Pagi pertamaku sebagai warga resmi tidak dimulai dengan kicau burung atau sinar matahari yang hangat. Ia dimulai dengan serangan digital.
Pukul 05.42. Ponselku bergetar hebat di atas meja kayu, suaranya seperti bor kecil yang menghantam permukaan keras. Bukan alarm. Bukan telepon darurat.
Layar ponselku menyala dengan puluhan notifikasi beruntun. Aku baru saja dimasukkan ke dalam grup: Warga Cemerlang – RT 04.
Pak Budi: Selamat pagi, warga. Semoga hari ini kita semua tetap menjaga ketertiban, kebersihan, dan kesantunan. Sistem Bot: Pengingat Harian: Lapor kondisi lingkungan via aplikasi pukul 06.00.
Aku menguap, mencoba mengumpulkan nyawa. Belum sempat jari menyentuh layar, pesan lain menyusul dengan kecepatan yang tidak manusiawi.
Ibu Ratna: Aamiin. Jangan lupa senyum hari ini, ya. Senyum itu ibadah. Dimas C: Good vibes only!
Aku mengerutkan kening. Dimas C? Orang yang kemarin menegur kardusku?
Tiba-tiba, sebuah notifikasi tag muncul. Namaku disebut.
Pak Budi: @Raka Selamat datang. Mohon profil picture-nya segera diganti dengan foto wajah asli close-up. Agar transparan dan mudah dikenali saat patroli.
Aku menatap foto profil lamaku—gambar kartun kucing hitam yang sudah kupakai lima tahun. Di sini, anonimitas ternyata dianggap dosa.
Dengan mata setengah terpejam, aku mengetik: Siap, Pak. Nanti saya ganti.
Dimas C: Sekarang saja, Mas. Biar database kami update. 10 menit ya.
Itu bukan permintaan. Itu ultimatum.
Aku bangkit, menyeduh kopi instan dengan buru-buru, lalu duduk di sofa yang posisinya masih canggung. Aku mengambil swafoto asal-asalan—wajah bantal, rambut agak berantakan, tapi jelas itu wajahku. Aku mengunggahnya.
Ping.
Ibu Ratna: Mas Raka, fotonya agak gelap. Dan sepertinya kurang senyum. Di sini kita keluarga bahagia, Mas. Coba ulangi lagi yang lebih cerah?
Darahku mendesir naik ke kepala. Mereka mengkurasi wajahku.
Siang harinya, aku memutuskan mencari kegiatan fisik untuk melupakan kegilaan grup chat itu. Aku mengambil sapu, membersihkan teras depan.
Sebenarnya teras itu bersih. Tapi aku merasa perlu terlihat melakukan sesuatu yang "wajar" agar tidak dicurigai. Aku menyapu debu-debu imajiner ke arah jalan. Gerakanku santai.
Ponsel di saku celanaku bergetar.
Pak Budi: Mohon diperhatikan, warga. Diharapkan menyapu tidak sampai mengenai aspal jalan utama. Itu area fasilitas umum.
Aku berhenti. Menatap sapu di tanganku. Ujung ijuk sapu itu memang menyentuh aspal, mungkin hanya lewat tiga sentimeter dari batas keramik teras.
Aku menoleh ke kiri dan kanan. Jalanan sepi. Tidak ada Pak Budi. Tidak ada Bu Ratna. Tirai-tirai tetangga tertutup rapat.
Dari mana dia tahu?
Mataku menyapu sekeliling, mencari lensa kamera. Di tiang listrik seberang jalan, ada kotak hitam kecil yang selama ini kukira trafo listrik. Lampu indikator merahnya berkedip pelan. Mengarah tepat ke pintu rumahku.
Aku menelan ludah. Ini bukan pengingat ramah. Ini pemantauan real-time.
Aku mengetik dengan jari gemetar: Siap, Pak. Maaf.
Ibu Ratna: Tidak apa-apa, Mas. Kita belajar bersama. Koreksi kecil untuk kebaikan besar.
Malamnya, aku merasa tercekik di dalam rumah sendiri. Aku butuh keluar. Aku berjalan ke warung di ujung blok. Kali ini aku sengaja membawa tas belanja kain, berharap itu bisa menjadi "poin plus" di mata mereka.
Di pos ronda, dua bapak sedang duduk. Mereka tidak mengobrol. Mereka diam, menatap layar tablet yang menampilkan—aku yakin seratus persen—rekaman CCTV kompleks.
“Malam, Pak,” sapaku.
Mereka menoleh serentak. “Malam, Mas Raka,” jawab salah satu. Tanpa bertanya namaku. “Foto profil barunya sudah bagus. Lebih cerah.”
Aku tersenyum kaku. “Terima kasih.”
“Cuma rambutnya masih agak panjang ya. Di sini biasanya bapak-bapak potong rapi tiap tanggal satu. Biar seragam.”
Aku tidak menjawab. Aku mempercepat langkah ke warung, membeli mi instan dan kerupuk. Penjual warung melayaniku tanpa banyak bicara, matanya sesekali melirik jam dinding.
Saat aku membayar, ponselku bergetar lagi.
Pak Budi: Mohon diingat. Jam operasional warga di luar rumah tinggal 15 menit lagi. Pukul 21.00 gerbang klaster ditutup total.
Aku melirik jam: 20.45.
“Mas,” panggil penjual warung tiba-tiba. “Struknya jangan dibuang sembarangan ya. Nanti kalau ditemu seksi kebersihan di jalan, dilacaknya gampang. Ada barcode anggota.”
Aku menatap kertas struk di tanganku. Ada namaku tercetak di sana: Warga C-12 Raka.
“Terima kasih, Pak,” kataku pelan.
Aku berjalan pulang setengah berlari. Rasanya seperti buronan yang diberi waktu istirahat sejenak dari sel penjara.
Sesampainya di rumah, aku mengunci pintu, gembok pagar, dan menutup semua tirai. Aku duduk di sofa, napasku memburu.
Ponselku menyala lagi.
Dimas C: Nice bag, Mas Raka. Penggunaan tas belanja kain tercatat. Poin partisipasi lingkungan bertambah +5.
Ibu Ratna: Nah, ini teladan. Hal kecil tapi berdampak besar. 👍
Aku melempar ponselku ke ujung sofa.
Mereka menjadikan hidupku sebagai game. Setiap gerakanku punya nilai. Setiap kesalahanku punya koreksi. Dan setiap detak jantungku seolah sedang didengarkan lewat tembok-tembok yang terlalu tipis.
Aku menatap langit-langit ruang tamu. Di sudut atas, ada detektor asap. Dulu aku mengira itu standar keamanan biasa. Sekarang, aku menatapnya dengan curiga. Apakah di balik plastik putih itu ada lensa kecil yang sedang merekam caraku duduk?
Ponselku berbunyi sekali lagi. Sebuah pesan penutup hari.
Pak Budi: Terima kasih atas partisipasi warga hari ini. Istirahatlah dengan tenang. Keamanan lingkungan kami jamin 24 jam. Kami melihat semuanya, demi menjaga Anda.
Aku mematikan lampu ruang tamu, membiarkan diriku ditelan gelap. Tapi aku tahu, dalam gelap pun, "mata" kompleks ini tidak pernah berkedip.