Nayara, seorang influencer muda dengan jutaan pengikut, menerima tawaran kontrak untuk berpura-pura menjadi kekasih Elvano seorang politikus muda yang perfeksionis dan ambisius. Bagi Elvano, hubungan sandiwara ini merupakan jalan pintas untuk menaikkan pamornya dimata publik, sementara bagi Nayara, ini adalah cara untuk menjaga stabilitas karier dan financialnya.
Awalnya, semua berjalan dengan lancar, sesuai dengan skenario yang sudah dirancang. Tampak mesra didepan kamera membuat publik heboh, dan nama mereka pun terus menjadi sorotan, bahkan sudah memiliki fans tersendiri, yang selalu setia membagikan kegiatan mereka berdua. Namun, dibalik sorotan lampu kamera, keduanya kerap bertengkar karena sifat yang bertolak belakang. Pertemuan yang intens membuat pertengkaran berubah menjadi keakraban, hingga muncul peraaan yang tak pernah mereka duga sebelumnya, rasa cinta mulai tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
Ketika media gosip mulai mencurigai kebenaran hubungan mereka, tekanan dari publik, manajemen, bahkan keluarga membuat segalanya menjadi kacau. Rahasia kontrak terancam terbongkar, menghancurkan reputasi Elvano dan Nayara dimata publik, fans tercerai berai, ada yang kecewa dan menghujat keduanya, ada juga yang masih setia mendukung mereka berdua. Disisi lain sang mantan kekasih Elvano juga hadir ditengah-tengah hubungan mereka, menjadi benteng yang memperkeruh suasana. Para pria pemuja Nayara juga tak ingin tinggal diam, mereka mencari kesempatan agar bisa merebut Nayara dari Elvano.
Kisah mereka berpuncak di sebuah konferensi pers besar. Ribuan mata menunggu pernyataan Elvano. Apakah tabir akan terbongkar? Akankah Elvano dan Nayara tetap bersandiwara?
Tag/Kata Kunci (opsional): Kawin Kontrak, Kontrak Perasaan, Romansa
BAB 1 : SOROT KAMERA
Sorak sorai penonton terdengar menggema disebuah aula mewah yang menjadi jantung ibu kota, kilatan kamera berpendar dari berbagai sudut, menyinari sepasang muda mudi yang melenggang diatas karpet merah, seluruh perhatian tetruju kearah mereka. Wajah tampan yang telah lama tak tampil diacara modeling kini bergandengan tangan dengan seorang gadis cantik mengenakan gaun broken white dengan selendang menutupi rambut hitam yang terurai. Senyuman tak pernah pudar dari keduanya, sungguh pasangan yang serasi, pesona mereka berhasil mencuri perhatian semua orang.
Sesekali sang pria memandang dengan tatapan sendu dengan makna tertentu, sang Wanita terlihat salah tingkah, namun dia tetap professional menjalankan perannya.
“Nayaraaaa!”
“Uuuuh cantiknya!”
Suara teriakan terdengar menggema, dari arah Tengah seorang pria mencuri pandang kearah Nayara. Pria itu memperlihatkan senyum yang lebar namun penuh arti. Sekelilingnya berusaha mencuri perhatian Nayara, namun gadis itu lebih fokus untuk beratraksi dengan pria tampan yang berdiri disampingnya.
“Aaaakh,” teriak Nayara, ujung hils nya tanpa sengaja menginjak gaun yang dia kenakan, untung saja Elvano dengan sigap menangkap tubuh mungil Nayara. Sesuatu yang tidak ada di script pun terjadi, hal itu diluar kuasa mereka, namun mampu menambah bumbu romansa, membuat semua orang terpesona, ada tangan yang mengepal keras namun bersembunyi ditengah keramaian. Ada pula yang bertepuk tangan kegirangan merasa usahanya akan berjalan dengan sukses.
Nayara Kembali berdiri dengan sempurna, namun tangan Elvano tetap menggenggam erat tangan mungilnya. Dagunya sedikit terangkat, sebuah senyuman dilemparkan, lalu memberikan lambaian kecil menyapa semua orang. Mereka berdua kompak membalikkan badan dan meninggal panggung yang megah, para wartawan merasa puas denga napa yang mereka dapat, setidaknya beberapa waktu kedepan mereka tak akan pusing mencari berita lagi.
Hal yang dulunya hanya sebuah mimpi bagi Nayara kini menjadi kenyataan, siapa sangka sang bintang yang dia idolakan selama ini kini berada didekatnya, walau hanya sebatas proyek Bersama.
“Luar biasa! Kalian luar biasa!” Seorang wanita menyambut kedatangan mereka dibelakang panggung.
“Ini minum dulu Nay!” Gadis seumuran Nayara datang menghampiri dengan menyodorkan sebotol air mineral.
“Thanks Diva!” Ucap Nayara berterimakasih kepada asistennya. Tangan kecilnya berusaha membuka tutup botol air mineral namun dia merasa sedikit kesulitan. Elvano yang mengetahui Nayara kesulitan langsung merebut air mineral itu dari tangan Nayara, dan membukakan tutupnya.
“Makasih Kak!” ucap Nayara canggung, sudah lama sekali tidak ada pria yang memperlaukannya sehangat ini.
Wanita dewasa yang berada disamping pria itu tersenyum sumringah, seperti ada misi yang berhasil diselesaikannya, melihat Nayara dan Elvano semakin dekat senyumannya pun semakin merekah.
“Oh iya, siap ini kalian akan tampil untuk acara penutup, lalu nanti ada jumpa pers dengan awak media.” Jelas wanita yang biasa dipanggil mbak Laras itu, beliau Adalah asisten sekaligus kerabat Elvano, lebih tepatnya Laras adalah adik kandung ibunya Elvano.
