Naufal Hasbi baru saja tiba di pekarangan rumahnya sepulang dari sekolah. Wajah remaja usia 17 tahun itu terlihat sangat cerah. Perutnya sudah sangat lapar, apalagi membayangkan wanginya masakan ibunda tercinta. Ia bergegas turun dari motor dan melangkah memasuki rumahnya.
"Mama," ia memanggil sembari membuka pintu.
Tidak ada jawaban. Rumah itu terlihat sangat hening. Dipandanginya seorang anak laki-laki berusia 2 tahun yang duduk di lantai memainkan sebuah mobil. Akhzam Hasbi nama anak itu, adik bungsu Naufal yang berbeda 15 tahun darinya. Di depan Azam, begitu biasanya ia dipanggil, TV menyala menyiarkan tayangan animasi. Begitu seriusnya memainkan mobil, Azam sama sekali tak menyadari kepulangan abangnya.
"Ma."
Naufal berjalan menuju dapur, mungkin ibunya sedang menyiapkan hidangan makan siang untuk mereka. Namun tidak terlihat sosok wanita itu di sana.
"Mama!"
Kali ini Naufal memanggil lebih keras. Ia berjalan menuju kamar depan. Diketuknya pintu sambil kembali memanggil.
"Mama!"
Naufal membuka pintu kamar itu. Langkahnya terhenti seketika. Adelia Rani, perempuan berusia 39 tahun itu duduk disisi tempat tidur. Di tangannya memegang 2 buku tabungan dan 2 helai kertas.
"Ma," panggil Naufal.
Adelia Menoleh.
"Sudah pulang?"
"Mama kenapa?"
Adelia diam sesaat sebelum akhirnya berkata.
"Kamu ajak adek makan siang ya? Mama tidak enak badan
"Ma," bisiknya pelan, ia melangkah menghampiri dan duduk di samping Adelia.
Baru terlihat kalau mata ibunya itu sembab. Senyum tipis, yang lebih mirip sebagai upaya menahan tangis, terukir di bibirnya.
"Mama kenapa?" Naufal mengulangi pertanyaannya.
Entah kenapa ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Perasaan hangat yang semula ia rasakan kini telah sirna, digantikan oleh kecemasan yang mencekam.
Adelia menyerahkan kertas yang ternyata adalah rekening koran dan dua buku tabungan pada Naufal. Tangannya gemetar hebat.
"Lihatlah ini, Nak," katanya, suara terputus-putus oleh isak tangis.
Naufal menerima helaian kertas berikut dua buku tabungan yang disodorkan ibunya. Dibukanya buku tabungan itu.
"Tadi pagi, Mama mau mengambil uang ke ATM, Tidak banyak. Hanya 200 ribu. Tapi tidak bisa, dilayar tertulis saldo tidak cukup. Mama pikir mesinnya Error. Karena rasanya aneh, tapi setelah mama cek, di tabungan hanya tersisa 100 ribu. Buru buru pulang untuk mengambil buku tabungan. Perasaan Mama tidak enak. Papa ditelpon tidak aktif. Langsung saja mama menuju Bank. Di sana, mama minta tolong untuk print buku. Benar saja, ada beberapa kali penarikan dalam jumlah yang besar. Masih tidak percaya, Mama minta pihak bank untuk mencetak rekening koran. Dan benar saja. Memang ada beberapa kali penarikan."
"Papa yang ambil??" tebak Naufal.
"Entahlah, handphone Papa tidak aktif sampai siang ini."
"Yang lebih menyakitkan itu, Saat Mama mencoba mencetak buku tabungan pendidikanmu, juga sudah terkuras habis."
Wajah Naufal langsung memerah, ada rasa amarah di dalamnya.
"Mama!" terdengar panggilan Akhzam dari luar, disusul kemunculannya. "Ada orang di depan."
"Biar Abang yang lihat, Mama disini saja."
Naufal berjalan keluar. Berjalan menuju ruang tamu.
Ia membuka pintu. Dua orang lelaki berdiri di depan pintu.
"Selamat siang," sapa salah satu dari lelaki itu.
"Siang. Maaf, Bapak berdua siapa?"
"Saya Amril Anwar, yang mempunyai rumah ini."
Lelaki yang berkacamata memperkenalkan diri.
"Rumah ini? Maksudnya?" tanya Naufal.
"Dua minggu yang lalu, saya deal membeli rumah ini. Rencananya hari ini saya ingin merenovasinya agar bulan depan bisa ditempati oleh putri saya. Kaget, kenapa rumah ini ada orangnya? sedangkan dalam perjanjian harusnya sudah kosong sejak minggu yang lalu ketika Fatar Hasbi menyerahkan kunci."
"Apa? Tapi rumah ini tidak dijual, Pak."
