"Itu, Dodi? Pacar kamu? Serius?" tanya Kaesa, setengah berbisik, saat melihat seorang lelaki turun dari mobil, kemudian melangkah mendekat dengan senyum yang menurutnya tak jelas.
"Hai, Cantik! Apa kabar? Cincinnya masih kamu pakai, 'kan?" tanya pria bertopi, yang baru saja turun dari mobilnya. Setelah jarak di antara mereka bertiga kurang satu langkah lagi.
Senyum Ajeng langsung merekah, menyambut pria itu dengan memamerkan jari tangan kirinya yang terselip satu cincin. Membuat Kaesa yang meliriknya dalam diam semakin heran.
"Bagus, aku sangat mencintaimu," ujar Dodi yang mengelus kepala Ajeng beberapa kali.
"Bertemu pacar kok gitu banget, bukannya nanya kabar malah nanya cincin, kalau takut hilang kenapa dikasihkan, aneh!!" desis Kaesa, dengan mata menyipit.
"Ini siapa? Teman kamu?" tanya pria itu, menatap Kaesa dengan pandangan mata yang aneh. Membuat Kaesa bergidik tanpa sadar.
"Ya, dia sahabatku, Kaesa." Ajeng ikut tersenyum. Matanya tak lepas memandang memuja pada si lelaki yang menurut Kaesa hanya biasa saja.
Kaesa menunjukkan wajah datar, saat lelaki yang kata Ajeng bernama Dodi itu mengulurkan tangan ke arahnya.
"Kaesa."
"Dodi," jawab lelaki itu.
Kaesa buru-buru melepaskan genggaman tangannya saat dia merasakan ada yang menggelitik di sana.
"Kalau begitu kita langsung berangkat, yuk!" ajak Dodi yang kembali berwajah datar, membalikkan badan, langsung melangkah kembali ke mobilnya.
Kaesa pun mengikuti Ajeng, langsung naik ke mobil Dodi dan duduk di jok belakang.
"Kok kamu ikut di belakang, Jeng? Di depan dong, aku nggak pa-pa kok!" seru Kaesa yang kaget saat melihat dari arah yang berlawanan Ajeng masuk dan duduk di sebelahnya.
"Nggak pa-pa kok, Sa," jawab Ajeng terdengar bodo amat.
“Laaa, ini gimana ceritanya, sih?!
Kaesa menyipitkan matanya, heran. Sesaat, hingga akhirnya dia pun diam melihat Ajeng duduk dengan santainya.
Selama di dalam mobil, tak ada pembicaraan, hanya terdengar suara Dodi yang sedang menelepon sambil bercanda, dengan kedua tangan memegang kemudi.
"Mana tugasku, sudah kamu kerjakan kan?" tanya Dodi saat mereka sudah turun dari mobil, di parkiran kampus.
"Ini."
Ajeng memberikan beberapa tumpukan buku dan map ke arah Dodi dengan senyum mengembang sempurna, dan semua itu tak lepas dari pengamatan Kaesa.
Kaesa hanya bisa melongo, buku sebanyak dan seberat itu ternyata bukan milik Ajeng, dia hanya membawakannya untuk sang pacar.
"Kok kamu yang mengerjakan tugas Dodi, Jeng? Gila ya, kamu! Emang pacar kamu itu ngasih berapa juta buat kamu tiap harinya?!" bisik Kaesa saat Dodi sudah berlalu tanpa menunggu Ajeng dan Kaesa.
"Nggak papa kok, Sa. Dodi kan sibuk, aku yang seharusnya sangat beruntung karena sudah dia percayai untuk membantu tugasnya."
Santai sekali Ajeng menjawab pertanyaan Kaesa. Seperti tanpa beban.
"Nggak pa-pa gimananya?! Gila kamu!"
Kaesa menghela napas panjang, menahan emosi. Dia semakin tak lagi melihat sosok sahabatnya di diri Ajeng saat ini. Tangan kanannya terkepal erat. Dengan lirikan mata tak bersahabat menatap punggung Dodi yang terlihat semakin mengecil.
"Mmm ... Sa, kamu mau nunggu aku di mana? Perpus apa kantin?" tanya Ajeng, kemudian.
"Kantin."
Kaesa menjawab dengan singkat, perasaannya masih berasa kesal dan sakit hati, sekaligus heran dengan sikap Ajeng.
"Aku anterin ya?"
