Cincin Warisan Nenek Bab 5 Di kelas
5/25
Bab 5

Bab 5 Di kelas

"Jeng ...!!"

Panggilan Kaesa dari luar kamar, membuat Ajeng sontak berdiri dari duduknya di tepi ranjang.

Perempuan yang sejak tahu di peralat oleh Dodi, tak henti mengutuk dirinya sendiri itu pun kini memaksakan diri untuk bisa bangkit lagi.

"Ayo!" ajak Kaesa lagi, saat Ajeng sudah berada di luar pintu.

"Kamu beneran mau ikut lagi ke kampus, Sa?" tanya Ajeng, yang berdiri dengan kaki naik ke atas, dan satu tangan memegang tembok, saat dia menggunakan sepatu.

"Iya dong, aku mau dampingi kamu aja, biar tambah semangat," jawab Kaesa yang menaik turunkan alisnya berulang kali, dengan senyum menggoda.

Ajeng terdiam, dan menghela nafas panjang, dia takut marah yang dia pendam meledak bukan pada target yang benar

Pagi itu Lia, Nia, Kaesa dan Ajeng sepakat berangkat ke kampus, bersama, namun ternyata tak cukup sampai di depan fakultas saja, mereka semuanya malah ikut mengantarkan Ajeng hingga ke depan pintu ruang kelas Dodi.

"Kalian tidak usah masuk ke dalam, tunggu di luar saja," ujar Ajeng dengan tangan menggenggam erat map dan beberapa buku tebal yang kemarin Dodi berikan padanya, saat mereka sudah berdiri tepat di depan kelas Dodi.

Tak menunggu jawaban dari temannya, Ajeng langsung masuk ke dalam kelas, hingga tampak olehnya, pak Dosen yang sedang menulis di papan.

"Selamat pagi, Pak!" salam Ajeng, melangkah mendekati pak Dosen, dengan entah kenapa badannya mulai gemetar menahan marah.

"Pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu," jawab Dosen pria muda, berkaca mata itu pun berhenti menulis di papan. Dan malah melangkah mendekati Ajeng, sambil membenarkan letak kaca matanya.

"Saya ijin mengganggu waktunya sebentar karena ingin memberikan ini pada Dodi, Pak."

Ajeng menunjukkan map yang dalam dekapan tangan kanannya kepada pak Dosen.

"Silahkan!" ujar pak Dosen itu dengan wajah ramah.

Dari depan kelas, pandangan Ajeng kemudian menyapu ruangan mencari sosok yang saat ini sangat dia benci.

"Jeng ...!"

Akhirnya Dodi yang paham, langsung mengangkat tangan kanannya.

"Kok lama, sih! Dasar perempuan tak berguna! Sudah lelet, masih saja suka bikin kesel orang, sungguh nggak tahu diri!!" protes Dodi, setengah berbisik. Namun masih dapat terdengar oleh Ajeng, dan teman teman yang duduk di sekitar kursi Dodi.

Ajeng terkejut mendengar kata-kata Dodi yang tajam. Wajahnya memerah, dan dia merasa seperti terpukul oleh angin kencang. Bagaimana bisa Dodi berbicara seperti itu padanya? Apa yang telah dia lakukan hingga harus mendapatkan perlakuan kasar seperti ini?

Sempat terlihat bagaimana raut wajah orang orang di sekitar mereka ketika mendengar apa yang di ucapkan oleh Dodi sesaat setelah Ajeng mendekat.

"Ini, tugasmu! Harusnya tidak kau berikan padaku untuk menyelesaikannya, bukankah menurutmu aku ini hanya perempuan yang tidak berguna!"

Braaagh!!

Ajeng langsung membanting map map yang sebelumnya ia dekap, ke atas meja yang bangkunya di duduki Dodi hingga menimbulkan bunyi bedebum.

Jelas dia sudah tak lagi perduli dengan adanya pak Dosen yang sedang memperhatikan mereka dari arah depan kelas.

Sontak semua pandangan mata mengarah pada mereka berdua.

"Hei, jangan begitu dong Sayang, ada apa denganmu?" rayu Dodi, yang juga terlihat kaget dengan perubahan Ajeng.

Sempat terlihat oleh Ajeng, bagaimana lirikan Dodi masih sempat tertuju ke arah cincin di jarinya.

"Sayang, sayang, najis tau!" serang Ajeng dan jawaban itu membuat seisi ruang kelas tertawa terbahak.

"Nih! Ngapain kamu kasih kan ke aku? Memangnya aku ba–bumu, apa?" ketus Ajeng, tangannya kembali meletakkan beberapa buku tebal ke atas meja Dodi.

