Kompleks Paling Bermoral Selamat Datang di Penjara Paling Santun
1/19
Bab 1

Selamat Datang di Penjara Paling Santun

Aku pindah ke kompleks itu pada siang hari yang panasnya setengah serius, setengah bercanda—panas yang membuat orang ingin mengeluh, tapi malas melakukannya. Namun, ada yang ganjil dengan keheningan di sini. Tidak ada suara tukang perabot, tidak ada teriakan anak-anak, bahkan angin pun seolah takut berdesir terlalu keras.

Di gerbang, sebuah spanduk menyambut dengan percaya diri: SELAMAT DATANG DI PERUMAHAN BERKARAKTER. Di bawahnya, slogan yang terdengar bukan seperti janji, melainkan perintah: Nyaman, Tertib, Beradab.

Truk pindahanku berhenti di depan palang otomatis. Seorang satpam keluar dari pos. Seragamnya terlalu licin, tanpa satu pun kerutan.

“Siang, Mas Raka,” sapanya sambil membuka palang, bahkan sebelum aku sempat menurunkan kaca jendela mobil untuk menyebutkan nama.

Aku terpaku sejenak. Aku belum pernah melapor jam berapa aku akan tiba.

“Langsung ke Blok C nomor dua belas, ya,” lanjutnya ramah. “Kunci rumah sudah dititip Bu Ratna di pot bunga sebelah kiri. Beliau bilang biar Mas Raka nggak repot nunggu.”

Anggukannya rapi—seperti orang yang sudah latihan di depan cermin. Namun, matanya tidak tersenyum. Matanya memindai isi mobilku, seolah menghitung jumlah dosa yang kubawa masuk.

Aku melaju pelan, melewati deretan rumah yang warnanya seragam seperti keluarga besar yang sepakat pakai baju senada saat Lebaran. Jalanannya bersih, jenis bersih yang biasanya hanya kutemui di foto brosur, bukan di dunia nyata.

Rumah baruku berdiri kaku dengan cat yang masih bau toko bangunan. Pagarnya putih mengilap. Terlalu putih. Sampai-sampai aku merasa mobilku yang berdebu adalah noda yang merusak pemandangan.

Aku baru menurunkan satu kardus ketika seorang ibu berkerudung pastel muncul entah dari mana. Langkahnya tidak terdengar. Tahu-tahu dia sudah berdiri dua meter dariku.

“Selamat datang, Mas,” katanya. Senyumannya seperti stiker “Good Vibes Only”. “Saya Ratna.”

“Terima kasih, Bu,” jawabku.

Matanya melirik kardus di belakangku. Kardus itu tertutup rapat, hanya ada tulisan kecil "Buku Bekas" di sisi samping yang nyaris tak terlihat.

“Kardus bukunya sebaiknya langsung dibawa masuk ya, Mas,” katanya lembut. “Kalau ditumpuk di teras, takutnya merusak estetika fasad. Kita suka yang clean di sini.”

Darahku berdesir pelan. Bagaimana dia bisa membaca tulisan sekecil itu dari jarak sejauh ini?

“Nanti kalau sudah beres, jangan lupa masuk grup warga, ya. Biar kita bisa saling mengingatkan dalam kebaikan.”

Aku mengangguk kaku. Di hari pertama ini, kata mengingatkan di mulutnya terdengar seperti mengawasi.

Belum sempat aku bernapas lega setelah Bu Ratna pergi, seorang pria berkemeja rapi datang. Rambutnya klimis, raut wajahnya tenang seperti kalender meja.

“Saya Budi. Ketua RT,” katanya.

“Raka, Pak.”

“Selamat bergabung di lingkungan kami yang tertib dan bermoral,” ujarnya. Nada suaranya datar, tanpa emosi, seperti mesin penjawab otomatis. Ia menyerahkan selembar kertas. “Ini tata tertib. Singkat saja.”

Aku melirik kertas itu. Jam bertamu. Parkir. Sampah. Standar. Namun, ada satu poin di bagian bawah yang dicetak tebal: Diharapkan warga menjaga citra visual demi keharmonisan.

“Citra visual?” tanyaku.

Pak Budi tersenyum tipis. “Kita tidak hanya menjaga perilaku, Mas Raka. Kita menjaga apa yang terlihat. Karena apa yang terlihat, itu yang dinilai.”

Ia pergi tanpa menjabat tanganku.