"Loh, Bagaimana bisa? Semua surat-surat sudah dilengkapi kok. Bahkan istri Fatar juga sudah menandatanganinya. Fatar sedang sangat kesulitan uang. Karena dulu kami pernah bekerja di perusahaan yang sama, makanya saya ingin membantu kesulitannya."
"Mama setuju? Bapak sudah bertemu Mama?"
"Fatar mengatakan kalau istrinya menderita kanker otak stadium 4. Tidak bisa datang. Saat saya kesini Dua minggu lalu untuk melihat kondisi rumah, memang sepi sekali. Katanya istrinya di rawat di kampungnya."
Naufal terhenyak. Baru teringat akan peristiwa 2 minggu lalu. Hari itu pak Fatar Hasbi, ayahnya pulang dari kantor mengabari kalau punya kejutan untuk mereka semua. Fatar menunjukkan tiket liburan ke Malaysia untuk keberangkatan esok pagi. Betapa bahagianya saat itu Naufal dan Akzham bisa menghabiskan weekend di negeri jiran itu. Mereka akan berangkat keesokan harinya di penerbangan pertama. Namun di hari keberangkatan itu, ayahnya menerima sebuah telepon penting, ada sebuah masalah di kantornya yang membuat ayahnya itu tak bisa ikut berangkat dengan Naufal, Akzham dan ibu mereka.
Naufal mengepalkan tangannya. Ternyata inilah jawaban dari semua yang terjadi hari itu. Fatar bukan sedang punya masalah di kantor. Ia memang sudah merencanakan untuk membuat Adelia dan anak-anaknya keluar dari rumah. Agar ia bisa membawa si peminat rumah yang ingin jual tanpa setahu istrinya, bisa datang untuk melihat langsung kondisi rumah. Ia juga sudah berniat untuk memalsukan tanda tangan Adelia.
"Mama tidak sakit. Mama tidak pernah menyetujui dan menandatangani penjualan rumah ini," ucap Naufal.
"Maksudnya?"
"Apa papa sudah menerima semua uangnya, Om?" tanya Naufal.
"Ya. Hari itu juga, setelah saya melihat kesini. langsung memberikan DP. Dan beberapa hari kemudian pembayarannya diselesaikan di depan notaris."
"Ada apa?" Adelia yang baru keluar dari kamar, berjalan menghampiri Naufal."Siapa yang datang?"
Amril memandang Adelia.
"Adelia? Istrinya Fatar?"
"Ya. Anda?"
“Saya yang membeli rumah ini dari Fatar. Saya Amril, teman Fatar saat bekerja di humas pabrik kertas. Kita pernah bertemu dua kali dalam sebuah acara yang diadakan kantor.”
“Membeli?”
“Om Amril bilang, Papa menjual rumah ini,” Naufal menjelaskan dengan hati-hati.
Adelia terpaku mendengar ucapan putra sulungnya itu. Bergegas ia meninggalkan ruangan itu l, kembali ke kamar. Dibukanya lemari, meraih kunci laci yang ia simpan di dalam sebuah kotak kecil. Dibukanya laci itu dengan tangan gemetar. Biasanya dalam laci itu tersimpan beberapa berkas. Dilihatnya satu persatu map yang ada di dalam laci. Benar! Ia tak menemukan sertifikat rumah di dalamnya.
Dunia adelia terasa runtuh seketika. Setelah kehilangan seluruh uang di tabungan, kini ia harus menghadapi kenyataan kehilangan sertifikat rumah.
Air mata rasanya sudah tak bisa lagi keluar. Adelia keluar dari kamar.
Di ruang tamu terlihat Naufal sedang berbincang serius dengan Amril. Keduanya berhenti bicara ketika Adelia menghampiri.
“Bisakah kami meminta waktu untuk mengosongkan rumah ini?” tanya Adelia.
Amril memandang Naufal, lalu mengalihkan pandangan pada Adelia.
“Aku sudah mendengar ceritanya dari Naufal. Kalian bisa tetap di sini hingga menemukan rumah yang baru. Aku akan membantu menghubungi Fatar.”
Adelia tak mampu untuk berkata.
“Terima kasih Om,” Naufal mewakili ibunya.
Amril berdiri.
“Om pamit, kamu bisa hubungi Om di nomor yang om berikan tadi.”
“Baik.”
“Aku pamit, kuat ya Del.”
“Terima kasih,” ucap Adelia.
Amril menepuk bahu Naufal.
“Jaga ibu baik-baik,” ucapnya sebelum meninggalkan rumah itu.
Naufal menunggu hingga mobil yang membawa Amril dan lelaki yang bersamanya hilang dari pandangan. Ia kembali masuk dan menutup pintu. Adelia sudah tidak ada di ruang tamu.
Naufal mengepalkan tangannya saat melihat photo keluarga mereka di dinding. Ditatapnya wajah Fatar penuh amarah.
“Suatu hari kau harus bisa menjelaskan kenapa kau tega melakukan hal sejahat ini pada Mama!”