Aku menatap layar ponsel cukup lama sampai bayangan wajahku sendiri memantul di sana. Satu huruf. Saja. S. Aku tidak perlu menebak.
Nama itu, wajah itu, tatapan itu, semua datang bersamaan seperti gelombang kecil yang menggulung pelan tapi pasti ke tepi pantai pikiranku. Tante Sisca.
Ada rasa tak percaya yang menempel kuat. Rian adalah orang yang selama ini berbagi tawa dan rencana denganku. Bayangan dua orang itu berada dalam ruang percakapan yang sama membuatku merasa seakan lantai di bawah kakinya retak perlahan.
“Tidak mungkin,” batinku berulang-ulang, namun kenyataan itu tetap berdiri dingin di hadapannya.
Setelah itu, perasaan heran berubah menjadi campuran getir, curiga, tersinggung, kalah, dan sedikit takut. Akubertanya-tanya, apa yang mereka bicarakan? Sejak kapan? Mengapa harus diam-diam? Ia merasa seperti orang luar dalam kisahnya sendiri.
Yang paling menyakitkan bukan hanya kemungkinan pengkhianatan, tetapi fakta bahwa semuanya terjadi di lingkar terdekatku. Kepercayaan yang selama ini ia kira kokoh, ternyata rapuh dan bisa retak tanpa suara.
Di dadaku muncul dorongan untuk menangis, namun air mata seolah tertahan. Ada bagian diriku yang masih ingin mencari penjelasan, berharap semuanya hanyalah kesalahpahaman.
Namun ada pula bagian lain yang sudah lebih dulu terluka, merasa dikhianati bahkan sebelum kebenaran terucap. Aku memandangi layar ponsel yang kini sudah gelap, tetapi perasaan itu tetap terang dan menyengat.
Dalam keheningan, aku mencoba mengurai apa yang ia rasakan. Aku marah pada Rian, kecewa pada Tante Sisca, sekaligus kesal pada diriku sendiri karena masih saja berharap semuanya baik-baik saja.
Namun di balik keterkejutan ini, aku juga merasakan sesuatu yang baru, keberanian kecil untuk cepat atau lambat harus bertanya, harus mendengar jawaban, walau mungkin menyakitkan.
Untuk sejenak, aku mengizinkan diriku terdiam, merasakan seluruh gelombang emosi itu lewat begitu saja, sambil memeluk kenyataan bahwa hidup kadang mengejutkan dengan cara yang paling tak terduga.
Aku mengetik sesuatu. Menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Begitu terus. Jari-jariku bergerak tanpa hasil, seperti seseorang yang berdiri di ambang pintu tapi belum berani masuk. Akhirnya aku hanya membalas satu kalimat pendek: “Maksudnya apa?”
Tanda terkirim.
Tidak ada balasan.
Beberapa menit berlalu.
Rumah terasa lebih besar dari biasanya. Jam dinding terdengar terlalu jelas. Kipas angin seolah menggerakkan udara yang tidak ingin bergerak. Aku berjalan mondar-mandir hanya karena duduk membuat pikiranku terlalu penuh.
Aku berhenti di depan kamar kerja ayah.
Pintu itu setengah terbuka.
Kamar itu belum benar-benar disentuh sejak beberapa hari terakhir. Hanya ada beberapa kerabat yang keluar masuk, menaruh berkas, memindahkan kursi. Bau kayu, kertas, dan sisa parfum ayah yang samar masih menempel di udara. Begitu aku melangkah masuk, semuanya menubuh sekaligus: suaranya, caranya tertawa, kebiasaan lamanya bersenandung lirih saat membaca.
Mejanya rapi.
Seperti biasa.
Ayah tidak pernah membiarkan kertas berserakan. Ia bukan Virgo seperti Rian, tapi keduanya punya kebiasaan yang sama, merapikan dunia luar saat dunia dalam mereka berantakan.
Aku menyusuri rak buku dengan ujung jariku. Ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentang ayah. Hidupnya sebelum menikah, pertengkarannya dengan Sisca, alasan kenapa nama itu selalu berhenti di tenggorokan semua orang.
Mataku berhenti pada sebuah laci terkunci. Laci itu tidak besar. Kayu tua, sedikit tergores. Pegangannya dingin saat kusentuh. Laci ini pernah kulihat sejak kecil, tapi tidak pernah kubuka. Dulu ayah pernah bilang sambil tersenyum, “Itu laci yang isinya hal-hal yang membuat seseorang menjadi dirinya.” Waktu itu aku tertawa saja, menganggapnya puitis. Sekarang aku sadar, mungkin itu bukan puisi. Aku menarik napas. “Ayah,” gumamku pelan, “izin ya.” Laci itu terkunci. Tentu saja.