Sore itu, aku duduk di lantai ruang tamu, bersandar pada kardus bertuliskan “Dapur”. Lelah luar biasa. Aku baru saja hendak memejamkan mata ketika ponselku bergetar panjang.

Pak Budi menambahkan Anda ke grup: Warga Cemerlang – RT 04.

Pesan memberondong masuk nyaris bersamaan.

Pak Budi: Selamat datang, Mas Raka. Semoga betah di lingkungan berkarakter. Ibu Ratna: Ingat ya, kita saling menjaga dengan cara yang baik dan santun.

Aku mengetik balasan standar: Terima kasih, Bu. Senang bisa bergabung.

Tiba-tiba, akun bernama Dimas C muncul. Dimas C: Welcome, Mas! Nanti kita foto warga baru ya. Buat dokumentasi kebersamaan.

Aku mengerutkan kening. Foto? Aku belum mandi, keringat masih menempel, dan rumah masih berantakan. Aku mengetik: Foto buat apa ya?

Belum sempat terkirim, pesan lain masuk memotong niatku.

Ibu Ratna: Foto boleh, tapi pastikan sopan ya. Demi citra lingkungan. Dimas C: Siap Bu. Mas Raka, tolong kardus kosong di teras segera dilipat dan disembunyikan ya. Kelihatan dari CCTV pos, agak kurang rapi.

Jantungku berhenti berdetak sesaat. CCTV? Aku menoleh ke arah jendela depan. Tirai belum kupasang. Dari pos satpam yang jauh di ujung jalan, mustahil mereka bisa melihat kardus kecil yang terselip di balik pot bunga—kecuali ada kamera yang mengarah tepat ke terasku.

Aku meletakkan ponsel dengan tangan gemetar.

Malam itu, aku keluar sebentar ke warung di ujung blok. Hanya ingin mencari udara, atau mungkin memastikan bahwa masih ada kehidupan normal di sini. Dua bapak sedang mengobrol di bawah lampu jalan.

“Malam, Pak,” sapaku.

Mereka berhenti bicara. Serentak. Menoleh padaku dengan gerakan yang terlalu sinkron. “Malam,” jawab salah satu. Tatapan mereka menelusuriku dari ujung kaki ke ujung kepala, memastikan apakah aku ancaman atau sekadar objek baru untuk dibicarakan.

Aku membeli mi instan dan buru-buru pulang. Perasaan aneh menyergapku. Bukan takut, tapi lebih seperti berada di ruang interogasi yang disamarkan menjadi ruang tamu.

Sampai di rumah, aku mengunci pintu. Dua kali putaran.

Ponselku bergetar lagi. Pak Budi: Mohon diingat, Mas Raka. Jam tamu di atas pukul 21.00 sebaiknya dikonfirmasi. Tadi saya lihat Mas keluar, pastikan pagar dikunci kembali dengan rapat demi keamanan bersama.

Aku melirik jam: 20.57. Mereka mencatat setiap detik gerak-gerikku.

Aku hendak meletakkan ponsel dan tidur, melupakan kegilaan hari pertama ini. Tapi mataku menangkap sesuatu di pagar depan lewat jendela kaca.

Di besi pagar putih yang mengilap itu, ada secarik sticky note kuning tertempel.

Aku yakin tadi siang tidak ada apa-apa di sana. Dengan ragu, aku membuka pintu sedikit, mengambil kertas itu.

Tulisan tangan di atasnya rapi, melengkung indah, ditulis dengan tinta merah:

“Cat pagar bagian bawah ada goresan kecil selebar 2 cm. Mohon segera dicat ulang besok pagi. Kita tidak suka cacat. - Seksi Keindahan.”

Aku meraba pagar itu. Memang ada goresan sangat halus, mungkin kena koperku tadi siang. Goresan yang hanya bisa dilihat jika seseorang berjongkok dan menelitinya dengan kaca pembesar.

Aku menatap jalanan kompleks yang sunyi senyap. Lampu-lampu jalan menyala terang, tapi tidak ada satu orang pun yang terlihat.

Di lingkungan yang menyebut dirinya paling berkarakter ini, aku akhirnya sadar: kesunyian ini bukan karena ketenangan. Kesunyian ini ada karena ratusan mata sedang mengawasi dari balik tirai, menunggu siapa yang pertama kali membuat kesalahan.

Dan malam ini, kesalahan pertamaku adalah berpikir bahwa aku bisa bersembunyi di balik dinding rumahku sendiri.