Pukul 5.30 WIB. Cahaya subuh masih samar menerobos celah jendela, menerangi kamar yang dipenuhi keheningan.
Naufal, usai menunaikan sholat subuh, melipat sajadah dengan gerakan pelan. Tatapannya jatuh pada Akzham, adiknya, yang tertidur pulas di lantai.
Dengan lembut, Naufal mengangkat tubuh Akzham. Ia membaringkan Akzham di tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya.
Sentuhannya penuh kelembutan, seolah takut membangunkan mimpi buruk yang mungkin sedang dialami Akzham.
Aroma nasi goreng dari dapur tercium saat Naufal berjalan ke sana. Adelia menoleh saat mendengar langkah kaki menghampiri.
Wajahnya tampak lelah, mata masih sembab, dan senyum tipis tetap ia paksakan. Senyum yang terasa begitu getir, mencerminkan beban berat yang ia pikul. Naufal merasakan keputusasaan yang sama.
“Sudah salat?” tanyanya, suaranya sedikit serak, mencoba terdengar tenang.
“Sudah,” jawab Naufal.
“Adek?”
“Sudah, tapi tidur lagi,” jawab Naufal sambil menguap kecil. Ia mencoba bersikap biasa, dan beban di hatinya terasa berat.
Adelia menghela napas panjang, wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.
“Hari ini kan tidak sekolah ya? Mama minta tolong ya, Nak? Jaga Adek. Mama harus ke kantor. Tante Lila anaknya sakit. Dia tidak bisa masuk. Sekalian Mama mau ketemu bos, mungkin ada lowongan kerja tambahan.” Suaranya bergetar, mencoba menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Kata-katanya terdengar dipaksakan, menutupi sesuatu.
“Untuk?” tanya Naufal, kepenasarannya bercampur dengan kecemasan.
Adelia mengusap wajahnya, matanya berkaca-kaca. “Kita harus pindah dari sini, Nak. Uang Mama sudah habis. Kita tak bisa bertahan di sini lebih lama lagi.” Suaranya terputus-putus, diiringi isak tangis yang berusaha ia tahan. Kata-kata itu seperti pukulan telak yang menghantam Naufal. Ia merasakan keputusasaan yang sama, dan ia harus tetap kuat untuk ibunya dan Akzham.
Naufal berpikir sejenak, kemudian sebuah ide muncul di benaknya, sebuah harapan tipis yang mungkin bisa menyelamatkan mereka.
“Kenapa kita tidak pindah ke rumah Kakek saja, Ma?” tanyanya, suaranya penuh harap, meskipun ia sendiri ragu akan penerimaan Kakeknya.
“Mama kan anak perempuan Kakek satu-satunya. Om Kevin dan Om Revan tidak akan membiarkan Mama diperlakukan seperti ini!”
Ia berharap pada kekuatan keluarga besarnya, pada perlindungan dari paman-pamannya yang berpangkat tinggi.
Adelia termenung, bayangan masa lalunya yang penuh kemewahan beradu dengan kenyataan pahit yang dihadapinya sekarang. Kenangan akan kemewahan dan perlindungan dari dua kakak lelakinya, Kevin Samudra (Brigadir Jenderal) dan Revan Anugrah (Komisaris Besar Polisi), membuatnya semakin sedih.
Mereka adalah pelindungnya, benteng kokoh yang selalu melindunginya. Namun, pernikahannya dengan Fatar, pria yang dulu ia cintai dengan sepenuh hati, telah merenggut semua itu.
Cinta yang menggunung telah membutakannya, membawanya meninggalkan kemewahan dan perlindungan keluarga untuk menjalani hidup sederhana bersama Fatar. Ia percaya akan janji Fatar, janji untuk membawanya menuju syurga Ilahi. Tidak pernah terpikir kalau akan mengalami masalah mengejutkan ini.
"Ma," panggilan Naufal membuyarkan lamunan Adelia. Ia tersentak kembali ke kenyataan pahit yang sedang dihadapinya.
“Tidak, Nak. Tidak boleh membuat kakekmu resah,” jawab Adelia tegas, menahan air mata yang mengancam untuk jatuh. “Masih bisa Mama usahakan untuk mencari tempat tinggal yang layak untuk kita bertiga. Sambil menunggu penjelasan Papa. Mungkin ada masalah besar yang sedang dihadapinya sehingga Papa nekat menjual rumah ini tanpa bicara pada kita. Mungkin Papa tidak ingin membuat Mama risau.” Ia masih berusaha membela suaminya, mencari alasan untuk memaklumi tindakan Fatar yang tak termaafkan.
