Aroma kopi robusta yang kuat memenuhi udara Cafe Teras Kayu, bercampur dengan aroma mie goreng yang baru saja dihidangkan. Ikhwan Permana, lelaki 68 tahun dengan rambut putih rapi tersisir ke belakang, menyesap kopinya dengan tenang. Di hadapannya, Naufal, cucunya, terlihat gelisah, wajahnya pucat. Akhzam, adik Naufal, duduk di sudut meja, asyik dengan ponsel milik Naufal, sesekali melirik ke arah mereka berdua. Suasana kafe yang biasanya ramai, terasa sunyi bagi ketiganya.
“Kakek sudah mengamati selama tiga hari ini, setelah mendapat laporan dari Roni,” kata Ikhwan, suaranya lembut namun tegas, memecah kesunyian. Tatapannya tajam mengamati Naufal, seolah membaca pikiran cucunya. Kasih sayang terpancar di balik ketegasan tatapannya.
Naufal mengaduk es kopi susunya, jari-jarinya bergerak gelisah. Bunyi sendok kecil beradu dengan gelas menambah ketegangan. “Amati apa, Kek?” tanyanya, suara hampir tak terdengar, lirih dan terbata.
Ikhwan meletakkan cangkirnya perlahan. Suara gesekan porselin dengan meja kayu terdengar nyaring. "Tiga hari ini, Kakek melihat kamu bekerja paruh waktu sepulang sekolah," kata Ikhwan, suaranya datar, penuh arti. Tatapannya campuran kekhawatiran dan ketegasan.
Naufal terdiam. Ia tahu kakeknya jeli. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, namun dadanya sesak.
"Entah apa yang kamu dan ibumu rahasiakan dari Kakek," kata Ikhwan, suaranya sedikit meninggi, namun tetap terkendali. "Tapi Kakek sudah mendapat kabar dari Roni, kalian sudah tidak tinggal di rumah itu lagi. Kakek juga sudah melihat rumah kontrakan sempit yang kalian tempati. Rumah yang jauh dari kenyamanan yang dulu kalian miliki."
Naufal menundukkan wajahnya.
"Kakek masih menunggu apa yang terjadi dan tak ingin kalian sampaikan pada kakek, juga pada kedua saudara laki-laki ibumu," Tatapan Ikhwan tetap tajam, namun keprihatinan mendalam tersirat di dalamnya. Suaranya lebih lembut, penuh pengertian.
Naufal semakin menunduk mengingat apa yang sudah menimpa keluarganya. Tiga minggu lalu, Adelia membawa kedua putranya pindah dari rumah yang sudah dijual Fatar pada Amril. Rumah yang menyimpan banyak kenangan indah. Kini mereka hanya bisa tinggal di kontrakan sempit dengan satu kamar tidur. Adelia harus menjual semua perabot yang tak mungkin akan masuk ke kontrakan. Ia mengganti semuanya dengan peralatan yang sesuai dengan kondisi rumah yang sekarang mereka tempati. Naufal bisa melihat kelelahan dan stres pada ibunya. Demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya, Adelia bahkan harus bangun sebelum matahari terbit untuk menyelesaikan cemilan dan kue basah yang ia letakkan di kantin. Sering juga Adelia harus pulang malam untuk menambah uang untuk kebutuhan mereka. Belum lagi menghadapi Akhzam yang rewel karena tak ada AC lagi di kamar. Dia belum mengerti kenapa harus tinggal di rumah yang sangat sempit dan tak lagi bisa meminta makanan yang ia suka. Tidak mengerti kenapa tidak lagi pergi ke mall setiap weekend. Juga tidak pernah tahu kenapa papa tidak pernah pulang lagi. Naufal merasa tidak sanggup membiarkan ibunya harus bekerja keras, ia memutuskan untuk bekerja sebagai ojek online sepulang sekolah untuk mengumpulkan uang sekolah dan meringankan beban ibunya.
"Maaf, Kek," bisik Naufal, suaranya hampir tak terdengar di antara hiruk pikuk kafe yang mulai ramai.
Ikhwan menghela napas panjang. Ia mengerti beban Adelia, putrinya. Roni, supirnya selama lebih dari 15 tahun, telah menceritakan semuanya. Ia tahu ketegaran Adelia yang membesarkan anak-anaknya sendirian setelah ditinggal suami yang mengkhianati kepercayaan. Ikhwan merasakan sakit hati dan amarah.
