Pesona Tante Sisca Kejutan Pertama dari Tante Sisca
2/20
Bab 2

Kejutan Pertama dari Tante Sisca

Aku tidak langsung pulang setelah pemakaman usai. Bukan karena masih ingin berdiri di dekat nisan, bukan juga karena belum siap meninggalkan tempat itu. Aku hanya merasa… kalau aku bergerak, kalau aku benar-benar melangkah, maka semua yang terjadi hari ini akan resmi menjadi kenyataan.

Ayah dimakamkan. Tante Sisca kembali. Dan semua orang tampak seperti sedang menyembunyikan kalimat berikutnya. Padahal aku paling takut pada kalimat yang putus di tengah jalan. Satu-satunya kepastian dari hadapanku saat ini adalah ada perempuan bernama Sisca yang muncul di pemakaman ayah.

Rian berdiri tidak jauh dariku, berbicara dengan dua sepupuku yang datang dari luar kota. Ia mengangguk sopan, matanya sesekali mencari aku, memastikan aku masih di situ. Kalau aku menghilang dua langkah saja, ia pasti menyusul. Itulah Rian, selalu ingin tahu letak segala sesuatu, termasuk letak hatiku, walau sering kali ia tidak tahu bagaimana cara menyentuhnya.

Ibu mengurus keluarga yang masih datang silih berganti. Pelukan, ucapan duka, doa. Bibir ibu terus tersenyum, tapi aku tahu sebagian dari dirinya sedang berada entah di mana.

Dan Sisca…

Sisca berdiri seperti poros yang membuat semua pandangan berputar.

Orang-orang datang bergiliran menyapanya dengan campuran rasa ingin tahu dan kehati-hatian. Ada yang menjabat tangannya lama, ada yang hanya menunduk, seperti berhadapan dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahami.

Ia menanggapi semuanya dengan tenang. Gemulai, tapi tidak berlebihan. Hangat, tapi tidak menggurui. Aku bisa membayangkan, jika ia masuk ruangan kosong, ruangan itu akan terasa penuh.

Aku memperhatikannya terlalu lama sampai ia menoleh dan menangkap tatapanku. Senyumnya muncul begitu saja.

Aku buru-buru berpura-pura melihat ke bunga-bunga yang ditata di atas nisan. Percuma. Aku tahu dia sudah melihatku.

Beberapa menit kemudian, suara langkahnya berhenti di sampingku.

“Kamu belum pulang,” katanya.

Nada suaranya tidak bertanya, lebih seperti mencatat. Seperti seseorang yang terbiasa mengamati orang lain dulu sebelum bicara.

“Aku sebentar lagi,” jawabku. “Masih agak… bingung.”

Ia mengangguk mengerti. “Hari pertama memang yang paling berat. Habis itu bukan lebih mudah, cuma… kamu mulai belajar bernapas di ruang kosong.”

Kalimat itu membuatku menoleh.

Aku ingin bertanya: sudah berapa kali dia mengalami hal seperti itu? Tapi aku tahan. Ada hal-hal yang kalau dipaksakan keluar justru kehilangan jawabannya.

“Kamu tinggal di mana selama ini?” tanyaku akhirnya, memilih pertanyaan yang lebih aman.

“Beberapa tempat,” jawabnya ringan. “Aku pindah-pindah.”

“Sendirian?”

Ia tersenyum samar. “Lebih sering begitu.”

Ada sesuatu pada caranya menjawab. Ia seperti memilih kata yang tidak bohong, tapi juga tidak sepenuhnya jujur. Aku mengendus ketulusan sekaligus tanda bahaya. Sayangnya, aku kesulitan mendefinisikan.

“Kenapa tidak pernah memberi kabar?” suaraku terdengar pelan bahkan untuk telingaku sendiri.

Ia menatapku agak lama. “Karena kadang kabar bukan hal yang menenangkan untuk diberikan. Kadang, diam itu… lebih aman untuk semua orang.”

“Tidak untuk kami,” sahutku pelan.

Ia menunduk sedikit. “Aku tahu.”

Hening merayap di antara kami. Bukan hening yang dingin, tapi yang penuh dengan kalimat yang belum diucapkan. Aku bisa merasakan sesuatu di balik tatapannya: penyesalan, tapi juga keyakinan pada keputusannya. Kombinasi yang aneh, tapi entah bagaimana… terasa jujur.

“Aku kangen padamu, tahu,” katanya tiba-tiba.

