Malam di kompleks kami biasanya sunyi. Bukan sunyi yang romantis—lebih ke sunyi yang disiplin. Pukul sembilan lewat sedikit, suara televisi mengecil, pintu-pintu tertutup dengan bunyi klik yang sopan, dan motor yang lewat mematikan mesin lalu dituntun agar tidak mengganggu.
Itulah sebabnya, ketika bunyi duk-duk-duk terdengar dari arah seberang rumahku, suaranya terasa seperti ledakan meriam.
Itu berasal dari rumah Maya. Bukan suara keras, sebenarnya. Lebih seperti suara kursi yang terjatuh atau kardus yang digeser paksa. Tiga kali. Lalu hening.
Aku melirik jam dinding: 22.13.
Aku kembali duduk di sofa, mencoba tidak peduli. Rumah orang, pikirku. Mungkin dia tersandung.
Namun, belum sampai satu menit sejak bunyi itu berhenti, ponselku di atas meja menyala. Cahayanya terang di ruangan yang sengaja kuredupkan.
Notifikasi dari Grup Warga.
Jantungku berdegup kencang. Secepat inikah?
Sistem Otomatis (Bot): ⚠️ Peringatan Kebisingan Terdeteksi. Lokasi: Blok C-14. Level: 45dB (Ambang Batas Malam: 40dB). Status: Pelanggaran Tk. 1.
Aku ternganga. Mulutku kering.
Mereka punya sensor suara? Di mana? Di tiang listrik? Atau ditempel di dinding luar rumah kami?
Pesan manusia mulai bermunculan mengikuti pesan bot itu, seolah mereka memang sudah menunggu.
Dimas C: Tercatat di log harian. Pukul 22.13. Kebisingan non-darurat.
Ibu Ratna: Astaga. Malam-malam begini. Semoga bukan karena bertengkar atau hal negatif lainnya. Kasihan tetangga sebelah yang besok harus kerja pagi.
Aku berdiri, berjalan mengendap-endap ke jendela, menyibakkan tirai sedikit—sangat sedikit, karena aku ingat pelajaran soal "merusak estetika".
Rumah Maya di seberang masih terang. Namun, aku melihat bayangan Maya di balik gorden tipisnya. Dia tidak sedang membereskan barang. Dia berdiri mematung, menatap ponsel di tangannya. Bahunya naik-turun dengan cepat.
Dia bukan sedang berisik. Dia sedang panik karena baru saja mendapatkan notifikasi yang sama denganku.
Tiba-tiba, ponselku bergetar lagi. Pesan pribadi masuk dari Dimas.
Dimas C: Mas Raka, posisi Mas di depan rumah C-14 persis. Apa terdengar suara mencurigakan? Konfirmasi visual?
Aku menatap layar dengan rasa mual. Mereka menjadikanku saksi mata. Jika aku bilang "tidak", aku berbohong pada sistem yang jelas-jelas sudah mencatat desibelnya. Jika aku bilang "iya", aku mengkhianati tetangga sendiri.
Aku mengetik dengan ragu: Cuma suara barang jatuh, Mas. Tidak ada apa-apa.
Dimas C: Barang jatuh tiga kali berturut-turut? Oke. Dicatat sebagai "Ketidaksengajaan yang Berulang". Terima kasih kerjasamanya.
Keesokan paginya, aku sengaja menyiram tanaman lebih pagi, berharap bisa menangkap basah sistem pengawasan ini. Aku mencari-cari mikrofon di pagar, di pohon, di tiang lampu. Tidak ada yang mencolok.
Pintu rumah Maya terbuka. Dia keluar membawa kantong sampah. Wajahnya pucat, matanya bengkak seperti orang kurang tidur.
Aku menoleh kiri-kanan. Aman.
“Mbak,” panggilku setengah berbisik.
Maya tersentak. Dia menatapku tajam, lalu menggeleng kecil. “Jangan bahas di sini,” desisnya tanpa suara. Bibirnya hampir tidak bergerak.
Aku mendekat ke pagar pembatas, berpura-pura mencabut rumput liar. “Sensornya di mana?” tanyaku pelan, nyaris tak terdengar.
Maya membungkuk, pura-pura membetulkan tali sepatu. “Di lampu jalan,” bisiknya. “Smart lamp. Ada mik-nya. Dia bisa bedakan suara kucing dan suara benda.”
Darahku dingin. Lampu jalan itu berdiri tepat di depan rumahku juga.
“Semalam aku cuma keserimpet kabel,” kata Maya, suaranya bergetar menahan tangis. “Jatuh. Itu saja. Tapi Bu Ratna langsung telepon. Dia bilang... dia bilang suaranya terdengar seperti orang melempar barang karena emosi. Dia tanya apa aku butuh konseling mental.”
“Gila,” gumamku.
“Sstt!” Maya berdiri tegak tiba-tiba.
Di ujung jalan, Pak Budi sedang berjalan santai sambil membawa tongkat jalan. Dia tersenyum lebar ke arah kami.
“Pagi, Mas Raka! Pagi, Mbak Maya!” serunya riang. “Wah, senang melihat warga saling sapa pagi-pagi. Menambah kerukunan.”
Dia berhenti tepat di depan kami. Matanya menatap Maya lekat-lekat.
“Mbak Maya, kakinya sudah tidak apa-apa? Semalam terdengar seperti jatuh keras sekali. Sistem kami khawatir ada KDRT atau percobaan bunuh diri, lho. Makanya alarmnya bunyi.”
Maya memaksakan senyum yang menyedihkan. “Hanya tersandung, Pak. Maaf sudah mengganggu.”
“Tidak, tidak. Kami yang khawatir,” kata Pak Budi lembut, tapi nadanya penuh tekanan. “Lain kali hati-hati ya. Kalau grafik ketenangan di Blok C merah terus, nanti nilai properti kita bisa turun. Kita tidak mau itu terjadi, kan?”
Dia menepuk bahu Maya—tanpa menyentuh, hanya gerakan udara—lalu melanjutkan jalan santainya.
Aku dan Maya berdiri mematung.
Grafik ketenangan. Nilai properti.
Maya menatapku sebentar, matanya berkaca-kaca penuh ketakutan, lalu dia berbalik dan masuk ke rumahnya. Pintu dikunci cepat.
Aku kembali masuk ke rumahku. Suasana hening. Terlalu hening.
Aku duduk di sofa ruang tamu, menatap lampu gantung di langit-langit. Lalu menatap lampu jalan di luar jendela.
Iseng, atau mungkin karena putus asa ingin membuktikan, aku mengambil sendok makan dari dapur. Aku berdiri di tengah ruang tamu.
Aku menjatuhkan sendok itu ke lantai keramik.
Trang!
Suaranya nyaring memecah kesunyian.
Aku menunggu. Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Ponselku bergetar.
Sistem Otomatis (Bot): ⚠️ Peringatan Kebisingan Terdeteksi. Lokasi: Blok C-12. Level: 52dB. Jenis Suara: Benda Logam Jatuh. Mohon berhati-hati.
Aku meremas ponselku.
Mereka tidak hanya mendengar apa yang terjadi di teras. Mereka mendengar sampai ke ruang tengah. Dinding rumah ini tidak melindungi apa pun. Di Kompleks Berkarakter, privasi adalah konsep kuno yang sudah dihapus demi "keamanan bersama".
Dan sekarang aku tahu: aku tidak pernah sendirian di rumah ini.