Cincin Warisan Nenek Bab 2 Bukti
2/25
Bab 2

Bab 2 Bukti

"Dengar Kaesa! Kamu tidak usah ikut campur urusan aku dengan Ajeng. Itu kalau kau ingin selamat!" seru Dodi, giginya gemeretak menahan emosi, memotong ucapan perempuan yang ada di sampingnya.

"Ayo, kamu tak usah dengarkan apa yang perempuan ini katakan, dia hanya bisa membual saja!!" ujar Dodi yang kemudian segera pergi dengan tangan menarik si perempuan, menyuruh untuk mengikutinya.

Kaesa terdiam, gado-gado di depannya tidak ia sentuh, hanya teh saja yang ia minum pelan-pelan. Entah apa yang ada di pikirannya, ia tiba-tiba berdiri sambil tersenyum. Melangkah mengikuti ke mana tadi Dodi dan si perempuan itu pergi.

"Kita main-main dulu sebentar, Dodi, aku mau tahu seberapa bernyalinya kamu!!" bisiknya pada diri sendiri.

Langkah kakinya ringan dan senyap, mengikuti Dodi dan pacarnya dari jarak yang aman. Mereka menuju ke arah parkiran mobil yang lebih sepi.

Sambil berjalan, Kaesa dengan cekatan mengeluarkan ponselnya, menyalakan aplikasi perekam suara, dan memasukkannya ke dalam saku kemeja dengan mikrofon mengarah keluar.

Sebuah kebiasaan yang ia kembangkan dari latar belakang pendidikannya di bidang teknik, selalu berpikir untuk mengumpulkan data.

"Sayang, kamu kenapa sih? Kok jadi emosi gitu? Siapa sih perempuan tadi?" rengek si perempuan sambil mereka berhenti di samping mobil Dodi.

"Bukan siapa-siapa, cuma teman si cewek aneh itu," jawab Dodi ketus, suaranya terdengar kesal.

"Cewek aneh? Maksud kamu Ajeng? Jadi benar dia yang kerjain tugas-tugas kamu?"

Kaesa menahan napas di balik sebuah pilar besar, semua percakapan itu terekam dengan jelas. "Sudah lah, Rika. Nggak usah dibahas. Dia itu cuma 'babu' sukarela. Manfaatin aja, kan lumayan, aku bisa fokus sama bisnis Papa dan jalan sama kamu," ujar Dodi enteng.

"Cewek lugu kayak gitu gampang dibodohi. Kasih cincin murahan sama kata-kata manis juga sudah senang."

"Hahaha, dasar! Kamu memang pintar, Sayang. Tapi awas loh kalau sampai kamu suka beneran sama si babu itu!"

"Nggak akan lah! Lihat penampilannya saja aku sudah nggak selera. Kamu jauh lebih segalanya."

Tepat saat itu, Kaesa mematikan rekamannya, menyimpan file itu dengan nama 'BUKTI_NYALI_DODI.mp3'. Ia kemudian melangkah keluar dari persembunyiannya dengan tepukan tangan pelan yang ironis.

"Bravo! Bravo! Akting yang luar biasa," puji Kaesa dengan senyum sinis.

Dodi dan Rika tersentak kaget, wajah mereka pucat pasi.

"Kamu?! Ngapain kamu di sini?!" bentak Dodi, kali ini amarahnya tidak lagi bisa disembunyikan.

"Aku? Cuma mau memastikan sesuatu," jawab Kaesa santai, ia menyandarkan tubuhnya ke pilar.

"Tadi di kantin, kamu bilang aku harus hati-hati kalau mau selamat. Aku jadi penasaran, ancaman macam apa yang bisa diberikan oleh seorang pria yang bahkan tugas kuliahnya saja masih dikerjakan orang lain?"

Wajah Dodi memerah padam karena malu dan marah. "Jaga bicaramu, perempuan sialan!"

"Kenapa? Tersinggung karena aku bicara fakta?" Kaesa mengangkat alis.

"Fakta bahwa kamu memanfaatkan sahabatku? Fakta bahwa kamu menyebutnya 'babu' di belakangnya? Atau fakta bahwa cincin yang kamu banggakan itu ternyata cuma alat untuk membodohinya?"

Rika, pacar Dodi, tampak terkejut sekaligus jijik mendengar rentetan kalimat Kaesa. Ia menatap Dodi dengan pandangan menuntut penjelasan.

"Sayang, apa yang dia bilang itu nggak benar, kan?" tanya Rika.

