berubah menjadi ladang perkelahian. Napas Al berat, kaos hitamnya sudah robek di beberapa tempat. Darah segar menetes dari sudut bibirnya. Namun, setiap kali lawan jatuh, dua orang lain datang menggantikan.

Hanum bisa melihat tubuhnya mulai limbung, tapi mata itu, mata yang penuh amarah belum padam. Ada sesuatu di sana yang lebih dari sekadar kebanggaan gangster. Sesuatu yang anehnya membuat dada Hanum sesak.

Saat Al hampir dihantam batangan besi dari belakang, Hanum refleks berteriak, “Al, hati-hati!”

Al menoleh sepersekian detik, cukup untuk menghindar. Batang besi itu menghantam tanah, menimbulkan percikan. Ia balas dengan siku ke wajah pria itu, membuat gigi berceceran ke aspal.

Akan tetapi, teriakan Hanum membuat pemimpin mereka melirik ke arahnya. Senyum miring menghiasi wajah penuh luka itu. Perlahan ia mendekati Hanum yang meringkuk di balik mobil.

“Gadis kecil yang manis,” ujarnya serak. “Jangan takut. Kau akan segera menyusul ayahmu. Bos kami senang menerima tamu baru.”

Hanum pucat. Ia mencoba mundur, tapi punggungnya sudah menempel pada pintu mobil. Jantungnya berdentum, napasnya tercekik.

“Jangan sentuh dia!” raung Al.

Ia berusaha menyerang, tapi tubuhnya dihalangi tiga orang sekaligus. Pemimpin itu terkekeh, mengangkat tangannya yang memegang rantai, hendak melilitkan ke pergelangan Hanum.

Tanpa ia sadari, Hanum tiba-tiba meraih benda terdekat, sebuah botol kaca pecah dari jalan lalu mengayunkannya ke arah pria itu. Pecahan kaca menggores pipinya, darah mengucur deras.

Teriakan marah menggema. “BERANI-BERANINYA KAU, GADIS KECIL!”

Hanum terengah, tangannya gemetar memegang botol yang tinggal setengah. Ia tidak tahu dari mana keberanian itu muncul, hanya insting untuk bertahan.

Al memanfaatkan kekacauan itu. Dengan teriakan garang, ia membanting tubuh salah satu penghalangnya, meraih rantai yang terlepas, lalu melilitkan ke leher lawan terdekat. Sekali hentakan, pria itu terhempas tak sadarkan diri.

Pemimpin mereka meraba pipinya yang berdarah, menatap Hanum dengan kebencian membara. “Kau akan membayarnya!”

Ia melompat ke arah Hanum. Namun, sebelum rantai itu menyentuh kulitnya, Al sudah tiba lebih dulu. Tubuhnya menubruk pria itu, menjatuhkannya ke tanah. Mereka bergulat keras, hantaman demi hantaman dilayangkan.

Hanum berdiri terpaku, napasnya tercekat. Semua terasa begitu cepat, darah, teriakan dan dentuman besi.

Hingga akhirnya, Al berhasil membalikkan tubuh musuh, menindihnya, lalu melayangkan pukulan terakhir. Suara retakan terdengar jelas. Pemimpin itu terkulai, wajahnya berlumuran darah, tak lagi bergerak.

Seketika, kerumunan lain membeku. Beberapa mundur, saling pandang, lalu satu per satu melarikan diri bersama motor mereka.

Jalanan kembali sepi. Hanya suara napas berat Al dan detak jantung Hanum yang terdengar.

**"

“Al!” Hanum akhirnya bisa bersuara, lirih, gemetar.

Al bangkit pelan, tubuhnya bergetar karena kelelahan. Luka-luka memar jelas menghiasi wajah dan lengannya. Ia berjalan gontai mendekati Hanum.

“Kau, kau tadi.”

Belum sempat Hanum menyelesaikan kalimatnya, Al ambruk ke lutut, tangannya berlumuran darah. “Brengsek, sepertinya pisau itu kena lebih dalam.”

Hanum terkejut, matanya membelalak. Baru saat itu ia melihat sisi perut Al basah oleh darah. Luka tusukan yang mungkin terjadi saat perkelahian berlangsung.

“Al!” Hanum meraih tubuhnya, berusaha menopangnya. “Kau berdarah! Kita harus ke rumah sakit!”

Al menggeleng keras, wajahnya memucat. “Tidak, rumah sakit penuh polisi. Kalau mereka lihatmu, kau akan terseret. Kita tidak punya waktu.”

Hanum terisak, air mata jatuh deras. “Tapi kau bisa mati kalau begini!”

Al menatapnya, bahkan dalam kondisi sekarat, matanya masih menyala. “Lebih baik aku mati daripada melihat kau dibawa mereka.”

Kata-kata itu menusuk Hanum begitu dalam, membuat dadanya seakan diremas. Ia tidak mengerti kenapa Al, gangster arogan itu, rela mempertaruhkan hidupnya untuknya?


Dengan susah payah, Hanum menyeret tubuh Al ke dalam mobil yang ditinggalkan salah satu gerombolan. Tangannya gemetar saat menyalakan mesin. Ia tidak tahu harus ke mana, hanya satu hal di kepalanya: selamatkan Al.

Di sepanjang jalan, Al menahan napas panjang, sesekali mengerang pelan. “Gudang, pinggiran kota, ayahmu.” suaranya makin lemah.

Hanum menoleh cepat. “Kau masih memikirkan itu di saat seperti ini?!”