"Nggak usah. Aku bisa sendiri. Kamu kuliah sana biar pintar. Tenang saja, aku nggak bakalan nyasar," tolak Kaesa yang masih terlihat kesal, bagaimana bisa Ajeng yang dia kenal paling pinter sedunia tapi bego di hadapan laki laki hanya karena cinta.
Ajeng tersenyum kecil sambil melambaikan tangan melangkah meninggalkan Kaesa.
"Temannya si babu!" selentingan Kaesa mendengar seseorang dari tiga perempuan yang lewat berkata sambil melirik ke arahnya.
Kaesa pun ikut melirik ke arah mereka hingga ketiganya tak lagi terlihat. Dia penasaran dengan kata-kata 'babu' yang barusan terdengar.
"Mbak, mau teh dingin dan gado-gadonya ya," pinta Kaesa saat dirinya sudah ada di kantin.
Untung saja tadi Kaesa bertanya pada seorang satpam yang melewati dirinya saat di parkiran, hingga bisa sampai di kantin dengan selamat.
Setelah menerima baki berisi pesanannya. Mata Kaesa menyapu ruangan kantin mencari tempat yang cocok.
Tiba-tiba pandangan Kaesa berhenti di pojokan sebelah kanan, pada seorang lelaki yang ia kenal sedang duduk bersama seorang perempuan yang menggunakan busana kurang bahan. Mereka tampak mesra sekali.
"Hai! Aku boleh duduk di sini, nggak?" tanya Kaesa yang mendekat dengan seringai yang ia buat menakutkan walau lembut, yang sudah meletakkan baki di meja dan langsung duduk tanpa menunggu jawaban.
"Kaesa?!" sapa sang lelaki, kaget. Namun, tidak membuatnya harus melepaskan genggaman tangan pada jari si perempuan.
"Mmm ...," dehem Kaesa dengan wajah datar, sambil menyeruput tehnya.
"Kamu siapa? Memangnya nggak ada bangku lain ya, sampai sampai tidak tahu malu duduk di depan kita! Ganggu aja!" seru sang perempuan yang menatap Kaesa dengan mata tidak suka.
"Memangnya kenapa? Kan ini tempat umum, bukan hanya milik kalian berdua, suka-suka aku dong mau duduk di mana, lagi pula apa kalian tadi tidak mendengar kalau aku sudah permisi, sudah sopan kan?! Jadi tidak boleh ngatur selain donator!!" jawab Kaesa yang sudah memegang sendok hendak memulai makan.
"Umum sih umum, tapi apa mata kamu nggak lihat kalau kami duluan yang sudah di sini, lagian aku belum menyetujui, kamu sudah seenaknya aja duduk, pengin godain pacar aku ini kan? Dasar murahan!!"
Dengan senyum menggoda, kaesa selesaikan kunyahan dalam mulutnya.
"Siapa yang mau godain pacar kamu? Aku kan juga mau duduk dengan pacarnya temanku kok, gimana dong?!"
Kaesa masih terus menjawab dengan nada rendah tapi penuh penekanan.
Lelaki yang bernama Dodi itu pun terlihat gerah, saat Kaesa dengan gamblang mengatakan kalau dia duduk bersama pacar temannya.
"Pacarnya teman? Yang mana itu? Jangan ngada-ngada deh!!" seru perempuan dengan pakaian kurang bahan itu.
"Dodi, kamu sebenarnya pacar Ajeng bukan, sih?" tanya Kaesa langsung ke pokok masalah.
"Ajeng?!" seru kedua anak manusia berbeda kelamin itu, bersamaan. Kemudian langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar pertanyaan dari Kaesa.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Kaesa. Wajah datarnya menunjukkan kalau dia sebenarnya sudah paham apa yang terjadi.
"Ajeng itu babunya Dodi! Bukan pacarnya! Mana pantas seorang Ajeng yang berpenampilan seperti babu itu jadi pacar seorang lelaki setampan dan sepintar dia," sahut si perempuan, kasar sekali! Matanya sesekali melirik romantis pada Dodi yang hanya senyam-senyum tak jelas.
"Babu!? Jadi yang mengerjakan semua tugas si lelaki pintar ini dia sebut babu?! Waah hebat sekali Anda!!" ulang Kaesa, dengan nada datar. Namun, kedua alisnya naik sesaat.
"Maksud kamu apa? Siapa yang mengerjakan tugasnya Dodi-"