"Mau pintar belajar dong, jangan pacaran muluuuu, apalagi sampai melet orang untuk bisa kamu peralat, kamu jahaaaat tahu!!"

"Huuu!"

Terdengar sorakan dari beberapa orang yang saat itu ikut kuliah bersama Dodi.

Dodi tersentak saat mendengar jawaban penolakan dari Ajeng, berulang kali dia melirik ke arah jari perempuan yang saat ini berdiri di depannya, di mana ada cincin terselip di situ.

"Kamu jangan bercanda dong, Sayang. Katanya kamu cinta aku?" rayu Dodi, sikapnya sudah tidak setenang tadi.

"Aku cinta kamu? Sejak kapan? Tahu malu dong jadi orang, gobl*k aja sok sokan masuk fakultas kedokteran, jadi begini kan?? Akhirnya bayar pelet, Lagian kalau kamu beneran cinta aku kenapa mesranya dengan Rika?" serang Ajeng, dengan emosi yang benar benar dia lupakan waktu itu.

Membuat pandangan semua orang di dalam kelas fokus pada seorang wanita yang duduk di deretan paling depan, Rika!

Kembali terdengar sorakan, malah kini lebih ramai lagi.

Kaesa yang melihat kejadian itu dari luar kelas melalui jendela, tersenyum. Di tangan kanannya memegang ponsel yang bergambar wajah Afrin yang melihat dengan mata berkaca kaca.

"Sahabat kita telah kembali, Rin. Alhamdulillah, Alhamdulillah," ujar Kaesa dengan begitu bahagia.

"Dasar lelaki! Leboy!" ucap Ajeng, sambil membalikkan badannya melangkah menjauh, di iringi sorakan untuk yang kesekian kalinya.

"Dan asalkan Bapak tahu, dan juga teman teman semua di sini juga mengerti, mahasiswa ini memberikan saya sebuah cincin yang ternyata di dalamnya sudah berisi pelet, hingga membuat saya tanpa sadar, mau melakukan dan mengikuti semua yang dia mau!"

Dengan lantang Ajeng berkata pada Dosen yang hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dan akibatnya adalah, saya tidak bisa menyelesaikan tugas saya sendiri, dan terancam akan di keluarkan, Namun itu tidak seberapa dibandingkan dengan ucapan teman teman yang menjuluki saya dengan kata ba bu," ujar Ajeng yang entah kenapa saat mengatakan ini tiba tiba saja suaranya jadi serak, dan itu yang membuat semua mahasiswa di ruang kelas itu terdiam seketika.

"Ini, Pak! Cincin milik mahasiswa anda!"

Ajeng meletakkan cincin yang ia bungkus dengan plastik di meja dosen, hingga membuat pak Dosen langsung mengambil dan memeriksanya.

"Tapi cincin ini sepertinya berbentuk sama seperti yang ada di jarimu saat ini? Kamu sedang berkata serius kan?!" tanya pak dosen dengan tatapan penuh selidik.

"Kalau Bapak tidak percaya saya juga punya bukti berupa video cincin itu di buka ringnya sampai kedapatan kertas peletnya, apa bapak mau saya kirimkan?!"

"Ajeng!" teriak Dodi, tangan kanannya mengepal. Tak menyangka apa yang dia lakukan selama ini di bongkar Ajeng di depan kelas, bahkan bukti itu kini berada dalam tangan dosennya.

Ajeng tak menjawab, dia berlalu sambil mengucapkan terimakasih pada pak Dosen dengan gerakan bibir tanpa suara, yang di balas dengan anggukan kepala pak Dosen.

"Ajeng!"

Entah bagaimana bisa Dodi mengejar dan menangkap satu tangan hingga membuat Ajeng membalikkan badannya, padahal langkah perempuan yang sudah berwajah penuh emosi itu sudah meninggalkan pintu kelas.

"Mau apa lagi? Belum puas bikin aku malu?" Ajeng berkata dengan tangan menghentak hingga terlepas dari pegangan Dodi.

"Ajeng kamu salah paham. Apa yang aku lakukan semua itu demi masa depan kita berdua, aku sungguh sungguh sangat mencintaimu!"

Dodi masih terus berusaha merayu Ajeng. Dia harus bisa membuat perempuan yang ada di hadapannya itu kembali patuh padanya, karena berkat Ajeng semua nilainya kini bisa di katakan sempurna.

"Salah paham, apa? Aku punya salah apa sama kamu? Aku punya salah apa?"

Ajeng bertanya dengan penuh tekanan, matanya menatap nanar ke arah Dodi.