"Minumlah, Jeng!" suruh Kaesa yang menyodorkan sebotol minuman yang belum dibuka segelnya, saat mereka berempat sudah kembali duduk di dalam taksi online yang akan membawa mereka pulang ke kos.
"Aku tidak butuh minum, aku hanya butuh pelampiasan kemarahanku saja!!" sahut Ajeng, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.
Tangannya terkepal erat di pangkuannya, buku-buku jarinya memutih.
Lia, yang duduk di sebelahnya, langsung meletakkan kembali ponselnya dan menepuk punggung Ajeng dengan lembut.
"Sabar, Jeng. Kita semua di sini buat kamu. Kemarahanmu itu wajar kok."
"Wajar? Ini lebih dari sekadar marah, Li! Aku merasa ... bodoh! Jijik! Aku membiarkan diriku diperalat seperti itu! Aku membela dia di depan Kaesa! Aku-" Ajeng tidak bisa melanjutkan kalimatnya, isak tangis kembali mengancam.
"Ssst, sudah," potong Nia dari kursi depan. "Kamu bukan bodoh, Jeng. Kamu korban. Tidak ada yang salah denganmu. Yang salah itu si brengsek Dodi."
Kaesa, yang duduk di samping Nia, menoleh ke belakang. Matanya menatap Ajeng dengan tatapan tajam namun penuh dukungan.
"Kemarahanmu itu energi, Jeng. Jangan dibuang percuma dengan menangis. Kita gunakan energi itu untuk sesuatu yang lebih baik."
"Maksudmu?" tanya Ajeng, menyeka air matanya dengan kasar. "Apa yang bisa kita lakukan? Bapak tadi bilang jangan balas dendam."
"Bapak tadi benar, kita tidak akan balas dendam," jawab Kaesa dengan senyum tipis yang misterius. "Kita hanya akan menuntut keadilan dan memastikan tidak ada korban lain seperti kamu dan perempuan yang diceritakan Bapak tadi."
"Caranya?" tanya Lia, penasaran. Ponselnya sudah siap di tangan, seolah mengantisipasi akan ada rencana besar.
"Kita akan membuat sebuah pertunjukan kecil," ujar Kaesa. "Dan Dodi akan menjadi bintang utamanya, tanpa dia sadari."
Setibanya di kamar kos, suasana yang biasanya penuh canda tawa kini terasa tegang dan penuh konsentrasi. Mereka berempat duduk melingkar di lantai, seperti sedang merencanakan sebuah misi rahasia.
Map-map tugas milik Dodi yang tadi diberikan pada Ajeng tergeletak di tengah-tengah mereka.
"Maaf, Jeng. Yang terjadi sebenarnya adalah, aku terpaksa cerita pada Kaesa tentang perubahan sikap kamu yang selalu mengalah saat di depan Doddi. Aku hanya ingin kamu kembali seperti Ajeng yang kukenal dulu," ujar Nia pada Ajeng.
"Terima kasih ya ... kalian sangat peduli padaku, maaf jika saat aku mengenakan cincin itu, aku sama sekali tidak ingat apa yang sudah kulakukan," ujar Ajeng dengan tatapan mata yang benar-benar mengungkapkan kalau dia berterima kasih kepada Nia dan Lia.
"Tapi bagaimana kalian bisa tahu nomor ponsel Kaesa bukankah aku tak pernah membiarkan seseorang pun membuka atau mengutak-atik ponsel milikku?!" tanya Ajeng dengan penuh selidik.
"Kami seperti maling waktu itu, berusaha masuk ke dalam kamar yang selalu kamu kunci jika kamu mau mandi! Sungguh itu suatu perjuangan yang mengesankan," jawab Lia yang di sambut Nia dengan tertawa terbahak.
Perlahan beragam cerita tentang bagaimana meyakinkan Kaesa juga terucap saat itu, hingga membuat Kaesa yang merasa tersentil ikut tertawa lepas.