Aku mencari-cari kunci di laci lain, di bawah tumpukan buku, di sela-sela map. Tidak ada. Ayah selalu menyimpan sesuatu dengan logika yang hanya dipahami olehnya. Satu sisi bibirku terangkat tanpa sadar. “Tipikal ayah,” bisikku sendiri.
Aku hampir menyerah ketika melihat benda kecil di pojok rak. Sebuah kotak besi berwarna tua. Tidak besar—ukuran kotak foto. Ada goresan-goresan halus di permukaannya, seperti bekas sering dipegang lalu disimpan lagi. Aku mengangkatnya hati-hati dan membawanya ke meja. Kotak itu berat. Berat bukan hanya karena isinya.
Di atas penutupnya ada dua huruf tergores samar: A & S Aku membeku sesaat. A untuk Ayah? S untuk… Sisca? Dadaku menghangat sekaligus mendingin. Aku menyentuh ukiran itu dengan ibu jariku, seperti ingin memastikan bahwa huruf-huruf itu nyata. Rasa ingin tahuku bukan lagi rasa ingin tahu biasa. Rasanya seperti tangan kecil masa kecilku mendorong punggungku dari belakang: “Buka. Lihat. Jangan takut.” Tentu saja terkunci. Sudut bibirku bergerak tanpa sadar. “Tentu saja,” ulangku pelan. “Kalian berdua memang begitu.”
Aku memiringkan kotak itu. Mengguncangnya pelan. Ada sesuatu di dalamnya. Bukan satu. Lebih dari satu. Suara logam beradu tipis-tipis. Jantungku ikut mengetuk, seirama dengan suara itu.
Satu hal yang kutahu tentang kotak terkunci: yang terkunci bukan hanya benda. Tapi cerita. Aku bersandar pada kursi ayah, memejamkan mata sebentar. Siapa pun yang pernah menulis surat lalu tidak jadi mengirimkannya akan mengerti perasaan ini — ada kata-kata yang selama ini ditahan, dan aku berdiri tepat di ambang pintu mereka.
Ponselku bergetar lagi. Balasan. Dari “S”. “Kamu Pisces. Kamu pasti peka. Kamu tahu maksudnya.”
Aku menghela napas.
“Rian ke mana?” tulisku. Beberapa detik. Balasan masuk.
“Bukan tugasku menjawab.”
Aku menutup layar. Aku menunduk lagi pada kotak itu. Firasatku, yang selama ini sering kuabaikan karena terlalu menyusahkan, berbisik pelan, di dalam kotak itu ada sesuatu tentang mereka bertiga. Ayah. Sisca. Dan aku. Tanganku bergerak sendiri. Aku memeriksa sisi kotak, bawahnya, sela-sela kecil pada engselnya. Tidak ada lubang kunci konvensional. Hanya tonjolan kecil seperti tempat menempelkan sesuatu.
Kalung.
Kata itu muncul begitu saja di kepalaku. Kalung yang tadi dipakai Sisca. Kalung tipis dengan bandul kecil yang ia pegang-pegang saat gugup, aku mengingatnya jelas. Sesuatu pada bentuk bandul itu… seperti bisa pas pada tonjolan kecil di kotak ini.
Aku menelan ludah. “Tidak mungkin,” bisikku pada diri sendiri.
Tapi Pisces dalam diriku menjawab, "Justru karena tampak seperti kebetulan, biasanya itu tidak kebetulan." Aku bersandar.
Tawa kecil lolos dari tenggorokanku, bukan karena lucu, lebih karena tidak tahu harus bagaimana mengekspresikan rasa campur aduk di dadaku. Ayah mengukir A & S di kotak ini. Kotak ini terkunci. Kuncinya… mungkin ada di kalung Sisca.
Kalung yang menempel di leher perempuan yang selama dua puluh tahun dianggap meninggal. Aku memejamkan mata. Hari ini, siapa pun dari masa laluku bisa kembali dan mengetuk pintu. Aku membuka mata. Kutaruh kotak itu di pangkuanku.
Pelan-pelan, nyaris seperti takut menyakitinya, aku membisikkan kalimat yang bahkan tidak terdengar oleh siapa pun selain aku sendiri: “Tante Sisca…” “…apa yang kamu sembunyikan dariku?”