Malam itu, setelah sampai di rumah, Nayara duduk di depan laptop sambil memindahkan semua rekaman dari kamera. Senyumnya tidak bisa hilang saat melihat kembali momen-momen tadi siang. Tawanya, tatapan Elvano, dan cara ia selalu memperhatikan Nayara. “Lucu juga ternyata,” gumam Nayara kecil, saat melihat adegan mereka tersesat di lorong cermin. Dengan hati-hati, ia mengedit vlog itu, menambahkan musik ceria di latar belakang. Setiap momen ia pilih dengan cermat, memastikan kebersamaan mereka terlihat hangat dan alami. Setelah selesai, Nayara memilih untuk menghubungi Elvano sebelum mengunggahnya ke kanal media sosialnya. “Triiiing” Suara tunggu yang terdengar, jantung Nayara berdegup kencang, rasa gugup menyelimuti dirinya. “Hallo?” sebuah suara yang sangat maskulin, akkhhhhh, rasanya Nayara ingin berteriak kencang, tak kuasa menahan jantungnya yang berdebar-debar, menahan gejolak didalam dada. “Assalamualaikum kak? Hmm maaf ganggu malam-malam.” Ucap Nayara canggung, tangannya bertolak pinggang, dan sebelahnya lagi bertengger dibibir, giginya sibuk menggigiti ujung kuku. “Waalaikumsalam, nggak ganggu kok Nay! Ada apa? Apa ada masalah?” Tanya Elvano penasaran. “Ehh, enggak! Ini, akum mau nanya kak, vlog tadi siang sudah siap aku edit, kakak mau lihat ? Atau gimana?” Tanya Nayara canggung, suaranya sedikit gemetar, jantungnya terus mengalunkan ritme. “Wah, cepat sekali Nay! Kamu nggak ada istirahatnya ya?” Tanya Elvano, padahal dirinya sendiri juga belum istirahat, selepas bertemu Nayara, pria tampan itu harus segera menghadiri rapat dadakan, bahkan saat ini pun Elvano belum pulang kerumah, dia baru saja selesai sholat isya disebuah masjid. “Eh, enggak juga sih kak! Kebetulan aja belum bisa istirahat.” Jawab Nayara. “Nggak bisa istirahat, atau karena mau cepat-cepat alihin kasus?” Elvano sengaja menggoda Nayara. “Hmmm, dua-dua nya sih kak!” Nayara tak bisa berbohong, dia sangatlah polos. Tak dapat dipungkiri, Nayara memang menggebu-gebu ingin mengganti tranding topik, dan membuat Bima tutup mulut. Bahkan Nayara sengaja mengedit semuanya seorang diri tanpa meminta bantuan Diva. “Upload langsung aja Nay! Lebih cepat lebih baik bukan?” Jawab Elvano. “Kakak yakin? Nggak mau dilihat dulu nih? Takutnya nanti ada yang nggak cocok.” Nayara memastikan jawaban Elvano. “Iya Nay! Aku percaya kok sama kamu!” “Permisi Mas! Sudah ditunggu Bapak!” Terdengar suara pria berbicara dengan Elvano. “Nay, upload langsung aja ya. Aku ada urusan sebentar, nanti kalua ada apa-apa kabari aja.” “oh iya kak, makasih kak.” “Sama-sama, assalamualaikum Nay.” Ucap Elvano sebelum memutuskan panggilannya. “Waalaikumsalam, kak.” Jawab Nayara. Hatinya berbunga-bungan, Ia loncat kegirangan mendengar persetujuan dari Elvano. Nayara bergegas kembali kedepan laptopnya. Satu sentuhan, sebuah video sudah berhasil diupload Nayara diakunnya, dengan tumbnail “Jalan-jalan seru, eh nggak sengaja ketemu…” Nayara sengaja memancing publik, membuat tumbnail yang bisa memancing kegaduhan Adalah keahliannya. Dalam hitungan detik video itu sudah memiliki jangkauan yang luas, dan ditonton banyak orang. Bibir Nayara sedikit terangkat, Ia tersenyum puas, mematikan laptopnya dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa jam kemudian, notifikasi di ponselnya berbunyi tanpa henti. Komentar mulai berdatangan. “Ini beneran? Nayara sama Elvano?” “Gemes banget liat kalian!” “Beneran couple goals nih.” “Elvano pandangannya bikin baper!” “Duh, gosip kemarin langsung kalah sama vibes ini!” “Lebih cocokan sama yang ini!” Nayara membaca satu per satu komentar itu sambil tersenyum lega. Akhirnya, isu miring yang sempat membuatnya gelisah mulai