Hari Minggu di kompleks kami biasanya berjalan dengan ritme yang menipu: suara sapu lidi yang rajin, aroma sabun pel lantai, dan bapak-bapak yang berdiri di pos ronda seperti patung penjaga.
Sekilas, ini adalah definisi kedamaian. Tapi aku mulai belajar membaca subteksnya: ini bukan kedamaian, ini adalah patroli senyap.
Siang itu, aku sedang menyeduh teh ketika bel rumahku berbunyi. Bukan bunyi pendek sopan, tapi bunyi panjang yang menuntut perhatian segera.
“Mas Raka,” suara Ibu Ratna terdengar dari balik pagar.
Aku membuka pintu. Ibu Ratna berdiri di sana, tapi kali ini tidak sendirian. Dimas berdiri di belakangnya, memegang buku catatan kecil.
“Ada waktu sebentar?” tanyanya. Senyumnya tidak mencapai mata.
“Silakan masuk, Bu.”
“Tidak usah duduk,” tolaknya halus. Matanya menyapu ruang tamuku dari ambang pintu, seolah sedang melakukan inventarisasi cepat. “Saya hanya mau konfirmasi data. Kami dapat laporan dari tim keamanan pos depan.”
Dimas membuka buku catatannya. “Semalam, pukul 22.15, ada kendaraan roda dua masuk. Pelat B 45xx TZx. Pengendara laki-laki, jaket hoodie gelap, masker tertutup rapat. Masuk ke rumah nomor 14. Parkir 25 menit. Membawa bungkusan plastik hitam.”
Aku mengerutkan dahi. “Itu detail sekali.”
“Kami punya rekaman CCTV gerbang dan CCTV jalan,” kata Ibu Ratna datar. “Gerak-geriknya mencurigakan. Di sini kita sangat anti terhadap… penyalahgunaan zat terlarang atau transaksi ilegal.”
Aku tertawa pendek, tak percaya. “Bu, itu rumah Mbak Maya. Mungkin itu temannya? Atau keluarga?”
“Justru itu,” potong Ibu Ratna. “Mbak Maya statusnya single. Tamu laki-laki malam hari. Bungkusan hitam. Mas Raka paham kan arahnya? Kami tidak menuduh, kami hanya… menjaga moral.”
“Saya akan tanya Mbak Maya,” kataku, mulai kesal.
“Sudah kami datangi,” kata Dimas. “Tapi beliau tidak kooperatif. Menangis dan menutup pintu. Makanya kami ke Mas Raka, sebagai tetangga terdekat. Apakah Mas mendengar sesuatu? Suara aneh? Bau aneh?”
Aku menatap mereka berdua. Mereka bukan tetangga. Mereka penyidik.
“Tidak ada,” kataku tegas. “Saya tidak mendengar apa pun.”
Ibu Ratna menatapku lama, seolah sedang menimbang apakah aku berbohong atau tidak. “Baik. Terima kasih, Mas. Kalau ada info, tolong lapor. Jangan sampai kita menyesal karena melindungi hal yang salah.”
Mereka pergi. Aku melihat Dimas mencatat sesuatu di bukunya sebelum menutup pagar rumahku.
Sore harinya, aku melihat Maya duduk di teras. Matanya merah bengkak.
Aku menghampirinya. “Mbak?”
Dia mendongak, wajahnya berantakan. “Itu adikku, Mas,” suaranya parau. “Dia datang bawa obat lambung. Aku sakit semalam. Dia cuma mampir sebentar karena hujan.”
“Ibu Ratna bilang dia bawa bungkusan hitam.”
“Itu kantong plastik apotek!” Maya terisak pelan. “Satpam di depan menahan dia sepuluh menit. KTP-nya difoto. Tasnya disuruh buka. Adikku sampai ketakutan, dia pikir dia masuk markas militer.”
Darahku mendidih. “Ini sudah keterlaluan.”
“Mereka bilang aku tidak bermoral,” bisik Maya. “Menerima laki-laki malam-malam. Padahal pintu rumahku terbuka lebar saat dia datang.”
Aku mengeluarkan ponsel. Kemarahan membuatku nekat. Aku membuka grup Warga Cemerlang.
