KONTRAK PERASAAN KONTRAK PERASAAN
2/22
Bab 2

KONTRAK PERASAAN

Sebuah rumah mewah dengan fasilitas lengkap, dengan nuansa putih mendominasi disetiap sudut, beragam lukisan terpampang di dinding, lukisan penuh makna namun entah siapa yang menggoresnya. Nayara duduk disofa sambil memainkan gawai yang amat berisik dengan notifikasi. Diva baru saja sampai dan langsung duduk disamping bos sekaligus sahabat karibnya. “Dari mana aja?” Tanya Nayara dengan tatapan sedikit menggoda, karena Diva yang paling anti dekat dengan pria manapun, baru saja datang dengan para ajudan Elvano. “Berisik! Kamu sih, harus banget ninggalin aku?” Diva memperlihatkan wajah kesalnya. “Cekh, siapa suruh nggak langsung naik! Tapi senengkan ? Ciee mau yang mana?” Bukan Nayara namanya, jika tak berhasil membuat orang lain kesal dengan tingkah lakunya. “Apaan sih Nay! Udah ah, jangan berisik!” Gerutu Diva kesal. Pembicaraan mereka pun terhenti saat Elvano dan Laras Kembali hadir diruangan itu. “Gimana Nay? Aman?” Tanya Laras yang kini duduk dihadapan Nayara. Nayara hanya mengangguk pelan, dia masih canggung berada dilingkungan itu. “Baiklah, kalua begitu kita mulai pembahasannya.” Sambung Laras lagi. Nayara mengubah posisi duduknya menjadi tegak, demikian juga dengan Diva, tangannya menyambut sebuah berkas yang diberikan oleh Laras. “Naskah kontrak perasaan?” Gumam Nayara membaca judul dokumen yang diberikan oleh Laras. Demikian juga dengan Elvano, walaupun Laras adalah asisten pribadinya, namun pria tampan itu baru pertama kali memegang dokumen yang diberikan oleh Laras. “Jadi, langsung saja kita mulai. Dokumen ini berisikan file perjanjinan kontrak perasaan, dan script yang bisa kalian kembangin sesuai kondisi, terkecuali isi kontrak yang tidak boleh diubah tanpa persetujuan dari ku.” Laras mulai menjelaskan isi kontraknya satu persatu. “Selama perjanjian ini berlangsung, kalian berdua sama-sama tidak boleh dekat dan terlibat skandal dengan orang lain. Barang siapa yang melanggar maka dia harus siap membayar denda sebesar lima triliun.” “What ?” Nayara terbelalak kaget, seolah tak percaya dengan ucapannya, kemudian memandang kearah Diva dan diangguki pelan oleh Diva yang baru saja selesai membaca naskah kontrak itu. “Bagaimana mungkin mbak?” Tanya Nayara pada Laras. “Apa yang tidak mungkin Nay? Justru perjanjian ini dibuat agar kalian berdua tidak main-main dalam hal ini. Ingat kalian berdua saling membutuhkan, kamu butuh Elvano untuk menghapus rumor mu dengan pria gila itu, dan Elvano membutuhkanmu untuk menunjang karirnya. Lagi pula kontrak ini hanya berjalan lima tahun, selepasnya terserah kalian berdua mau bagaimana.” Tegas Laras tanpa mau dibantah, dengan sebuah senyuman misterius yang terpampang diwajahnya. “Lalu, apa yang harus kami lakukan?” Tanya Nayara lagi. “Semuanya sesuai dengan script yang ada didalam naskah kontrak, semuanya jelas, pertemuan, jadwal publikasi, hingga interaksi dimedia sosial sudah diatur, dan tidak aka nada hal yang keluar jalur. Setiap minggunya mbak akan kirim jadwal Elvano sama Diva, biar Diva membantu kamu menyesuaikan jadwal. Mana moment yang harus kamu hadiri, dan mana agenda yang harus kamu posting disosial media.” Jelas Laras. Nayara menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan diatas dada, meresapi semua penjelasan Laras, namun kepalanya terlalu berisik. Jika saja Rafael abangnya tidak terburu-buru menerima tawaran pria gila itu, pasti dia tidak harus berada diposisi ini sekarang. Elvano sedikit mencuri pandang kearah Nayara, sedari tadi dia hanya diam, tidak ada ucapan kata setuju yang keluar dari bibirnya, tapi juga tidak ada penolakan yang dia lontarkan. Entah apa maksud dan tujuannya. Sesekali Laras menyadari pandangan Elvano, senyuman tipis, dengan sorot mata penuh ketegasan. “Ingat Nayara didalam kontrak ini jelas tidak ada yang namanya berpura-pura. Kalian berdua akan menjalanui hubungan seperti pasangan sungguhan. Bedanya, dunia luar akan melihatnya sebagai sebuah kebenaran, dan kalian berdua hanya perlu menjalani peran itu. Selama kontrak ini berlangsung Elvano akan menjaga mu, demikian juga dengan kalian para ajudan. Harus bisa berkontribusi dan memperlakukan Nayara selayaknya kalian memperlakukan Elvano, jangan ada celah sedikitpun untuk publik mengetahui hal ini. Faham?” “Faham mbak!” Jawab para ajudan Elvano dengan kompak, sebelum ini Laras memang telah lebih dahulu melakukan briefing terhadap mereka. Hening beberapa detik. Nayara berdebar, tapi otaknya berisik menghitung risiko. Uang? Tentu besar. Pamor ? Pasti melonjak. Tapi harga yang harus ia bayar … bukan hanya sekedar citra. Apapun itu, tekad Nayara sudah bulat. Ini adalah jalan terakhir yang harus dia tempuh, agar pria gila itu tak lagi menggunakan Namanya untuk mencari ketenaran. “Akhhhh, lelahnya.” Nayara merebahkan tubuh diatas kasur empuknya. Setelah perbincangan yang cukup menguras energi, akhirnya Nayara dan Diva kini sudah pulang kerumahnya.