“Jumpa pers? Untuk apa mbak?” Elvano lebih terbiasa memanggilnya dengan sebutan mbak, karena usia mereka yang tidak terlalu jauh, bisa dibilang dari kecil mereka telah tumbuh dan berkembang Bersama.
Ujung alis Laras sedikit terangkat, “Jelas untuk polesan dong Vano! Awak media pasti bakalan wawancarain kalian dan menanyakan tentang proyek hari ini.” Laras berusaha untuk membuat Vano mengerti, namun pria itu terlalu polos, maklumlah sudah lama dia tak terjun didunia hiburan, selama ini dia hanya fokus didunia pendidikan dan mengejar karir politiknya.
“Nay, kamu siapkan?” Tanya Laras pada Nayara.
Nayara mengangguk pelan, baginya sorak sorai, kamera, pujian, ddan hujatan adalah music yang menjadi latar belakang kehidupannya. Namun, jauh didalam hatinya, Nayara tahu betul jika semua itu hanyalah sandiwara panggung belaka.
Sorak sorai Kembali terdengar bergemuruh, Nayara jalan berdampingan dengan duo twins si pemilik projek fashion show itu. Elvano berjalan disampingnya, merea semua berdiri segaris dengan senyuman yang berteberan. Suara tepuk tangan Kembali terdengar, salah satu owner duo twins menggandeng tangan Nayara, mereka berjalan cepat diatas karpet merah, Elvano berusaha menyeimbangkan Langkah kakinya dengan Nayara yang meninggalkannya.
Beberapa buket bunga dengan ukuran besar dan mewah mulai naik keatas panggung. Salah satu buket berwarna biru, dengan bunga perpaduan putih dan pink diberikan ajudan Elvano kepadanya, pria itu pun langsung memberikan buket bunga kepada Nayara yang berada disebelahnya, dan moment tersebut pun berhasil diabadikan oleh kamera penonton.
Wajah Nayara bersemu merah dengan kepala yang sedikit menunduk, jantungnya berdebar kencang, nafasnya memburu. Siapa yang tidak akan salah tingkah, jika crush yang selama ini diidam-idamkan kini berada disampingnya dan melakukan hal yang tak terduga.
Elvano jalan berdampingan dengan Nayara meninggalkan panggung yang megah, dengan ditemani Diva, Laras dan beberapa ajudan Elvano. Para awak media mengejar mereka, dan memburu mereka dengan berbagai macam pertanyaan.
“Nayara lihat sini! Elvano!”
Cekrakkk cekreekkkkk
Kilatan dan suara kamera terdengar berisik, namun keduanya tetap berusaha menjaga senyuman.
“Nayara kalau boleh tau ada hubungan apa sebenarnya dengan Elvano?” Salah satu wartawan langsung melemparkan pertanyaan itu kepada mereka.
“Hmmm, hubungan apa ? Kita hanya sebatas projek!” Ucap Nayara canggung.
“Lalu buket tadi? Apakah itu buket dari Elvano untuk Nayara?” Tanya wartawan lagi.
“Iya, ini sebagai tanda kesuksesan kerja sama kita hari ini.” Kali ini Elvano yang menjawab.
“Apakah ada maksud yang lain mas Vano?” Tanya wartawan lagi, mereka masih belum puas dan ingin terus mengulik Nayara dan Elvano.
“Doakan aja yang baik-baik, pokoknya semua doa yang baik kita aminkan aja.” Jawab Elvano penuh misteri.
“Udah ya! Kita mau pulang dulu, udah capek! Mas Vano harus istirahat besok ada acara di dapil.” Kali ini Laras berusaha mengambil alih, para ajudan Elvano membuka jalan, agar mereka bisa lewat dan meninggalkan kerumunan itu.
“Satu lagi mas! Mbak!” para wartawan berusaha membuat mereka tetap tinggal namun sepertinya sia-sia, karena ajudan Elvano lebih sigap dibandingkan mereka.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam telah berada dihadapan mereka, Laras membawa Nayara masuk kedalamnya demikian juga dengan Elvano.
“Yah, Nay!” Keluh Diva yang ketinggalan karena supir Elvano tak tau jika Diva akan ikut Bersama mereka.
“Lah kamu ditinggal mbak?” Ucap pria berseragam hitam yang kini sudah berdiri disamping Diva.
“Mbak! Mbak! Memangnya tukang jamu apa?” gerutu Diva, dia terlihat kesal karena sahabat sekaligus bos-nya pergi begitu saja, mana hari ini mereka tidak membawa mobil dan supir pribadi sendiri.
“Cekh, mau bareng nggak?” tanya pria tengil itu pada Diva. Wanita itu mencoba untuk merapatkan kacamatanya agar lebih jelas mengetahui siapakah lawan bicaranya saat ini.
Diva membuang nafas lega, saat sadar jika pria itu adalah salah satu asisten Elvano. “yaudah boleh deh!” jawabnya santai dan ikut pria itu berjalan menuju sebuah mobil, tentunya mereka tak hanya berdua, karena ajudan Elvano berjumlah tiga orang.
“Sepertinya proyek kita akan berhasil! Pokoknya pesan mbak, mulai sekarang kalian harus bisa menjaga image didepan publik, dan jawab pertanyaan yang penting-penting aja, media pasti akan terus mengulik hubungan kalian berdua.” Pesan mbak Laras dengan pandangan tak pernah lekat dari macbooknya.
"Apa yang dimulai dari kesalahan, mungkinkah akan membawa kebahagiaan?”