Pesona Tante Sisca Pengakuan yang Setengah Ditutupi
3/20
Bab 3

Pengakuan yang Setengah Ditutupi

Aku tidak langsung mendapatkan jawaban.

Pertanyaanku menggantung di udara, seperti lampu yang berkedip sebentar lalu padam. “Kalian… sudah saling kenal?” Suaraku sendiri terdengar asing di telingaku,pelan, tapi tegas, seperti datang dari seseorang yang lebih berani dariku.

Rian mengusap tengkuknya sebentar, kebiasaan lamanya ketika sedang gugup. Gerakan kecil, tapi sudah cukup membuatku sadar, ia sedang memilih kata.

“Pernah ketemu,” katanya akhirnya, dengan nada yang terlalu hati-hati untuk ukuran kalimat sesederhana itu.

“Di mana?” tanyaku.

Ia tersenyum tipis. Senyum rapi. Senyum yang sudah disusun di dalam kepala sebelum sampai di bibir. “Waktu… ada urusan kerjaan dulu. Aku nggak tahu beliau Tante kamu.”

Aku menoleh pada Sisca. “Tante?”

Sisca mengangkat bahu ringan. “Dunia ini kecil, Nita. Kadang orang bisa bertemu dua kali dengan cerita yang berbeda.”

Jawaban yang tidak memuaskan, tapi terdengar terlalu puitis untuk dibantah saat itu.

Aku ingin sekali mendorong lebih jauh, tapi sebagian diriku, yang terlalu peka pada perubahan suasana, menangkap sesuatu yang lain. Rian tampak benar-benar tidak nyaman. Matanya tidak pernah benar-benar menatapku lama. Ia seperti sedang berada di ruangan yang dindingnya terus bergerak mendekat.

“Ayo, kita pulang dulu,” katanya lagi. “Kamu pasti capek.”

Aku hanya mengangguk.

Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya.

Jalanan tidak macet, tapi pikiranku iya.

Aku bersandar pada jendela mobil, melihat bayangan pohon berkelebatan. Rian berkonsentrasi pada jalan, kedua tangannya menggenggam setir dengan posisi lurus, terlalu lurus. Biasanya ia akan memutar-mutar radio mencari stasiun, atau setidaknya bersenandung pelan. Sekarang tidak. Hanya suara mesin dan napas kami.

Aku akhirnya bicara duluan.

“Kamu pernah ketemu Tante Sisca di mana?”

“Di kafe,” jawabnya cepat, seperti ingin segera menyelesaikan topik itu. “Waktu itu aku lagi nunggu klien, ternyata kliennya nggak datang. Ketemu Tante kamu, ngobrol sebentar, ya sudah.”

“Ngobrol apa?”

“Macem-macem.”

“Macem-macem itu apa?”

Dia menghela napas pelan. “Hal ringan.” Aku menatap profil wajahnya. Rahangnya mengeras sedikit. Ia tidak sedang marah, aku tahu. Ia sedang berhati-hati. Itu yang membuatku lebih tidak tenang daripada kalau ia benar-benar marah.

“Kenapa kamu kelihatan tegang?” tanyaku akhirnya.

“Aku nggak tegang.”

“Rian.”

Dia diam dua detik. “Oke. Mungkin sedikit.”

“Kenapa?”

Dia tidak langsung menjawab. Mobil berhenti sejenak di lampu merah. Lampu merah memantul di kaca depan seperti titik kecil di pupilnya.

“Karena kamu kelihatan rapuh,” katanya pelan. “Dan aku takut ngomong sesuatu yang salah.”

Kalimat itu melunak di dadaku.

Itu Rian. Virgo yang berpikir terlalu banyak sebelum bicara, bukan karena tidak jujur, tapi karena takut menyakiti orang yang disayanginya dengan kalimat yang salah urutan.

“Aku nggak rapuh,” kataku mencoba bercanda. “Aku elastis.”

Dia terkekeh. “Kamu bukan karet, Anita.” “Aku Pisces,” balasku enteng. “Kami cair. Kalau dituang ke gelas apa saja, kami mengikuti bentuknya.”

Dia melirikku sekilas, lalu menggeleng kecil. “Dan justru itu yang bikin aku khawatir.”

Aku memandang ke depan lagi. Lampu berganti hijau. Mobil kembali berjalan.

“Aku cuma… aneh,” kataku jujur. “Ketemu orang yang selama ini cuma ada di cerita. Rasanya seperti mimpi. Kayak tokoh yang dulu cuma namanya saja, tiba-tiba keluar dari halaman dan duduk di sebelah kita.”

“Dan tokoh itu karismatik,” Rian menambahkan pelan.

Aku meliriknya. “Kamu mengakuinya juga?”

Dia mengangkat alis sedikit. “Sulit untuk tidak. Tante kamu… punya cara bicara yang bikin orang merasa didengarkan.”

Aku tersenyum tipis. “Gemini.”

“Hm?”

“Dia Gemini. Dua puluh detik pertama ketemu orang aja udah kebaca auranya.”

“Sekarang kamu ahli astrologi?” ia pura-pura serius.

“Sedikit.” Aku mengangkat bahu. “Pisces memang begitu. Kami membaca orang, lalu bingung membaca diri sendiri.”

Rian tidak membantah.

Rumah terasa berbeda ketika kami sampai.

