Cincin Warisan Nenek Bab 3 Cincin
3/25
Bab 3

Bab 3 Cincin

Kaesa kembali ke kantin tempat tadi ia janji menunggu Ajeng, memesan es teh lagi, dan duduk menunggu Ajeng selesai kelas.

Pikirannya menyusun strategi. Menunjukkan rekaman ini begitu saja mungkin akan membuat Ajeng syok dan defensif. Ia harus melakukannya dengan cara yang tepat.

Satu jam kemudian, Ajeng muncul di pintu kantin dengan senyum cerah. "Sa! Maaf ya lama, tadi dosennya nambah waktu sedikit. Kamu belum makan?"

"Sudah tadi," jawab Kaesa singkat. "Ayo, kita pulang."

"Lho, kok buru-buru? Dodi nanti jemput lagi kok," kata Ajeng polos.

Kaesa menatap lekat mata sahabatnya. "Jeng, kita nggak pulang sama Dodi. Kita pulang naik taksi online. Ada yang harus aku bicarakan sama kamu. Penting."

Nada suara Kaesa yang serius membuat senyum di wajah Ajeng perlahan memudar. "Penting? Tentang apa, Sa?"

"Bukan di sini. Ayo," ajak Kaesa sambil berdiri dan menarik tangan Ajeng dengan lembut, dan Ajeng tak mampu lagi menolak keinginan sahabatnya itu.

"Jeng, aku pinjam cincinmu, dong." pinta Kaesa, saat mereka sedang duduk berdua di bawah pohon mangga di halte.

"Buat apa, Sa?" tanya Ajeng dengan lirikan mata yang nggak banget.

"Pengin aja ngerasain, gimana sih rasanya pakai cincin?" ujar Kaesa yang memang sebenarnya tidak suka menggunakan aksesoris. Tapi ini darurat, jadi harus!

"Tapi bukan yang itu, Jeng!"

Kaesa langsung berucap saat melihat Ajeng yang tersenyum, dengan ke dua tangan meraba di balik baju yang dia pakai di bagian dada.

"Kalau yang kau pakai di kalung itu kan dari Mak. Aku takut … boleh pinjam yang di jari kamu nggak, bolehya?" Kaesa kembali merengek.

"Jangan, ini dari Dodi!"

"Nah itu! Ganti dengan cincin yang di kasih Mak, kan modelnya sama." Kaesa kembali memasang wajah penuh harap.

Ajeng terdiam, ada ragu terlihat dari pandangan matanya ke arah Kaesa.

"Ayolah, pleaseee ...," rayu Kaesa, matanya sengaja ia kedipkan berulang kali, persis seperti bocah minta lollipop.

Ajeng mengalah, cincin di jari ia berikan pada Kaesa, sedangkan sebagai gantinya, ia sematkan benda bulat berlubang yang ia lepas dari kalung yang ia pakai.

"Sama persis ya, Jeng?" tanya Kaesa yang terus menerus memperhatikan cincin yang kini terselip di jarinya.

"Hu um," sahut Ajeng, dengan tatapan mata menyipit ke satu arah di depan, sesaat setelah memasang kembali kalung di lehernya yang sudah tak menggunakan liontin.

"Kamu kenapa?" tanya Kaesa, saat melihat sahabatnya memegangi kepala sembari meringis.

"Sedikit pusing, padahal aku tadi nggak apa apa kok!?"

Kaesa tersenyum penuh arti, berharap mantra di cincin yang sudah berpindah tangan ini, tak lagi mempengaruhi sahabatnya.

Suasana hening hingga saat keduanya melihat sosok Dodi dan perempuan yang sama dengan yang tadi Kaesa lihat di kantin, tiba tiba turun dari mobil yang sepertinya sengaja berhenti, dan melangkah mendekat dengan saling bergandengan mesra.

"Jeng … Untung ketemu di sini,” seru Dodi dengan mata melirik penuh dendam ke arah Kaesa, lalu tersenyum penuh arti saat melihat di jemari Ajeng masih ada cincin yang dia berikan.

“Ini tugasku!"

Dodi dengan gampangnya memberikan beberapa map berwarna warni pada Ajeng.

"Ini apa?" tanya Ajeng yang kaget saat di sodori banyak map.

"Tugasku lah .... Sayang, memangnya apalagi?" sahut Dodi dengan senyum yang di buat buat. Sesekali lelaki itu melirik ke arah Kaesa yang juga tengah menatap tajam ke arahnya.

“Dan jangan lupa, rangkuman yang kamu selesaikan kemarin juga di bawa besok, ok Sayang ….”

Ajeng terhenyak bingung, berulang kali dia menatap map yang kini ada di pangkuannya, lalu ke arah Dodi dan perempuan yang kini bergelayut mesra itu, dengan bergantian.

"Aku tinggal dulu, ya Sayang. Bye ...."

Ajeng masih melongo, tak menjawab salam perpisahan yang lelaki itu ucapkan. Matanya masih menatap Dodi yang semakin jauh, dan kemudian pergi dengan mobilnya.

"Ini kenapa, ya?" tanya Ajeng, melirik Kaesa yang juga tengah menatapnya dalam diam.

"Ada apa, Jeng?" tanya Kaesa, karena kasihan melihat Ajeng yang masih bingung.

