BAYANGAN DI BALIK LENCANA Sebuah Keputusan
3/35
Bab 3

Sebuah Keputusan

Mentari pagi masih enggan menampakkan diri sepenuhnya, hanya samar-samar menyapa bumi saat Naufal melangkah cepat di Bandara.

Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 06.30 wib. Detaknya berirama, mengikuti langkah pasti Naufal yang tengah menyusuri lorong keberangkatan.

Suasana khas pagi hari di bandara – hiruk pikuk suara roda koper, celoteh penumpang, dan desisan pendingin ruangan – memenuhi indra pendengarannya.

Namun, di tengah keramaian itu, Naufal tetap fokus, matanya mengamati setiap detail di sekitarnya, seolah mencari sesuatu, atau seseorang. Wajahnya tampak tegang, sedikit cemas.

Deretan kursi tunggu di kanan kirinya dipenuhi penumpang yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang asyik membaca buku, kepala mereka tertunduk di balik halaman-halaman yang penuh cerita.

Ada yang sibuk dengan layar ponsel pintar, jari-jari mereka menari-nari di atas permukaan kaca, mungkin sedang berbalas pesan atau bermain game.

Ada pula yang berbincang ringan dengan teman atau keluarga, suara tawa mereka sesekali terdengar di sela-sela suara bising bandara.

Naufal memperhatikan mereka semua, seolah mencari ketenangan di tengah kekacauan batinnya.

Sebuah tepukan di bahunya membuyarkan lamunannya. Ia menoleh, dan senyum lega terukir di bibirnya.

"Om Dika," sapanya ramah.

Dika Prasetya , lelaki berdarah Jawa yang sudah dikenalnya lebih dari sepuluh tahun, adalah salah satu ahli mekanik di maskapai penerbangan tempat ibunya, Adelia, bekerja.

Dulu, saat Naufal masih kecil, setiap kali ia ikut Adelia ke kantor sepulang sekolah, Dika selalu menyambutnya dengan hangat.

Kenangan masa kecil itu terbayang jelas di benaknya, memberikan sedikit ketenangan di tengah badai yang sedang menerpa keluarganya.

"Kenapa ke sini, Naufal?" tanya Dika, suaranya lembut.

"Cari Mama," jawab Naufal singkat, nada suaranya sedikit khawatir.

Kecemasannya bukan hanya karena ibunya tidak ada di rumah, tetapi juga karena firasat buruk yang telah menghantuinya sejak pagi tadi.

"Mama kamu kan libur hari ini?" tanya Dika balik, sedikit heran.

Lama Naufal terdiam, sebelum akhirnya berkata,

"Papa ... Papa menjual rumah kami tanpa sepengetahuan Mama, Om. Dan semua tabungan pendidikan ku juga hilang."

Suaranya bergetar menahan amarah

"Apa? Siapa yang memberitahumu?" Dika mengerutkan kening, rasa khawatir mulai menyelimuti dirinya.

“Kemarin orang yang membeli rumah datang. Dan tadi tidak sengaja membaca pesan yang dikirimkan Tante Lila untuk Mama. Katanya melihat Papa di ruang tunggu bersama Tante Chintya, menunggu jadwal keberangkatan,” ungkap Naufal.

“Mungkin Mama ke sini untuk bertemu Papa.”

Dika berhenti di depan pintu, mendengarkan suara riuh rendah yang berasal dari dalam. Suasana di dalam tampak gaduh, berbeda dari biasanya.

"Ada apa ini?" gumam Dika, sedikit penasaran.

Ia segera menghampiri seorang cleaning service yang sedang membersihkan lantai di dekat pintu.

"Kak Adel ngamuk, Bang," jawab cleaning service itu, suaranya berbisik.

"Marah besar."

"Kenapa?" tanya Dika, nada suaranya sedikit meninggi.

Sebelum cleaning service itu sempat menjawab, pintu ruangan terbuka. Lila, rekan kerja Adelia, muncul dengan wajah terkejut dan sedikit pucat.

"Eh, Naufal?" serunya, matanya menatap Naufal dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Kehadiran Naufal dan Dika di depan pintu kantor seolah menjadi pertanda akan sebuah masalah yang lebih besar.

Lila menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Masuklah dulu," ajaknya, membuka pintu lebih lebar.

Naufal dan Dika masuk ke dalam ruangan, langkah mereka diiringi oleh rasa penasaran dan kekhawatiran yang membuncah.

