Sore itu, rumah terasa tidak sesepi sebelumnya. Aneh. Jumlah orang di rumah masih sama: aku, Ibu, beberapa piring kotor di bak cuci, dan tumpukan karangan bunga yang belum dipindahkan. Tapi udara berubah. Ada sesuatu yang… bergerak. Seperti kursi yang baru saja diduduki seseorang, atau ruangan yang baru saja tertawa, kemudian kembali diam seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku tahu siapa sumbernya. Sisca.
Namanya saja sudah seperti bayangan, tidak terlihat seluruhnya, tapi cukup untuk mengubah cahaya di sekelilingnya. “Ani,” panggil Ibu dari dapur, “tolong lihat kompor, ya. Tante kamu mau makan di sini sekalian.”
Aku spontan menghentikan langkah. “Tante Sisca?” tanyaku memastikan. “Iya.” Aku tidak tahu harus merasa apa.
Bagian dari diriku senang karena ingin lebih mengenalnya. Bagian lain merasa waspada karena terlalu banyak pertanyaan yang belum dijawab. Sisanya hanya… lelah. Emosi itu seperti laut, sulit ditebak kapan ombak naik atau surut.
Aku masuk ke dapur.
Aroma tumis bawang bercampur dengan sisa wangi teh hangat. Ibu memotong sayur tanpa banyak bicara. Gerakannya cepat, rapi, seperti seseorang yang sengaja menyibukkan tangan agar pikirannya tidak sempat memikirkan hal lain.
“Ani,” kata Ibu pelan, masih memandang talenan, “kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu boleh ke kamar. Ibu tidak memaksa kamu ikut makan.”
Aku diam sebentar. “Aku mau di sini, Bu.”
Ibu berhenti memotong. Ia melihatku. Ada kelegaan kecil di matanya, tapi juga kekhawatiran yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan.
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk. “Aku harus kenal orang yang namanya selalu membuat rumah ini diam.”
Ibu menghela napas pendek, semacam tawa tanpa suara. “Kamu memang anak Ayahmu.”
Kalimat itu membekas. Kami duduk bertiga di meja makan. Pemandangan yang… tidak pernah kubayangkan akan terjadi.
Suara sendok mengenai piring. Uap nasi naik perlahan. Jam dinding berdetak tenang. Tidak ada televisi menyala. Tidak ada percakapan basa-basi mengenai cuaca, karena cuaca di dalam diri kami masing-masing sudah cukup ramai.
Sisca mengambilkan sayur untukku.
“Makannya yang banyak,” katanya. “Wajahmu kelihatan kurang tidur.”
Nada suaranya ringan, tapi perhatiannya terasa sungguh-sungguh.
“Terima kasih, Tan,” kataku.
Ia tersenyum seperti sudah sangat terbiasa mendengarku memanggilnya begitu, padahal ini baru hari pertama.
Ibu makan pelan. Ia belum banyak bicara sejak Sisca datang. Hubungan mereka seperti dua pulau yang saling melihat dari kejauhan: tahu keberadaan satu sama lain, tapi belum berani membangun jembatan.
Aku memutuskan memulai.
“Tante… selama ini tinggal di mana?”
Sisca meletakkan sendoknya. “Beberapa kota. Beberapa negara. Beberapa tempat yang tidak terlalu penting untuk disebutkan satu–satu.” “Sendirian?” “Sebagian besar,” jawabnya santai. “Sebagian kecil… tidak.” Aku menunggu. Ia tidak menambahkan apa pun. Gemini, pikirku. Mengatakan banyak hal tanpa mengatakan apa pun sebenarnya.
Ibu bertanya tiba-tiba, suaranya stabil tapi matanya tidak, “Kenapa kamu tidak pernah pulang?” Sisca menoleh pada Ibu.
Momen itu seperti dua masa lalu berdiri berhadapan. “Aku pulang hari ini,” jawabnya pelan. “Dua puluh tahun terlambat,” kata Ibu.
Sisca tidak membantah.
Keheningan turun lagi, tapi tidak setegang yang kubayangkan. Ada kesedihan di sana, iya. Tapi juga ada rasa lega, entah dari sisi siapa. Seperti luka lama yang akhirnya terkena udara, perih, tapi bisa mulai kering.
Aku menatap Sisca diam-diam.