Ruang tamu penuh bunga duka cita. Pita hitam, kartu nama, ucapan-ucapan yang mirip satu sama lain. Bau bunga dan dupa bercampur menjadi aroma yang akan selalu kuingat sebagai bau hari ketika semuanya berubah.

Aku duduk di sofa. Rian menuangkan minum untukku tanpa diminta—salah satu kebiasaannya yang membuatku tetap bertahan sejauh ini. Ia tidak selalu romantis, tapi praktis. Ia menunjukkan sayang lewat hal-hal kecil yang konsisten.

“Aku taruh di sini, ya,” katanya sambil meletakkan gelas di meja.

Aku mengangguk. “Terima kasih.”

Dia duduk di depanku, menautkan jari-jarinya. “Kalau kamu mau cerita, aku denger.”

Kalimat sederhana, tapi berarti. Aku menatap permukaan minuman yang bergetar kecil karena kipas angin.

“Rasanya kayak… hidupku punya dua babak,” kataku pelan. “Sebelum Tante Sisca, dan setelah Tante Sisca. Padahal aku baru ketemu lagi hari ini.”

Rian mengangguk, tidak memotong.

“Aku marah karena dia pergi,” lanjutku. “Aku sedih karena dia nggak ada di banyak momen. Tapi pas dia muncul tadi… bagian dari aku… lega. Bodoh, ya?”

“Tidak,” kata Rian cepat. “Perasaan nggak pernah bodoh. Perilaku yang bisa bodoh.”

Aku tertawa kecil. “Siap, Pak Virgo.”

Dia tersenyum. Keheningan yang turun setelah tawa itu terasa berbeda. Lebih berat, tapi tidak menekan. Hanya seperti selimut tebal.

“Rian,” panggilku.

“Hm?”

“Kamu beneran cuma pernah ketemu Tante Sisca di kafe?”

Dia menatapku. Lama. Sangat lama hingga aku bisa melihat bayanganku di matanya.

“Iya,” jawabnya akhirnya. “Waktu itu… aku lagi banyak pikiran. Kami cuma ngobrol sebentar. Dia orang yang… gampang bikin orang cerita.”

Aku mengangguk pelan. Di dalam diriku menangkap sesuatu yang tidak sepenuhnya cocok. Tapi bagian lain dari diriku, bagian yang lelah, memilih menaruhnya sementara di rak pikiran.

“Aku percaya kamu,” kataku lirih.

Dia tampak terkejut kecil. “Kamu… yakin?”

“Aku mau percaya,” koreksiku. “Itu beda.”

Dia menunduk sebentar. “Terima kasih.”

Aku tersenyum. “Kalau kamu bohong, kamu bakal salah tingkah sendiri. Virgo itu gitu.”

Dia pura-pura protes. “Hei.”

Aku tergelak kecil. “Fakta ilmiah.”

Untuk beberapa saat, semuanya terasa ringan lagi.

Hingga kemudian sesuatu berubah.

Aku melihat Rian melirik jam. Sekilas saja, tapi cukup.

“Kamu harus ke mana?” tanyaku.

“Enggak,” jawabnya terlalu cepat.

“Rian.”

Dia menggigit bibir bawahnya. “Aku cuma… baru ingat ada urusan sebentar.”

“Urusan apa?”

“Sebentar aja.” Ia berdiri. “Aku janji nggak lama.”

Hatiku mengerut pelan. “Sekarang?”

“Iya. Sekarang.”

Aku menatapnya, berusaha membaca lebih banyak dari bahasa tubuhnya. Bahunya sedikit kaku. Gerakannya lebih cepat dari biasanya. Seperti seseorang yang ingin segera berada di tempat lain.

“Bisa ditunda?” tanyaku hati-hati.

Dia menggeleng. “Nggak bisa.”

“Kerjaan?”

Dia berhenti sepersekian detik sebelum menjawab. “Semacam itu.”

Ada sesuatu yang menetes pelan-pelan ke dalam perasaanku. Bukan cemburu. Bukan curiga. Lebih seperti… firasat.

Pisces di dalam diriku jarang salah ketika sudah terasa seperti ini.

Aku mengambil napas dalam-dalam. “Oke. Hati-hati.”

Dia terlihat lega sekaligus bersalah. “Aku beneran nggak lama. Kamu istirahat dulu, ya? Makan kalau lapar. Minum. Jangan banyak mikir.”

“Virgo nyuruh Pisces jangan banyak mikir?” Aku mengangkat alis. “Itu lucu.”

Dia tertawa kecil, lalu mendekat dan menepuk kepalaku pelan. “Aku balik secepatnya.”

Aku mengangguk.

Dia berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia berhenti sesaat, hanya sepersekian detik, lalu membuka pintu dan pergi.

Aku menatap pintu yang menutup kembali.

Rumah kembali hening.

Aku baru sadar jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya.

Aku tidak tahu kenapa. Atau mungkin aku tahu, tapi belum berani mengatakannya keras-keras pada diri sendiri.

Ponselku bergetar. Pesan masuk. Dari nomor tanpa nama. Isinya hanya satu kalimat: “Dia masih sama seperti dulu, selalu pergi saat mulai jujur pada dirinya sendiri.”

Aku terdiam. Aku membaca ulang. Tiga kali. Lalu kulihat nama pengirimnya.

Bukan nama, hanya satu huruf: S.