Ruangan itu tampak lebih ramai dari biasanya, beberapa karyawan berkumpul di sudut ruangan, berbisik-bisik satu sama lain. Suasana tegang terasa menyelimuti ruangan.

Adelia tampak duduk di tengah ruangan, wajahnya merah padam menahan amarah. Matanya berkaca-kaca, dan sorot matanya tajam dan penuh kemarahan. Sudah tidak terdengar lagi sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Naufal dan Dika saling berpandangan. Lila mendekat ke arah Naufal dan Dika, menjelaskan dengan suara pelan, "Tadi di ruang check in, Fatar dan Chintya duduk menunggu jadwal penerbangan. Delay 1 jam sih, karena itu saat Adelia datang masih bisa bertemu dan memaki mereka di depan umum. Tapi temtu saja itu tidak dibenarkan. Pak Andi langsung menarik Adel ke kantor agar tidak memgganggu kenyamanan publik.”

“Pesawat sudah boarding?”

“Sudah. Fatar dan Chuntya sudah masuk. Aku yang salah. Harusnya aku tak mengirimkan photo itu yang pasti menyulut emosi Adel. Membuat ia dimarahi pak Reza karena sudah membuat keributan. Tapi bagaimana? Aku geram melihatnya. Chintya sungguh tak punya hati,” ucap Lila.

Naufal merasa dadanya sesak. Ia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya ibunya saat ini. Ia menghampiri Adelia, memeluk ibunya erat-erat, mencoba memberikan sedikit kekuatan dan ketenangan di tengah badai yang menerjang keluarganya.

“Pulang yuk, Ma,” bisik Naufal.

“Kamu saja. Mama mau mengambil penerbangan selanjutnya, tujuan yang sama dengan ayahmu dan perempuannya itu.”

“Mama mau menuntut uang yang diambil papa?” tanya Naufal.

“Uang masih bisa dicari. Tapi mereka yang sudah mengkhianati, sepantasnya untuk diberikan pelajaran!” Suara Adelia masih bergetar menahan amarah.

"Tidak usah, Ma. Biarkan saja Papa pergi dengan Tante Chintya. Tuhan tahu kalau Papa bukan laki -laki yang baik untuk Mama. Karena itu, dihadiahkan Nya lelaki tak baik itu untuk perempuan yang juga tak baik.”

Adelia tercengang. Tidak pernah mengira kalau sebuah kalimat sederhana itu akan meluncur dari mulut seorang remaja yang baru berusia 17 tahun.

“Mama, terlalu berharga untuk orang seperti. Harus disadari, tidak mlperlu menunggu waktu. Jadikan saat ini waktunya untuk melepaskan pembuat luka di hati Mama,” ucap Naufal.

Dika ikut menepuk-nepuk punggung Adelia.

“Anakmu benar, Del. Jikapun kamu bisa menyusul mereka. Apa yang bisa dilakukan? Memaki mereka? Meneriakkan pada semua orang kalau mereka pengkhianat? Itu mungkin membuat kita akan sangat puas. Tapi bukan begitu cara membalas jahatnya mereka.”

“Abang janji, Ma. Tidak akan jadi anak yang gagal dalam pengasuhan Mama,” janji Naufal, ucapan yang membuat pecahnya tangis Adelia dalam pelukan anaknya.

Dan Malam itu, Naufal duduk di teras rumah sambil memandangi langit. Gelap, hanya ada satu bintang yang terlihat di langit.

Naufal menatapi bintang itu tak berkedip. Meski terlihat sangat kecil untuk langit seluas itu, sang Bintang masih tetap mencoba menjadi titik yang bisa menerangi gelapnya malam.

Naufal tersenyum. Malam itu dia belajar satu hal dari bintang yang ia lihat. Sekecil apa pun cahaya yang dikeluarkan bintang, harus bisa menjadi sedikit penerang bagi kegelapan yang luas.

Adelia tadi berkata saat dalam perjalanan pulang ke rumah.

“Kakek dan om kamu, tidak perlu tahu apa masalah yang kita hadapi. Mama yang akan perjuangkan masa depan kalian,” begitu janji dan tekat dari perempuan yang sudah melahirkan Naufal itu.

“Ok, kita berjuang sama-sama, Ma. Akan aku buat Mama bangga memilikiku sebagai anak mama,” janji Naufal. “Kau jadi saksi janjiku malam ini ya Bintang! Suatu hari akan ku buat Papa menyesal dan berlutut memohon maaf pada Mama!”