"Dia bohong! Dia cuma mau merusak hubungan kita!" Dodi mencoba berkilah, matanya melotot ke arah Kaesa. "Kamu mau apa sebenarnya? Uang? Bilang saja!"

Kaesa tertawa kecil. "Uang? Maaf, levelmu terlalu rendah untuk bisa membayarku. Aku cuma mau kamu mengakui perbuatanmu di depan Ajeng. Itu saja. Berani?"

"Jangan gila kamu! Jangan pernah bawa-bawa Ajeng dalam masalah ini!" geram Dodi.

"Lho? Kenapa? Bukankah ini semua tentang Ajeng?" tantang Kaesa lagi. "Atau kamu takut? Takut kehilangan 'babu' gratisanmu?"

"Aku peringatkan kamu sekali lagi, Kaesa. Jauhi aku dan Ajeng, atau kamu akan menyesal!" Ancam Dodi sambil melangkah maju.

Kaesa tidak bergeming. "Menyesal? Aku justru akan sangat menyesal jika membiarkan sahabatku terus-menerus diperalat oleh pengecut sepertimu."

Atmosfer di antara mereka begitu tegang. Dodi tampak ingin sekali melayangkan tangannya, namun keraguan di mata Rika dan ketenangan Kaesa yang mengintimidasi membuatnya urung.

"Kita pergi dari sini, Rika!" putus Dodi akhirnya, menarik tangan pacarnya dengan kasar.

"Tunggu, Dod! Aku mau penjelasan!" seru Rika.

"Nanti aku jelaskan! Sekarang kita pergi!" bentak Dodi, mendorong Rika masuk ke mobil dan segera melajukannya meninggalkan parkiran dengan decitan ban yang nyaring.

Kaesa menatap mobil yang menjauh itu dengan tatapan dingin. Ia menghela napas panjang, lalu kembali melihat ponselnya. "Permainan baru saja dimulai, Dodi," gumamnya.


"Dari mana??"

Kaesa tertegun saat merasa seseorang sedang menyapanya ketika dia baru saja hendak kembali ke kantin tadi.

"Nia, Lia, kok kalian bisa ada di sini?" tanya Kaesa, ketika dirinya membalikkan badan dan mengetahui siapa orang yang sudah menyapanya.

"Kebetulan aja kok, Sa. Dari tadi kami melihat kamu berjalan sendiri, memangnya Ajeng ke mana?" tanya Lia.

"Ajeng sedang ada kuliah, tadinya memang punya rencana habis makan mau nungguin Ajeng, sih, kalau kalian berdua mau ke mana?" tanya Kaesa.

"Kita sudah kuliahnya, bagaimana kalau kita bertiga berhenti dulu di kedai bakso itu, sepertinya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ajak Lia yang langsung di setujui oleh Kaesa dan Nia.

"Bagaimana, bukankah kamu sudah melihat sendiri bagaimana sikap Ajeng kepada Doddi?" tanya Lia pada Kaesa. Sesaat setelah dirinya kembali dari memesankan bakso untuk dirinya sendiri dan juga kedua temannya.

Tanpa Ajeng ketahui sebenarnya Lia dan Nia sudah menghubungi Kaesa jauh-jauh hari sebelum dia diajak Ajeng untuk ikut ke kosannya hari ini.

Lia dan Nia jugalah yang karena tak terima atas perlakuan buruk Doddi, hingga memilih untuk mengirimkan beberapa video bagaimana saat Dodi menghina Ajeng di depan banyak orang pada Kaesa. Yang selalu di ceritakan sebagai sahabat dekat oleh Ajeng.

"Iya aku sudah melihatnya langsung, dan, aku juga sudah tahu apa yang membuat Ajeng bisa seperti itu."

Ucapan Kaesa membuat Lia dan Nia membulatkan matanya, hampir bersamaan

"Kamu serius kan Kaesa, kamu tidak sedang berbohong kan?" ujar Nia dengan bersemangat

"Tentu saja tidak, kalau begitu bagaimana kalau hari ini kita buktikan saja apa benar yang di ucapkan oleh orang itu tentang rahasia yang disimpan Doddi hingga membuat Ajeng seperti ini jika hanya ada di hadapannya, kalian mau lihat tidak?!" Kaesa tersenyum penuh kemenangan.

"Memangnya siapa yang sudah memberitahukan mu tentang itu?!" tanya Lia dengan penuh harap.

"Rahasia dong," ujar Kaesa yang kemudian mengangkat ke dua alisnya hampir bersamaan.

Nia hanya bisa terbahak melihat wajah Lia yang tiba-tiba keruh karena di goda oleh Kaesa.