"Jadi apakah Afrin juga tahu tentang bagaimana aku di sini kemarin??" tanya Ajeng dengan tatapan yang tak bisa di gambarkan.
Ajeng terdiam menunduk, saat melihat anggukan dari Kaesa.
Bagaimanapun juga Afrin dan Kaesa adalah sahabat dari Ajeng saat masih berseragam putih merah. Ada perasaan bersalah karena selama ini dia jarang sekali memulai komunikasi semenjak dirinya memilih kuliah di tempat yang berbeda.
"Tapi ... kok kamu tahu kalau yang membuat Ajeng berubah ada di cincinnya?" tanya Nia pada Kaesa. Matanya terlihat menyipit, penasaran.
“Kalian ingin tahu bangat atau pengin tahu aja??!”
"Sa, kamu kenapa sih? Bikin aku takut, tahu nggak?" tanya Ajeng cemas.
Kaesa duduk di tepi tempat tidur, menepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Duduk sini, Jeng."
Ajeng menurut dengan ragu, matanya sempat melirik kea rah Lia dan Nia yang juga Tengah memandang ke arahnya.
"Jeng, aku sahabat kamu, kan?" mulai Kaesa.
"Iya, tentu saja. Kamu sahabat terbaikku."
"Dan kamu percaya sama aku, kan?"
"Percaya, Sa. Ada apa sebenarnya?"
Kaesa mengambil napas dalam-dalam.
"Aku mau kamu dengarkan sesuatu. Aku minta, jangan potong pembicaraanku, jangan marah dulu, dan dengarkan sampai selesai. Janji?"
Ajeng mengangguk pelan, wajahnya tegang, matanya kembali melirik kea rah dua teman kostnya yang juga memandangi Kaesa dan Ajeng silih berganti
Kaesa mengeluarkan ponselnya, membuka file rekaman suara tadi. Ia menekan tombol 'play'.
Suara tawa Dodi dan Rika dari kantin terdengar lebih dulu, diikuti oleh cemoohan Rika tentang Ajeng yang seperti 'babu'.
Wajah Ajeng langsung pucat. Tangannya mulai gemetar.
"...Ajeng itu babunya Dodi! Bukan pacarnya! Mana pantas seorang Ajeng yang berpenampilan seperti babu itu jadi pacar seorang lelaki setampan dan sepintar dia..."
Mata Ajeng mulai berkaca-kaca. Ia membuka mulut hendak protes, tapi Kaesa meletakkan jari telunjuknya di bibir, mengingatkan janjinya. Kaesa kemudian memutar rekaman kedua, percakapan di parkiran.
"...Dia itu cuma 'babu' sukarela. Manfaatin aja, kan lumayan... Cewek lugu kayak gitu gampang dibodohi. Kasih cincin murahan sama kata-kata manis juga sudah senang."
Air mata Ajeng akhirnya tak terbendung. Isak tangisnya pecah, namun ia tetap diam, mendengarkan setiap kata yang menyakitkan itu keluar dari mulut lelaki yang dia anggap sahabat.
Ia mendengar bagaimana Dodi merendahkannya, bagaimana ia menyebut cincin itu 'murahan', bagaimana ia mengaku tak punya selera padanya.
Ketika rekaman berakhir, keheningan menyelimuti kamar, hanya dipecah oleh isak tangis Ajeng yang memilukan.
"Jeng..." panggil Kaesa lembut.
Ajeng menunduk, air matanya menetes deras membasahi celananya.
"Jadi, selama ini, a-ku bertingkah seperti seorang babu?" lirihnya, suaranya bergetar hebat.
"Bagaimana bisa semua tugasnya, aku yang kerjakan ... semua waktu yang aku korbankan ... dan di kenal seantero kampus dengan julukan babu?"
Kaesa merengkuh bahu sahabatnya. "Maafkan aku, Jeng. Aku harus menunjukkan ini padamu. Aku nggak tahan melihatmu terus seperti ini."
