KONTRAK PERASAAN KONTRAK PERASAAN
4/22
Bab 4

KONTRAK PERASAAN

Siang itu, langit biru membentang luas. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat suasana sebuah tempat wisata terasa nyaman. Nayara berdiri didepan pintu masuk sambil memegang kamera vlogging kecil yang baru ia beli. Wajahnya sangat bersemangat namun rasa dia juga terlihat sedikit gugup. Diva tersenyum menggodanya. “Sudah, anggapnya ini jackpot. Kapan lagi ada moment sebaik ini. Kamu harus bersyukur Nay!” Bisik Diva. “Cekh, kamu nih Div!” Gerutu Nayara, namun tak dapat dipungkiri, kalua sebenarnya Nayara sangat menikmati alurnya. Saat sedang asyik mengabadikan berbagai macam moment, dan menikmati indahnya pemandangan, Diva menepuk pundak Nayara, beberapa orang mendekat kearah mereka. Senyuman yang terpancar diwajah Nayara, semakin melebar. Elvano dengan asisten dan ajudannya datang menghamiri mereka. Pria itu terlihat sangat tampan dengan kacamata berwarna gelap, Ia mengenakan kaos berwarna putih berkerah, yang dipadukan dengan celana panjang berwarna gelap. “Hay, Nay! Sudah lama nunggu?” Tanyanya dengan suara maskulin. “Hay kak! Hmmm, belum terlalu lama.” Nayara terlihat canggung menyalami mereka satu persatu. Keakraban terlihat dari gaya mereka berbicara, sorot kamera membidik setiap gerak gerik. “Sudah siap jadi Bintang hari ini?” Bisik Elvano ditelinga Nayara. Nayara terkekeh. “Bukannya kamu yang mau jadi Bintang kak?” Bisiknya tak mau kalah. Nayara merasa tak percaya jika dia dan Elvano berada sedekat ini, bahkan kali ini Elvano tak terlihat tegang seperti biasanya. Mbak Laras sangat berhasil membriefing pria itu, hingga bisa membentuk suasana yang sangat cair. Elvano mengambil kamera Nayara dengan santai. “Sini, biar aku yang pegang. Biar kita kelihatan natural. Ayo, Naya, senyum dulu.” Klik. Kamera mulai merekam. Elvano memposisikan kamera sehingga wajah mereka berdua terlihat jelas. “Halo semua! Hari ini aku sama Nayara lagi main di tempat wisata. Kita bakal nyobain semua wahana seru!” katanya riang. Nayara ikut melambai ke kamera, senyum manisnya membuat pipinya sedikit bersemu. “Semoga kalian suka vlog kita, ya.” Mereka memulai petualangan dari wahana perahu bebek di danau buatan. Elvano sengaja duduk di sebelah Nayara, mendayung pelan sambil sesekali meliriknya. “Lihat, Naya. Kalau sama aku, kamu bisa duduk diam begini, biar aku aja yang dayungin sampai ujung sana. Kamu tinggal duduk cantik aja,” katanya dengan nada menggoda. Nayara tertawa kecil. “Kamu ini, bikin aku merasa kayak putri saja.” “Memang kamu putri kok… putrinya vlog hari ini.” Elvano tersenyum lebar, tatapannya seolah tidak pernah lepas dari wajah Nayara. Setelah itu, mereka pindah ke wahana rumah kaca. Kamera merekam tawa mereka ketika tersesat di lorong cermin. Setiap kali Nayara hampir menabrak kaca, Elvano dengan sigap menarik tangannya. “Hati-hati, sayang. Kamu nanti luka,” ucap Elvano lembut, namun tak terlalu jelas saat mengucapkan kata saying, membuat semua orang penasaran. Tatapan itu, tatapan yang hangat, penuh perhatian membuat Nayara sesaat terdiam. Rasanya semua hiruk pikuk di luar sana tak ada artinya dibanding momen ini. Andai saja ini kenyataan, Nayara pasti menjadi orang yang paling bahagia. Mereka menutup hari dengan menikmati wahana bianglala. Kamera tetap menyala, merekam pemandangan kota dari atas sekaligus wajah Nayara yang diterpa cahaya matahari sore. “Indah kan? Langit senja berwarna jingga, menjadi perpaduan yang menarik, sandekala dengan hiasan burng gereja yang berterbangan.” “Romantis!” Gumam Nayara pelan. “Apa Nay?” Tanya Elvano yang ingin memastikan pendengarannya. “Hmm, bukan apa-apa kak!” Jawab Nayara canggung. “Kamu suka berada diketinggian