"Kok aku di suruh ngerjain tugas Dodi, emangnya aku punya hutang apa ke dia, ya?" tanya Ajeng dengan tatapan tak mengerti. Rupanya dia masih mencerna kejadian yang baru saja dia alami.

Berbeda dengan Kaesa dan yang lainnya, ketika mendengar Ajeng bertanya, senyum ke tiga perempuan itu seketika melebar dengan tatapan mata takjub.

"Selamat datang Ajeng! Selamat kembali ke alammu?" sorak Kaesa yang bahagia, langsung memeluk Ajeng dengan mata berkaca kaca.

"Alhamdulillah .... Alhamdulillah!!"

Ajeng menengok ke arah belakang punggungnya tampak Nia bertepuk tangan, bersorak, dan Lia yang memegang ponsel dalam keadaan sedang merekam. Mendekat dan langsung memeluknya.

"Maksud kalian apa? Memangnya aku dari mana?" tanya Ajeng, yang masih heran melihat sikap ke tiga temannya, yang memandanginya dengan tatapan bahagia.

"Sudahlah! Ayo berangkat!" ajak Kaesa pada Ajeng dan kedua teman kosnya. Saat melihat mobil yang mereka tunggu sudah datang.

"Mau kemana, Sa?" tanya Ajeng saat melihat kode mobil yang mereka naiki, bukan yang biasa lewat kosnya.

Kaesa tak menjawab, dia hanya meletakkan telunjuk di kedua bibirnya. Meminta Ajeng diam, dan hanya boleh ikut.

Hingga mobil online yang mereka pesan, berhenti di sebuah pasar.

"Ngapain ke sini?" tanya Ajeng, yang ikut turun dari mobil.

Tampak oleh mereka, sisi kanan dan kiri tempat mereka turun, banyak terdapat toko beretalase berisi perhiasan emas.

"Pak, boleh minta tolong nggak?" pinta Kaesa, di sebuah toko yang sepertinya menjual sekaligus memperbaiki perhiasan.

"Iya, Non," sahut seorang lelaki separuh baya, berkemeja kotak kotak biru, langsung melangkah mendekat dari balik etalase.

"Tolong ini di torehkan, mau lihat isi di dalamnya." Kaesa menunjukkan ring cincin milik Ajeng, yang tadi ia pinjam.

"Hei! kok di rusak?"

Ajeng protes. Matanya melebar menatap Kaesa.

"Ssst!"

Bukan Kaesa yang menjawab, tapi Nia yang memintanya diam.

"Memangnya ada apa sih, Sa?" tanya Ajeng tak memperdulikan permintaan Nia.

"Makanya ini mau di lihat, ada apa di dalamnya."

Kaesa menjawab tapi sambil menaikkan kedua bahunya, bersamaan.

Tanpa banyak bicara, Bapak itu pun kemudian menggunakan alat yang biasa dia gunakan untuk membuka selonsong cincin.

"Astaugfirulllah!"

Si Bapak mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang dilipat sedemikan rupa.

"Ini Mbak isinya," jawab si Bapak yang memberikan isi dari selongsong cincin.

"Tolong Bapak yang buka, mau kan?" pinta Kaesa, walau pun dia seorang pemegang sabuk hitam, tapi untuk masalah ginian rupanya dia sedikit gedek juga.

Si Bapak kemudian membuka lipatan kertas, hingga tampak oleh semuanya, di kertas tersebut bertuliskan dua kalimat dengan tulisan aksara Jawa di dalamnya.

"Mungkin ini pelet pengasihan ya? Bau -bau minyak yang di pakai sangat saya kenal, Non?!"

Si bapak bertanya sekaligus menjawab menjawab sendiri pertanyaannya.

"Maksud Bapak?" tanya Ajeng dengan mata menyipit, entah kenapa dirinya seperti tersengat mendengar isi dari cincin yang sangat dia jaga itu.

Entah kenapa aura saat cincin itu terbuka terasa lebih berbeda.

"Sebentar ...." ujar si Bapak yang kemudian masuk ke dalam.

Si bapak masuk ke dalam, dan tak lama kemudian kembali dengan tangan membawa lagi satu cincin berbeda yang dalam keadaan terbelah pula.

"Seminggu yang lalu, juga ada yang datang ke sini, minta di belah juga. Dan hasilnya pun sama. Ini!"

"Hanya saja dia juga di beri minyak yang katanya buat parfum."

"Astaugfirulllah!"

"Kalo bapak boleh kasih saran, lebih baik kalian kembalikan cincin ini ke pada si pemberi, tidak usah di balas. Biar Allah saja yang punya kuasa membolak baliknya."

Kaesa dan Nia langsung memeluk Ajeng yang terisak, sedangkan Lia yang terus menerus merekam apa yang terjadi, hanya bisa mengusap matanya yang ikut basah.

Terjawab sudah apa penyebab perubahan sikap Ajeng selama ini.

"Kita pulang sekarang, sepertinya kamu butuh istirahat, kita selalu ada di sampingmu, tenang saja, ok!!" ujar Lia pada Ajeng, yang diiyakan oleh Nia dan Kaesa.

Kaesa segera menyelesaikan urusannya dengan si bapak reparasi perhiasan. Kemudian pamit berlalu pergi bersama ketiga temannya.

"Minumlah, Jeng!" suruh Kaesa yang menyodorkan sebotol minuman yang belum dibuka segelnya.

"Aku tidak butuh minum, aku hanya butuh pelampiasan kemarahanku saja!!"