Aku tidak pernah menyangka hari itu akan datang secepat ini. Semua orang berpakaian hitam. Beberapa mengenakan kacamata hitam meski matahari hanya berani muncul sesekali di balik awan abu-abu.
Aroma tanah basah dan bunga melati memenuhi udara. Suara orang membaca doa terdengar berlapis-lapis dengan bisik-bisik pelayat yang tidak benar-benar ingin terdengar, tapi juga tidak cukup pelan untuk tidak didengar.
Aku berdiri di tepi gundukan tanah yang masih merah, memandangi papan nama dengan huruf yang terasa asing: nama ayahku, diikuti dua tanggal yang seperti garis tipis pemisah antara hadir dan tiada. Setelah itu, kosong. Seperti jeda panjang yang tidak sempat kami isi.
“Ani,” suara ibu memanggil pelan.
Aku menoleh. Wajahnya tampak lebih tua hari ini, seakan semalam bukan hanya satu malam, melainkan satu dekade. Tangannya menggenggam tanganku erat, padahal dingin. Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa. Jika aku buka mulut, aku tahu suara yang keluar tidak akan stabil.
Satu sekop tanah jatuh di atas peti. Suara itu tumpul, tapi bergaung ke dalam dadaku. Ayah benar-benar sudah dikuburkan hari ini.
Orang-orang satu per satu maju, menjatuhkan bunga, menepuk bahu, mengatakan hal-hal yang sudah mereka hafal sejak lama. Sabar, ya. Beliau orang baik. Kamu kuat.
Aku mengangguk pada semuanya. Tersenyum sekadarnya. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku tampak. Rasanya seperti topeng yang kupakai tanpa cermin.
Di sela kerumunan hitam itu, mataku berhenti pada satu sosok. Seorang perempuan berdiri agak jauh, tidak bercampur dengan orang lain, seolah ada garis tak terlihat antara dia dan dunia.
Rambut hitam sebahunya dibiarkan tergerai sederhana. Pakaian hitamnya tidak mencolok, tapi entah kenapa kehadirannya menarik perhatian seolah dia satu-satunya yang berwarna.
Aku tidak mengenalnya. Atau mungkin aku… hampir mengenalnya. Ada sesuatu yang mengusik. Seperti melodi lama yang lupa liriknya, tapi nadanya masih melekat di ujung lidah.
Perempuan itu mengangkat wajah. Mata kami bertemu. Dadaku berdebar tanpa peringatan.
Bukan karena cantiknya, meskipun iya, dia cantik dengan cara yang tidak berusaha. Tapi karena tatapannya. Tatapan yang seperti datang dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar kubuka. Seolah dia tahu sesuatu tentang diriku yang bahkan aku sendiri lupa.
Bibirmya bergerak pelan.
Aku yakin dia menyebut namaku tanpa suara. Angin berembus, menyibakkan helaian rambutku. Aku memalingkan wajah lebih cepat dari yang kupikirkan. Telapak tanganku basah. Bahuku terasa berat.
“Aku di sini,” suara Rian terdengar di sampingku.
Aku hampir lupa dia di sana.
Rian tidak banyak bicara hari ini, tidak seperti biasanya. Biasanya ia akan mencoba mencairkan suasana dengan humor receh yang sering datang di waktu yang salah.
Ia selalu ingin memperbaiki suasana, menata kekacauan dengan logika dan rencana. Tapi hari ini, ia hanya berdiri dekatku, mengusap bahuku dengan ibu jarinya, seperti memastikan aku tidak jatuh.
“Kamu minum dulu?” tanyanya pelan.
Aku menggeleng. “Nanti.”
“Kamu gemetar.”
“Aku tahu.”
Kami diam. Itu kenyamanan yang aneh, diam tapi tidak terasa kosong. Aku melirik lagi ke arah perempuan berpakaian hitam itu.
Sekarang dia lebih dekat. Entah sejak kapan dia bergerak. Langkahnya pelan, namun pasti. Orang-orang membuka jalan tanpa sadar saat ia lewat, seperti air yang memberi ruang pada perahu. Wajahnya tenang, nyaris teduh. Tidak berlebihan menunjukkan duka, tetapi jelas bukan tidak peduli.
Dia berhenti di depan kami.
Di depan… aku.
“Anita,” katanya.
Suaranya rendah. Bukan suara orang asing, tapi juga bukan suara yang pernah benar-benar kuingat. Ada nada hangat yang hampir membuatku ingin menangis begitu saja.
Aku menatapnya. “Iya… maaf, kita… pernah kenal?”
Jawaban yang terdengar konyol ketika sudah keluar dari mulutku. Tapi aku benar-benar tidak tahu harus memanggilnya apa.
Dia tersenyum kecil. Senyum yang terasa dekat namun jauh di saat yang sama.
“Kamu sudah besar,” katanya.
Hatiku berdenyut aneh.
