BAYANGAN DI BALIK LENCANA Janji Naufal
5/35
Bab 5

Janji Naufal

Kevin Samudra berdiri di ambang pintu, mengamati rumah mungil yang kini menjadi tempat tinggal Adelia dan kedua anaknya. Rumah itu, bagi Kevin, tak lebih dari sekadar ruang makan di rumah orang tuanya.

Bayangan kasur gulung Naufal yang bersandar di dinding dan tumpukan kardus di sisinya, menusuk hatinya. Tidak ada meja makan, tidak ada sofa, hanya kesederhanaan yang terasa menyayat.

Ia membuka pintu kamar yang sedikit lebih besar, hanya menemukan sebuah lemari dan kasur gulung yang sedikit lebih lebar, serta kipas angin yang berderit pelan. Amarah dan kekhawatiran bercampur aduk dalam dadanya.

Ia keluar, mendapati Naufal berdiri bersama Ikhwan, ayahnya. Kekecewaan tergambar jelas di wajah Ikhwan saat melihat kondisi rumah tersebut. Ia terlihat diam, dan sorot matanya tajam, mencerminkan kekecewaan yang mendalam.

Adelia belum pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 17.45. Kevin sengaja menyuruh supirnya membawa Akhzam ke wahana permainan. Ia tak ingin Akhzam menyaksikan pertengkaran yang mungkin akan terjadi.

Anak kecil itu mungkin tak akan mengerti, tapi melihat kemarahan Kevin bukanlah pemandangan yang pantas untuknya.

Ponsel Kevin berdering. Sebuah panggilan dari Revan, adiknya nomor dua.

"Hallo," Kevin mengangkat telepon, suaranya terdengar tegang.

"Aku baru membaca pesanmu," ucap Revan dari seberang.

"Aku yang akan mengurus semua hal di sini. Kau cari saja keberadaan kedua bajingan itu, tangkap dan seret mereka ke bawah kaki Adelia." Suara Kevin bergetar, menahan amarah yang membuncah. "Fatar dan Chintya harus bertanggung jawab atas semua ini."

"Siap." Jawaban Revan singkat dan tegas.

Kevin menutup telepon dan menyimpan ponselnya. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, ini bukan hanya soal rumah kontrakan yang sempit, tetapi juga soal pengkhianatan yang telah menghancurkan kehidupan Adelia.

Pengkhianatan Fatar, suaminya, dan Chintya, sahabat Adelia, yang telah menjual rumah Adelia dan menguras tabungan pendidikan Naufal sebelum kabur bersama.

Tok … tok … tok

Suara ketukan pintu memecah kesunyian. Adelia berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak lelah, bahkan lebih pucat dari biasanya. Ia sedikit terkejut melihat kehadiran ayahnya dan kakak tertuanya di rumah itu.

"Ada apa, Bang?" tanyanya pelan, suaranya sedikit serak, menahan beban yang berat.

Kevin menoleh, tatapannya begitu kaku. Namun, Adelia bisa menebak, keluarganya pasti sudah mengetahui masalah yang menimpanya. Pengkhianatan Fatar dan Chintya. Rahasia yang selama ini ia coba sembunyikan, kini terbongkar.

Ia memandang Naufal, yang berdiri di sampingnya, dengan wajah yang penuh tanya. "Sudah mama katakan. Jangan memberitahu kakek atau om," tegur Adelia, suaranya terdengar sedikit lebih tegas. Ia berusaha menyembunyikan kepanikannya.

Kevin melangkah maju, "Masuk, Del." Suaranya masih terdengar dingin, namun ada sedikit kelembutan di baliknya. Ia tahu, Adelia membutuhkan dukungan, bukan kecaman.

Adelia masuk, matanya menyapu ruangan sempit itu. Naufal tampak sedikit gugup, sementara Ikhwan, duduk di atas kardus, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang tertahan.

"Maaf, Pa, Bang," Adelia berkata, suaranya bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Ikhwan bangkit, menghampiri Adelia dan memeluknya. Tangisan itu pecah. Kembali Naufal melihat ibunya menangis setelah lebih 3 minggu air mata itu terlihat seperti sungai yang sudah mengering di musim kemarau. "Jangan menangis, Nak. Semua akan baik-baik saja." Suaranya terdengar lembut. Ia tahu, putrinya telah berjuang keras, dan ia merasa sangat sedih melihat kondisi putrinya saat ini.

Kevin mendekat, "Ceritakan semuanya, Del. Jangan menyembunyikan apa pun." Suaranya lebih lembut daripada sebelumnya. Ia ingin mendengar semuanya dari Adelia sendiri.

Adelia menceritakan semuanya, dari awal hingga akhir. Sepanjang bercerita, air matanya mengalir deras, membasahi pipinya.

