KONTRAK PERASAAN KONTRAK PERASAAN
3/22
Bab 3

KONTRAK PERASAAN

Suasana pagi menjelang siang yang menyenangkan untuk Nayara, tidak ada jadwal yang padat untuk hari ini. Dia menghabiskan waktu bercengkrama diruang Tengah sambil menonton siaran televisi, bersama kedua orang tuanya.

Ruang tengah terasa hangat. Lampu gantung berwarna kuning temaram menciptakan suasana nyaman, seolah dunia di luar dinding rumah tak akan pernah mengusik. Nayara duduk di sofa, kakinya dilipat rapi ke samping, tangannya piawai memainkan gawai. Televisi menyala menayangkan acara berita. Di sebelahnya, ayahnya duduk sambil membaca koran, sesekali melirik layar. Ibunya memeluk bantal kecil, tampak santai setelah seharian beraktivitas.

Awalnya, semua terasa biasa saja. Nayara bahkan sempat tersenyum Ketika melihat ibunya yang sangat antusias mendengarkan berita hiburan membahas film terbaru yang sedang viral. Tapi mendadak layar televisi berganti, menampilkan breaking news. Sebuah headline besar muncul:

“BIMA ALFAREL UNGKAP KEDEKATANNYA DENGAN NAYARA – AKANKAH PRIA TAMPAN ITU MENJADI PELABUHAN TERAKHIRNYA?”

Sontak Naraya menjatuhkan handphone yang sedari tadi digenggam. Hati Nayara seketika menciut. Ia menatap layar dengan alis berkerut. Gambar seorang pria dengan senyum aneh memenuhi layar. Ia mengenali wajah itu, bukan karena mereka dekat, tetapi karena pria itu pernah membuat heboh dengan kelakuan gilanya. “Ini apa lagi…” gerutu Nayara kesal. Rosalinda dan Dimas Raditya, orang tua Nayara tak kalah terkejutnya menyaksikan berita yang Tengah disiarkan.

Suara reporter terdengar jelas, seakan berita yang mereka bacakan sudah pasti kebenarannya. “Dalam wawancara eksklusif hari ini, pria yang dikenal kontroversial ‘Bima Alfarel’ kembali membuat pernyataan mengejutkan. Ia mengaku memiliki hubungan istimewa dengan seorang wanita, walaupun Bima tidak menyebutkan secara spesifik siapa wanita itu, gadis cantik bernama Nayara digadang-gadang menjadi pujaan hatinya. Bima bahkan tak membantah hal tersebut, hal ini membuat netizen semakin yakin jika keduanya memang sedang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.” Dimas Ayah Nayara menurunkan koran yang sedari tadi di abaca, lalu menatap anak wajah anak gadisnya. “Ini, maksudnya kamu Nay?” suaranya terdengar berat, penuh tanda tanya. Jantung Nayara berdegup kencang. “Pah, aku bahkan tidak kenal dengan dia! Aku sama sekali tidak tahu dia siapa? Apa maunya! Bagaimana bisa orang berpikir kalau akua da hubungan sama dia!” Tangan Rosalinda bergerak mengelus punggung Nayara, mencoba menenangkan. “Tenang, Sayang. Jangan terpancing emosi. Kita bicarakan baik-baik.” Namun, Nayara sudah tidak bisa duduk diam. Dia berdiri, berjalan mondar mandir diruang Tengah. Wajahnya merah padam menahan amarah yang bergejolak. “Dia pikir siapa dia? Apa dia nggak sadar kalau ini bisa merusak reputasiku? Semua orang bisa salah paham! Aku bahkan takut teman-temanku melihat berita ini!” Dimas menghela napas panjang. “Mungkin dia hanya mencari perhatian. Orang seperti itu senang sekali membuat sensasi.” “Tapi kenapa harus aku yang jadi sasarannya?” Nayara memukul pelan bantal sofa, frustasi. “Aku bahkan tidak pernah menatap wajahnya secara langsung. Ini gila!” Televisi masih menayangkan cuplikan wawancara, namun Nayara mematikan layar dengan kesal. Ruang tengah mendadak hening, hanya terdengar napas beratnya. Dimas mendekati Nayara, menepuk bahunya. “Kita cari cara untuk membersihkan namamu. Jangan biarkan orang seperti dia menguasai ceritamu. Kalau perlu, kita hubungi media untuk klarifikasi.” Nayara menatap Dimas dengan bola mata berkaca-kaca. “Iya Pah! Aku nggak mau berita ini terus-terusan muncul, dan jadi topik pembicaraan semua orang. Aku benar-benar muak dengan semua ini. Aku nggak mau orang-orang berpikir jika aku punya hubungan sama dia. Itu bahkan tidak akan pernah terjadi. Cukup sekali aku membuat kesalahan!” Rosalinda ikut memeluk Nayara. “Kamu kuat, Nak. Jangan biarkan berita ini menghancurkan hatimu. Kita hadapi bersama-sama.” Nayara menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Di dalam hatinya, ia bertekad untuk tidak membiarkan kebohongan itu berkembang. Entah bagaimana, ia harus mencari cara agar dunia tahu kebenaran. “Assalamualaikum..” Diva baru saja tiba, pandangannya langsung membaca suasana. Sepertinya dia terlambat, Nayara pasti sudah melihat berita yang beredar. “Waalaikumsalam, Diva!” Rosalinda dan Dimas menyambutnya hangat.