Aku: Selamat sore. Terkait tamu di rumah Mbak Maya semalam, itu adalah adiknya kandung yang mengantar obat karena Mbak Maya sakit. Kantong hitam itu obat apotek. Mohon tidak menyebarkan asumsi liar tentang narkoba atau asusila.
Pesan terkirim.
Hening satu menit. Lalu balasan muncul.
Pak Budi: Terima kasih informasinya, Mas Raka. Kami hanya berpegang pada SOP keamanan. Tamu yang terlihat menyembunyikan identitas (masker & hoodie) wajib dicurigai.
Ibu Ratna: Syukurlah kalau obat. Tapi lain kali, mohon adiknya diajari tata krama bertamu. Buka masker saat masuk kompleks. Agar wajah terlihat jelas di kamera.
Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada rasa bersalah. Hanya pembenaran aturan.
Aku melempar ponsel ke meja.
Malam semakin larut. Aku merasa lelah secara mental. Aku ingin tidur dan melupakan tempat gila ini sejenak.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Jaket.
Sore tadi aku kehujanan saat pulang dari minimarket. Jaketku basah kuyup dan kotor terkena cipratan lumpur. Karena malas dan kesal, aku hanya menyampirkannya asal-asalan di sandaran kursi teras depan. Niatku akan kucuci besok pagi.
Aku membuka pintu depan, berniat mengambilnya. Angin malam menyapa dingin.
Aku menoleh ke kursi teras.
Kosong.
Aku mengerjap. Jaket itu tidak ada.
Aku melangkah keluar, menengok ke lantai, ke balik pot bunga. Mungkin jatuh tertiup angin? Tidak ada. Teras bersih.
Lalu, mataku menangkap sesuatu di atas meja teras, tepat di tempat aku biasanya menaruh gelas kopi.
Sebuah bungkusan plastik transparan.
Aku mendekat dengan jantung berdegup kencang. Itu bungkusan laundry. Dilipat dengan presisi mesin, ujung-ujungnya tajam dan rapi. Di dalamnya… itu jaketku.
Jaket yang tadi sore kotor dan basah kuyup. Kini kering. Bersih. Wangi lavender menyeruak meski plastiknya belum dibuka.
Di atasnya, tertempel sebuah sticky note berwarna kuning cerah dengan tulisan tangan yang indah dan melengkung-lengkung:
“Maaf lancang masuk pagar ya, Mas Raka. Tadi dilihat kok sepertinya masih basah, kotor, dan merusak pemandangan teras. Sudah kami bantu cuci, keringkan, dan setrika supaya besok Mas Raka terlihat lebih 'pantas' sebagai warga sini. - Seksi Kebersihan & Kerapian.”
Darahku berdesir hebat. Dingin merambat dari tengkuk ke punggung.
Aku melirik jam tangan. Pukul 23.15.
Antara waktu aku masuk rumah dan sekarang, hanya berselang dua jam. Dalam waktu sesingkat itu, seseorang telah membuka pagar rumahku tanpa suara, mengambil barang pribadiku yang kotor, mencucinya (di mana?), menyetrikanya, lalu mengembalikannya dalam keadaan terlipat sempurna.
Mereka tidak hanya melihat. Mereka masuk. Mereka menyentuh barang-barangku.
Ponselku bergetar di saku celana. Satu pesan baru dari nomor tak dikenal.
“Gimana, Mas? Lebih rapi, kan? Tidur yang nyenyak ya. Kami selalu menjaga warga, bahkan saat warga sedang lengah.”
Aku menatap jalanan kompleks yang sunyi senyap. Lampu-lampu jalan bersinar tenang. Tidak ada orang. Tapi untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa kesunyian ini menipu.
Aku mundur perlahan, masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintu dengan tangan gemetar. Dua kali putaran. Lalu memasang rantai pengaman.
Malam ini aku mengerti satu hal mengerikan: di kompleks paling bermoral ini, dinding rumahku tidak melindungiku. Kebaikan mereka yang terlalu rajin itu kini terasa seperti pisau yang ditempelkan di leher.
Mereka bisa masuk kapan saja. Dan mereka baru saja memberitahuku bahwa tidak ada satu pun milikku yang benar-benar milikku.
[AKHIR AKSES GRATIS - SILAKAN BELI BAB BERIKUTNYA UNTUK MELANJUTKAN]