Kevin dan Ikhwan mendengarkan dengan seksama. Mereka merasa marah dan sedih sekaligus. Mereka tidak pernah menyangka, Fatar yang dulu pernah dibela Adelia mati-matian, saat Revan, kakak keduanya menolak keputusan Adelia untuk menerima lamaran, akan tega melakukan hal seperti itu.

Perempuan yang terbiasa hidup bergelimang kemewahan demi sebuah keagungan cinta rela hidup sederhana. Ikhwan mengusap punggung Adelia, hatinya remuk melihat penderitaan putrinya.

"Jangan khawatir, Nak. Kita akan membantu kamu. Kita akan mencari keadilan untukmu." Ia menatap Kevin, "Kita akan memastikan kedua bajingan itu dihukum sesuai dengan perbuatan mereka."

Kevin mengangguk, "Aku sudah menghubungi Revan. Dia akan segera menangkap mereka. Tidak sekedar hukuman pidana, tapi aku pastikan keduanya harus mencium kakimu!" Ia menatap Adelia dengan penuh kasih sayang.

"Kemasi barang-barang berharga mu saja," ucap Ikhwan. "Hari ini juga kalian pindah ke rumahku. Nanti biar Roni yang mengurus semua barang-barang di sini."

"Tapi .…" Adelia mulai bicara, suaranya masih terisak.

"Tidak ada tapi! Sekarang juga pindah!" Suara Kevin menggelegar di ruangan itu. Amarahnya meledak. "Tidak ku izinkan kau susah!"

Naufal melirik ibunya, ketakutan tergambar di wajahnya. Siapa pun tak akan berani bicara jika Kevin sudah bersuara seperti itu.

"Cepat kemasi barang-barang kalian, yang penting-penting saja," Ikhwan menepuk bahu Naufal, mencoba menenangkan cucunya.

"Tidak," Adelia menahan lengan Naufal, matanya menatap ayahnya dan kakaknya dengan tekad yang kuat.

"Tolong percaya saja pada kemampuanku. Ini hanya awal saja. Papa dan Bang Kevin cukup berikan perhatian pada kami secukupnya. Biarkan kami berjuang menjalani hidup dengan kekuatan kami sendiri.

"Adelia!" Suara Kevin kembali menggelegar, "Kau pikir aku tega melihatmu dan anak-anakmu hidup seperti ini? Ini bukan soal kemampuan, Del! Ini soal keadilan dan perlindungan untuk keluargaku!"

"Aku sudah pernah melewati hal sulit ketika keluar dari rumah, Bang!"

"Tapi kau difasilitasi oleh Papa! Rumah yang dijual oleh bajingan itu adalah hadiah dari Papa! Kau memang bilang siap untuk hidup sederhana, dan papa setuju! Tapi tetap Papa memberikan hadiah rumah itu untuk membuatmu nyaman!" bentak Kevin.

Ikhwan menengahi, "Kevin, biarkan Adelia bicara. Dia butuh waktu untuk menerima semuanya." Ia menatap Adelia, "Nak, kita mengerti keinginanmu untuk mandiri. Tapi saat ini, izinkan kami membantumu. Ini bukan soal kemampuan, tetapi soal keluarga."

Adelia terdiam, pergulatan batin terjadi di dalam dirinya. Ia ingin membuktikan kemandiriannya, tetapi ia juga tahu, dukungan keluarganya sangat berarti. Ia melihat kasih sayang dan keprihatinan yang terpancar dari mata ayahnya dan kakaknya.

Ia mengalihkan pandangan pada Naufal.

"Kamu tidak apa-apa tinggal disini? Mama janji, ini hanya sementara. Setelah keuangan kita stabil, kita pasti akan baik baik saja."

"Aku tidak apa-apa, Tapi Adek bagaimana? Dia belum paham kesulitannya Mama."

Adelia terdiam. Naufal menghela napas sebelum bicara.

"Begini saja. Biarkan mama di sini. Biarkan Mama dan aku memperjuangkan hidup kami dengan cara kami. Kakek dan Om bisa datang menjemput kami, jika sudah berkibar bendera, tanda kami menyerah dengan hidup yang kami jalani," ucap Naufal.

Ikhwan dan Kevin saling memandang.

"Baiklah," Ihwan setuju.

"Oya, soal papa dan tante Chintya, biarkan saja. Tidak perlu menyeret mereka pulang. Hanya akan mengoyak lagi luka mama."

Kevin menatap Naufal.

"Tidak bisa!"

"Om, aku pun awalnya juga sama dengan Om. Sangat sakit melihat Mama diperlakukan sangat jahat oleh Papa. Tapi, bukankah Mama terlalu berharga untuk orang jahat itu? Buat apa menyeret mereka pulang jika kembali membuat luka?"

"Naufal benar. Duri yang sudah melukai kulitmu, bukankah seharusnya memang dibuang?" ucap Ikhwan.

Kevin tersenyum. Ia menepuk bahu Naufal.

"Jadilah anak yang hebat dan buat ayahmu menyesal telah membuang kalian semua dari hidupnya!"