tergeser oleh kebahagiaan yang ia tunjukkan hari ini. Keesokan paginya, ia terbangun dengan kabar mengejutkan. Vlognya menjadi trending topik! Banyak akun gosip yang justru mengunggah ulang potongan-potongan vlog itu dengan caption positif. “Lihat deh, Nayara udah move on dan bahagia!” “Beneran cocok banget sama Elvano. Kita dukung mereka!” Nayara hampir tidak percaya. Semua komentar itu terasa seperti tamparan manis bagi rumor lama. Ia meraih ponselnya, menekan nama Elvano. “Kak Vano, kamu lihat nggak? Kita viral!” suaranya riang ketika panggilan tersambung. Di seberang, Elvano terdengar terkekeh. “Iya, aku lihat. Kamu jadi trending topik sekarang. Semua orang bilang kamu kelihatan paling bahagia di sebelah aku.” “Ya selama ini juga selalu jadi tranding topik kali kak!” Celetuk Nayara namun beberapa saat kemudian Nayara terdiam sejenak. “Kak Vano nggak apa-apa kan dengan ini semua? Maksudku… semua orang jadi mengira kita benar-benar…” “Benar-benar pasangan?” Potong Elvano cepat. “Naya, kalau itu bisa bikin kamu lega, aku nggak masalah. Malah… aku senang. Setidaknya sekarang semua orang tahu kamu pantas diperlakukan dengan baik.” Hati Nayara berdebar. Kata-kata Elvano membuat pipinya terasa panas. Untuk sesaat ia tak bisa berkata-kata. “Kalau kamu mau,” lanjut Elvano, suaranya lembut, “kita bisa bikin vlog lain minggu depan. Biar mereka tahu, kebahagiaanmu bukan cuma kebetulan.” Nayara tersenyum, kali ini lebih lebar. Bola matanya berbinar cerah. “Baiklah. Tapi kali ini aku yang pilih tempatnya.” Mereka tertawa Bersama, dan untuk pertama kalinya sejak gosip tentang dirinya muncul, Nayara merasa tenang. Mungkin… berpura-pura bahagia dengan Elvano justru sedang mengajarkan hatinya bagaimana rasanya bahagia yang sesungguhnya. Panggilan dari Elvano sudah lama berakhir, namun Nayara masih betah memeluk gawainya. Senyumannya mekar paripurna. Diva yang baru saja tiba, merasa geli melihat tingkah Nayara. “Awas, nanti jatuh cinta!” bisik Diva ditelinga Nayara. “Apaan sih Div? Nggak bisa lihat orang Bahagia deh!” Nayara bersungut kesal, dia bangkit dari tempat tidurnya, dan bergerak mengambil remot televisi. Senyum Nayara semakin merekah, saat melihat hamper semua siaran televisi mengabarkan berita tentang dirinya dengan Elvano. Nayara merasa misinya telah berhasil. TING! Sebuah notifikasi masuk kedalam gawainya. “Good job Nay! Mbak bangga sama kamu1 memang benar kamu adalah ratunya viral.” Bunyi pesan yang dikirimkan oleh Laras. “Ini semua karena kerjasama kita mbak! Makasih ya mbak!” Balas Nayara. Tak berselang lama dering panggilan pun terdengar. Nama ‘mbak Laras’ tertera dilayar handphone Nayara. “Assalamualaikum, mbak?” Ucap Nayara setelah menggeser tombol berwarna hijau. “Waalaikumsalam, Nay! Nay mbak mau memastikan, kata Vano minggu depan kamu ngajak keluar?” Tanya Laras, dia tak percaya dengan cerita Elvano, dan memilih untuk memastikan langsung. “Eh? Hmm, itu mbak!” Nayara sedikit gugup, dia tak percaya jika Elvano sunguhan, bahkan sampai memberitahu mbak Laras. “Nggak apa sih, kalau beneran. Nanti biar mbak atur jadwalnya.” Laras menyambung pembicaraannya, dia khawatir membuat Nayara tak nyaman. “Oke mbak, nanti aku kabari soal tempatnya dimana.” Ucap Nayara malu-malu, pipinya bersemu merah, Diva menatapnya penuh tanda tanya. “Kamu serius Nay?” Tanya Diva tak percaya. Bukannya mendapatkan jawaban, Nayara malah memperlihatkan wajah melasnya. “Divaaaaa!” Rengek Nayara sambil memeluk Diva dengan erat. Diva sudah bisa memperkirakan apa yang terjadi. Nayara memang suka cepat mengambil Keputusan, lalu kebingungan mencari solusinya, sama seperti saat ini, dia kebingungan menentukan tempatnya.