Lia tak berdiam diri, dia mengelus punggung Ajeng, sedangkan Nia hanya bisa melihat dengan mata yang sudah basah.
"Sakit, Sa-Sakit sekali ...," isak Ajeng, membenamkan wajahnya di bahu Kaesa.
"Aku pikir cincin ini -."
Ajeng menatap cincin plastic itu dengan pandangan nanar. Sangat memalukan !!
Terdengar Nia, Lia dan Ajeng beristighfar bersamaan memeluk Ajeng bersama sama untuk memberikan kekuatan pada sahabat mereka yang rapuh.
“Semuanya sudah selesai, mantra itu sudah tak ada lagi, kan?!” ujar Kaesa dengan wajah penuh semangat.
"Jadi kau mengancamnya dengan rekaman itu kan?" tanya Ajeng, dengan suara serak, hanya ingin mempertegas saja.
"Terpaksa, dan masih kusimpan untuk jaga jaga."
Jawaban Kaesa membuat Nia, Lia dan Ajeng tersenyum kecil.
"Aku punya beberapa video tentangmu, aku ambil karena iseng saja waktu itu, ya ... siapa tahu kamu ingin melihat bagaimana dulu Dodi memperlakukan mu."
Lia terlihat menutup mulutnya, dia merasa bersalah saat mata Kaesa dan Nia membulat ke arahnya, hampir bersamaan.
Ajeng yang semula tersenyum, tiba tiba menundukkan wajah dengan merubah raut seketika.
"Kirimkan ke aku, Lia. Aku ingin tahu." Ajeng meminta.
"Ayo, Lia. Kita beli makan dulu. Videonya bisa di kirim sambil jalan kan. Aku lapar."
Nia tiba tiba berdiri dan langsung menjauh, membiarkan Lia yang kadung mengangguk, menyetujui permintaan Nia dan segera berdiri menyusul Nia yang lebih dulu keluar dari kamar Ajeng.
"Lia, kami nitip juga, yaaa. Nasi, dua bungkus!" teriak Kaesa, yang di jawab oleh Lia dengan sebuah pesan di aplikasi hijau di ponsel miliknya. Bersamaan dengan dikirimnya video berisi betapa memalukan dirinya saat masih di bawah pengaruh cincin.
Mata Ajeng berlinang saat menonton video yang baru di terimanya dari Lia.
Dari yang di hina karena salah mengerjakan tugas, hingga di cemooh oleh teman temannya sendiri karena sudah menjadi 'babu' untuk seorang Doddi.
"Kamu udah lama berteman ma dia, Jeng?" tanya Kaesa, sesaat setelah Ajeng mulai tenang dari tangisnya.
"Waktu itu, cincinku hilang saat di toilet kampus, dan yang menemukannya ternyata dia. Sejak itulah kami dekat," jelas Ajeng. Singkat!!
"Kamu tahu sendiri kan Sa. Kalau cincin ini kesayangan aku. Nah pas cincin yang sama itu ternyata ada di kamar, sejak itu aku jadi bingung, kok ada dua cincin."
Ajeng menyambung penjelasannya, di sela sela isak tangisnya.
"Jahat sekali lelaki itu, dia sama saja dengan membuatmu menjadi budaknya, mungkin dia sengaja mencuri untuk kemudian di kembalikan padamu. Namun, kini dengan niat jelek."
Kaesa mengepalkan tangan menahan geram mengingat yang di lakukan oleh Doddi.
"Terus ... bagaimana selanjutnya, aku masih kesal, aku pengin banget bikin dia malu."
Kaesa benar benar kesal, dia tidak terima kalau Ajeng diperlakukan hina.
"Ajeng, bolehkan kalau aku–"
"Lakukan sesukamu, apa pun itu, aku setuju."
Ajeng langsung memotong apa yang Kaesa ingin ucapkan, dia paham apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu walaupun tidak terucap sempurna.