"Ceritakan semuanya, Nak," kata Ikhwan lebih lembut. "Kakek ingin mendengar semuanya dari mulutmu sendiri, Nak."
Naufal mengangkat wajahnya, raut wajahnya tegang namun ia tetap berusaha tenang. Cerita itu akhirnya meluncur dari mulutnya. Mulai dari kepergian mendadak ayahnya, pengkhianatan, hingga kesulitan ekonomi yang sedang terjadi.
Akhzam, yang diam memperhatikan, meletakkan ponselnya. Ia mendekat ke kakaknya, menepuk pundak Naufal. Entah dari mana ia belajar memberikan perlakuan sederhana namun penuh dukungan itu.
Ikhwan mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk. Rasa sakit hati, sedih, dan marah bercampur aduk dalam dirinya, namun ia fokus pada cucunya.
Ikhwan terdiam sejenak. Ia menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkirnya, menatap Naufal dan Akhzam dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Aku, pernah mengatakan pada Mama.Kenapa tidak pulang ke rumah Kakek. Kenapa tidak bercerita pada om Kevin dan Om Revan?"
Ikhwan tersenyum tipis.
"Ibumu bukan perempuan lemah. Ia mungkin anak perempuan satu-satunya. Ia pernah hidup begitu mewah. Tapi dia terlatih untuk bisa memecahkan masalahnya sendiri."
Wajahnya menunjukkan rasa bangga saat menceritakan kepribadian putrinya.
"Aku dengar, dulu Mama menikah dengan Papa tanpa persetujuan Kakek dan Om," ucap Naufal.
"Ya. Tapi ibumu nekat mengikuti ayahmu. Harus diakui, aku bahagia melihat apa yang sudah mereka lakukan dalam membentuk rumah tangga. Mereka bisa memiliki segalanya dengan usaha yang mereka lakukan. Membuatmu dan Azam bisa memiliki apapun yang kalian mau."
Cerita mereka berhenti. Akhzam terlihat menarik lengan Ikhwan.
"Kenapa?" Ikhwan memandang Akhzam.
"Mau main ke luar?" pertanyaan yang lebih mirip sebuah permintaan keluar dari mulut bocah itu.
Ikhwan tertawa. Ia bisa menangkap rasa bosan yang terlihat di wajah Cucunya yang baru berusia 2 tahun itu.
"Boleh?" Akhzam mengulangi pertanyaannya.
Ihwan mengalihkan pandangan pada Roni yang duduk di meja sebelah.
"Antar Azam main," ucap Ikhwan.
"Baik, Pak."
Roni memegang Tangan Akhzam meninggalkan meja itu.
Naufal menunggu hingga Akhzam yang dibawa Roni hilang dari pandangan. Ia melanjutkan ceritanya.
"Papa tergoda tante Chintya," ucap Naufal.
"Chintya? Chintya teman ibumu?" tanya Ikhwan
"Iya."
Ikhwan mengepalkan tangannya. Geram. Jika mundur ke belakang, memori masa lalu itu akan terputar bak sebuah video panjang. Bagaimana Chintya yang tak punya apa-apa setelah ditendang keluar oleh suaminya yang memilih wanita lain. Chintya bisa pulang ke rumah orangtuanya berkat bantuan Adelia.
"Kakek akan membantu kalian," janji Ikhwan, suaranya tegas namun lembut. "Kalian tidak perlu memikul beban ini sendirian. Kalian masih punya Kakek. Masih punya Om Kevin dan om Revan."
Naufal mengangguk, rasa lega mulai terpancar dari wajahnya.
Ikhwan menghubungi Kevin Samudra, kakak pertama Adelia.
"Hallo, Pa," suara Khas milik Kevin yang berat dan penuh wibawa.
"Kamu dimana?" tanya Ikhwan.
"Jalan pulang ke rumah, kenapa Pa?"
"Ada hal penting yang harus kamu tahu. Papa tunggu di Cafe Teras Kayu."
"Iya, Aku kesana."
"Ok," Ikhwan menutup telepon. Ia menoleh pada Naufal. "Kita tunggu Om Kevin kesini." Sebuah rencana telah terpatri di benak Ikhwan. Ia akan memastikan cucunya mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia akan memastikan masa depan Naufal dan Akzham aman dan terjamin. Ia akan membantu putrinya, Adelia, untuk bangkit dari keterpurukan. Dan sebuah keinginan untuk menarik pulang Fatar dan Chintya yang sudah mengobrak abrik hidup putrinya.