kak?” Tanya Nayara mengalihkan pembicaraan. Elvano menggelengkan kepalanya. ‘Nggak terllau, anginnya bikin pusing, kalua kamu Nay?” Elvano bertanya balik. “Sama! Aku lebih suka main dialam bebas, main air, pasir, atau apapun itu, dibandingin harus berada ditempat tinggi.” Jawab Nayara santai, dia mulai terbiasa berada disamping Elvano. “Terus ini kenapa mau naik?” Tanya Elvano dengan nada mengejek. “Ya, ini tuk karena…” “Karena apa?” Elvano dengan sengaja menggoda Nayara. “Ih, nyebelin!” Gerutu Nayara kesal. Karena tidak mungkin jika Nayara berterus terang, bahwa semua ini adalah rencana Laras. Bahkan Nayara sempat menolak untuk naik wahana bianglala, tapi Laras tetap bersikeras memaksanya. Elvano tersenyum puas, dia bahagia bisa mengerjai wanita cantik, yang selalu terlihat mandiri dan seorang pekerja keras. Selama ini, mereka memang sering bertemu dibeberapa moment, namun jarang sekali mereka berdua bisa berbincang-bincang seleluasa ini, apalagi hanya berdua. “Naya…” suara Elvano terdengar pelan, kali ini lebih serius. “Kamu tahu kan, aku senang banget bisa ada di sini sama kamu.” Nayara menoleh, tersenyum tipis. Ia tak yakin dengan pendengarannya. “Apa Dia serius? Apa ini ada didalam naskah?” Batin Nayara bertanya-tanya. “Aku juga. Rasanya seperti… dunia lagi berhenti sebentar.” Jawab Nayara seenaknya, berusaha untuk mengimbangi Elvano. Elvano hanya menatapnya, lama. Kamera menangkap momen itu dengan sempurna. Sepasang mata yang saling berbicara tanpa kata. “Jangan dong! Nanti kalau dunianya berhenti, cerita kita gantung gitu aja, nggak ada kelanjutannya lagi.” Ucap Elvano menggoda Nayara. “Cekh!” Nayara berdecak kesal, wajahnya bersemu merah, membuang pandangan kearah lain. Saat bianglala mulai turun, Nayara merasa hatinya hangat. Vlog ini awalnya hanya ide untuk mengalihkan isu miring, tapi sekarang… ia mulai bertanya-tanya apakah rasa nyaman ini hanya sandiwara belaka. Harapannya jika ini bukanlah sekedar sandiwara. Nayara mulai nyaman berada disamping Elvano, pembawaannya tenang. Bahkan dia berhasil melupakan semua keluh kesahnya. Laras dan yang lainnya menyambut kedatangan mereka. “Gimana seru nggak? Kamu kenapa Nay? Kok wajahmu merah gitu?” Tanya Laras curiga. “Hmmm, nggak apa-apa kok mbak! Cuma, laper nih!” Jawab Nayara canggung. “Kamu laper Nay? Kok nggak bilang? Yaudah mau makan dimana? Ada saran ? Atau kamu lagi pengen apa?” Elvano terlihat sangat cerewet, membuat Laras melayangkan tatapan curiga kearahnya. Sudah lama sekali Laras tak melihat tingkah Elvano yang seperti ini, biasanya dia selalu menjaga image didepan semua orang terlihat cool dan berwibawa. “Belum tahu nih! Enaknya dimana ? Mbak Laras ada saran nggak?” Nayara sengaja melemparkan pertanyaan kepada Laras, untuk menyembunyikan rasa canggungnya. “Ada sih, tapi nggak yakin kamu bakalan suka atau nggak!” Jawab Laras dengan tatapan misterius kearah Elvano, seolah sedang merencanakan sesuatu. “Aku ngikut aja mbak! Kemana aja boleh!” Ucap Nayara santai. Karena memang Nayara bukan anak yang pemilih, dia terbiasa makan dimana saja dan tidak banyak protes. “Oke! Kalau begitu mbak yang memutuskan!” Laras terlihat sangat percaya diri, namun Elvano menatapnya penuh curiga. Jika Laras sudah sangat bersemangat itu artinya ada sesuatu yang sedang direncanakannya. Apapun itu Elvano hanya bisa berharap jika rencana Laras, tak akan membuatnya kualahan. Mereka semua meninggalkan tempat wisata, dan berjalan menuju parkiran. Kali ini Nayara sebuah mobil dengan ELvano sedangkan Laras, Diva dan ajudan Elvano masuk kedalam mobil yang lain. “Kamu yakin dengan pilihan mbak Laras?” Tanya Elvano pada Nayara. Gadis cantik itu mengangguk yakin, bahkan diwajahnya taka da sedikitpun kecurigaan.