Aku terkesiap kecil. “Kita bahkan...” “Tidak sempat benar-benar saling kenal,” ia menyelesaikan kalimatku dengan tepat. “Aku tahu. Tapi bukan berarti aku tidak memikirkanmu.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Kupikir kalau aku akhirnya bertemu dengannya, aku akan marah. Akan menumpahkan semua pertanyaan yang kusimpan bertahun-tahun. Akan menuntut penjelasan, pembenaran, permintaan maaf. Tapi sekarang, yang muncul justru hal lain, rasa lega yang membingungkan.

Seperti akhirnya potongan puzzle yang hilang ditemukan lagi, walau ternyata bentuknya tidak sesuai dengan bayangan.

“Boleh aku peluk kamu?” ia bertanya. Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa berat. Pelukan bukan sekadar pelukan, apalagi hari ini. Aku menatapnya sesaat, lalu mengangguk.

Pelukannya hangat. Tidak erat berlebihan. Tidak dramatis. Hanya cukup untuk membuat dadaku terasa sedikit lebih luas. Ada aroma halus dari parfumnya, lembut, dewasa, nyaris seperti hujan pertama.

“Maaf,” bisiknya tanpa suara nyaris. Aku tidak bertanya maaf untuk yang mana. Saat ia melepaskan pelukan itu, Rian datang menghampiri kami. “Sayang,” katanya pelan padaku, “kamu mau pulang? Ibu kamu sudah duluan. Tadi titip pesan, kamu jangan sendirian.”

Aku mengangguk. “Iya. Kita pulang.”

Rian kemudian beralih pada Sisca. Ia sedikit menunduk sopan. “Terima kasih sudah datang. Saya Rian.”

Cara dia memperkenalkan diri seperti biasa, rapi, tertib, formal. Tapi ada yang aneh, gerak tubuhnya tampak kaku setengah detik pertama ketika berhadapan dengan Sisca, seperti seseorang yang berusaha terlihat biasa-biasa saja.

Sisca menatapnya. Hanya itu, menatap. Tapi dalam tatapan itu ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar oh ini pacar keponakanku. Ada lapisan lain di dalamnya, seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang sudah lama dikenalnya, tapi harus berpura-pura baru pertama kali bertemu. “Rian,” ulangnya pelan, seperti mengecap nama itu di lidahnya. Rian tersenyum kecil. “Iya, Tante.” Tante. Kata itu terasa janggal ketika keluar dari mulutnya. Entah kenapa terdengar terlalu… formal. Terlalu dibuat-buat. Sisca masih menatapnya, sebelum akhirnya tersenyum.

Senyum itu berbeda dengan senyum yang tadi ia berikan pada orang lain. Setengah main-main. Setengah rahasia.

“Kamu masih suka merapikan apa pun yang tidak rapi, Rian?” tanyanya ringan. Rian membeku sepersekian detik.

Aku mengerutkan dahi refleks. “Kenapa Tante bisa tahu…?” kalimat itu hampir keluar dari mulutku, tapi tercekat di tenggorokan.

Rian tertawa kecil, terlalu kecil. “Hehe… ya… kebetulan memang begitu orangnya.” Dadaku berdesir oleh sesuatu yang belum berbentuk.

Sisca hanya tersenyum tipis. “Aku ingat.” Aku menatap bergantian keduanya. Ingat? Kapan? Bagaimana? Sebuah perasaan dingin merayap perlahan di pergelangan tanganku, naik ke lengan, lalu ke tengkuk.

Rian menghindari tatapanku sesaat, lalu menepuk bahuku pelan. “Ayo pulang,” katanya. “Kamu kelihatan capek.” Aku mengangguk, tapi mataku masih menatap Sisca. Ia hanya berdiri di sana, anggun, misterius, seperti buku yang halaman-halamannya sengaja diselipkan.

Sebelum aku benar-benar berbalik, aku mendengar suaranya, pelan, hanya cukup untuk kami yang berdiri dekat mendengarnya.

Bukan pada aku. Pada Rian.

“Sudah lama, ya,” katanya dengan nada akrab yang tidak mungkin salah kudengar.

Rian terdiam. Senyumnya menghilang. Aku menoleh cepat. Seketika bumi seperti berputar lebih cepat, namun aku bergeming. Mematung, beku. Kejutan apa lagi ini? Terlalu banyak kejutan yang menimbulkan pertanyaan demi pertanyaan. Rian dan Tante Sisca. Mereka benar-benar saling kenal? Atau apa? Apa? Apa?

Aku ingin berteriak, tapi kalimat yang terlontar hanya sepenggal saja.

“Kalian… sudah saling kenal?”