Kalimat itu hanya mungkin keluar dari mulut orang yang pernah melihatku kecil.
Ibu yang sejak tadi diam di sampingku, tiba-tiba merapat sedikit. Genggamannya pada tanganku mengeras. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang. Aku menoleh sekilas, rahang ibu terlihat mengeras, seperti ada banyak kata yang ingin keluar tapi tertahan di balik gigi.
Perempuan itu memandangi ibu sebentar. Tidak ada permusuhan terang-terangan. Hanya sejarah yang terlalu berat untuk diucapkan di depan orang banyak.
“Maaf aku datang terlambat,” katanya pelan. “Aku… pulang untuk Kakak.”
Pulang.
Kata itu menggores sesuatu di dalam dadaku.
Aku menatapnya lekat-lekat. Ada kemiripan samar di garis hidung, bentuk dagu, dan sesuatu di sorot mata yang mengingatkanku pada ayah.
Aku menarik napas. “Tante… siapa?”
Perempuan itu sejenak hanya menatapku, lalu tersenyum lagi — kali ini lebih hangat, tapi aku merasa hangat itu membawa dingin di belakangnya.
“Aku Sisca,” katanya.
Nama itu seperti membuka pintu yang sudah lama dikunci.
Sisca.
Nama yang selalu membuat ruang makan menjadi hening. Nama yang hadir sebentar di kalimat orang dewasa, lalu menghilang begitu aku bertanya terlalu banyak. Nama yang menempel seperti debu pada album foto tua yang tidak pernah dibuka.
Aku merasa seperti anak kecil lagi. Anak kecil yang duduk di bawah meja makan, mendengar suara orang dewasa menyebut nama itu dengan nada yang tidak pernah selesai.
Tante Sisca. Adik ayahku. Perempuan yang menghilang dua puluh tahun lalu.
Aku menelan ludah. “Jadi… Tante Sisca itu… Tante?” “Iya.” Ia mengangguk pelan. “Aku Tante kamu.”
Rian menatapku cepat. Aku tahu ekspresi itu: ia sedang berusaha mencerna semuanya secara sistematis, menata informasi di kepalanya satu per satu. Tapi kali ini, bahkan logikanya pun tampaknya tidak menemukan tempat berpijak.
Aku ingin bertanya banyak hal sekaligus. Ke mana saja selama ini? Kenapa pergi? Kenapa kembali sekarang? Kenapa tatapannya terasa seperti minta maaf, sekaligus tidak?
Namun yang keluar justru hanya satu kalimat sederhana:
“Kenapa baru sekarang?”
Ia tidak langsung menjawab.
Ia menatap nisan ayah lama sekali, seperti berbicara dengan seseorang di bawah sana tanpa suara. Angin kembali bertiup. Daun kamboja jatuh perlahan ke tanah, seolah mengikuti ritme napasnya.
“Karena baru sekarang aku siap,” katanya akhirnya.
Jawaban itu membuatku diam. Bukan karena puas, tapi karena terlalu banyak hal yang tidak terjawab di baliknya.
Ibu tiba-tiba menarikku pelan.
“Ani, sini sebentar,” katanya dengan suara rendah.
“Sekarang?” tanyaku.
“Iya. Sekarang.”
Nada itu membuatku menurut tanpa membantah. Kami melangkah menjauh dari para pelayat. Dari jauh, aku masih bisa melihat sosok perempuan itu, Tante Sisca, berdiri di dekat nisan, anggun dan asing sekaligus.
Ibu berhenti di bawah pohon.
Tangannya masih menggenggam tanganku, dingin, sedikit bergetar.
“Bu?” aku memanggil lembut.
Ibu menatapku lama. “Kamu kaget?”
“Aku… iya. Tapi Ibu lebih kelihatan kaget daripada aku.”
Ibu tertawa tanpa suara. Tawanya terdengar seperti napas yang pecah.
“Ibu tidak kaget.”
Aku mengerutkan dahi. “Terus?”
“Ibu takut,” katanya pelan.
Aku menelan ludah. “Takut kenapa?”
Ibu mengalihkan pandangannya sebentar, lalu kembali menatapku dengan sorot yang serius, sorot yang jarang sekali ia tunjukkan.
“Kamu masih ingat waktu kecil kamu pernah tanya ke Ibu, kenapa ada satu nama yang selalu bikin orang dewasa di rumah ini diam?”
Aku mengangguk. Itu Sisca.
Nama yang dilarang, meski tak pernah dinyatakan dilarang.
Ibu menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. “Dua puluh tahun lalu,” katanya lirih, “keluarga ini sudah mengadakan pemakaman.”
Aku mengangguk. “Untuk siapa?”
Ibu memandangku, dan aku tahu sebelum ia mengucapkannya, bahwa hidupku tidak akan sama setelah kalimat itu keluar.
“Untuk Sisca,” katanya.