“Masih bisa berpikir baik setelah apa yang dilakukan Papa? Ma, Papa menjual rumah ini tanpa izin Mama! Memalsukan tanda tangan Mama! Menghabiskan tabungan pendidikan saya! Menguras semua isi ATM Mama! Lalu kabur dan tak bisa dihubungi! Mama masih membelanya?!” Naufal meledak, kemarahannya tak terbendung lagi. Ia merasa dikhianati, diperlakukan tidak adil, dan yang paling menyakitkan adalah melihat ibunya yang masih berusaha membela ayahnya yang telah menghancurkan hidup mereka.
“Pasti ada alasan .… Kita tunggu saja sampai nomor ponsel Papa bisa terhubung. Jangan menghakimi Papa sekejam itu!” Adelia membela suaminya, suaranya bergetar, dan tekadnya tetap teguh. Ia masih berharap ada penjelasan yang masuk akal di balik semua ini, masih berharap pada cinta yang telah lama memudar.
Naufal terdiam, memandang ibunya dengan hati yang remuk. Meskipun ibunya terlihat sangat terluka, wanita di hadapannya itu tak sedikitpun terlihat ingin berpikir negatif tentang suaminya. Ia tak mengerti, bagaimana ibunya bisa begitu tegar menghadapi pengkhianatan yang begitu kejam. Ia hanya bisa merasakan keputusasaan yang begitu dalam.
"Mama mandi dulu. Harus segera ke kantor. Bangunkan adikmu, ajak dia sarapan,” kata Adelia, mencoba menyembunyikan kesedihannya di balik kata-kata yang terkesan biasa saja. Ia berusaha tegar, berusaha menjadi ibu yang kuat di hadapan anak-anaknya.
“Ya,” jawab Naufal singkat, suaranya datar.
Adelia berjalan meninggalkan dapur. Naufal menghela napas panjang sebelum berjalan menuju kamarnya. Ia merasa beban berat dipundaknya. Tanggung jawab untuk menjaga adiknya dan mendukung ibunya dalam situasi sulit ini terasa sangat besar.
Akzham ternyata sudah bangun. Namun, ia duduk di tempat tidur sambil memainkan mobil-mobilan kesayangannya, tampak tak menyadari betapa berat masalah yang sedang dihadapi keluarganya. Naufal tersenyum getir melihat adiknya yang masih polos dan tak mengerti apa-apa.
"Ayo, Dek. Kita makan," ucap Naufal lembut, berusaha mengalihkan pikirannya dari masalah yang membelit. "Mama sudah masak nasi goreng kesukaan adek." Ia mengulurkan tangannya agar Akzham turun dari tempat tidur.
Tangan kecil Akzham langsung menggenggam jari Naufal. Mereka tiba di dapur. Naufal mengangkat tubuh kecil itu agar duduk di kursi. Pandangannya tak sengaja tertuju pada ponsel Adelia yang terletak di atas meja. Sebuah panggilan masuk dari Tante Lila, sahabat ibunya, terlewatkan. Namun, ada pesan masuk. Jantung Naufal berdebar kencang saat membaca pesan itu:
"Sudah berangkat, Del? Aku masih mengamati Fatar dan Chintya. Mereka masih di sini dan belum menyadari keberadaanku."
Sebuah foto terlampir. Foto Fatar duduk begitu mesra dengan seorang wanita yang sangat dikenali Naufal—Chintya, sahabat karib Adelia semasa SMA. Lima bulan lalu, Chintya yang mengalami KDRT dari mantan suaminya, telah kembali dengan bantuan Adelia.
Naufal terpaku. Sebuah kebenaran pahit terungkap di hadapannya. Kehidupan keluarganya hancur bukan hanya karena masalah ekonomi, tetapi juga karena pengkhianatan yang dilakukan ayahnya.
Dari percakapan chat antara Adelia dan Lila menunjukkan kalau ibunya sedang berusaha menutupi rasa sakit yang ia dapat dengan berpura-pura ke kantor menggantikan temannya yang tak bisa datang.
Naufal sekarang paham kalau Adelia ingin bertemu Fatar sebelum suaminya itu meninggalkan kota bersama Chintya.
Terdengar langkah kaki mendekat. Naufal segera meletakkan ponsel itu di meja. Ia duduk di samping Akzham.
Adelia masuk, terlihat tergesa-gesa memasukkan ponsel dalam tas.
"Mama pergi ya? Kalian baik-baik di rumah."
Tanpa menunggu jawaban, Adelia meninggalkan ruangan itu.
Naufal memandang Akzham.
"Habis makan, adek nanti tunggu abang di rumah tante Nisa ya?"
"Abang ke mana?"
"Abang ke swalayan sebentar."
"Beliin cokelat?"
"Iya."
Naufal mengepalkan tangannya.
"Tidak bisa. Aku harus menyusul Mama," tekatnya.