Al tersenyum samar, darah merembes dari sudut bibirnya. “Aku janji, akan bawa kau sampai ke sana. Kau harus tahu siapa musuh sebenarnya.”

Hanum menggigit bibir, air matanya makin deras. Ia menekan pedal gas lebih dalam.


Mobil berhenti di depan sebuah bangunan tua, catnya terkelupas, jendela-jendela pecah. Gudang di pinggiran kota dari alamat yang tadi dikirim. Hanum membantu Al keluar. Pemuda itu nyaris tak mampu berdiri, tapi tetap memaksa berjalan.

“Jangan, jangan masuk sendiri,” bisiknya.

Hanum menopang tubuhnya. “Kalau aku tidak masuk, Ayah mungkin mati. Aku tidak peduli risiko apapun.”

Pintu besi berderit saat mereka mendorongnya terbuka. Bau karat dan debu menyeruak. Lampu redup menggantung, menyoroti ruangan luas dengan kotak-kotak kayu menumpuk.

Di tengah ruangan, Firdaus, ayah Hanum terikat di kursi, mulutnya disumpal kain. Matanya melebar saat melihat putrinya.

“Ayah!” jerit Hanum, berlari ke arahnya. Namun, langkahnya terhenti ketika suara tepukan tangan bergema dari balik bayangan.

Seorang pria elegan melangkah keluar, jas abu-abu rapi, rambut licin ke belakang. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya penuh licik.

“Selamat datang, Nona Hanum dan tentu saja, Al-Faidzin si pemberontak.”

Hanum menegang. “Siapa kau?!”

Pria itu tersenyum tipis. “Orang yang selama ini mengatur semuanya. Tuduhan pada ayahmu, serangan malam ini, bahkan jebakan kecil yang hampir membuatmu terbunuh.”

Al terhuyung, tapi matanya menatap tajam. “Brengsek, jadi kau dalangnya.”

Pria itu mendekat, suaranya pelan tapi menusuk. “Oh, tidak hanya itu, Al. Kau kira Hanum hanyalah korban? Gadis manis ini sebenarnya kunci dari semuanya. Ayahnya, hanyalah umpan.”

Hanum tertegun, darahnya terasa beku. “Apa maksudmu?!”

Pria itu tersenyum lebih lebar, lalu menunduk tepat di telinganya. “Karena sebenarnya, bukan ayahmu yang kami incar, Hanum, tapi kau.”

Hanum membeku, tubuhnya gemetar hebat. Al yang setengah sadar memaksa maju, tetapi tubuhnya jatuh berlutut, darah terus mengalir.

Pria itu tertawa pelan. “Malam ini, permainan baru saja dimulai.”


Hanum menatap ayahnya yang masih terikat, lalu menoleh pada Al yang hampir pingsan, sementara pria misterius itu berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Untuk pertama kalinya, Hanum merasa dirinya bukan lagi sekadar pion, melainkan hadiah utama yang diperebutkan.

Ichan Kaori

Penulis

Lihat Profil

Daftar Bab

Tamparan di Balik Nama Besar

Bab 1

Bab 2

Bab 2

Malam yang Berdarah

Bab 3

bab 4

Bab 4

Peluru yang Menghantam Malam

Bab 5

Jejak Darah dan Rahasia

Bab 6

Bayangan Yang Mengkhianati

Bab 7

Bayangan Gradasi - Jejak Yang Dititipkan - Bab 8

Bab 8

Bayangan Gradasi - Bayangan Cahaya Dalam Klub

Bab 9

Bayangan Gradasi - Luka Yang Mengikat - Bab 10

Bab 10

Bayangan Gradasi - Bayangan Di Balik Janji - Bab 11

Bab 11

Bayangan Gradasi - Di Balik Luka dan Rahasia

Bab 12

Bayangan Gradasi - Kedekatan Yang Tertutup Bayangan - Bab 13

Bab 13

Bayangan Gradasi - Tawa Tak Berjarak - Bab 14

Bab 14

Bayangan Gradasi - Intimidasi Yang Menggerakkan - Bab 15

Bab 15

Bayangan Gradasi - Bayangan Hitam Yang Terus Mengancam - Bab 16

Bab 16

Bayangan Gradasi - Ayah Yang Melindungi Anaknya - Bab 17

Bab 17

Bayangan Gradasi - Darah Merah Di Dermaga - Bab 18

Bab 18

Bayangan Gradasi - Kapan Hanum Aman? - Bab 19

Bab 19

Bayangan Gradasi - Pernyataan Yang Mengguncang - Bab 20

Bab 20

Bayangan Gradasi - Kecupan Terlarang Di Atas Kota - Bab 21

Bab 21

Bayangan Gradasi - Api Yang Membakar - Bab 22

Bab 22

Bayangan Gradasi - Darah Yang Terselubung - Bab 23

Bab 23

Bayangan Gradasi - Pewaris Palsu - Bab 24

Bab 24

Bayangan Gradasi - Gadis Milik Al - Bab 25

Bab 25

Bayangan Gradasi - Gemerlap Pesta Politik - Bab 26

Bab 26

Bayangan Gradasi - Wanita Lain Untuk Al - Bab 27

Bab 27

Bayangan Gradasi - Di Balik Senyuman Al - Bab 28

Bab 28

Bayangan Gradasi - Pesan Rahasia - Bab 29

Bab 29

Bayangan Gradasi - Menjadi Politisi Muda - Bab 30

Bab 30

Bayangan Gradasi - Kegelisahan Hanum - Bab 31

Bab 31

Rating

Bab Ini

Memuat...

Album

Memuat...