“Om dan tante sudah lama sampai?” Tanya Diva basa basi. “Duduklah nak!” Ucap Rosalinda. “Hmm, Diva boleh pinjam Naya bentar nggak Tan? Ada masalah kerjaan yang harus dibahas.” Ucap Diva canggung, dia taky akin Rosalinda dan Dimas akan melepaskan mereka begitu saja. “Boleh, kebetulan Om dan tante mau jemput Noah, sebentar lagi jadwalnya pulang sekolah.” Ucap Dimas. Kebetulan sekali, Diva bisa bernafas lega. Karena bisa lebih leluasa berbicara dnegan Nayara. “Titip Nayara ya Diva.” Ucap Rosalinda sebelum pergi meninggalkan rumah anaknya. Diva mengangguk pasti, dia pun mengantar Dimas dan Rosalinda kedepan rumah. Setelah memastikan orang tua Nayara sudah pergi, Diva buru-buru mendekati Nayara. “Nay, kamu nggak usah khawatir! Mbak Laras sudah ada solusinya.” Ucap Diva percaya diri. “Mbak Laras?” Tanya Nayara dengan dahi berkerut, penuh tanya. Diva menggukkan kepala, tangannya piawai memainkan tablet dan memperlihatkan sesuatu kepada Nayara. Segaris senyuman terpampang diwajah Nayara. Amarahnya perlahan memudar. Kali ini dia tidak berjuang sendirian, melainkan ada tokoh lain yang akan membantunya untuk membalas dendam. “Aku tidak akan membiarkan pria itu terlalu lama dijagat maya. Lihat saja nanti!” Gumam Nayara namun masih bisa terdengar oleh Diva. Diva hanya bisa bergeleng kepala, melihat kelakuan Nayara. Sejujurnya, Diva kasihan melihat sahabatnya yang terlalu banyak ditimpa ujian, Nayara pantas bahagia, banyak pil pahit yang sudah ditelannya, semoga suatu hari nanti Nayara bisa bertemu dengan pria yang benar-benar bisa melindunginya. Waktu terus berlalu, rencana Nayara dan Diva semakin matang. Berita heboh itu masih sering berseliweran, Nayara hanya mengabaikannya, bahkan saat wartawan meminta tanggapan darinya. Nayara berkilah, dan memilih lari secara misterius, hal itu merupakan salah satu dari bagian rencananya. Disisi lain, Bima yang memang sedang mengincar popularitas, semakin sering tampil dilayar kaca televisi, menemui wartawan, dengan senyum sumringahnya. Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Hari ini pagi-pagi buta, Nayara dengan ditemani Diva sudah bersiap menuju sebuah tempat. Sebuah mobil mewah masuk kehalaman rumahnya, tak lama seorang pria berseragam serba hitam turun, dan membukakan pintu untuk Nayara dan Diva. Mereka bergerak menuju sebuah tempat istimewa. Hati Nayara menggebu-gebu, tak sabar ingin melakukan sesuatu. Hari ini juga, Nayara yakin bisa merubah pandangan publik, dan berita gila itu tak akan beredar lagi. Setelah melewati perjalanan yang cukup Panjang, mereka akhirnya sampai disebuah tempat. Mobil itu parkir didepan sebuah gedung, Nayara dan Diva turun dari dalamnya. Mereka berjalan santai menuju sebuah tempat. Seorang pria yang sedari tadi bertugas memegang kamera, mengabadikan semua kegiatan Nayara berjalan mengikuti mereka berdua. Langkah kaki Nayara terlihat sangat bersemangat, demikian juga dengan Diva. Senyuman manis semakin terpancar, saat dari kejauhan Nayara melihat seorang pria sedang berdiri ditempat tujuannya.