Perlahan kelopak matanya menutup, dan tak lama kemudian suara dengkuran halus mulai terdengar. Diva hanya bisa menggelengkan kepala, seindah apapun dunia luar mengagumi Nayara, dia tetaplah putri tidur bagi orang-orang terdekatnya. Waktu berlalu begitu saja, langit malam yang gelap kini berganti dengan langit biru berkolaborasi dengan teriknya Cahaya matahari. “Nayyyy!” “NAYARAAAAA” Suara yang sangat nyaring, namun belum mampu mengusik Nayara dari tidur pulasnya. Tubuhnya yang lelah membuatnya ketiduran, bahkan lupa untuk sholat subuh. “Ya ampuun, Nay! Kamu tidur apa mati sih?” Seorang wanita paruh baya kini duduk tepat disamping tubuh Nayara yang meringkuk didalam bedcover berwarna pink dengan motif awan. “Nay, bangun ih! Anak gadis nggak bagus bangun telat ini sudah siang Nay!” Tak ada kata meneyrah bagi Rosalinda, atau yang biasa disapa dengan mama Ros. “Mama?” Nayara terkejut melihat kehadiran ibunya disana, setahu Nayara ibunya masih liburan diluar negeri namun kini wanita itu sudah berada dihadapannya. “Hmm, jadi gini kamu kalau nggak ada mama sama papa kamu nggak sholat subuh kan?” “Ihh, bukan gitu Mah! Naya ketiduran, semalam pulangnya udah telat.” Nayara berusaha untuk membela diri. “Hmm, alasan! Kan Mama sudah pernah bilang sama kamu Nay! Jangan pulang larut malam, Mama sama Papa izinin kamu tinggal dirumah sendiri karena percaya kamu nurut dan patuh sama kita berdua, tapi kalau gini terus lebih baik kamu balik kerumah Mama sama Papa.” Tegas mama Ros, beliau sedikit kecewa melihat Nayara yang sering meninggalkan ibadahnya, dan mulai suka keluyuran dimalam hari. “Ya kan, Naya kerja Ma!” Protes Nayara. “Lagian yang suruh kamu kerja itu siapa? Mama sama Papa tidak pernah maksa kamu buat cari uang! Kamu itu anak Perempuan, masih gadis, belum menikah, masih menjadi tanggung jawabnya Mama sama Papa.” Mama Ros tak mau kalah kali ini, dia terus berupaya untuk menasihati Nayara. Gadis keras kepala itu, memang sulit untuk diluluhkan. Sejak kehilangan beberapa waktu lalu Nayara si gadis manja berubah menjadi gadis mandiri, tegas, dan suka mengambil keputusan sendiri dalam menyelesaikan masalah, tanpa mau berdiskusi dengan orang-orang terdekatnya lagi. Rosalinda semakin kehilangan sosok Nayara yang dulu, ada rasa bangga melihat perubahan positif didalam diri Nayara, namun tak dapat dipungkiri rasa khawatirnya jauh lebih besar. Rosalinda tak ingin pengalaman pahit dahulu Kembali terulang, melihat Nayara dikelilingi oleh lingkungan yang keras, dan pergaulan yang cukup bebas, selalu menjadi was-was untuk Rosalinda. "Setiap orang akan menuai apa yang ditanamnya, dan setiap orang harus faham resiko dari setiap tindakannya.”