Cara ia memegang gelas. Cara ia mencondongkan tubuh sedikit saat mendengarkan. Cara ia tersenyum dengan mata, bukan hanya bibir. Ada magnet yang tidak bisa dijelaskan. Aku bisa mengerti bagaimana orang merasa dilihat olehnya, bahkan ketika ia tidak melakukan apa-apa.
Tidak heran Rian bilang dia karismatik. Aku tersentak. Kenapa Rian muncul dalam pikiranku saat memikirkan Sisca?
Aku memutar sendok di tangan. “Tante, tadi siang Tante bilang kenal Rian dari kafe, ya?”
Ia tidak langsung menjawab. “Kenapa?” tanyanya balik. “Cuma penasaran,” jawabku santai. “Dunia ini sempit sekali, ternyata.” Ia tersenyum samar. “Sempit, tapi kadang kita pura-pura tidak berpapasan.”
Kalimat itu jatuh di tengah meja makan dan tidak ada yang berani menyentuhnya selama beberapa saat. Setelah makan malam selesai, aku membantu Ibu mencuci piring. Sisca membersihkan meja, mengelapnya pelan-pelan, rapi, telaten. Gerakannya seperti orang yang terbiasa merawat sesuatu yang mudah pecah. Aku memperhatikan kalungnya.
Bandul kecil itu menggantung di lehernya. Bentuknya sederhana, seperti kepingan logam kecil yang sudah sering dipegang. Aku tahu rasanya halus bahkan sebelum menyentuhnya.
Kotak itu muncul di kepalaku. Kotak dengan ukiran A & S. Aku harus tahu.
“Tante,” kataku sambil pura-pura ringan, “kalungnya bagus.” “Oh ya?” Ia tersenyum, memegang bandulnya tanpa sadar. “Ini… sudah lama sekali aku punya.” “Dari siapa?” tanyaku. Ia berhenti sesaat, sangat singkat, lalu tersenyum lagi. “Dari seseorang yang sudah tidak ada,” jawabnya lembut.
Ayah. Nama itu langsung muncul di kepalaku bahkan tanpa undangan. Ibu meletakkan piring sedikit lebih keras dari biasanya di rak.
Aku dan Sisca sama-sama terdiam sesaat.
Aku berdeham pelan. “Boleh lihat?”
Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang. Tapi pertanyaanku sudah terlanjur melompat keluar. Sisca memandangku, seperti sedang menimbang sesuatu. Lalu ia membuka kait kalungnya dan menyerahkannya padaku.
Bandul itu terasa dingin di telapak tanganku. Kecil. Berat. Aneh. Aku membaliknya. Tidak ada tulisan.
Tapi ada tonjolan kecil di bagian belakangnya, bentuk yang persis seperti tonjolan di kotak besi di kamar ayah. Jantungku berdetak lebih cepat. Pisces dalam diriku berbisik pelan, itu kuncinya.
“Ani,” suara Ibu memanggil dari arah dapur. “Tolong ambilin lap bersih.” “Sebentar, Bu!”
Aku menyerahkan kembali kalung itu ke Sisca sebelum tanganku terlalu lama gemetar. “Terima kasih, Tan.”
Dia kembali memakainya. Bandul kecil itu kembali ke tempatnya di atas dadanya, tepat di atas semua hal yang tidak kuketahui tentangnya.
Malam semakin larut.
Rumah mulai sepi. Lampu-lampu dimatikan satu per satu. Ibu masuk kamar lebih dulu. Aku bilang pada Sisca bahwa aku ingin minum teh hangat sebelum tidur. Ia mengangguk dan duduk di teras, katanya ingin “menghirup malam”.
Aku menuang air panas.
Gelasku berembun. Aku berjalan pelan ke arah teras, hendak bergabung dengannya. Tapi langkahku berhenti di balik pintu. Bukan karena aku takut.
Karena aku mendengar suaranya. Pelan. Tenang. Berbeda. Nada suara seseorang saat berbicara di telepon dengan orang yang sangat ia kenal.
“Aku di sini,” katanya. “Iya… semuanya berjalan sesuai rencana.” Rencana. Aku memegang sisi pintu, berusaha tidak membuat suara. “Iya,” lanjutnya lagi. “Dia belum curiga.” Dadaku mengencang. Aku tahu siapa yang dimaksud “dia”. Aku.
Angin malam masuk melewati celah pintu. Lampu teras menyinari sebagian wajahnya, aku bisa melihat senyum samar itu. “Tenang saja,” katanya lagi, suaranya sangat pelan, tetapi setiap katanya sampai padaku dengan jelas. “Dia belum tahu apa-apa.”